
Yahya POV
Aku gak menjanjikan apapun hanya bilang 'dicoba' mau gimana hasilnya terserah yang diatas.
"Suster apa dokter Shiela ada di ruangannya?" tanyaku pada salah satu suster yang sedang berjaga.
"Hari ini dokter Shiela shift pagi mas jadi sudah pulang kayanya."
"Makasih infonya." ya sudahlah mau gimana lagi kalau orangnya sudah pulang,tinggal ngomong jujur sama Mita. Namun belum jauh mungkin baru satu meter.
"Mas...mas...tunggu itu dokter Shiela!" teriak suster tadi,aku langsung berhenti dan balik badan. Ku lihat suster tadi tergopoh-gopoh mengejar Shiela sambil berteriak memanggilnya. Aku meringis mendengar teriakan suster itu yang terdengar cempreng,gak enak didengar.
Tampak suster itu berbicara sambil menunjuk ke arahku. Saat menatapku,dia langsung tersenyum manis lalu berjalan menghampiriku dengan gaya yang elegan.
Sudah gak memakai jas putih artinya selesai jam kerja. Ini waktu yang tepat untuk mengobrol santai dengan sedikit berbasa-basi.
"Ada apa mencariku?" tanyanya saat didepanku sambil tersenyum.
"Ada yang mau aku omongin."
"Ayo kita cari tempat biar enak ngobrolnya!" dia tersenyum makin lebar hingga tampak lesung dipipinya. Aneh,dulu seingatku dia gak punya lesung pipi tapi kenapa sekarang ada. Mungkin dulu kalah sama lemak kali ya. Aduh kenapa jadi mikirin lesung pipi seperti gak punya kerjaan saja. Harus fokus sama tujuan awal.
"Dimana?" tanyanya,dia menatapku lekat dengan dahi berkerut. Sepertinya dia sadar aku tadi melamun.
"Kantin rumah sakit?" usulku dan dia menggeleng.
"Bosan dirumah sakit,gimana kalau keluar?" jawabnya memberi pilihan. Aku mengangguk setuju. Mas Dani sudah datang menemani Mita jadi aku bisa lebih tenang meninggalkannya,ada yang mengawasi dan ada yang membantu saat dia butuh bantuan.
"Ayo!" ajakku dan kami berjalan beriringan sambil dia banyak bicara,menggenang masa sekolah yang menurutnya lucu hingga ia tertawa lebar. Sepertinya suasana hatinya sedang baik sehingga mudah sekali ia tertawa dengan cerita yang menurutku biasa saja. Aku mengimbangi dengan tersenyum.
"Pake mobil siapa?" tanyanya saat kami sampai diparkiran.
"Aku bawa motor?" awalnya tampak berpikir tapi mukanya mendadak cerah entah memikirkan apa?
"Ok...kita naik motor kamu,bosen naik mobil pengen yang berbeda." ucapnya yakin. Dahiku mengerut.
"Aku cuma bawa helm satu."
"Ini malem jadi gak akan ada polisi kalaupun ada gampanglah kasih uang banyakan pasti damai." asal ngomongnya. Dia pikir semua polisi mau disogok kan gak semua polisi mata duitan,pasti ada yang jujur. Parah ini orang semua polisi disamain. Kalau dapet apesnya ketemu polisi jujur terus digelendeng dapet surat tilang jelas aku yang kena.
"Gak mau mending naik mobil kamu daripada kamu gak pake helm." tolakku tegas.
Mataku membelalak kaget,dia main nyamber helm orang,mentang-mentang dokter bisa seenaknya sama bawahan.
"Nih...sekarang aku punya helm ayo berangkat!" dia mengacungkan helm ditangannya dengan senyum lebar lalu memberi perintah tapi aku masih diam ditempat.
"Kasihan sama yang punya helm main embat aja kamu,nanti orangnya pulangnya gimana?" protesku kesal. Menzolimi orang itu namanya.
"Mana motor kamu?" tanyanya sambil celingukan. Aku malah dikacangin,tarik napas saja ngadepin orang beginian. Gak sengaja lihat ke bawah,dia pake rok.
"Apa lagi?" akhirnya dia kesal juga.
"Kamu pake rok pendek." dia langsung melihat ke bawah.
"Gak pa-pa...ayo kita berangkat mumpung masih sore!" ucapnya semangat. Justru aku yang keberatan dengan cara berpakaiannya. Jika membonceng dibelakang dengan posisi menyamping sudah pasti roknya akan terangkat sampai setengah paha ya walaupun mungkin pakai daleman tapi pertanyaannya apa dia gak risih saat tubuh bagian intim terlihat oleh orang lain?
"Ayo!" dia menarik tanganku saat melihatku tetap diam ditempat. Akhirnya aku mengalah,menuruti kemauannya. Dipikir-pikir badan-badan dia kenapa aku yang pusing,dosa ditanggung sendiri yang penting sudah ku ingatkan.
__ADS_1
Sayang sekali cantik tapi diobral ke mana-mana. Lelaki pasti senang disuguhi yang mulus-mulus begini,kecuali aku...
"Nanti didepan ketemu satpam berhenti dulu aku mau nitipin uang ganti rugi buat orang yang aku ambil helmnya." mentang-mentang punya uang banyak segalanya diselesaikan dengan uang.
Setelah memasang helm dikepala lalu naik dijok belakang,aku kaget tangannya memeluk perutku seperti sudah biasa begini sama lelaki lain. Risih tapi menolak dipeluk nanti dia jatuh aku juga yang susah.
Ya sudahlah mau gimana lagi,pasrah saja. Langsung menjalankan motor pelan-pelan dan sampai didepan.
"Bang berhenti!" godanya,dikira aku abang ojek kali ya. Dia turun dan menemui satpam memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Makasih pak!" ucapnya sambil melambaikan tangan kepada satpam itu yang gak kalah semangat membalas dengan lambaian juga. Senenglah ikut dapat sogokan.
"Selesai...ayo berangkat!" dia kembali memeluk perutku.
Dia yang memilih restoran yang kami singgahi sekarang. Seleranya jelas berbeda dari yang dulu. Terlihat pemilih dan bergaya elegan sekarang.
"Mau pesan apa?" kelihatan dari gelagatnya dia sering ke sini sekalian biar dia yang memilih menunya.
"Samain sama kamu." dia melambaikan tangan memanggil pelayan.
"Disini yang paling enak steaknya jadi nanti aku pesankan buat kamu...aku terbiasa makan salad buah atau sayur lebih sehat." ucapnya sambil tersenyum ke arahku,pantas badannya langsing diet ketat rupanya tapi menurutku terkesan menyiksa diri sendiri.
Seorang pelayan datang menghampiri kami.
"Mas saya pesan steak,salad buah minumnya jus jeruk hangat dua ya."
Dari tadi dia yang banyak bicara,aku hanya menjadi pendengar setia. Tiap ditanya jawabanku iya enggak begitu terus tapi ku lihat dia enjoy saja. Sampai datang pelayan tadi membawa pesanan.
"Silahkan menikmati!" sambil meletakkan dimeja.
"Makasih." balas Shiela dan pelayan itu mengangguk sopan lalu pergi.
"Apa?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Gak pa-pa."
"Kirain ngomong sama aku." dahinya berkerut.
"Baca doa." jawabku singkat.
"Hahahaha...kaya anak kecil saja segala pake doa." dia meledekku sambil menggelengkan kepala. Ini yang aku gak suka,dia meremehkan agamanya sendiri.
"Ajaran agama kok diremehkan. Baca doa bukan berarti merendahkan diri tapi jati diri sebagai umat muslim." aku pikir kalimat ku masih sopan kan jadi menurutku dia gak akan tersakiti kecuali dia memiliki sifat pemarah. Lebih baik menikmati makanan didepanku lalu kami makan dengan tenang.
Awalnya aku pikir dia diam karena sedang makan tapi saat ku lirik makanannya sudah habis dia malah sibuk sama hpnya. Artinya dia tersinggung sama ucapanku tadi.
"Aku pikir kita masih berteman baik jadi hal wajar jika aku mengingatkan kamu karena aku peduli padamu." dia menyimpan hpnya lalu menatapku sekilas lalu memandang ke arah lain. Ini ciri-ciri perempuan ngambek.
"Maaf jika ucapanku menyinggung."
"Ya aku tahu dari dulu kamu peduli sama aku..." ucapnya masih belum menatapku.
"Hanya sebagai teman dan gak lebih." sambungnya sambil melirik sinis. Aku menarik napas panjang. Kami kan cuma berteman,mau dilebihin gimana? dahiku sampai berkerut memikirkannya.
"Aku mau minta sesuatu sama kamu!" percuma membahas itu daripada kelamaan lebih baik to the point aja. Sudah malem juga gak baik kan perempuan sampai rumah kemaleman.
"Apa?" tanyanya dengan muka ditekuk.
__ADS_1
"Besok Mita boleh pulang ya!" dia mendengus sebal.
"Jadi ini alasannya kamu ngajakin aku ngobrol?" tanyanya sinis dan aku mengangguk.
"Salah satunya." jawabku pendek dan dia menatapku tajam.
"Apa sih yang membuatmu menyukainya?" tanyanya sewot. Heran dia bisa berubah wujud dengan begitu cepat. Tadi senang terus ngambek sekarang sensi.
"Apa hubungannya sama aku menyukainya atau enggak? Aku kan cuma minta sama kamu supaya Mita besok bisa pulang?" tanyaku dengan muka bingung. Apa maksudnya coba?
"Jelas banget cuma gara-gara dia pengen pulang besok kamu menemui ku." jawabnya ketus dengan muka cemberut kesal. Eh...dia marah,aku makin bingung sama sikapnya.
"Kamu menyukainya jadi ngelakuin apa aja demi dia." jelasnya sambil melengos kesal. Ah...benarkah begitu?
"Kamu anggap apa aku?"
"Setelah kamu lambungkan tinggi terus kamu lempar ke tanah yang tandus." teriaknya setelah sebelumnya melihat ke sekeliling memastikan situasinya sepi.
"Hah..." kok jadi gini.
"Aku kira kamu ngajakin aku karena kamu pengen lebih dekat sama aku." ya Allah aku gak mengira sama sekali akan terjadi seperti ini.
"Aku sempat percaya diri mikir kalau kamu tertarik sama aku karena kecantikanku yang sekarang. Tapi..." dia tampak murung.
"Kamu cuma PHP in aku." aku terhenyak dia berpikir sejauh itu. Duh menyesal aku. Tampak air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Maaf...aku gak bermaksud..." ucapku tercekat.
"Dari dulu aku sudah menyukaimu sampai bela-belain ngerubah tubuhku berharap saat kita bertemu kamu bisa jatuh hati dan cinta mati sama aku." teriaknya dengan airmata yang mengalir perlahan. Ini kenapa seperti drama disinetron sih? Aku kan gak ngapa-ngapain dia.
"Tapi kamu malah milih dia..." ini seperti cinta segitiga. Aku memilih Mita dan meninggalkan dia yang sudah melakukan segalanya demi aku.
"Arrrg...sebenarnya apa kurangnya aku hingga kamu milih dia? Apa aku kurang cantik? Atau aku kurang menarik?" Ini apa lagi ngomong gak jelas. Aku merasa frustasi apalagi dia menangis terus. Orang-orang menatapku seakan aku yang menyebabkan dia menangis.
"Aku gak tahu maksud kamu apa?" ucapku tegas dan memandangnya serius.
"Aku mikirnya kita teman SMA yang sudah lama gak bertemu jadi apa salahnya ngajakin kamu ngobrol?"
"Memang Mita minta aku ngomong sama kamu biar besok bisa pulang karena dia bosan jadi gak ada sangkut pautnya sama aku yang suka atau enggak sama dia." tarik napas dulu.
"Apa ini salah?"
"Ini kan sepele kamu aja yang mikirnya kejauhan."
"Sepele bagimu tapi gak bagiku...aku cemburu!" teriaknya gak jelas. Aku hanya menarik napas. Aku salah bicara. Ini seperti aku yang sedang menjelaskan hubungan ku dengan Mita padanya.
"Maaf jika sikapku membuatmu salah paham." aku menatapnya prihatin.
"Aku ingatkan padamu! Jangan merubah penampilan hanya untuk menarik perhatian orang yang kamu cintai karena cinta itu nafsu jadi singkirkan perasaan itu dari hatimu. Berikan cintamu hanya untuk Tuhan-Mu agar kamu gak kecewa." dia diam sambil menunduk sedih.
"Pulanglah! Gak baik seorang perempuan pulang malam lagipula aku masih ada urusan." ucapku pelan sambil berdiri. Kasihan juga melihatnya menangis tanpa alasan tepat menurutku.
"Masalah Mita yang ingin pulang besok terserah kamu. Kamu yang tahu kondisi dia."
"Dia yatim piatu,satu-satunya keluarganya cuma kakaknya tapi gak bisa ambil cuti buat jagain dia karena masih jadi karyawan kontrak jadi aku bantuin jagain dia dirumah sakit."
"Selain bosan mungkin dia juga sungkan terus membebani aku jadi aku cuma menyampaikan kalau kondisinya sudah baik izinkan dia pulang besok." melihat kondisinya yang belum tenang sepertinya dia butuh waktu sendiri. Lebih baik aku tinggalkan saja dia.
__ADS_1
"Maaf aku gak bisa mengantarkan kamu pulang...aku pulang duluan assalamu alaikum...!"