Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 61 Batasan antara laki-laki dan perempuan


__ADS_3

Sabtu pagi,semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Pak Bowo dan pak Darman yang sibuk dengan ayam dan kandangnya. Mereka sudah kembali bekerja setelah seminggu rehat dirumah. Saat ditanya Mita kok sudah masuk kerja,alasannya pusing dirumah uang kompensasi habis untuk foya-foya dan harus mulai menghasilkan uang kembali.


Ada tambahan satu orang sebagai pengurus rumah yang maunya dipanggil Mak Jinem katanya harus disamakan dengan panggilan dilingkungan sekitar rumahnya. Belum terlalu tua,usia beliau sekitar lima puluhan tapi terlihat segar dan kuat diusianya sekarang makanya Mita mau mempekerjakan. Tapi syaratnya mau tinggal dirumahnya. Mak Jinem iya-iya saja karena sudah janda ditinggal mati sama suami jadi tidak ada tanggungan.


Dani memilih kerja diluar dan sekarang sudah bekerja disalah satu pabrik sepatu sebagai karyawan kontrak untuk sementara. Masih dalam tahap penilaian kualitas kerja jika bagus maka akan langsung melakukan kontrak kerja dengan jangka waktu panjang dengan jaminan naik jabatan dalam kurun waktu setengah tahun paling cepat dan setahun paling lambat karena Dani lulusan sarjana.


Alasan itu yang membuat Mita menerima satu pegawai lagi untuk mengurus sayuran organik dan tanaman hias. Supaya hasilnya bisa maksimal memang butuh perawatan yang maksimal juga.


"Mas Irham...tolong nanti disiapkan sayurannya kalau lupa bisa dilihat lagi didaftar pesanan!"


Mas Irham ini putra sulungnya pak Darman. Usianya sekitar 16 tahun.


"Kok gak sekolah?" tanya Mita saat Irham datang bersama bapaknya ingin ikut bekerja.


"Kasihan sama bapak." itu alasannya. Mendengar itu Mita merasa kasihan dan akhirnya setuju menerimanya bekerja. Dia ingin melihat kinerja Irham dulu baru memikirkan kelanjutannya terbukti dia memang keturunan pekerja keras seperti gathotkaca 'otot kawat balung wesi' artinya orangnya kuat,sama sekali tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Kebiasaannya bertanya jika belum paham. Menurutnya anak ini cerdas dan satu lagi berbakti sama orang tua.


"Iya neng Mita." dia ikut-ikutan bapaknya memanggil neng Mita. Ya terserahlah yang penting terdengar sopan.


Mita lanjut ke dapur. Hari ini dia mau bereksperimen membuat sesuatu yang nantinya bisa jadi menu andalan ditempatnya dengan rasa gurih dan manis yang pas sekalian divideo bisa diunggah dichannel yutubnya.


Dengan dibantu Mak Jinem ia mulai membuat makanan sambil merekam video.


"Mak Jinem bisa buat jenang grendul?"


"Bisa to neng." jawabnya tegas dengan suara logat kampungnya yang terdengar lucu sehingga membuat tersenyum.


"Terus apa lagi Mak gandengannya?"


"Bubur sumsum sama mutiara itu lho neng."


"Emak bisa buatnya?"


"Bisa..." jawabnya lantang penuh semangat. Mita pun jadi ikut semangat.

__ADS_1


Mereka mulai membuat sambil terus direkam. Mak Jinem pinter ngomongnya sudah seperti pembawa acara ada leluconnya juga.


"Wah aromanya gurih,manisnya pas,enak teman-teman. Mari dicoba!" Mita menyuapkan sesendok bubur sumsum lalu jenang grendul dan terakhir sagu mutiara tanpa memperlihatkan wajahnya.


"Masya Allah ini enak banget teman-teman. Silahkan dicoba dirumah ya!" setelah membuat harus dipromosikan biar yang melihat ingin mencoba didukung dengan penampilan menarik dari makanan itu sendiri.


"Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat. Jangan lupa like komen dan share ke teman-teman kalian supaya saya dan Mak Jinem bisa terus semangat membuat kreasi makanan yang lain. Sampai jumpa assalamu alaikum wr.wb."


"Ngomong sama siapa neng?" tanya Mak Jinem penasaran saat Mita menghentikan video dihpnya.


"Tadi buat video nanti bisa dilihat semua orang lewat hp." Mak Jinem terlihat bingung ya namanya orang tua pasti tidak paham mau dijelaskan seperti apapun tetap saja tidak paham.


"Emak gak ngerti neng." ucap Mak Jinem dengan bingung. Mita menanggapi dengan senyuman.


Hari ini sukses membuat video nanti tinggal dipotong dibagian tertentu tapi nunggu waktunya pas. Sekarang masih ada banyak tugas karena biasanya week end seperti akan banyak orang berkunjung ke kebunnya.


"Neng Mita...ada banyak orang didepan! tiga mobil." Irham masuk ke dapur dengan tergopoh-gopoh memberitahukan kedatangan pengunjung sambil mengacungkan tiga jari. Sampai begitu serius muka Irham.


"Tolong Mak seperti biasa diwadahi ke tempat yang lebih kecil ini nanti bisa dijual didepan."


Ini adalah tambahan pemasukan. Sekali tiga uang selain gaji pokok akan ada tambahan buat mereka.


"Ayo ke depan kaya Minggu kemarin jadi jangan panik ok." Mita menepuk pundaknya pelan memberi semangat agar Irham tetap santai.


Sejak beberapa Minggu ke belakang semakin banyak orang datang jadi dia menyediakan alas tikar supaya pengunjung bisa lesehan. Selain itu dia juga menyediakan minuman dingin,snack dan mie dalam bentuk cup.


Untuk lahan parkir juga. Ia sudah konfirmasi pada tetangga untuk yang punya halaman luas bisa dibuat parkir mobil atau motor dan untuk tarif dipersilahkan memberi harga sendiri tanpa harus menyetor padanya.


Banyaknya anak kecil yang ikut datang bersama orangtuanya,dia berinisiatif membeli sepasang kelinci bisa dijadikan edukasi untuk anak-anak yang biasanya selalu merasa ingin tahu sesuatu yang baru dilihatnya. Tak lupa juga si Wiwik dan suaminya ikut dipajang bersama anak-anak yang baru menetas. Makin menggemaskan. Rencananya dia akan menambah hewan piaraan lain,kucing misalnya.


Diotaknya tersimpan banyak hal yang harus ditambahkan supaya suasananya semakin nyaman. Untuk sekarang masih banyak yang berantakan karena belum sempat ditata dan dirapikan.


"Rame begini dek!" tiba-tiba terdengar suara kakaknya Dani,disampingnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah..." jawabnya pendek,matanya menatap lurus ke depan.


"Jadi beli pendingin minuman baru!" ucap Dani saat melihat pendingin minuman berada dipojokan teras. Ada pula rak berisi Snack dan mie dalam bentuk cup. Meja juga berisi mangkuk dan sendok kecil dan lain-lain.


"Dek kok ada aroma gurih,manis?"


"Iya...dijual." Mita mempertegas suaranya karena sudah pasti Dani tergiur ingin mencicipi.


"Itu ada kue basah juga?"


"Iya...titipan tetangga jadi harus beli kalau kepengen." tembak Mita membuat Dani tersenyum kecut.


"Niat banget kamu dek! Ini jadi seperti kebun plus-plus."


"Ya...ada empat orang yang harus ku gaji jadi harus cari tambahan." ucapnya lalu menoleh. Dia tersenyum kaget melihat sosok perempuan muda berhijab yang langsung tersenyum manis ke arahnya sambil menganggukkan kepala. Dia langsung menatap kakaknya sebagai isyarat pertanyaan untuk 'siapa dia?'


"Hehehe...temen." jawabnya salah tingkah sambil garuk-garuk kepala. Tapi Mita mencium bau-bau kebohongan.


"Aku hanya mengingatkan kak...ada batasan antara laki-laki dan perempuan kalaupun kakak serius sama perempuan langsung nikah jangan main-main takutnya kebablasan. Setan ada dimana-mana,mereka gak akan lengah apalagi jika ada kesempatan...BAHAYA!"


"Dalam agama kita gak ada yang namanya pertemanan antara laki-laki dan perempuan kalaupun ada biasanya akan muncul rasa nyaman terus demenan."


"Alaaaah...kaya kamu gak. Hafiz,mas Yahya,Alvian masih sering ke sini kan?" itu bukan teman?" sanggah Dani sambil mencibir,merasa tersudutkan mendengar nasehat adiknya.


"Kak Yahya kan rekan bisnis lagipula bukan aku sengaja nyamperin ke rumahnya. Kak Hafiz memang menyukaiku tapi aku berusaha bersikap biasa saja. Terus kak Alvian,dia datang atas kemauannya sendiri bukan aku yang meminta."


"Ingat pepatah Jawa 'tresno jalaran soko kulino'..." (cinta datang karena terbiasa)


"Jangan sok ceramah kamu! Aku lebih tua darimu jadi hormati keputusanku!" bentak Dani dengan keras hingga menarik perhatian orang-orang disekitar. Mita kaget,kakaknya banyak berubah lalu melirik ke arah gadis yang disebut teman oleh Dani.


"Pelankan suaramu kak!" bisik Mita pelan lalu menjauh dari hadapan kakaknya takut terjadi yang lebih parah.


Selama bertahun-tahun hidup bersama,baru kali ini ia dibentak oleh saudara laki-lakinya. Sakit seperti disayat-sayat. Apakah caranya mengingatkan sudah berlebihan atau bagaimana sehingga Dani sangat marah padanya. Mita hampir meneteskan air mata tapi langsung ditahan dengan mengerjap sambil mendongak ke atas.

__ADS_1


"Neng Mita gak pa-pa?" tanya Mak Jinem. Mita hanya menggeleng sambil tersenyum,mencoba untuk terlihat biasa saja tapi yang terlihat justru menyedihkan.


__ADS_2