
"Sudah selesai ayok keluar!" ucap Bu Indah sambil terus merapikan pakaian dan kembali mengamati kerudung Mita yang tampak belum simetris.
"Ibu mah gak konsisten katanya ayo keluar tapi masih disini aja." gerutu Mita.
"Bawa minyak kayu putih gak?" sambungnya sambil menodongkan tangan.
"Ini kerudungnya kaya yang miring..." dahinya sampai berkerut dalam sambil membenahi kerudung Mita yang ternyata kok miring lagi saat dipaskan sama jahitan dibawah dagu.
"Kayanya memang jahitannya yang miring." sambungnya masih terus berkerut dahinya.
"Sudah gak pa-pa Bu yang penting orangnya gak miring!" jawabnya asal dan Bu Indah mengangkat alis.
"Iya juga yang penting otak kamu gak miring hahaha...!" Mita menggelengkan kepala sambil senyum. Saat bersama Bu Indah,dia bisa bicara lepas sampai sering hilang kendali.
"Bu...minyak kayu putih." ulangnya tidak sabar karena badannya terasa meriang setelah mandi dengan air dingin. Tadi niatnya mau dilap saja sama Bu Indah mengingat suhu tubuhnya belum normal tapi Mita ngeyel tetap mau mandi. Pikirnya nanti dikasih obat lagi jadi ya tidak apa-apa kan.
"Kenapa?" Bu indah menatapnya menyelidik dan dibalas gelengan.
"Buat antisipasi biar badanku tetep hangat masih belum fit kan." dalihnya dan diangguki Bu Indah yang langsung memberikan botol minyak kayu putih ke tangannya kemudian membalurkan ke seluruh tubuh bagian atas terutama perut dan leher.
"Pelan-pelan!" beliau membukakan pintu dan minggir membiarkannya keluar lebih dulu.
"Hati-hati!" sambil Mita terus berjalan dengan pelan diikuti Bu Indah dibelakang lalu merangkul pundaknya.
"Kalau sakit begini baru terasa harus hati-hatilah,pelan-pelanlah jalannya takut jatuh coba pas sehat jalan aja kaya balapan gak perlu pusing mikir jatuh tapi nyatanya masih juga gak bersyukur banyak ngeluh capeklah atau apalah sama banyaknya kerjaan..." Mita nyerocos sambil matanya menerawang mengingat keseharian disaat sedang sehat.
__ADS_1
"Bersyukur cuma dimulut saja tanpa dimasukkan ke hati yang benar-benar bersyukur karena ikhlas." kemudian menunduk sedih menyadari kesalahannya. Mereka terus berjalan sampai didepan tempat tidur.
"Eh iya ibu juga gitu..." ucap Bu Indah lirih seperti diingatkan juga.
"Padahal kesehatan itu lebih berharga untuk orang seusia ibu jadi gampang terkena penyakit serius kan..." sambil menuntunnya kembali duduk di atas tempat tidur. Terakhir menyelimuti tubuh bagian bawah Mita sampai ke perut.
"Heem...manusia itu selalu mengeluh mau dikasih apapun tetap mengeluh."
"Kalau mau mikir nih semua hal didunia ini gak ada yang sempurna pasti ada kekurangan tapi manusia nuntutnya sempurna kaya yang gak mau hidup susah..." Bu Indah duduk dikursi dengan menopang dagu sambil mendengarkan Mita bicara.
"Sudah punya rumah pengennya istana."
"Sudah punya istri cantik secara tampang masih pengen yang seksi atau bahenol."
"Padahal laki-laki atau perempuan sama saja kan nanti juga dimintai pertanggungjawaban contoh nih hei Markonah kamu dikasih keturunan kenapa gak dididik dengan baik? kenapa gak diajarin agama yang baik? kenapa gak diajarin akhlak yang baik?"
"Terus kalau Allah nanyanya gitu mau jawab apa?" Mita menggeleng,membayangkan dirinya diposisi itu. Sudah takut bertemu sama Allah saking banyaknya dosa terus dimintai pertanggungjawaban atas sikap anak-anaknya nanti.
"Kok ibu ngerasa disindir sama kamu ya?" ucapan menohok yang membuatnya melongo dan terkejut.
"Eh...bukan...bukan maksudku Bu...beneran." sanggahnya sambil menggerakkan tangannya menolak pemikiran Bu Indah tentang ia yang menyindir. Bu Indah menyenderkan punggungnya dengan perasaan sedih. Betapa selama ini beliau sebagai seorang ibu dan juga orang tua belum bisa memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya. Mita jadi serba salah melihat kesedihan Bu Indah.
"Bu...belum terlambat selama masih ada kesempatan hidup kita berusaha belajar memperbaiki diri." Mita mencoba membangkitkan semangat Bu Indah yang rupanya ada hasilnya. Kesedihannya perlahan memudar.
"Ayo sama-sama belajar memperbaiki diri Bu!" Bu Indah mengangguk tegas.
__ADS_1
"Hafiz mulai sekarang kamu belajar menjadi anak yang sholeh biar ibu gak masuk neraka karena kenakalan kamu!" teriak Bu Indah menoleh ke arah Hafiz yang sedang duduk disofa sambil memainkan hpnya. Mita melongo mendengar ucapan Bu Indah yang terkesan memaksa bukan dengan memberi contoh. Langsung tepuk jidat.
"Apaan sih Ma? suka aneh ngomongnya!" balas Hafiz dengan muka kesal tiba-tiba disuruh jadi anak sholeh biar tidak masuk neraka jelas marah.
"Mama sudah mengandung,melahirkan dan membesarkan kamu dengan susah payah,mengorbankan nyawa jadi sudah sewajarnya kamu nurut sama mama." Bu Indah melotot memaksa. Hafiz mendengus kasar.
"Aku gak minta dilahirkan sama Mama..." jawabnya asal sambil melengos. Mita pusing sendiri. Obrolan yang harusnya bermanfaat berubah menjadi perdebatan antara ibu dan anak.
"Kamu pikir mama minta anak macam kamu,mama kasih namamu Hafiz artinya penghafal Al Qur'an supaya kamu bisa seperti namamu." Bu Indah mendelik kesal.
"Ini enggak...jangankan penghafal Al Qur'an menurut sama mama juga gak..." ucapnya sambil mendengus sebal seperti menyesal melahirkan Hafiz sebagai putranya. Mita sebagai orang ketiga masih menyimak perdebatan sengit diantara keduanya seperti tidak tidak ada yang mau mengalah.
"Kenapa dulu gak sekalian dikasih nama Sholeh siapa tahu aku jadi anak Sholeh sesuai keinginan Mama biar gede dipanggilnya mas Sholeh atau kalau sudah tua pak Sholeh..." balas Hafiz marah sambil tersenyum sinis. Ini seperti menyiram bensin di kayu yang terbakar akhirnya membuat letusan. Bu Indah sudah berdiri,mukanya memerah,tatapan matanya tajam dan tangannya mengepal menahan marah. Segera sebelum fatal Mita menjadi penengah.
"Istighfar Bu...istighfar...jangan terhasut sama setan!" ucapnya panik dan Bu Indah masih terus menatap Hafiz tajam.
"Marah sifatnya setan Bu...istighfar astaghfirullahaladzim...!" sambil turun dari tempat tidur.
"Jika ibu terpengaruh setan akan senang karena bisa membawa ibu ke neraka kelak...istighfar Bu!" langsung menggenggam tangan Bu Indah sambil memegang muka Bu Indah untuk dipalingkan ke mukanya hanya menatap mukanya.
"Tarik napas Bu nanti ibu bisa sakit kalau marah begini!" Bu Indah memejamkan matanya sambil menarik napas panjang lalu menghembuskan pelan.
"Iya terus tarik napas...biarkan semuanya berlalu dan anggap semuanya angin lalu."
"Sabaaaar Bu...jangan marah bagimu surga!"
__ADS_1