
Menjenguk adek bayi sesuatu banget buat Mita,melihat gerakan-gerakan kecilnya yang hanya menguap atau ngulet sungguh membuatnya takjub dan tertawa geli. Terbayang adek bayi didalam perut ibunya kaya apa gayanya. Kalau masih lima enam bulanan mungkin masih bisa kaya ikan berenang bebas,makin besar adek bayinya jelas makin sempit ruang geraknya kan. Pantas saja ibunya mengeluh sakit saat ditendang kuat yah bagaimana lagi tiap hari hanya bisa meringkuk jelas capek,yang cuma tiduran saja ngeluh capek apalagi bayi didalam perut.
"Gemesin banget sih dek!" Mita menoel-noel pipi bayi Ita yang tidak merespon sama sekali tetap asik tidur.
"Adek....bangun dong Tante pengen main sama kamu." kembali menoel pipinya.
"Adeek.....I Miss you always." kurang kerjaan memang ngajak ngobrol bayi pake bahasa Inggris. Ita yang melihatnya hanya bisa menarik napas. Irham merengut dipojokan kamar Ita,dia menyesal ikut tahu begitu mending dirumah saja setidaknya dia bisa melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.
"Adeek......" diciumnya dengan gemas pipi bayi itu yang tetap tidur dengan nyenyak hingga membuat Mita menggesekkan hidungnya ke hidung bayi itu lalu tertawa,begitu terus dari tadi.
"Udah dong...biarin dia bobo,kamu gak tahu aja bayi baru lahir dari pagi sampai sore bobo tapi tengah malam malah ngajak begadang....ak...ek...ak...ek....terus ditinggal tidur nangis." Mita tersenyum.
"Iya kah?" tanyanya mengejek.
"Masya Allah masih bayi tapi sudah bisa gangguin orang tua kamu,bikin satu rumah gak tidur dong." Ita menatap jengah,tidak habis pikir sama komentar Mita yang luar biasa ajaib.
"Ya....kamu belum ngerasain nanti kalau punya anak baru tahu." Ita merebahkan diri dengan mata terpejam,merasa ngantuk.
"Punya anak bukannya pilihan kamu yah?" Ita mendengus tahu Mita sedang mencemoohnya.
"Kak....ayo....katanya tadi bentar,kita kan masih punya tujuan lain."
"Iya bentar lagi nungguin dia bangun baru kita pergi."
"Ayolah kak...aku gak nyaman,aku seorang lelaki disini." ungkap Irham dengan perasaan tidak karuan.
"Iye bentar..."
"Ayo...!" desak Irham setengah memaksa. Ita menarik napas frustasi,bukannya bayinya yang terusik justru dia sendiri yang terganggu dengan perdebatan kecil mereka.
"Diem ih...kalian ini berisik!" Ita melotot sambil mendengus kesal.
"Adeek...." Mita kembali mengganggu dengan mengusap kulit bayi itu.
"Adeeh....kamu itu....jangan gangguin dia biarin bobo ribet entar kalau dia bangun!" Mita seakan tidak peduli,dia terus mengganggu bayi Ita dengan segala macam cara.
"Isy....kalau suka sama bayi sana bikin sendiri." Ita sangat kesal dengan perbuatan Mita pada anaknya,yang malah tertawa.
"Kak Mita ayo pulang!" Irham terus memaksa untuk pulang.
"Nanti deh aku bilangin bang Yahya biar mau diajak bikin bayi jadi gak usah jauh-jauh gangguin anaknya kak Ita." sambungnya kesal dengan merengut,langsung disambit bantal besar tepat mengenai mukanya yang tidak sempat menghindar karena tidak kepikiran efek dari ucapannya barusan,dia hanya asal bicara.
"Mulutmu....." Mita mendelik. Irham garuk kepala tidak gatal menyadari kesalahannya.
Ita asalnya mau ketawa tapi tidak jadi mendengar kata 'bang Yahya' ia melongo,otaknya sedang loading memikirkan maksud Irham.
__ADS_1
"Bang Yahya....?" dia merasa ada yang janggal dari ucapan Irham,menyebut bang Yahya artinya Mita sedang menjalin hubungan serius dengan orang bernama Yahya tapi Yahya yang mana......
Mita yang terkejut,menegakkan badan,melemparkan tatapan seperti sinar laser yang mengancam pada Irham yang tampak panik. Kalau saja tidak ada Ita,dia pasti sudah sujud dikaki Mita memohon pengampunan. Untuk sekarang tidak bisa atau akan ketahuan.
"Bang Yahya....siapa Ham?" Irham terlihat bingung,Mita sedang memandangnya dengan tatapan penuh arti berharap Irham paham maksudnya.
"Ya bang Yahya....aku suka manggil bang Yahya." jawab Irham dengan dahi berkerut,menjalankan sesuai kode Mita.
"Maksud Irham....mantan guru matematika kita bukan sih Mit?" Mita mengangkat bahu,pura-pura tidak tahu.
"Ya gak tahu tanya aja orangnya...ah bentar rupanya ada chat dari grup kelas kita,ada yang mau nikah,tiga hari lagi ngundangnya lewat grub...." Mita mengalihkan fokus pembicaraan. Tumben-tumbenan ngecek Grup kelas biasanya juga bodo amat.
"Siapa sih Ham?" desak Ita yang masih penasaran,rupanya usahanya mengalihkan perhatian Ita gagal. Masih sibuk bertanya ke Irham sekarang.
"Aku gak tahu pokoknya aku manggilnya bang Yahya." dalam hati Mita memuji Irham cerdas. Sekarang Ita terjebak dengan pertanyaannya sendiri dan terlihat kesal.
"Hei...Ta kita barengan yah nanti ke nikahannya Deva." Mita pantang menyerah berusaha keras mengalihkan perhatian Ita yang masih kepikiran dengan orang bernama Yahya.
"Kamu itu...aku serius nih,Yahya yang mana?" desak Ita terus bertanya dengan cemberut,kesal karena tidak mendapat jawaban pasti,yang ditanya malah lempeng.
"Gak usah dipikirin...dia asal bicara gara-gara kesal,pengen pulang gak diturutin jadi ngelantur ngomongnya."
"Kamu sendiri kalau kesal suka gitu juga kan?" Ita terdiam lama tapi tetap merasa ada yang disembunyikan darinya.
"Kali ini aku menyerah tapi jangan harap dilain hari..." ancam Ita dengan tatapan sinis.
Mendengar kata lapar Ita teringat jika dari tadi tidak menjamu mereka dengan makanan sedangkan didapur para tetangga sibuk membantu memasak daging kambing,hari ini acara aqiqah bayinya.
"Makan dulu sebelum pulang.....hari ini acara aqiqah bayiku jadi sebagai Tantenya kamu harus makan." pantas saja ada banyak tamu atau mungkin keluarga besar Ita.
Memaksa Mita dan Irham untuk ke depan walaupun sempat menolak dengan tegas,Mita tidak nyaman menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya akhirnya mengangguk hormat dengan tersenyum canggung lalu ikut duduk lesehan.
Orang tua selalu lebih memahami mungkin karena sudah makan asam garamnya banyak. Mengetahui keengganan Mita,mamanya Ita tidak memaksa untuk makan ditempat tapi membekali dengan banyak makanan untuk dibawa pulang. Kembali menolak tapi orangtua selalu lebih pintar berkata-kata.
"Ambil atau bibi akan sedih,kamu sudah seperti keluarga kami jadi wajar jika bibi memberi sedikit makanan ke kamu." akhirnya Mita menerimanya dan langsung pulang.
Melanjutkan perjalanan dengan meminta Irham menyetir sedangkan dia duduk dijok belakang. Bertanya pada Irham mau pulang dan makan atau lanjut ke tujuan selanjutnya. Irham menjawab langsung ke tujuan selanjutnya. Sampai terdengar azan dhuhur Mita meminta Irham mampir kalau melihat masjid.
"Kita sholat dulu yah!" tanya Mita saat sampai di pelataran Masjid,Irham mengangguk lesu seperti tidak bertenaga.
"Atau mau makan dulu?" mendahulukan sholat memang penting tapi dia tidak bisa mengabaikan keadaan orang lain.
"Kamu lapar kan?" Irham melengos gengsi mengakui,Mita tertawa.
"Jangan ditahan atau kamu bisa sakit mag karena telat makan." ditariknya Irham untuk duduk diemperan masjid agak tersembunyi supaya Irham bisa makan tanpa merasa terganggu dengan tatapan orang.
__ADS_1
______________________________________________
Sesuai arahan,Irham masuk ke pelataran rumah bapak RT untuk melaporkan diri atas kepindahannya yang insya Allah dalam waktu dekat serta memberitahukan bahwa mulai besok dia dan yang lain akan sering wara wiri untuk mulai mempersiapkan tempat tinggal barunya sebelum benar-benar pindah.
"Silahkan duduk!"
Kedatangan mereka disambut hangat oleh bapak RT sekeluarga sampai semua anggota keluarga diperkenalkan,apa ini tidak berlebihan pikirnya. Mita tersenyum kaku,merasa aneh dengan sikap mereka.
"Silahkan dinikmati!" niatnya cuma sebentar,menyerahkan foto kopi KK dan KTP lalu pergi tapi malah seperti diikat dengan banyak makanan. Melirik Irham,dia tampak sangat menikmati makanan itu. Huuh...Mita menghela napas melihatnya dan hanya tersenyum dan berterima kasih saat terus ditawari makanan.
Mereka mulai bertanya tentang keluarga Mita setelah membaca Kartu keluarganya dan Mita menjawabnya singkat.
"Nanti saya juga ikut pindah....." sahut Irham dengan mulut penuh,Mita melirik kesal
Bapak RT terus bertanya tentang banyak hal terutama 'Kerja atau masih kuliah?' pertanyaan umum menurutnya dan langsung dijawab kerja. Pertanyaan selanjutnya menjurus pada statusnya 'Apakah sudah menikah?' dan dijawab belum. Aneh menurutnya kan sudah tercantum dikartu keluarga tapi masih ditanyakan.
"Wah...kebetulan putra saya masih single belum punya pasangan...hehehe...." jadi ini maksudnya,mempromosikan putranya yah maklum saja seperti itulah orangtua saat menemukan kandidat calon menantu yang baik pengennya menjodohkan.
"Dia sudah mapan jadi guru.....dimana nak?" sambil menepuk pundak anaknya yang terus menatap Mita sambil tersenyum.
"Sekolah menengah pertama didaerah sini,guru bahasa Indonesia..." dia dengan bangga menjelaskan pekerjaannya. Mita mengangkat alis.
"Masya Allah....bagus itu,anak muda yang berdedikasi." hanya berbasa basi sebagai balas budi,telah membuat Irham teler karena kenyang bisa dipastikan dia tidak akan bisa menyetir.
Mulai jenuh melempar pujian akhirnya Mita berpamitan.
"Lho kok buru-buru nak Mita......"
"Ah iya pak...masih ada urusan."
"Urusannya penting ndak?"
"Kalau ndak disini saja dulu kita ngobrol-ngobrol lagi biar lebih akrab dan bisa lebih dekat." modus ini sih. Untunglah ada telepon masuk. Mita meminta izin agak menjauh untuk menerima telepon.
"Halo assalamu alaikum pak Wahyu..."
"Ah...iya pak 200 butir telur dan 25 ekor ayam kampung yah pak...insya Allah tapi saya masih diluar ini..."
"Mau diambil sekarang ya pak?"
"Oh iya pak saya akan pulang."
"Waalaikum salam...terima kasih."
Mita berjalan mendekat,mengangkat pandangan mau berpamitan dan mendapati bapak RT melongo,entah apa yang dipikirkan.
__ADS_1
"Maaf yah pak,kami harus pulang dan makasih untuk suguhannya...assalamu alaikum..."