Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 141 Bidadari surga


__ADS_3

Yahya POV


Sejak semalam sudah nervous saja sampai gak bisa tidur mikirin ijab qobul hari ini takut akunya gugup terus ngeblang.


Pagi ini juga semakin mendekati ijab qobul semakin gugup hingga keringat dingin mengucur didahi tapi syukur Alhamdulillah bapak penghulu seperti mengetahui situasi ku lalu mengajakku mengobrol ringan hingga aku merasa lebih tenang.


"Gugup memang biasa bagi orang yang mau ijab qobul kalau salah bisa diulang tapi kalau sampai tiga kali....itu yang bahaya....bisa gagal menikah." ucap bapak penghulu sambil tersenyum menggoda,memperingatkan aku yang tersentak kaget ah iya aku lupa kalau ada peraturan seperti itu....aku gak mau lah gagal menikah hari ini.


"Jadi tenangkan dirimu!" bapak penghulu menepuk pundak ku dan tersenyum penuh arti padaku.


Beberapa kali aku menarik napas panjang supaya bisa lebih tenang sampai pada membaca qobul alhamdulillah lancar dalam satu tarikan napas. Lega rasanya setelah melewati ijab qobul.


"Mbak Mita bisa dibawa keluar sekarang atau mau dijemput sama suaminya monggo silahkan!" tahu saja si bapak kalau aku sudah menunggu kehadiran istriku tapi aku gak peduli,mataku terus memandang ke arah pintu kamarnya.


Cantik.....cantik sekali dan aku suka,dia seperti bidadari surga yang hadir didalam hidupku. Disebelah kiri dan kanannya mama dan ibu Indah mengapitnya dengan tersenyum menggoda ke arahku.


"Pantesan masnya dari tadi tidak sabar pengen ketemu rupanya istrinya cantik sekali sepadan dengan kegantengan masnya." celoteh bapak penghulu dengan tawa renyah membuat semua orang ikut tertawa.


"Kira-kira masih punya saudara lain boleh diperkenalkan sama saya....masih jomblo saya hahaha...." hah....masih jomblo dalam artian apa ini? Masih perjaka atau duda? Dari raut mukanya sudah berumur masalahnya.


"Saya belum pernah menikah mas masih perjaka....Ting Ting...." si bapak penghulu terlihat malu-malu sambil melirik ke arahku. Terbaca dengan jelas kah rasa penasaranku sampai orangnya langsung menjawab seperti itu.


"Maaf pak penghulu sayangnya anda belum beruntung Mita adik saya satu-satunya." jawab mas Dani sambil terkekeh.


"Sayang sekali ya mas saya tidak seberuntung mas Yahya soal mendapatkan pasangan...." bapak penghulu seperti sedang mentertawakan penderitaannya sendiri.


Semua orang tampak menikmati guyonan yang tiba-tiba hadir tanpa direncanakan sebelumnya.


"Silahkan dibawa mbak Mita untuk duduk bersanding bersama suaminya,boleh dipegang mas tangan istrinya sudah sah." saat ku genggam tangannya terasa dingin artinya dia sama gugupnya dengan aku.


Aku keluarkan kotak cincin dari saku jas lalu aku pasangkan dijarinya yang langsung memandangku lekat.


"Maaf dulu saat lamaran aku belum sempat membelikan cincin." ucapku pelan,dia hanya memandangku dan kembali menunduk malu.


"Sudah mas memandangnya sekarang mbak Mita dicium tangan suaminya dan mas Yahya boleh dicium kening istrinya."


"Sampai disitu dulu yang lain dilanjut nanti saja kalau sudah berdua." bapak penghulu yang tahu Mita sedang nervous terus menggoda. Kasihan sekali mukanya sampai merah menahan malu.


Suasana sendu langsung terasa saat Mita meminta doa dan restu pada Dani yang menangis hingga tersedu yang langsung diprotes Mita....


"Kenapa nangis sih kak aku kan jadi kebawa pengen nangis?" ucapnya ikut tersedu. Mayang sudah stand by disisi Mita seperti tahu saja akan kejadian dia menangis.

__ADS_1


"Mbak Mita pake tisu." bisiknya sambil menyodorkan satu bungkus kecil tisu. Ya iyalah takut bajunya kotor dibuat ngusap airmata.


"Maafin kakak yang gak bisa memberikan acara pernikahan terbaik untuk kamu...."


"Mustinya kakak bisa menggantikan almarhum bapak untuk menikahkan kamu dengan layak....bukannya sederhana seperti ini."


"Ahahaha....ke kenapha kakak malah.... mengingatkan aku sama almarhum bapak?" dia semakin keras menangisinya membuat semua orang terbawa suasana yang akhirnya ikut merasakan kesedihan dan ikut menangis.


Kurengkuh tubuh Mita yang awalnya menolak mungkin masih belum terbiasa dan tadi kayanya dia sadar kalau kami sudah menikah jadi langsung tenang walaupun masih kaku.


"Ka kakak gak tahu seberapa keras....hufft perjuanganku supaya gak nangis....tapi gara-gara kakak sekarang aku sampai sulit berhenti menangis." disela tangisannya dia menyalahkan mas Dani yang terus tersedu.


"Maaf dek....kakak memang gak berguna...." Mita menggelengkan kepala dan menyembunyikan mukanya ke dadaku yang langsung ku usap-usap punggungnya.


Detik berikutnya hanya terdengar suara tangisan diruangan. Aku sedih tapi gak mau ikut menangis karena sekarang aku sudah menjadi suami musti bersikap tegar didepan supaya bisa menguatkan istriku.


"Sekarang adikku sudah jadi tanggung jawab kamu....tolong jaga dia!" ucap mas Dani setelah keadaannya tenang. Tanpa diminta pun aku akan belajar menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami.


"Insya Allah mas Dani."


"Maaf aku gak bisa lama-lama musti pulang karena istriku dari kemarin perutnya terasa gak nyaman." Mita tampak kaget dan seperti khawatir.


"Ya sudah pulang sana langsung dibawa ke rumah sakit takut terjadi sesuatu." mas Dani hanya mengangguk lalu pergi dengan raut muka yang bingung.


Acara dilanjutkan dengan salam hangat dari para tamu undangan. Tidak banyak yang datang karena kami hanya mengundang tetangga dekat dan ternyata diluar ekspektasi dari teman-teman Mita rupanya banyak yang datang melebihi kuota malahan.


Mata Mita membulat kaget.


"Apa-apaan ini?" protes Mita dengan cemberut pada Ayyesa.


"Sorry....mereka pada ngikut."


"Mereka langsung heboh pas tahu kamu nikah sama pak Yahya mantan guru kita sendiri....kaya cerita dinovel yah?" Mita berdecak sebal.


"Jangan nyalahin aku yah kalau gak kebagian makan soalnya aku gak nyediain banyak."


"Tenang....jangan khawatir....mereka gak tertarik sama makanan tapi mereka tertarik pengen foto sama kalian."


"Tuh lihat!" dan benar saja mereka langsung bergerak cepat ke arah kami.


"Sebentar!" untung langsung dihadang sama Mayang lega jadinya.

__ADS_1


"Ini tadi pengantin wanitanya habis nangis jadi musti ditouch up lagi riasannya." aku hanya bisa menggelengkan kepala.


Istriku dibawa paksa oleh Mayang dan aku hanya bisa menunggu sambil berbincang ringan dengan mantan anak didikku.


"Pak selamat yah....gak nyangka yang muda bisa kalah sama yang matang."


"Iyalah secara nikah memang musti sama yang matang dan mapan kenyataannya hidup perlu uang bukan tampang doang."


"Betul itu buat apa nikah sama pria pengangguran bisa-bisa busung lapar karena gak bisa makan." Aku hanya diam gak mau ikut menanggapi.


"Tapi kan nikah butuh cinta biar langgeng." sanggah yang lain.


"Iya makan tuh cinta kalau bisa bikin kenyang kalau aku sih ogah....." saling mengejek dan menghina itu yang mereka lakukan hingga istriku dikembalikan ke sisiku barulah anak perempuan langsung mengerubuti kami minta berfoto.


"Mita....kamu kok kepikiran sih riasan model begini aku jadi pengen kaya gini juga nanti pas nikah."


"Boleh ya minta nomer periasnya?"


Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Mayang seperti hantu sesaat namanya disebut dia langsung menampakkan diri,mempromosikan diri pada teman-teman Mita terutama yang perempuan. Tapi biarkan saja,yang aku pedulikan sekarang adalah Alif yang tidak menghadiri pernikahan kami apakah mungkin dia terlalu patah hati? Juga mas Hafiz sama tidak datang atau mungkin belum karena setahuku dari cerita mas Hanif,dia sudah punya pacar artinya sudah bisa move on kan?


"Pak kok diam?" aku hanya tersenyum menanggapinya eh dimana istriku kok gak ada? Melamun membuatku tidak menyadari kepergian istriku dan ternyata masih sama teman-temannya dan....mataku membulat melihatnya....istriku difoto dalam berbagai gaya sesuai arahannya tanpa seizinku.


"Stop...."


"Apa-apaan ini?"


"Eh....kamu yang apa-apaan....aku cuma mau ambil fotonya buat dokumentasi."


"GAK BOLEH...." seenaknya saja,aku gak suka kecantikan istriku dilihat orang lain.


"Kenapa?" protesnya.


"POKOKNYA GAK BOLEH!" ucapku tegas.


"Ini nanti aku kasih diskon."


"Aku gak tertarik....kalau mau cari orang lain jangan istriku."


"Dasar....posesif....cemburuan." makinya padaku dengan kesal. Aku gak peduli. Dia gak tahu aja selama ini aku sudah cukup menahan diri setiap kali pria lain mengagumi kecantikannya juga mendekatinya. Sekarang dia istriku gak akan aku biarkan orang lain memiliki kesempatan mendekatinya.


"Mas....jangan terlalu keras sama mbak Mayang....kasihan." suaranya terdengar tidak enak hati.

__ADS_1


"Biarkan saja....lagipula dia kita bayar bukannya gratisan."


__ADS_2