
Mama mengabarkan akan berkunjung,pas ditanya sama siapa katanya sama eyang juga papa. Hmm ada apa gerangan sampai para tetua mengunjungi rumah menantu? Jelas ada yang penting kan???
"Bang...besok mama,papa sama eyang mau kesini" Mita melempar kalimat pancingan pada suaminya siapa tahu bisa mengorek tujuan utama mereka.
"Hmm biarin aja...bentar mau balas pesan wa" jawab Yahya yang langsung beralasan membalas wa supaya Mita tidak banyak bertanya padahal aselinya dia sedang mengirim pesan berisi peringatan ke papanya soal alasan rencana menggelar pesta pernikahan mereka,intinya dia tidak mau di ikut sertakan daripada kesleo lidahnya dan menimbulkan kecurigaan. Dan bersyukur papa mengatakan eyang yang akan bicara. Yahya tahu seperti apa eyangnya,sangat mudah membuat istrinya yang notabene memiliki sifat penurut kalau sudah berurusan dengan perintah orang tua. Yahya bernapas lega dan langsung menghapus pesan begitu selesai agar tidak ketahuan.
Diliriknya Mita yang sedang termenung dengan raut muka berkerut.
"Bobo yuk udah malem gak baik lagi hamil bobonya kemaleman" Yahya sibuk menata bantal yang terus diperhatikan oleh Mita.
"Beneran Abang gak tahu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik membuat Yahya terdiam.
"Tenang...jangan panik ok" Yahya menenangkan dirinya sendiri untungnya gak berhadapan jadi Mita tidak akan bisa membaca ekspresinya yang kaget dan bingung musti bicara apa.
"Tuh kan Abang udah tau tujuan mereka ke sini...kok gak bilang" Yahya bengong.
"Enggak...mana ada?"
"Buktinya tadi diem mikirin apa coba?" suara Mita menuntut jawaban.
"Ikut mikir lah mau apa mereka ke sini"
"Alesan Abang aja...bilang aja udah tau" tuduh Mita pada suaminya.
"Lah kok jadi nuduh Abang...mama gak ada ngasih tau soal kedatangan mereka bisa jadi mereka kangen sama kamu apalagi nih bentar lagi mau punya cucu jelas mikirin kesehatan kamu makanya nengokin ke sini beda kalau kita tinggal dirumah mama bisa ngawasin kamu...gak khawatir lagi" rasanya jawabannya masuk akal semoga tidak menimbulkan kecurigaan yang lebih besar. Diliriknya Mita yang masih termenung tampak berpikir keras.
"Mungkin nih ya mau diskusi soal acara empat bulanan anak kita" Mita langsung menatap Yahya.
"Masak iya?" masih juga curiga atau insting seorang istri.
"Baru masuk sembilan Minggu kan? Acara empat bulan bukannya nunggu usia kandungannya paling enggak enam belas Minggu yah?" ucapnya lagi dengan berkerut.
"Yah kan Abang bilangnya mungkin...masih mengira-ngira...bener enggaknya besok tungguin aja dulu...sabar..."
"Yuk bobo...gak usah terlalu dipikirin soal mereka kaya sama siapa aja nanti kamunya kepikiran terus jadi gak bisa tidur" ditariknya pelan tangan Mita yang hanya menurut.
__ADS_1
"Eh belum ganti baju kok disuruh tidur sih" keluhnya langsung berdiri dan berjalan menuju lemari,mengambil baju ganti.
Cuacanya terasa panas walaupun dimalam hari dan akhirnya ia memilih mengenakan daster rumahan pendek tanpa lengan agar bisa mengurangi rasa gerah. Semenjak hamil itu yang ia rasakan gampang kepanasan dan berkeringat. Walaupun begitu ia menghindari penggunaan kipas angin khawatir masuk angin.
Yahya terus memperhatikan istrinya yang masuk ke kamar dengan daster rumahan pendek tanpa lengan. Hanya dengan memandang dia bisa membayangkan isi didalam daster itu hingga membuat si kecil meng geliat.
"Kamu sengaja godain Abang?" tanya Yahya yang disambut muka bingung istrinya.
"Godain gimana?" Yahya menghela napas menghadapi kepolosan istrinya.
"Itu pake daster" matanya terus terarah pada tubuh istrinya yang terlihat *****dipandangannya.
Mita memandangi dirinya sendiri dan merasa tidak ada yang aneh,bukannya tanpa baju kan darimananya menggoda.
"Aaah kamunya gak ngerti-ngerti sini biar Abang perlihatkan..."
"Abang...." Mita menjerit saat tubuhnya seperti melayang ke udara karena perbuatan suaminya yang tanpa ba bi bu terus menyerangnya tanpa ampun namun tidak berdaya melawan dibawah kuasa suaminya hingga akhirnya mereka berdua terkapar dengan napas terengah-engah setelah beberapa waktu.
"Abang ih...bisa-bisanya" Yahya hanya terkekeh kemudian menciumi istrinya yang langsung menahan mukanya.
"Yah kan baru satu ronde yang" protesnya dengan cemberut dan Mita langsung membalas dengan gelengan kepala.
"Ingat pesan dokter...NGGAK BOLEH KESERINGAN" Yahya langsung lemas menatap kecewa adik kecil yang meronta ingin kembali terbang mengelilingi dunia namun tidak bisa.
"Sabar nunggu besok yah!" gumamnya lirih kemudian ngeloyor pergi ke kamar mandi dengan pasrah,tidak bisa mengajukan negosiasi kalau berhubungan dengan keselamatan calon anaknya.
"Bang..." panggil Mita saat dia kembali.
"Apa?"
"Adenya laper lagi masih jam delapan bisa tolong beliin soto daging lagi kepengen kok kayanya seger..."
"Ngidam lagi?" Mita menggeleng.
"Bukan ngidam cuma pengen aja...wanita hamil kan suka eneg perutnya jadinya suka ngebayangin makanan yang sekiranya bisa dimakan dan gak bikin mual" jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
"Iya...mau apalagi mumpung belum berangkat...sekalian belinya"
"Udah itu aja"
"Yakin?"
"Hmm iya insya Allah" memastikan agar tidak terulang yang kemarin baru pulang dianya minta makanan lain juga jadinya bolak balik.
----_----_----_++++++++((((((((((---------+++--+++++
Pagi ini suasana rumah lebih semarak,berbeda dengan sebelumnya yang tanpa kehadiran Mita biasanya emak sendiri yang didapur tapi hari ini mereka bisa berkolaborasi dalam membuat masakan istimewa. Dari habis subuh Mita sudah berkutat didapur katanya ingin membuat siomay. Dengan berbekal ilmu dari yutub Mita mencoba mempraktekkan tutorial memasak siomay hanya saja karena tidak ada ikan dia menggantinya dengan ayam negeri yang tadi dibeli dari warung terdekat dan imbasnya adalah lagi-lagi Yahya yang disuruh membeli katanya biar cepat,saat para tetua datang bisa langsung disajikan.
"Cobain bang enak nggak?" orang pertama yang menjadi kelinci percobaan adalah suaminya yang hanya menatap makanan itu.
"Ayo buka mulutnya! Ini penghargaan buat Abang yang telah berjasa membeli ayam" bujuk Mita dengan tersenyum jahil,Yahya mendengus kesal seperti diingatkan dengan kejadian tadi dimana ibu-ibu meledeknya.
"Gak ada lain kali yah...malu Abang diledekin ibu-ibu" Mita mengernyit soalnya tadi suaminya tidak bercerita apa-apa baru sekarang cerita,pantesan dadi tadi manyun.
"Memang mereka meledeknya gimana?" tanya Mita penasaran.
"Kasyihan...kalau aku punya suami ganteng gagah kaya gitu pasti gak akan aku biarin keluar kamar pagi-pagi gini bakalan dikekepin teruuus...hahaha..." Yahya menirukan gaya bicara ibu-ibu itu dan melengos kesal,Mita antara prihatin dan ingin tertawa mendengarnya namun ditahan,bisa-bisa suaminya merajuk dua kali lipat.
"Yang paling bikin malu mereka ngomongnya keras banget gak pake filter terus kaya yang seneng banget ngetawain..." keluhnya.
Muncul perasaan bersalah dihati Mita. Ditatapnya suaminya dengan sedih.
"Maaf...aku gak kepikir sampe ke sana" langsung mendekat dan mendekap sambil menciumi kepala suaminya didepan emak yang terlihat memalingkan muka karena malu.
"Ekheem lanjut deh emak ada urusan sama pak Darman" Mita melotot kemudian menepuk jidat menyadari kecerobohannya. Berbeda dengan Yahya yang seperti mendapat peluang. Langsung digendongnya tubuh Mita yang menjerit kaget.
"Abang mau ngapain?" tanyanya panik.
"Salah sendiri" Yahya tersenyum sinis dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ditendangnya pintu kamar yang langsung tertutup sempurna.
"Abang masih pagi ini" keluh Mita yang tidak bisa meronta khawatir jatuh,bisa bahaya kalau sampai jatuh.
__ADS_1
Yahya tidak mengindahkan hanya mengangkat alis kemudian melakukan serangan atas keinginan yang tertunda semalam. Bisa dibilang balas dendam yang mengenakkan.