Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 77 Banyak bersyukur


__ADS_3

Pagi ini suasana hatinya baik,pikirannya terus yakin bahwa hari ini ia bisa pulang. Yeay...sungguh dia sangat menantikan saat itu.


Belum masuk azan subuh dia sudah terbangun dengan mata segar tidak ada rasa kantuk sama sekali. Melompat turun dari tempat tidur dengan semangat full langsung menuju kamar mandi siap membawa baju ganti dan alat-alat mandi sambil bersenandung lirih.


"Ups...dikamar mandi kan gak boleh bersenandung...hihihi..." gumamnya sambil terkikik geli. Lalu melanjutkan membersihkan diri.


Usai mandi dia langsung menggelar sajadah dan mengenakan mukena yang kemarin dibawakan Bu Indah lalu berlanjut sholat Sunnah tahajud sambil menunggu azan subuh.


Rupanya memaksimalkan wudhu berefek tenang dan damai pada hati dan pikirannya sehingga kini pusatnya hanya kepada Allah semata. Meninggalkan pikiran semrawut yang biasa terjadi saat mengerjakan sholat. Mulut komat kamit baca ayat-ayat Al Qur'an tapi segala hal dipikirkan,nanti mau makanlah mau masak apalah... Oh nikmatnya menjalankan ibadah sholat seperti ini serasa Allah sedang mendekat dan menyanyangi hamba-Nya yang niatnya benar-benar tulus ikhlas.


Masih ada waktu sebelum azan dia teruskan berzikir dengan mata merem. Situasinya begitu syahdu hingga terlarut mengingat setiap kesalahannya dan tiba-tiba perasaan sedih menguasainya. Tertunduk dan airmatanya mengalir perlahan,menyesali salah dan dosanya selama bertahun-tahun ia jalani.


"Astaghfirullahaladzim...ampuni hamba...jika sejak Akil baligh sampai saat ini...hamba belum bisa menjalankan firman-firman Mu... dan sunnah-sunnah rosul Mu...lillahi ta'ala hamba memohon ampun...hiks..." ucapnya penuh penyesalan dengan air mata terus mengalir deras.


Hatinya serasa kelabu mengingat banyak sholat yang ia tinggalkan hanya untuk urusan dunia. Marah dan kesal melihat sesuatu yang tidak mengenakkan. Belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk kedua orangtuanya. Mengingat pula serasa selama ini waktunya habis untuk dunia. Ah...mengingat itu membuatnya merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Ingin berubah saat sedang menjalani seperti banyak tantangan yang menghadang sehingga banyak yang gagal kalaupun berhasil prosentasenya bisa dibilang sangat kecil. Banyak riya'nya,sombongnya,merasa paling hebat dibelakang ambyar jadinya


Mendengar azan dia bergegas sholat duluan baru membangunkan kakaknya yang pasti lama nunggu dibangunkan.


"Kak...sudah azan bangun!" menepuk pelan pipi Dani yang seperti sulit membuka mata.

__ADS_1


"Ayo bangun sholat dulu!" sambil terus berusaha membangunkan Dani dengan segala cara. Sampai ke empat kalinya barulah bangun,hanya saja terlihat masih berat.


"Harus dilawan kak itu godaan setan!" Mita terus menyemangati.


"Bismillah...buruan ambil wudhu biar melek!" sambungnya terus mendorong Dani.


"Iya...bawel." ucapnya sambil merenggut dan Mita hanya menghela napas yang penting mau ke kamar mandi.


Dibiarkan sajadah masih dalam posisi membentang kan mau dipakai Dani sholat pikirnya. Tapi sudah sejak tadi dikamar mandi tidak dengar suara gemericik air sampai selesai ia merapikan tempat tidur,sofa,meja belum nampak muka Dani.


"Jangan-jangan ketiduran lagi!" beranjak ke depan pintu kamar mandi lalu mengetuk pelan.


"Kak...ngapain?" disabarkan dulu tadinya ya mungkin masih buang air besar biasanya lama rupanya yang didalam tidak menjawab.


"Iya...berisik." sahutnya bersungut-sungut.


Keluar dari kamar mandi mukanya kesal tapi tak dihiraukannya. Sudah biasa semenjak yatim piatu sifat dan sikap Dani jelas berubah tidak sekalem dulu karena sudah tidak ada lagi yang mengarahkan jadi mudah terbawa pergaulan.


Sambil mengaplikasikan pembersih dan penyegar ke muka dia melirik Dani yang rupanya sholat asal-asalan seperti tergesa-gesa. Mita hanya menarik napas panjang. Sudah waktunya diingatkan.

__ADS_1


"Mau tidur lagi?" melihat Dani kembali membaringkan tubuh disofa lalu memejamkan mata rapat.


"Heem..."


"Kakak lupa nasehat bapak mengikuti sunnah rosul gak tidur lagi habis subuh." ucapnya lembut.


"Gak usah sok ngatur,capek kamu kan tahu kakak kerja seharian." jawabnya dingin ada kemarahan didalamnya. Mita menarik napas panjang lalu menyimpan pembersih dan penyegar yang sempat ia gunakan.


"Maaf kak...jika ucapanku menyinggung tapi apa kakak lupa bapak dulu juga kerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga tapi bapak gak mengeluh karena memang sudah kewajiban." Dani melirik adiknya kesal.


"Malah gak hanya bapak semua bapak bahkan ibu didunia juga kerja demi memenuhi kebutuhan keluarga."


"Jika kakak mengeluh capek apa itu artinya kakak gak ikhlas kerja?"


"Gimana nanti saat sudah berkeluarga punya istri dan anak yang harusnya kakak sebagai kepala keluarga memberi contoh yang baik terus malah begini yang dimintai pertanggung jawaban kan pemimpinnya."


"Kamu kan gak ngerasain jadi kakak." masih keras kepala belum mau mengaku salah.


"Memang selama ini aku dirumah gak ngapa-ngapain? tiduran terus?" Mita menggelengkan kepala tidak habis pikir sama pikiran Dani.

__ADS_1


"Aku hanya mengingatkan semua terserah kakak yang menjalani."


Sudah capek menangis memikirkan Danijanji tinggal janji saat dia sakit Dani nangis Bombay merasa menyesal tapi saat ini kembali ke sifatnya. Percuma dipikirkan lebih baik mencari kebahagiaan sendiri. Lebih banyak bersyukur saja biar berkah hidupnya.


__ADS_2