
Baru juga berhenti menangis,melihat Dani datang Mita justru menangis kencang seperti anak kecil yang takut dimarahi karena sudah melakukan kesalahan lalu menyembunyikan mukanya ke dada Yahya untuk mencari perlindungan. Bagaimana tidak salah,mereka kepergok beradegan mesra...salah...Mita yang duluan dengan sengaja menempelkan mukanya ke dada Yahya yang tidak merespon sama sekali bahkan terlihat syok dengan tubuh membeku.
"Mita...apa yang kamu lakukan!" hardik Dani yang membuat Mita terhenyak kaget,semakin ketakutan,makin menyembunyikan mukanya didada Yahya dengan kedua tangan mencengkeram erat bagian jaketnya.
"Hwaaaa..." Mita menangis makin kencang. Yahya melongo merasa seperti seorang bapak yang ditemploki anaknya.
"Mita...mundur kamu!" teriak Dani semakin menakuti Mita yang malah memeluk Yahya erat saking takutnya dengan Dani jika diucapkan kira-kira seperti ini 'tolong aku!'
"Hwaaaa...gak mau aku takut." Mita menggeleng kuat didada Yahya yang membuatnya geli. Melihat sikap main peluk sama pria lain,Dani jelas murka lalu menatap Yahya seperti seorang musuh.
Yahya jadi bingung sendiri,mau berbuat bagaimana? Dia ikut terseret seakan menjadi tersangka utama.
Tangannya berusaha melepaskan pelukan Mita ditubuhnya...lah Mita semakin erat memeluknya. Mukanya berubah nelangsa. Jika terus begini dia sendiri yang susah dan menderita. Takut ada yang 'bangun' kalau terlalu dekat sama lawan jenis. Dia kan masih lelaki normal. Digoda seperti ini lama-lama tidak kuat juga. Apalagi yang nempel begini adalah gadis yang ia suka jadi panas dingin badannya. Ini tidak bisa dibiarkan,dia harus cepat bertindak sebelum setan semakin merasuki pikirannya untuk membayangkan yang lain.
"Tunggu mas Dani ini hanya salah paham!" akhirnya Yahya bersuara. Dani mendengus kesal.
"Salah paham?" ulang Dani,menatap sinis sambil tersenyum miring. Kalau bukan karena melihat adiknya ketakutan dia pasti sudah merangsek maju memukul Yahya sampai babak belur.
"Kesannya malah suka bukannya untung dipeluk sama gadis?" sindir Dani sambil menatap tajam. Yahya menarik napas panjang,jika menuruti nafsu dia ingin marah juga dituduh seperti itu tapi dia mencoba berpikir waras. Api tidak bisa dibalas api harus disiram dengan air supaya bisa padam. Lagi pula ada yang takut.
__ADS_1
"Iya aku salah aku minta maaf...tapi ini diluar dugaan."
"Tolong mas Dani lembut sedikit jika mas Dani marah Mita makin takut." Dani menarik napas panjang membenarkan ucapan Yahya.
"Tersiksa aku dari tadi apalagi melihat perempuan menangis...gak berdaya hatiku. Kalau mas Dani diposisi aku harusnya gimana?" cerdas,Yahya terus menembak saat mumpung lawannya sedang lengah lalu memutar balik keadaan. Dani tampak merenung,memikirkan ucapan Yahya yang terdengar masuk akal.
"Kalau aku berniat gak baik sama Mita,mas Dani lihatnya yang lain bukan cuma begini tapi aku masih takut dosa..."
"Mita cuma meminjam dada saya buat meluapkan perasaan yang ia tahan selama ini,nungguin mas Dani gak datang-datang dia mikirnya aneh-aneh katanya mas Dani marah,gak mau lagi ngurusin dia...terus aku dipepet gini aku bisa apa?" keadaan berbalik kini Dani yang merasa disudutkan. Yahya menembak tepat sasaran.
"Ini jaket aku dari tadi diusep-usep sama mukanya rasanya basah tembus ke kulit mana sama ingus juga..." ucap Yahya dengan muka terintimidasi dan Dani langsung melongo. Muka Dani berubah yang tadinya marah terlihat merasa bersalah.
"Jangan gini...geli akunya!" pelan Yahya mendorong tubuh Mita agar tidak menempel padanya. Terus terang dia sesak sekaligus merasa bersalah. Mita tidak sadar jika dadanya ikut menempel erat hingga Yahya bisa merasakan dua gundukan dadanya. Yahya merasa sangat berdosa. Merasa telah melecehkan seorang perempuan meskipun bukan niatnya. Apa yang harus dilakukannya? Apakah harus bertanggungjawab? Tapi alasannya apa kalau ditanya? Masak bilangnya karena itu,memikirkannya saja membuatnya malu.
"Gak mau..." Mita menggeleng kuat sambil menolak melepaskan diri.
"Ayolah...gak pantes jika kita begini,kita bukan muhrim,dosa!" pelukannya merenggang tapi mukanya masih menempel di dada Yahya.
"Kecuali kita menikah bolehlah begini terus mau berbulan-bulan juga gak masalah...hehehe..." ucap Yahya sambil nyengir. Mita langsung mundur dengan muka merona bercampur malu.
__ADS_1
"Ma...af..." ucap Mita disela isak tangis dengan napas tersengal,terdengar seperti anak kecil membuat Yahya tertawa.
"Aku juga minta maaf sama kamu dek..." ucap Dani tulus sambil menghampiri Mita yang spontan mundur,memberi jarak kembali mendekati Yahya. Tangannya sudah memegang jaket Yahya seperti siaga satu. Melihat itu Yahya menarik napas dalam.
"Jangan takut kakak gak marah lagi!" tatapan Dani melembut penuh kasih. Direntangkannya dua tangannya siap menerima pelukan adiknya.
"Sini peluk kakak! boleh deh sampe bertahun-tahun juga...hehehe..." goda Dani dan Mita langsung melengos kesal lalu naik ke tempat tidur sambil menutup mukanya dengan bantal karena malu. Dani dan Yahya sama-sama terkekeh.
"Maaf..." sayang sekali dianggurin rentangan tangannya Dani memutar haluan memeluk Yahya yang terhenyak kaget mendapat pelukan persahabatan darinya.
Mita melotot melihat adegan kedua pria didepannya.
"Menjijikkan..." komentar Mita kembali menutup muka. Mengabaikan Mita,Dani merasa sangat senang hari ini.
"Hahaha...kita saudara sekarang!" Dani merangkul pundak Yahya sambil mengoyang-goyangkannya. Yahya lega semuanya berakhir damai.
"Karena kita saudara sekarang jadi mulai hari ini aku gak akan sungkan lagi minta tolong...hahaha..." ucap Dani sambil terus tertawa yang terdengar mencurigakan.
"Besok kayanya aku gak bisa nungguin Mita di sini jadi tolong besok kamu yang tungguin ya!"
__ADS_1
"Apaaa...???" teriak Mita.