Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 94 Orang yang tidak punya hati


__ADS_3

"Dek...!" sapanya dengan senyum lebar menyiratkan sesuatu yang bisa ditebak Mita. Ujung-ujungnya pinjam uang. Tambah pusinglah dia,sedang bingung ada yang mencari gara-gara.


"Apa?" nah kan keluarnya nada ketus,tidak terkontrol lalu tarik napas saat menyadari kekhilafannya.


"Astaghfirullahaladzim..." gumamnya pelan. Dani jadi tidak berkutik akhirnya bungkam mengetahui kondisi adiknya yang sedang sensitif.


"Maaf...aku lagi bingung." ucapnya pendek.


"Tapi ada kan buat pinjemin aku?" masih menawar juga langsung disambut tatapan tajam secara reflek.


"Buat apa?" Dani cengar cengir.


"Janjian sama temen malam minggu kan,biasa nongkrong." Mita langsung menutup mata tidak habis pikir dengan isi kepala kakaknya. Disaat kondisinya sulit begini Dani sibuk memikirkan kesenangan diri sendiri,pinjam uang cuma untuk nongkrong sama teman-temannya,sungguh egois. Mita spontan mengurut pelipisnya. Beristighfar dalam hati,memohon ketenangan untuk tidak tersulut emosi. Menyadarkan diri bahwa saat ini dia sedang menghadapi ujian.


Mita melipat tangan,menumpukan ke atas meja lalu menatap lekat kakaknya.


"Maaf aku gak bisa minjemin duit lagi malah aku mau minta uang ku kembali. Buat ngasih gaji ke pak Darman sama yang lain masih kurang karena pendapatan bulan ini berkurang." Dani tampak gelagapan.


"Kalau aku punya uang gak bakalan minjem kamu dek." jawabnya jujur tanpa ekspresi bersalah malah terlihat kecewa.


"Yah sudah aku kasih waktu sampe gajian,aku mau uang ku kembali seratus persen." matanya terbelalak kaget dan langsung protes.


"Mana bisa? Gajian cuma dua juta kalau disuruh ngelunasi hutang habis dong terus gimana hari-hariku selanjutnya?" ucapnya mengenaskan. Sadar juga kalau hutangnya banyak. Mita menghela napas menghadapi sikap kakaknya,makin hari makin kekanakan bukannya makin dewasa.


"Yah terus gimana,aku butuh ini! Kasihan pak Darman sama yang lain kalau aku ngasih gajinya gak full,kan untuk biaya hidup keluarganya." pepet terus biar sadar diri.

__ADS_1


"Yah gak tahu pokoknya gak bisa." tolaknya mentah-mentah membuat Mita jengkel tapi berusaha mengendalikan diri.


"Kebutuhan kakak apa sih? Makan juga aku siapin,semua kebutuhan rumah aku juga yang mikir terus uang kakak itu buat apa? Bensin? Berapa?" Dani mendengus sebal,memandang Mita dengan tatapan tajam,merasa tidak punya harga diri meskipun ucapan Mita adalah sebuah kebenaran.


"Tolong dong belajar untuk mengendalikan diri! Seumuran kakak gak pantes untuk mikir foya-foya,harus ngasih contoh yang baik buat aku bukan kaya gini. Apalagi kita yatim piatu,harusnya belajar hidup mandiri. Mikirnya itu masa depan." nasehat Mita pelan,menekan dalam-dalam perasaan kecewa dan emosi dalam hatinya. Diluar dugaan Dani bangkit dari duduknya dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu kamarnya. Mita terhenyak kaget dengan perasaan campur aduk hingga akhirnya ia merapikan barang-barangnya dan masuk ke dalam kamarnya. Mencurahkan perasaannya lewat tangisan.


***********


Sejak kejadian itu,Dani tidak banyak bicara. Ditanya menjawab seperlunya. Diajak makan menolak. Bahkan sampai baju kotor dilaundry. Mita hanya bisa menarik napas panjang,tidak mau terlalu memikirkan. Membiarkan saja biar Dani belajar untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


Beberapa hari kemudian saat Mita mencatat pemasukan dan pengeluaran ke dalam pembukuan,tiba-tiba Dani melempar uang ke depannya lalu pergi tanpa sepatah katapun. Mita sendiri tidak ambil pusing,sudah kebal menghadapi sikap kakaknya. Kemudian menghitung uang tadi. Masih kurang lima ratus ribu sebetulnya tapi malas menagih kalau rezeki gak akan ke mana,pikirnya.


Begitu seterusnya mendiamkan Mita hingga mendadak Dani mengatakan akan melamar seorang perempuan bernama Nuri Halimah untuk menjadi istrinya dengan kata-kata kasar. Mita hanya mengangkat alis,malas menanggapi.


"Aku butuh uang,siapin sepuluh juta untuk acara lamaran!" perintahnya tegas tanpa melihat ke arah Mita. Kemarahan yang susah payah Mita kendalikan,kembali disulut dengan tidak hormat. Rasanya Mita sangat kecewa. Dianggap apa ia,setelah diperlakukan dengan acuh,dibentak dan sekarang diperintah untuk menyiapkan uang sepuluh juta. Mita tertawa mengejek.


"Kakak yang mau melamar kenapa aku yang disuruh nyiapin uangnya...sepuluh juta?" Mita menutup mulutnya rapat sebagai langkah mengontrol diri karena ia sadar hampir lepas kendali lalu menghela napas dan pergi.


"Aku gak mau tahu kamu harus siapin uangnya kalau gak rumah ini akan aku gadaikan." teriaknya mengancam.


Mita sendiri sudah lelah menghadapi sikap kakaknya jadi dia membiarkan saja. Dia ingin tahu seberapa jauh langkah Dani. Saat dirasa sulit dikendalikan baru ia akan bertindak.


Mungkin ini alasannya,dulu ia seperti didorong untuk membeli sebidang tanah tanpa sepengetahuan kakaknya. Waktu itu yang diajak pertimbangan adalah Bu Indah dan Yahya,merasa mereka berdua orang paling tepat untuk diajak berdiskusi. Bersyukur lagi kini tanah itu sedang dalam proses pembangunan. Hanya rumah sederhana yang niatnya akan ia tinggali sendiri ke depannya karena terus terang ia merasa tidak nyaman lagi hidup serumah dengan Dani.


Sepulang kerja Dani datang dengan muka kesal,masuk ke kamar dengan membanting pintu. Mita hanya menyimak tanpa mau berkomentar. Akhir-akhir ini sudah biasa terjadi. Mau dinasehati pun percuma takutnya malah bertengkar hebat. Mak Jinem paling mengerti,beliau memandang prihatin ke arah Mita yang tersenyum seakan mengatakan 'aku baik-baik saja'.

__ADS_1


Hingga terus berlanjut sampai berminggu-minggu dan pada akhirnya ia mengatakan...


"Aku akan menjual rumah ini!" Mita meremas dadanya kuat,seperti merasakan sakit tanpa luka didalamnya. Tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.


"Terserah jika pengen menjual bagian kakak tapi aku gak mau menjual bagian aku." Mita tidak kehabisan akal,sengaja menggertak kakaknya yang langsung terlihat frustasi.


"Dulu kamu belum mengembalikan sisanya masih lima juta kan?" ucapnya kasar.


"Aku berhak atas peninggalan orang tua kita!" balas Mita tegas tanpa melihat ke arah Dani. Dia tidak ingin Dani melihatnya menangis lalu masuk ke dalam kamar. Disaat seperti ini dia merindukan orang tuanya.


Hari terus berlalu sampai Yahya tiba-tiba mengajaknya bertemu disuatu tempat. Saat ditanya ada apa Yahya menjawab penting dan tidak bisa dikatakan lewat telepon harus bertemu langsung.


Dan akhirnya Mita datang ke restoran Yahya dengan perasaan gamang. Yahya menyimpan sertifikat tanah ke atas meja untuk diperlihatkan kepadanya. Dia langsung syok.


"Kemarin mas Dani meminjam uang sebanyak 30 juta dengan memberikan sertifikat ini sebagai jaminan."


"Awalnya aku menolak tapi dia bilang jika terpaksa akan menggadaikan kepada rentenir. Ini juga aku sudah menawar."


"Memang mintanya berapa?"


"Lima puluh juta."


Mita sudah tidak tahan lagi akhirnya pertahanannya runtuh. Airmata mengalir deras dipipinya,hanya menahan agar tidak terdengar isakan. Ia masih sadar lingkungan,saat ini sedang berada ditempat umum,bersyukur tidak ramai pengunjung. Yahya menatapnya prihatin.


Mita tidak pernah menyangka Dani akan berubah menjadi orang yang tidak punya hati.

__ADS_1


__ADS_2