Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 161 Jiwa-jiwa perkasa


__ADS_3

Sorenya Mita kembali ke rumahnya dengan menggunakan jasa ojek online. Tidak ingin merepotkan Irham untuk kembali menjemputnya yang pasti lelah karena seharian bekerja akhirnya dia pulang dengan upayanya sendiri.


Memberikan uang pada pengemudi ojek yang mengangguk dengan senang saat ia memberikan uang lebih yang awalnya menolak tapi langsung menerima saat dibilang buat jajan anak-anak dirumah. Wajahnya langsung berubah sumringah mungkin terbayang wajah ceria anak-anaknya yang dibawakan makanan olehnya nanti. Mita mengetahui pengemudi ojek punya anak banyak yang masih kecil-kecil karena tetangga sendiri makanya dikasih uang lebih,kasihan membayangkan anak-anak itu harus sering menahan diri tidak jajan mengingat penghasilan ayahnya yang mungkin hanya cukup untuk makan tiga kali sehari.


Meninggalkan tukang ojeg yang sudah melajukan motornya Mita berjalan masuk ke pelataran rumah ia masih mendapati semua orang belum pulang disore yang seluruh mataharinya hampir tenggelam sempurna. Aneh ada apa gerangan tiba-tiba pada menunggunya pulang.


"Assalamualaikum...." ucap Mita,bukannya masuk ke rumah Mita justru duduk didekat mereka. Mukanya tampak tidak bersemangat.


"Waalaikumsalam...." jawab mereka serempak. Irham langsung peka dan bisa menebak jika ada masalah bibirnya gatal tidak bisa kalau tidak bertanya.


"Kayanya ada masalah lagi." ucap Irham tiba-tiba tanpa mendahului berbasa basi,menarik perhatian Mita yang langsung menoleh dengan mengangkat dahi heran.


"Gak usah heran gitu aku udah hapal tiap ketemu sama bang Dani ada suatu keadaan yang gak bisa terselesaikan." sambungnya dengan yakin,mukanya tampak tidak senang perpaduan marah dan kesal.


"Sok teu kaya paranormal aja." Mita mencebik berusaha menyembunyikan kebenaran hanya saja percuma tak berguna kalau berhadapan sama manusia yang satu ini.


"Halah pake ngeles segala kebaca kali dari raut mukanya malahan kaya tertulis 'lagi banyak pikiran' situ kan gak bisa lihat sendiri." Mita langsung melengos.


"Ada apa? Urusan pengasuh bayi?" dan kali ini tepat sekali membuat Mita menarik napas kemudian tersenyum kecut karena tidak bisa menyangkal.


"Hmm makin ke sini kamu makin jenius mending sekolah detektif sana biar tersalurkan bakat kamu." ucap Mita tersenyum sinis,memuji yang terdengar beda-beda tipis dengan mengejek. Irham melengos kesal.


"Jenius....aku tuh bisa lihat kalau berurusan sama bang Dani gak jauh-jauh pasti bawa masalah."

__ADS_1


"Aku tahu lagi kaya apa sifatnya bang Dani secara udah setahun lebih ikut kakak....plin plan orangnya gak bisa tegas dan....rasa tanggungjawabnya kurang pada keluarga pasrah kaya yang gak mau berusaha....." komentarnya kesal menyimpan geram.


"Irhaaam...." tegur pak Darman yang langsung menghentikan Irham dari terus bicara panjang kali lebar,tidak ingin anaknya menjadi penyebab perpecahan dalam hubungan persaudaraan walaupun pada kenyataannya kata-kata Irham tidak salah tapi tetap saja bisa berdampak buruk. Ini termasuk menghasut orang membenci saudaranya sendiri dan bagian hasut menghasut adalah sifatnya setan tentu saja pak Darman tidak ingin anaknya mewarisi sifat setan.


"Tapi kan bener pak....aku tuh kasihan sama kak Mita gak rela aja terus dijadikan sasaran empuk melulu dibebanin yang mestinya jadi tugas bang Dani." gerutunya kesal dengan muka ditekuk. Mita yang melihat dan mendengar jadi trenyuh diperhatikan seperti itu oleh Irham yang bukan saudara sedarah.


"Gak mikir apa kak Mita udah punya keluarga sendiri punya beban hidup sendiri gini-gini aku udah ngerasain beban hidup dari kecil jadi tahulah rasanya kaya apa....ibaratnya kepala dikaki kaki dikepala hanya gak diomongin aja takut jadinya mengeluhkan ketetapan Allah kan terus kalau dikurangi nikmatnya aku gak mau pengennya dikasih nikmat terus sama Allah jadi yah belajar bersabar menghadapi beban hidup." sambungnya makin kesal,Mita tersenyum mendengarnya. Rasanya senang dibela orang lain.


"Ini nih ujian....jalan menuju kesabaran masih belum sempurna niatnya mau ikhlas kalau diomongin begini jadinya berkurang nilai pahalanya atau bisa jadi riya'." komentar pak Darman yang disambut Irham yang menajamkan bibir.


"Iya tahu tapi sulit menahannya kalau lihat yang kaya gini."


"Ya udah sekarang bapak punya solusi apa biar gak makin kesel akunya musti bisa ngebantuin kak Mita....sebagai adik laki-laki aku pengen melindungi kakak perempuanku." ini anak malah seperti menantang bapaknya sendiri kaya adu kekuatan. Mita menggelengkan kepala sambil tertawa terkekeh.


"Kalau itu sih aku juga tahu tapi masyalahnya mana mau bang Dani ngeluarin duit buat bayarin pengasuh pasti alasannya duit dari mana sekarang lagi banyak pengeluaran....dua bayi...." sambil mengacungkan dua jarinya dengan muka sinis.


"Palingan juga minta emak Jinem bantuin....iya kan?" tebak Irham meyakinkan sambil mendengus.


"Maunya gratisan emak kan digaji kak Mita." ya ampun anak ini malah lebih berbakat menjadi netizen pikir Mita yang mengangkat alis kemudian menarik napas.


Hening beberapa saat sibuk dengan pikiran masing-masing,ingin membantu kalau berurusan sama uang sama saja bohong. Hampir semua orang memiliki masalah dengan uang.


"Mending omongin sama orangnya langsung neng." pak Darman memberikan solusi yang tidak mungkin Mita realisasikan. Ia tidak akan tega dan tidak enak ngomongnya bukan waktunya diusia emak mengasuh bayi lagi malahan waktunya istirahat tinggal menikmati masa tua.

__ADS_1


"Siapa tahu neng orangnya mau." Mita langsung menggelengkan kepala.


"Gak pantes pak." balasnya dengan tarcenung.


"Begini neng....bagi neng dan bagi kami yang lebih tua lebih berpengalaman bukan masalah kuat atau capeknya tapi gimana caranya yang lebih muda bisa mempelajari jiwa-jiwa perkasa dari yang lebih tua."


"Insya Allah emak bisa mengatasi kerewelan para anak muda yang menjadi orangtua diusia muda....sekalian menggembleng mereka jadi jangan ragu dan bimbang yakinlah pada yang yang lebih tua." sambungnya meyakinkan.


"Iya neng pada akhirnya entah dipaksa atau terpaksa lama kelamaan orang akan tahu batasannya kok." pak Bowo menimpali.


Mita tampak berpikir keras terlihat kerutan didahinya yang berlipat bertumpuk-tumpuk.


"Iya neng gak pa pa kalau mas Dani minta emak bantuin momong si kembar hihihi...." ucap emak tiba-tiba yang tidak disadari semua orang sudah berada disamping dengan senampan minuman dan gorengan malah tertawa seakan menyimpan niat terselubung.


"Nanti dimintain syarat sama emak biar belajar bertanggung jawab." emak memang cerdas. Mita langsung memeluk emak dengan erat merasa sangat bersyukur bisa bertemu sama emak yang bijaksana.


"Makasih ya Mak aku mah bisanya ngerepotin emak." ucap Mita dengan tersenyum,merasa senang disaat ada masalah banyak yang membantunya.


"Iya neng sama-sama." jawab emak sambil mengelus kepala Mita dengan sayang.


"Eh iya makasih juga sama pak Darman,pak Bowo sama Irham juga adik lelakiku yang unyu dan manis...." ucapnya gemas sambil menjembel pipi Irham yang langsung protes dengan ekspresi kesalnya. Mulutnya juga tidak berhenti mengomel namun ditanggapi dengan candaan yang membuat suasana semakin riuh dan ceria disela-sela menyemil makan minum buatan emak hingga tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan interaksi mereka. Siapakah dia?


Keluarga bukan hanya berdasarkan hubungan darah tapi berdasarkan sifat dan sikap seseorang pada yang lain. Saling memberikan bantuan atau hadiah bisa mengeratkan hubungan namun tidak semua orang bisa mendeskripsikan dengan akal yang baik karena banyak yang didepan baik namun dibelakang justru berbuat buruk jadi musti bagaimana menghadapinya? Tetap berpikir positif kalaupun ada yang bersikap buruk itu adalah ujian bagi yang lain dan yang harus disadari adalah bahwasannya manusia hidup ditugaskan untuk beramal sholeh dan memperbaiki diri demi masa depan diakhirat bukan untuk memikirkan masa depan didunia.

__ADS_1


__ADS_2