Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 97 Keputusan final


__ADS_3

Rumah semakin tidak nyaman untuk ditinggali,terasa panas karena salah satu penghuninya terus uring-uringan saat dirumah. Beberapa kali terdengar teriakan frustasi entah apa masalahnya hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Neng kasihan mas Dani." berkali-kali emak bilang seperti itu. Mita menggelengkan kepala.


"Mita sendiri bingung soalnya yang punya masalah ndak mau cerita Mak." balas Mita dengan tatapan tidak berdaya.


Seminggu berlalu belum ada kabar lagi tentang pernikahan malah Dani jadi jarang pulang ke rumah. Sekalinya pulang dengan muka marah seperti singa siap menerkam mangsa.


Pagi tadi saat akan ke depan,dia melewati kamar Dani yang ternyata terbuka dan hidungnya mencium bau rokok menyengat seketika mundur ke belakang untuk mengecek,ternyata benar didapatinya Dani sedang merokok,langsung menegur "kak jangan merokok didalam kamar" Dani hanya menoleh dengan tatapan tajam lalu mematikan rokoknya dan pergi keluar dengan mengendarai motor. Mita menghela napas panjang,memandang kepergian kakaknya dengan muka sedih hingga tiba-tiba beberapa orang tidak dikenal mendatangi rumahnya dengan wajah-wajah tidak bersahabat,seperti mau mengajak ribut gayanya.


"Siapa mereka?" gumamnya sendiri sambil berjalan menghampiri,berniat untuk menyapa namun berbeda yang terjadi.


"Ini rumahnya Dani?" suaranya terdengar penuh emosi.


"Iya ada apa?" jawab Mita mencoba terus bersikap tenang padahal sebenarnya tegang juga. Irham langsung menghampiri dengan muka serius.


"Ada apa ini?" melangkah ke depan seperti tameng bertindak sebagai pelindung.


"Kami mau minta pertanggungjawaban Dani karena telah menghamili putri kami satu-satunya." teriak si bapak.


"Eh si bapak sudah tahu anaknya hamil diluar nikah ngomong pake teriak,gak malu apa didengar orang?" sahut Irham ikut emosi. Mita spontan menahan tangan Irham yang otomatis bersentuhan dan langsung kaget saat sadar dan melepaskan pegangan, mencoba meyakinkan diri bahwa yang terjadi tidak disengaja.


"Sebaiknya lanjutkan pekerjaan kamu biar mereka kakak yang urus!" bisik Mita sambil menggerakkan dagu meminta Irham mundur. Ia sadar dalam kondisi begini tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan,salah satu harus bersikap seperti air mengalir. Irham hanya menurut tapi langsung ke belakang memberi tahu yang lain. Gayanya seperti prajurit bayangan yang siap siaga melindungi komandan dari jauh.


"Pak...masuk dulu mari dibicarakan didalam!" bersikap ramah adalah solusi untuk melunakkan hati yang keras.


"Sebentar saya buatkan minum!" saat sampai diruang tamu.


"Tidak perlu." cegah si bapak.

__ADS_1


"Tidak perlu basa basi mana Dani? Suruh dia keluar sekarang,kami mau bicara!" suaranya lantang dan tegas membuat Mita meringis. Tampak sang putri langsung mencekal tangan bapaknya lalu memberi kode dengan menggelengkan kepala. Si ibu juga mengelus lengan suaminya mencoba menenangkan.


"Maaf pak,mas Dani tidak ada dirumah." mengambil jeda dengan dahi berkerut dalam,semakin menampakkan kegarangannya hingga tiba-tiba emak datang dengan senampan minuman dingin berwarna oranye. Bapak itu tanpa dipersilahkan langsung menuang sendiri ke gelas dan meminum hingga habis lalu mendengus kasar,sebagai luapan emosi.


"Terus kamu siapa?" tanya si bapak dengan tatapan tajam mengarah kepada emak yang tampak ketakutan. Mita bangkit dari duduknya,merangkul pundak emak menunjukkan seberapa dekatnya hubungan mereka.


"Beliau yang membantu pekerjaan dirumah ini" Mita mewakili untuk menjawab.


"Kaya dong punya pembantu." Bapak itu menyeringai,Mita malas menanggapi,mengkode emak untuk kembali ke dalam.


"Terus kamu siapa?"


"Saya adiknya."


"Kami minta uang buat pesta pernikahan katanya tidak punya uang tapi punya pembantu diluar juga ada satu." komentar si bapak,memandang dengan tatapan sinis dan Mita hanya bisa menghela napas panjang,berusaha menyabarkan diri.


"Terus maunya bapak apa?"


"Saya tidak minta banyak,hanya minta sokongan sepuluh juta." suaranya mengendur,sudah Mita duga ini penyebabnya sampai saat ini kakaknya tidak lagi membahas tentang pernikahannya. Entah apa isi pikiran bapak itu sudah tahu anaknya hamil diluar nikah malah minta macam-macam,bukannya memikirkan bagaimana putrinya bisa segera menikah,aneh.


"Begini yah pak...kak Dani itu kerja dipabrik belum ada setahun jadi mungkin belum punya tabungan yah pasti tidak bisa ngasih sokongan sebanyak itu."


"Kan kalian punya usaha,punya pembantu jelas punya uang banyak." mata duitan julukan yang tepat untuk si bapak.


"Bapak...ini murni usaha saya bukan usaha keluarga."


"Tapi bisa kan bantuin ngasih sokongan." Mita mengangkat alis,si bapak keras kepala,keukeuh sama keinginannya.


"Bapak itu lucu,mau nikahin anak sendiri kok minta sokongan ke saya kesannya tidak ikhlas banget nikahin." tembakan tepat sasaran,ekspresi si bapak langsung berubah seperti yang ketahuan niat buruknya lalu melengos.

__ADS_1


"Yah kan sebagai bentuk tanggungjawab." kilah si bapak membuat Mita menahan senyum.


"Tanggungjawabnya kan cuma menikahi secara sah dimata hukum dan agama,yang penting niat dari pernikahan itu sendiri pak. Lagian daripada buat pesta mending uangnya buat lahiran nanti." skakmat.


"Saya tidak peduli,Nuri putri kami satu-satunya sudah seharusnya menikahnya dipestakan. Kalau tidak,saya akan melaporkan ke polisi." Mita menarik napas panjang,mendengar ancaman si bapak yang menurutnya hanya menggertak.


"Oh...namanya mbak Nuri kayanya pernah ke sini yah waktu kak Dani baru mulai kerja dipabrik." ekspresi Nuri terlihat malu dan segan untuk mengakui.


"Sejak kapan dekat sama kak Dani?" Mita menginterogasi Nuri yang kebingungan sendiri seperti sedang mencari jawaban yang sulit padahal kan pertanyaan mudah dan tidak perlu berpikir panjang.


"De lapan bulan." jawabnya terbata,ketahuan bohongnya.


"Jadi sebelum kerja dipabrik sudah dekat sama kak Dani?" Nuri terhenyak kaget,merasa salah perhitungan.


"Mbak Nuri cinta sama kak Dani?"


"Iya." kali ini Nuri menjawab dengan yakin tanpa keraguan. Mita tersenyum.


"Kalau cinta harusnya mau nerima keadaan kak Dani apa adanya kan?" Nuri tidak berkutik,merasa tidak bisa mengelak lagi.


"Kenapa jadi anak saya yang dipojokkan? Dia yang dirugikan dan sekarang sedang hamil." si ibu membela anaknya. Mita kembali menarik napas panjang.


"Bapak juga,tidak hanya memojokkan saya tapi mengancam padahal saya niatnya berdiskusi. Dan kalau anak ibu tahu menjaga diri kenapa rela menyerahkan diri hingga hamil bukannya berpikir ke depan,belum menikah kok mau melakukan hubungan b****. Disini bukan hanya kakak saya yang salah tapi anak ibu juga sama salahnya." akhirnya pertahanan Mita jebol,mengeluarkan kalimat yang sebetulnya tidak pantas,kesannya merendahkan orang.


"Bapak sama ibu itu orang yang lebih tua dari kami harusnya bisa memberi contoh yang baik. Mencari solusi untuk kebaikan bersama bukan mementingkan ego sendiri. Sekarang terserah sama mbak Nuri,mau hamil tanpa suami atau menikah dengan cara sederhana silahkan diskusi sama kak Dani. Ini hasil dari perbuatan kalian jadi resiko kalian yang tanggung." sambung Mita mengakhiri perdebatan panjang. Rasanya dia lelah dan ingin istirahat.


"Aku setuju menikahi Nuri tanpa pesta!" tiba-tiba Dani datang dengan keputusan final,dibelakangnya juga ikut pak RT dan pak ustad.


"Yah...dan kami berempat saksinya jika ada yang berani melapor ke polisi." tiba-tiba muncul pula yang lainnya dari pintu belakang.

__ADS_1


__ADS_2