
Terdengar helaan napas panjang Mita. Terasa tidak bersemangat hari-harinya semenjak kepergian Hafiz lalu disusul Yahya.
"Bersyukur kak jangan terus mengeluh,dosa lho." ucap Irham dan Mita hanya menatapnya malas.
"Alhamdulillah...."
"Apaan itu Alhamdulillah lemes gitu ikhlas gak?"
"Dengerin nih kak kalau aku ngomong jangan menganggap dirimu paling menderita sedangkan diluar sana ada yang lebih menderita! Kufur nikmat itu namanya...." Mita berdecak sebal dikatai menderita. Irham sekarang pandai nasehati orang kebanyakan mendengar ceramah.
"Sok tahu siapa coba yang merasa menderita? Aku tu bingung kerjaan lagi banyak-banyaknya mereka pergi." ucap Mita sedih. Irham menarik napas.
"Kak sudah tahu kerjaan banyak kenapa masih ngejogrok disitu? Mengenang bang Hafiz sama bang Yahya? Percuma malah buang waktu. Kerjaan gak akan beres kalau kakak hanya melamun tapi dikerjain walaupun gak selesai sekarang bisa besok besok dan besoknya lagi."
"Hadapi semua dengan senyuman kaya aku nih!" Irham memperlihatkan senyum paling tulus membuat Mita tersenyum tipis.
"Lalu baca Bismillahirrohmanirrohiim untuk memulainya masalah ganti bang Hafiz sama bang Yahya nanti insya Allah dikasih sama Allah." ucap Irham bijak dan Mita terharu,bisa dapat anak buah macam dia.
__ADS_1
"Iya iya Alhamdulillah bismillahirrohmanirrohiim semoga apa yang kita kerjakan hari ini bermanfaat dan semakin meningkatkan keimanan kita aamiin." keduanya mengaminkan doa sambil meraup muka. Kini Mita bisa tersenyum kembali.
Seminggu yang lalu Hafiz berpamitan untuk bekerja ditempat lain. Mita terkejut disaat ia merasa nyaman dengan keadaannya tiba-tiba Hafiz mengundurkan diri. Agak kecewa tapi mau bagaimana lagi? Mana mungkin dia menghentikan keinginan orang lain.
"Kerja dimana?"
"Sesuai bidang ku perkantoran masih jadi karyawan biasa maklum belum ada pengalaman. Seperti kata kamu untuk menjadi bisa kan harus terbiasa baru nanti bisa dipercaya untuk menempati jabatan yang lebih tinggi." ucapnya optimis. Mita mengacungkan jempol.
"Bukannya gak mau kerja sama kamu tapi kamu kan tahu aku nantinya bakalan jadi kepala keluarga umurku juga gak muda lagi sudah dua puluh lima tahun pengennya dapat gaji yang besar biar bisa nabung,nikah pake uang sendiri gak ngerepotin orang tua terus. Pengen bisa ngasih ke mama juga." terharu bahkan matanya sudah mulai basah dengan air mata.
"Aku bersyukur sudah dikasih kesempatan kerja sama kamu banyak yang ku dapatkan terutama merasakan gimana susahnya cari uang,aku gak mau lagi buang-buang waktu lebih ke menghargai hidup supaya bermanfaat juga buat orang-orang disekitar ku." Mita senyum sambil mewek. Kalau sama-sama perempuan mungkin sudah dipeluk. Bersyukur Hafiz diberi kedewasaan sama Allah juga dirubah menjadi pribadi yang lebih baik. Subhanallah maha suci Allah maha membolak balikkan hati manusia.
"Aamiin...bisa gak sih istriku kamu aja aku sudah ngerasa klop sama kamu. Aku juga yakin kamu bisa membimbing aku untuk lebih baik." tatapan Hafiz seperti yang malu tapi kepengen banget. Ini yang membuat Mita berubah kesal tapi lucu juga melihatnya. Yahya tertawa mendengar keinginan Hafiz yang menurutnya seperti anak kecil yang minta dibelikan jajan.
"Maaf yah aku bukan barang yang bisa di minta sesuai keinginan kakak lebih baik lakukan yang terbaik masalah jodoh serahkan sama Allah jangan memaksa." balas Mita berusaha menyabarkan diri.
"Iya semua hal yang dipaksakan itu gak baik." sahut Yahya.
__ADS_1
Kepergian Hafiz tidak meniggalkan duka yang mendalam baginya karena Hafiz masih dalam tahap belajar belum bisa dikategorikan handal. Cukup baguslah untuk seseorang yang doyan nongkrong,begitu terjun ke lapangan langsung bisa bekerja.
Minggu ini Mita kembali dikejutkan dengan berita resign Yahya langsung lemas. Orang yang sangat membantunya jelas ada rasa tidak rela untuk melepaskan.
"Sebenarnya waktu mas Hafiz pamitan aku juga pengen pamit tapi gak tega sama kamu." Mita bingung harus apa.
"Kamu kelihatan sedih banget jadinya aku minta waktu sama papa sampe minggu ini." ini namanya keputusan final,tidak bisa diganggu gugat.
"Papa mengeluh capek mau gak mau aku harus gantiin papa ngelola restorannya." ucap Yahya lirih karena sebenarnya ia jauh lebih tidak rela berjauhan dengan Mita. Perasaannya seperti telah terikat kuat dengan Mita. Mungkin setelah ini dia akan merasakan rindu berat saat lama tak bertemu dengan Mita.
"Yah gak pa pa berbakti sama orang tua lebih utama,aku paham kok." ucap Mita sambil berusaha memperlihatkan senyum tulus yang justru tampak menyedihkan. Semakin membuat Yahya tidak tega meninggalkannya.
"Kalau ada sumur diladang bolehlah aku menumpang mandi kalau ada umur panjang bolehlah kita berjumpa lagi." Yahya melempar lelucon membuat Mita tertawa.
"Aku ngerasa gak pas yah kata-katanya tapi yah sudahlah makasih sudah bikin aku ketawa ahahaha...lucu untuk seorang kak Yahya yang bicara seperlunya bisa bikin lelucon,aku suka...ahahaha..."
Yahya terus memandang Mita,menyimpan ekspresinya untuk disimpan dilubuk hati dan otaknya sebagai memori dan akan ia putar saat merasa rindu berat atau kangen berat. Kalaulah Mita menyadari sikapnya pasti akan ditegur seperti ini...
__ADS_1
"Gak boleh menatap lawan jenis,timbul nafsu dosa besar mendekati zina...!" tapi baginya saat ini pengecualian,sekedar pemenuhan bagi hatinya yang enggan meninggalkan dan ditinggalkan.
Tresno jalaran soko kulino (cinta datang karena terbiasa).