Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 67 Dianggap saingan


__ADS_3

Mita POV


Tadi aku seperti mendengar suara orang berkata 'Bangunlah! aku merindukan mu...merindukan suaramu' tapi siapa? aku gak tahu. Mataku rasanya masih sangat mengantuk. Dipaksa terbuka juga berat seperti dilem akhirnya aku pasrah dan kembali tertidur.


"Ehhhmmm..." merintih sambil membuka mata pelan tapi langsung menyipit,menyesuaikan mata dengan cahaya terang di atas.


"Kamu sudah bangun dek!" itu suara kak Dani. Belum terlihat jelas oleh mataku. Mungkinkah tadi suara kak Dani meskipun terdengar berbeda. Ah mungkin aku bermimpi.


"Suster...adik saya sudah bangun!" teriak kakak. Aku pasrah saat ingin langsung bangun seketika merasakan pusing dikepala yang terasa luar biasa. Aku hanya bisa meringis.


"Mana yang sakit dek?" tanya kak Dani khawatir langsung mendekatiku.


"Kepalaku pusing." suaraku terdengar serak.


Melihat kantong infus diatasku,aku bingung siapa yang sakit? Dan saat mengangkat tangan terlihat tanganku terpasang selang infus. Pantas saja tangan ku terasa kaku dan agak nyeri saat digerakkan. Aku baru sadar ternyata aku sendiri yang sakit.


"Mbak...apakah bisa melihat saya dengan jelas? siapa saya?" Aku dites seperti anak TK.


"Suster..." jawabku lirih.


"Bagus...Alhamdulillah sudah sadar."


"Sekarang apa yang dirasakan?" sambung suster itu.


"Pusing..."


"Badan saya sakit semua..." suster itu mengangguk.


"Perih perut saya...agak mual juga."


"Iya...itu karena asam lambungnya naik. Punya riwayat sakit magh?"


"Kayanya belum pernah..."


"Jadi kepengen punya magh nih?" seloroh suster sambil terkekeh.

__ADS_1


"Janganlah suster!" sahut Kak Dani.


"Penyebabnya pasti karena gak menjaga pola makan dengan baik."


"Pusingnya karena banyak pikiran dan stress...bener gak tebakan saya?" Mita melirik melalui sudut melihat ekspresi kakaknya yang langsung murung dan nampak merasa bersalah.


"Stress karena apa?" pancing suster sambil mengecek tekanan darah ku.


"Saya punya usaha rumahan suster jadi suka tertekan dan stress kalau banyak kerjaan."


"Tekanan darahnya masih rendah ya." ucap suster sambil merapikan alat pengecek tekanan darah.


"Ya sudah...sekarang bisa minum dulu! Saya akan memberi tahu bagian dapur untuk menyiapkan bubur untuk mbaknya."


"Mungkin sebentar lagi dokter Shiela visit ke sini jadi ditunggu saja! Sekarang saya akan menyiapkan kamar perawatan untuk mbaknya...permisi!" suster itu berjalan menjauh.


"Mau makan apa? biar kakak beliin sekalian beli minum."


"Gak tahu kak perutku mual dan gak selera makan." aku meringis menahan perih diulu hati.


Maaf ya saking paniknya kakak jadi lupa menyiapkan air minum buat kamu!" Aku berusaha tersenyum.


Tidak menunggu lama. Kak Yahya langsung masuk sambil membawa sekantong kresek berwarna putih. Mengeluarkan isinya,sebotol air ukuran tangung. Membuka tutu botol itu lalu memasukkan sedotan ke dalamnya.


"Bismillah...minum dulu!" mulutku komat-kamit mengucap basmalah saat dia mendekatkan botol itu dan memegang ujung sedotan diarahkan ke mulutku. Dengan susah payah aku berhasil menyedot air minum sambil menahan rasa pusing.


Begitu selesai ku pejamkan mata sambil menghela napas.


"Mau makan kue?"


"Aku suapi ya?" tanpa menunggu jawaban ku dia sudah membuka kue didalam kotak yang ada ditangannya. Heran dari mana dia dapat kue itu.


"Tadi mama ke sini nengokin kamu bawain ini tapi aku suruh pulang soalnya kamu kan belum sadar...aaaa..." dia menyuapiku pakai tangan yang hanya ku pandangi. Melihat tangannya kotor demi aku kok ngerasa gak enak.


"Jangan apa-apa dipikirin! makan biar cepet sembuh...aaaa!" aku hanya bisa patuh. Benar juga yang dia katakan aku harus makan biar cepet sembuh.

__ADS_1


"Sejak kapan kak Yahya disini?" dia terlihat kaget.


"Aaaa...jam berapa ya tadi? aku lupa." alasannya sambil berpikir. Dipikirnya aku gak tahu,ekspresi mukanya tadi kaget pasti ada yang disembunyikan. Sudahlah untuk apa dipikirkan. Yang terpenting sekarang aku harus cepet sembuh. Banyak yang harus aku lakukan dirumah.


"Mulai sekarang biar aku bantuin ngurusin usaha kamu!" ucapnya tegas,seperti tahu pikiranku saja dia.


"Jangan menolak karena gak ada cara lain!" kok bisa tahu yang ada dipikiranku. Tapi baiklah aku juga gak bisa berbuat apa-apa. Dia adalah perantara dari Allah untuk membantuku menyelesaikan masalah ku. Ini demi semua pekerja ku yang harus digaji jika usahaku berhenti kasihan mereka.


"Aaaaa..." rasa perih diulu hati agak berkurang.


"Alhamdulillah habis empat potong...masih mau lagi?" aku mendelik kesal karena dia gak bilang dari tadi dan dia hanya menanggapi dengan senyum lebar. Pantas saja gak seperih tadi rasanya.


"Sudah cukup..."


"Bentar ya aku mau cuci tangan dulu!" dia pamit dengan tangan belepotan lalu terdengar kekehan diluar tapi langsung diam seperti ada yang menyuruh diam.


Setelah dia pergi suasananya sunyi. Jika sepi begini aku jadi kepikiran rumah, gimana besok? padahal besok banyak orderan telur ayam. Aduh gimana ya? mendadak kepalaku makin pusing setelah tadi agak mendingan.


"Kenapa? pusing lagi? aduh kenapa susah banget dibilangin...baru ditinggal sebentar juga sudah mikir ke mana-mana." cerocosnya dengan muka panik. Ah...aku jadi gimana gitu? perhatian sama aku kok sampai begitu banget? Aku kan bukan apa-apa baginya.


Terdengar tirai disibak dengan cepat. Lalu nampaklah wajah cantik seorang dokter muda melihatku dengan kesal lalu melirik ke arahnya tapi dengan tatapan berbeda. Apakah aku melakukan kesalahan pada dokter itu? Seingat ku kami belum pernah bertemu jadi mana mungkin aku melakukan kesalahan pada dokter itu??? PR buat ku ini...


"Shiela..." rupanya dia mengenal dokter itu. Jangan-jangan dia mengira kami berhubungan dekat...wah alamat dianggap saingan.


"Selamat malam..." sapanya dingin,serem amat mukanya.


"Selamat malam juga dokter!" balas ku ramah sambil tersenyum.


"Sekarang apa yang dirasakan?" pertanyaannya sama seperti suster tadi.


"Masih pusing,gak nyaman badan saya terus perih diulu hati dan agak mual juga."


"Ok...setelah ini bisa pindah ke ruang perawatan!" itu saja yang dikatakan gak ada ramah tamah sama sekali. Kecemburuan tanpa alasan ini namanya.


"Gimana Shiel? apa ada yang serius?" tanyanya cemas. Aku merasa sangat sebal,dia seperti menyiram minyak diatas kayu yang terbakar.

__ADS_1


"Gak ada yang serius,dia baik-baik saja." jawab dokter Shiela datar tapi mukanya itu lho kesal setengah mati.


"Ah...Alhamdulillah. Tadi khawatir pas kamu suruh suster ambil darah takutnya parah." jawabnya sambil tersenyum lega. Ini cowo gak peka,ada cewe cantik naksir gak sadar. Aku seperti dijadikan kambing hitam. Mending aku pura-pura tidur lagi karena sebenarnya aku mengantuk. Bodo amat sama pikiran orang,aku mau cepet sembuh.


__ADS_2