
Keluar dari kamar mandi,dilihatnya suaminya tidak ada didalam kamar. Menengok jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan. Mita menarik napas,sudah siang rupanya tapi masih harus mengeringkan rambut panjangnya. Mita memandang pantulan dirinya dicermin didepannya dengan pandangan lesu. Sebelumnya tidak pernah terpikir kalau rambut panjangnya akan menjadi kendala saat ia terburu-buru seperti ini.
Ini gara-gara suaminya yang tiba-tiba minta jatah. Tidak tahu kapan mengikutinya masuk ke dalam kamar langsung main tarik ke kamar mandi. Sudah ditolak dengan alasan masih pagi tidak enak sama yang lain dan musti buru-buru tapi suaminya terus memaksakan kehendaknya yang akhirnya mau tidak mau harus dipenuhi karena memang sudah menjadi kewajibannya sebagai istri melayani suami. Yah ini juga demi menjaga keutuhan rumah tangga,ucapnya memotivasi diri sendiri sambil mengangguk-angguk membenarkan pemikirannya.
Huffttt menjalani hidup jangan terus mengeluh makin capek jadinya harus ingat bersyukur atas limpahan karunia dari Allah karena tidak semua orang bisa merasakannya....semangaaaat ini baru diawal tidak tahu deh selanjutnya kaya apa,tidak mau berburuk sangka lebih baik berserah diri pada sang pencipta.
"Potong rambut" akan menjadi tugas berikutnya disela waktu kosong. Mungkinkah ada? katakanlah insya Allah ada. Kalaupun tidak sempat pergi ke salon masih ada DIY potong rambut diaplikasi yutub yang bisa dilakukan sendiri tanpa perlu repot pergi ke salon. Dikasih kemudahan kenapa tidak dimanfaatkan hehehe....pikirnya.
Hampir lupa berdandan ia bukan seorang gadis lagi statusnya naik satu tingkat sebagai istri,musti tampil cantik dan menarik didepan suami biar makin sayang dan cinta dan tidak sampai terpesona sama wanita diluar rumah....kemudian beranjak keluar dari kamar setelah mengenakan kerudung.
"Yang ditunggu-tunggu udah muncul sini nak kita sarapan sama-sama!" sebetulnya sarapan tidak ada dalam agendanya mikirnya nanti aja pas sampai rumah tapi demi keluarga barunya dia menyingkirkan egonya. Mita mengangguk sambil tersenyum lebar kemudian berjalan ke meja makan.
"Assalamu alaikum.....selamat pagi!" sapanya ceria.
"Waalaikumsalam selamat pagi juga!" balas semua orang dengan kompak.
"Dede Zidan...." diciumnya pipi Zidan yang tembem,terasa kenyal seperti bakpao. Zidan langsung tertawa.
"Kakak....Maira juga mau dicium." protes Maira dengan cemberut,merasa iri dengan adiknya.
"Bukan kakak tapi Tante." ucap Yahya menegaskan pada Maira yang langsung menggeleng,tidak mau menurut membuat Mita terkekeh-kekeh. Yahya menarik napas percuma memaksa hanya saja ini terkesan dia yang tua banget dengan panggilan om sedangkan istrinya dipanggil kakak,menunjukkan sekali jarak usia yang terpaut jauh 6-7 tahun.
"Kakak....cium...." rengek Maira menuntut.
"Owh iya lupa....maaf!" Mita mengacungkan dua jari tanda perdamaian.
"Sini dong mana yang mau dicium!" Mita tersenyum menggoda. Maira mendekatkan pipinya yang langsung dicium terus menyodorkan pipi sebelahnya yang belum dicium. Manja banget gayanya anak siapa sih ini.
__ADS_1
"Tuh masih ada yang ngiri minta dicium!" ucap Latifa dengan senyum ditahan,menyadari tatapan adiknya yang dalam melihat interaksi ketiganya seperti yang iri pada dua anak kecil ini.
Mita tampak mengerutkan dahi bingung.
"Siapa?" tanyanya polos.
"Tuh...." Latifa mengarahkan pandangan pada adiknya dengan tersenyum mengejek.
"Aaah....dia mah sudah lebih-lebih gak butuh dicium juga sama aku kebanyakan dosis entar." Mita melempar guyonan untuk menutupi rasa malu lalu duduk disebelah suaminya.
"Ahahaha....kebanyakan dosis iya bisa-bisa kejang." balas Latifa mentertawakan adiknya yang tampak tidak terusik.
"Kalian ini...." tampak yang tua-tua menggelengkan kepala melihat kelakuan yang muda. Kedatangan Mita membawa keceriaan baru dirumah mereka.
"Sayang tolong ambilkan!" Yahya menyodorkan piringnya. Mita langsung berdiri,melayani suaminya yang main tunjuk pada makanan diatas meja.
"Iya....makasih." Latifa memperhatikan interaksi keduanya,mencibirkan mulut.
"Mau-maunya ngambilin makanan buat suami kalau aku sih ogah....udah gede mustinya nyontohin anak-anak biar mandiri ." komentar Latifa setengah menyindir sambil menyuapi Zidan yang berada di pangkuannya,untuk Maira sudah mandiri bisa makan sendiri tanpa disuapi,anak pintar.
Tidak menyadari hal serupa dilakukan oleh papanya sendiri semenjak baru menikah.
Mita tidak menanggapi,semua orang bebas berpendapat asalkan caranya benar dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dipikirannya sudah menjadi tugasnya menuruti perintah suami selama tidak melanggar syariat agama.
"Kamu nyindir papa?" tanya papa dingin dengan tatapan galak,merasa tersindir dengan ucapan putrinya.
"Hah...." Latifa tersentak lupa mengondisikan mulutnya.
__ADS_1
"Eh enggak kok pa....aku cuma main-main sama mereka." kilahnya yang tampak panik karena telah menyinggung papanya. Matanya juga terlihat gelisah takut dengan kemarahan papanya.
"Serius cuma main-main." Latifa mengangguk-angguk yakin,berusaha meyakinkan papanya yang tampak kesal. Mama dan eyang hanya diam menyimak,tidak ingin menyela atau suasana makan akan menjadi tidak nyaman.
"Lain kali hati-hati kalau bicara." ucap papa memperingatkan kemudian melanjutkan makan. Latifa menghembuskan napas lega.
"Makanya kak jaga mulut." balas Yahya yang merasa terintimidasi dengan ucapan kakaknya yang ceplas ceplos.
"Gak semua yang terlihat buruk itu buruk. Aku ingin dilayani istriku supaya dia cepat terbiasa dekat sama aku....enggak yang kaya menjaga jarak sama aku lagi karena selama ini dia benar-benar menjaga batasan dengan laki-laki. Setiap aku dekati ia langsung kaya waspada dan spontan menghindar mungkin kaya ada alarm dalam dirinya yang membuatnya bergerak reflek mundur menjauh makanya sekarang aku lagi mencoba bikin dia terbiasa gak kaku tiap aku dekati." jelas Yahya yang mendengus.
"Suka suuzon jadi orang." gerutunya kesal. Latifa baru paham langsung nyengir.
"Iya maaf aku kan gak tahu dek." ucap Latifa lesu.
"Kalau gak tahu ya jangan komentar lah." balas Yahya sengit. Berusaha menyabarkan diri akhirnya kok yah kaya yang kesal pengen meluapkan.
"Setiap orang kan punya alasan jadi gak bisa disama-samain. Apa yang kakak anggap baik belum tentu baik buat aku sama istriku." sambungnya bersungut-sungut.
"Iya maaf." ucap Latifa pelan.
"Jangan minta maafnya sekarang dilain waktu ngulang lagi mesti sungguh-sungguh belajar gak ngulangi lagi. Aku tahu karakter kakak kaya apa suka ceplas ceplos."
"Ingat punya anak....jangan hanya ngajarin mandiri harusnya ngajarin bicara yang baik ke anak dimulai dari diri sendiri."
"Kita sudah dewasa,sekarang aku sudah jadi imam,pemimpin rumah tangga pengennya jadi lebih baik. Kakak juga jangan suka rempong sama urusanku,boleh menasehati tapi gak pake nyindir-nyindir....yang baik gitu loh jadi yang tua biar bisa dihormati sama yang muda." Mita melongo,ternyata suaminya kalau sudah kesal suka bicara panjang lebar seperti tidak ada titik koma yah walaupun yang diomongkan betul betul betul tapi akan lebih baik lagi kalau tidak pakai nada sambung kesal jadinya adem mendengarnya.
"Sudah bang....istighfar." Mita menggelengkan kepala meminta Yahya untuk tidak melanjutkan bicara dengan nada kesal didepan orang tua. Kasihan,pasti sedih melihat pertengkaran kecil anak-anaknya lagipula ada anak kecil yang ikut mendengar.
__ADS_1