
"Kenapa buru-buru?" Mita mengangkat alis.
"Kenapa buru-buru pindah?" tanya Yahya menjelaskan pertanyaan seraya menyesap kopi hitamnya. Mita menarik napas panjang.
"Kena mental banget tinggal satu atap sama istrinya kak Dani."
"Cerewet."
"Kasihan sama emak dan yang lain kena imbasnya,terlalu ikut campur juga. Satu lagi morotin aku habis-habisan." jawabnya lesu.
"Neng jangan terlalu mikirin kami,gak pa pa kok." ucap emak disela makan siangnya.
"Kita kerja butuh ketenangan Mak supaya tidak terasa berat. Kalau ganda campuran begini,capek hati,capek pikiran,capek badan yang ada makin lelah hayati,tidak semangat."
"Tapi yang aku lihat lebih dari itu,kamu kaya tekanan batin gak cuma kena mental?" Mita tersenyum kecut.
"Kak Yahya bisa banget nebaknya."
"Berarti ada masalah lain." Mita mengangguk sedih.
"Mungkin gara-gara aku tegasin,dia jadi jelek-jelekin aku didepan orang lain."
"Memang apa bilangnya?" tanya Yahya.
"Katanya aku suka ngasih harapan palsu ke lelaki,seneng digodain sama mereka makanya belum mau nikah."
"Sama sekali aku gak kepikiran sampai sana." sambil menggelengkan kepala lemah.
"Kak Yahya tahu kan aku memang gak mau pacaran."
"Masih belum siap nikah juga,takut belum bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik nantinya. Aku masih suka kekanak-kanakan,belum dewasa."
"Lagipula beberapa bulan lagi acara 1000 harinya bapak sama ibu,masih belum bisa fokus mikir yang lain." Mita menyedot minumannya,membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Yahya terdiam beberapa saat sibuk dengan pikirannya. Ini seperti lampu hijau baginya untuk menyatakan perasaan sekaligus mengajukan ta'aruf. Kalau diacc bisa segera naik ke pelaminan.
__ADS_1
"Ekheem...boleh aku ngomong sesuatu?" Ucap Yahya memberanikan diri,mengingat dia bukan anak kecil lagi. Memendam perasaan terlalu lama sangat tidak menyenangkan jadi mencoba dulu supaya jelas. Kalaupun ditolak yah sabar saja bukan jodoh.
Mita mengernyit heran melihat Yahya yang tampak gugup kemudian menarik napas panjang.
"Aku suka kamu." Mita masih loading,berpikir suara tadi cuma hayalan.
"Aku pengen kamu jadi istriku." hening beberapa saat.
"Ahaahaaa...kak Yahya bercanda yah?" Mita tertawa menganggap ucapan Yahya lelucon.
"Enggak..." Yahya menggeleng tegas,senyumnya langsung hilang berganti muka serius.
"Aku serius." ucapnya mantap seraya menatap Mita ingin melihat reaksinya disaksikan emak yang tersenyum bahagia.
"Kita sama-sama belajar menjalankan tanggung jawab masing-masing!" Mita terdiam,tidak tahu harus bicara apa.
"MasyaAllah emak menjadi saksi." sahut emak yang terlupakan hingga mereka menoleh ke arah emak lalu saling memandang sekilas kemudian tertunduk malu.
Untuk menikah bukannya butuh cinta yah untuk bisa bahagia sedangkan dia tidak tahu tentang perasaannya pada Yahya,pikirnya. Meskipun pernah merasa kangen ingin bertemu tapi tidak yang kepengen banget,bukan seperti rindu banget.
"Sholat tahajud lanjut istiqoroh. Kalau memang kita jodoh insya Allah dibimbing lebih dekat sama Allah." ucap Yahya bijak.
"Emak gimana dong?" mukanya sudah seperti ingin menangis karena bingung.
"Terserah neng Mita." Jawab emak sambil terkekeh. Emak menjadi saksi yang bisa bicara saat Yahya melamarnya dengan serius dan sepenuh hati.
***********
Dua minggu berlalu tapi Mita masih bingung,belum bisa memberikan jawaban pasti pada Yahya. Entahlah hatinya masih belum mantap dan semakin bingung saat tiba-tiba saja Adnan datang ke rumah untuk mengatakan hal yang sama. Bedanya....
"Mita..." Adnan terlihat bingung untuk meneruskan kalimatnya.
"Maukah kamu menjadi ibu untuk anakku?" Mita kaget,dalam sebulan ini dua lelaki melamarnya.
"Mas Adnan gak salah,tiba-tiba ngomong begitu ke aku?" tanyanya ingin memastikan. Satu belum dijawab datang yang lain.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Adnan dengan dahi berkerut.
"Apa karena aku sudah duda beranak satu dan terpaut jauh diusia?" Mita salah ngomong,padahal bukan itu maksudnya. Lelaki didepannya mulai bersikap dingin.
"Bukan begitu." jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Lalu?"
"Kita kan gak terlalu dekat,gak akrab dan tiba-tiba mas Adnan melamar aku jelas aku ragu." jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Aku dan anakku langsung cocok sama kamu." Mita menatap jengah. Adnan seperti tidak serius melamar hanya untuk jadi ibu sambung. Memangnya gampang mendidik anak,anak sendiri pun belum tentu mudah mendidiknya. Ringan sekali bicaranya.
"Lagipula...." ucapnya ragu.
"Apa?" Adnan mendesak.
"Sudah ada yang melamar aku lebih dulu." jelasnya sambil menautkan jemari dengan gugup saat teringat Yahya.
"Apa?'' sontak keduanya menoleh ke sumber suara. Itu hafiz yang langsung menghampiri.
"Siapa yang telah mendahului aku?" ini seperti lagunya Mansyur S.
"Katakan siapa orangnya?" desak Hafiz dan mau tidak mau Mita menjawab pelan.
"Kak Yahya...."
"Haaah....." kedua lelaki didepannya tampak syok dan yang paling terpukul adalah Hafiz terlihat tidak terima.
"Mama..." teriak Hafiz yang langsung beranjak pergi dan Mita panik. Mau dikejar pun percuma. Seharusnya dia tidak membocorkan lamaran Yahya pada orang lain. Jika sudah seperti ini bisa dipastikan akan ada lamaran yang datang dari pihak keluarga besar Yahya saat dia belum bisa memberikan jawaban pasti. Mita terlihat frustasi.
"Beneran sudah ada yang melamar kamu?" Mita mengangguk.
"Sial aku kalah cepat."
"Yahya yang anaknya gak banyak bicara itu?" Mita kembali mengangguk dengan perasaan gundah,berharap lelaki didepannya segera pergi karena dia ingin bicara dengan Yahya untuk masalah ini.
__ADS_1
"Dia...diam-diam menghanyutkan."