Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 62 Mita sakit


__ADS_3

Dani POV


Semenjak kejadian itu aku sudah jarang berkomunikasi dengan adikku. Setiap kali berpapasan dirumah aku langsung menghindar. Dia pun masih tetap sama berusaha berinteraksi dengan ku meskipun aku membalasnya dengan ucapan dingin dan datar terkesan ogah-ogahan sih jika terpaksa bertemu dan dia bertanya. Karena setiap kali melihatnya aku langsung emosi teringat ucapannya padaku seakan aku telah melakukan kesalahan besar padahal cuma salah paham.


Aku mengajak Nuri waktu itu karena ada hal penting. Setelah mendapat kabar bahwa ada berita duka. Orangtua dari salah satu teman kerja ku meninggal. Mau takziah aku gak tahu alamatnya dan ketika menghubungi teman yang paling dekat dengan ku ternyata pada titip amplop dengan alasan ada urusan keluarga.


"Mas Dani sudah dapat kabar duka?" tanyanya lewat pesan. Ku jawab sudah. Lalu dia bertanya lagi.


"Sudah takziah?" ku jawab belum karena memang itu kenyataannya. Hingga akhirnya kami janjian berangkat bersama. Saat aku bilang akan bawa motor sendiri dia bilang mau jemput suruh nunggu dia datang. Mau bagaimana lagi,aku hanya bisa menurut saja. Disini posisiku paling gak berdaya dan gak tahu apa-apa.


Kesalahan ku juga karena gak memberitahunya dari awal yang aku pikir gak mau mengganggunya yang super sibuk. Malah begini jadinya. Aku yang waktu itu merasa capek luar biasa jadi gampang emosi mendengar ucapannya yang seakan sedang menuduhku mempunyai hubungan dengan Nuri. 'Bukan aku yang nyamperin mereka' dibagian itu aku makin emosi. Dia seperti sedang menyindir Nuri. Aku kan jadi gak enak hingga keluarlah bentakan keras. Mengingat itu aku hanya bisa menarik napas panjang.


Bukannya aku gak tahu setiap kali aku bersikap dingin padanya,matanya berubah sendu dan berair. Ia juga terlihat berusaha tersenyum memperlihatkan padaku bahwa ia baik-baik saja. Aku merasa dia sedang mencoba menebus kesalahannya,mungkin dia menyadari bahwa ucapannya dulu terlalu berlebihan.


Ada perasaan bersalah dihatiku namun rupanya egoku lebih besar hingga sampai saat ini aku masih mendiamkannya. Pamit saat pergi kerja dan pulang mengucap salam agar dia tenang. Diwaktu luang menyibukkan diri dengan tidur dikamar.


"Pagi!" sapanya saat melewatiku yang sedang mengobrol dengan Dika.


"Pagi juga!" balasku pendek sambil menatapnya sekilas lalu tersenyum sebagai adap kesopanan. Dia malah terlihat malu-malu begitu dan hampir menabrak orang didepannya saking gak fokusnya sama jalan. Apa aku berlebihan menanggapinya?


"Weis...pagi-pagi dapat sapaan dari cewe paling alim disini." ucap Dika sambil menatapku dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Aroma-aroma cinta mulai kelihatan bro!" ucapnya ambigu sambil menyenggol lengan ku. Dahiku berkerut bingung,apa maksudnya?


"Gak peka banget lu jadi cowo sampe ada yang menaruh hati gak ngerti..." Dika menggelengkan kepala dan aku tersenyum saat tiba-tiba tercetus ide pura-pura bodoh.


"Menaruh kok hati." ucapku asal lalu pergi meninggalkannya sendiri ditempat parkir. Sudah hampir jam tujuh dan harus kerja.


"Woi tungguin!" teriaknya. Aku gak mengindahkannya,terus berjalan dengan langkah panjang takut telat masuk pabrik. Aku kan masih anak baru masak telat harus bertanggung jawab sama pekerjaan dong!


"Gw serius ngomongnya!" saat dia berhasil menyamai langkahku. Aku hanya meliriknya saja tapi dia malah terlihat kesal karena ku acuhkan.


"Heh...malah dikacangin!" dengusnya sebal. Dika ini tipe cowo yang banyak omong jika diladeni terus maka makin ke mana-mana.


"Begini nih kalau orang ganteng lewat selalu jadi pusat perhatian. Gw sebagai sahabat lu ikutan keren hahaha..." celotehnya bangga sambil tertawa.


Seharian bekerja rasanya badan pegal semua. dan masih harus nyetir motor sampe ke rumah.


Ditengah perjalanan pulang tercium aroma legit dan gurih dari campuran martabak manis dan martabak telor,sungguh menggugah selera. Akhirnya aku memutuskan berhenti untuk membeli keduanya.


"Bang martabak manis sama martabak telor spesial masing-masing satu."


"Ok." jawab Abang penjual.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat pada adikku. Ya aku sudah menyakitinya dengan sikap dingin ku hampir dua Minggu ini. Sedih rasanya. Sudah dewasa tapi aku malah bersikap seperti anak kecil. Tarik napas panjang,hembuskan.


Aku tersenyum membayangkan muka ceria Mita menyambutku pulang sambil berteriak senang saat ku bawakan makanan.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit alhamdulillah sampai rumah. Aku turun dari motor sambil membawa dua kantong makanan ditangan ku.


"Assalamu Alaikum..." ucapku ceria.


"Waalaikum salam mas Dani..." kecewa karena yang menyambutku Mak Jinem dengan muka khawatir beliau. Dahiku berkerut,curiga.


"Ada apa Mak?" tanyaku heran.


"Neng Mita demam mas!" kaget langsung ku letakkan makanan itu ke meja lalu berlari ke kamarnya. Dia berbaring sambil merintih kedinginan. Ku pegang dahinya terasa sangat panas sontak membuat tangan ku langsung terangkat gak kuat dengan panasnya.


Merogoh ponsel ditangan ku membuka aplikasi grab mobil langsung melakukan pemesanan.


"Mak tolong kompres dahinya ya!" ucapku lembut. Mak Jinem mengangguk dan langsung bergegas melakukan tugasnya.


"Dek...maafin kakak!" ku genggam tangannya dan air mataku langsung jatuh. Menyesali sikap kasar ku padanya. Sekarang aku sedih melihatnya sakit seperti ini. Aku takut kehilangan dia.


"Kak..." hanya itu yang ia ucapkan dan kembali memejamkan mata sambil meringkuk. Lalu Mak Jinem datang dengan baskom berisi air hangat ditangannya. Mak Jinem menempelkan kain kompres ke dahi Mita.

__ADS_1


Hingga mobil grab datang aku segera mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam mobil dibantu sopir grab. Mak Jinem sudah menangis dari tadi karena gak kuasa melihat keadaan Mita yang terbaring sakit


"Mak jaga rumah ya!" pesanku sebelum pergi membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2