
"Mereka sudah pulang..." ucap Dani saat Mita masuk ke kamar rawatnya. Terdengar tarikan napas lega,Mita tidak perlu susah-susah meminta mereka pergi karena rasanya kurang sopan.
Disusul Hafiz masuk dan langsung menaruh barang bawaannya ke atas meja dekat sofa lalu duduk sambil menghela napas.
"Kalau capek seharusnya kak Hafiz istirahat saja dirumah...!"
"Ini demi kamu..."
"Kedengarannya gak ikhlas banget...segala sesuatu kalau gak ikhlas itu percuma gak dapet apa-apa..." dia merasa tersinggung dengan ucapan Hafiz 'apa coba maksudnya demi dia?' namun ditahan,tidak baik membalas kebaikan orang dengan kata-kata kasar lebih baik mengingatkan.
"Ya gak gitu juga..." masih ngeles juga kan,Mita geleng kepala.
"Ya udah pulang saja aku ngerti kak Hafiz capek..." Mita menarik lengan Hafiz supaya berdiri.
__ADS_1
"Ayolah...berat ini..." akhirnya Hafiz mengalah walaupun rasanya enggan untuk pergi. Mita mendorong punggung Hafiz memintanya cepat pergi hingga sampai keluar pintu berpapasan dengan Yahya.
"Jadi karena dia kamu ngusir aku?" tanyanya emosi,salah paham lagi Mita narik napas.
"Niatnya mau berduaan?" tuduhnya membuat emosi Mita rasanya langsung naik ke ubun-ubun,los control.
"Apa maksudnya ngomong begitu? Kak Hafiz mau bilang aku cewe gak bermoral berduaan sama lelaki...iya?" tanyanya berusaha menahan agar suaranya tetap stabil,sadar diri jika sedang berada dirumah sakit.
"Kenapa sih sepicik itu mikirnya? coba hilangin deh prasangka buruk sama orang itu gak baik,dosa kak..."
"Aku cemburu...aku suka sama kamu...dan aku gak mau ada yang deketin kamu,siapapun itu..." jujur Hafiz lantang hingga jadi pusat perhatian orang yang lalu lalang. Mendengar itu jelas Mita sangat marah hingga air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Belum apa-apa kak Hafiz sudah membatasi aku gak boleh dekat sama siapapun bahkan kakak kandung aku sendiri gak sejauh itu..." ucap Mita sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Apa kak Hafiz lupa pak Yahya ini masih kerabat mu? bisa-bisanya bicara seperti itu...sakit dengernya kak..." Mita menekan ujung kalimatnya sambil menunjuk dadanya.
"Asal kak Hafiz tahu aku belum ada niat menjalin hubungan dengan siapapun karena saat ini hidup dan keluarga ku lebih penting."
"Pak Yahya baik sama aku,beliau ke sini juga berniat baik jadi sudah sewajarnya aku membalas dengan sikap baik..." Mita kembali menarik napas panjang,menahan gemuruh dalam dada yang rasanya hampir pecah.
"Ini yang aku gak suka dari kak Hafiz...egois...gak bisa menempatkan diri...gak bisa menghormati orang lain..." ucap Mita pelan.
"Sudahlah...aku menghormati kakak sebagai orang yang lebih tua dan aku ingat kebaikan keluarga kakak...aku minta maaf jika omongan ku kasar,terima kasih bantuannya...mulai hari ini aku akan menjaga jarak dari keluarga kak Hafiz"
"Maaf Mita..." Mita mengangkat sebelah tangannya.
"Aku sudah sangat lelah gak hanya badan...hati dan pikiranku sama lelahnya jadi jangan katakan apapun lagi..." ucapnya sambil menunduk menyembunyikan air mata yang mulai jatuh lalu kembali ke dalam kamar kakaknya.
__ADS_1
Begitu pintu tertutup Mita langsung menangis,dia benar-benar sedih dengan sikap Hafiz,itu menyakiti hatinya sementara Dani hanya bisa melihat dari atas tempat tidur karena tangannya masih terpasang infus. Hatinya ikut sakit mendengar ucapan Hafiz terhadap adiknya. Bertambah sakit melihat adiknya menangis.