
'Kesulitan bisa membuat seseorang berkembang' nyatanya benar adanya.
Dirumah bukannya membuat Mita tidak berharga justru seperti burung mengepakkan sayap agar terus membumbung tinggi.
Berawal dari sebuah pemikiran sederhana menghasilkan hal luar biasa.
Mulanya dia merasa sayang dibuang dengan cabai yang mulai membusuk lalu dia punya ide untuk menaburkan isinya ke dalam pot bunga didepan rumahnya eh ternyata tumbuh subur tanpa harus dipupuk.
"Masya Allah jadi banyak begini..." saat pagi-pagi ia menyiram tanaman mendapati bibit cabai nya tumbuh bergerombol.
"Ini sih harus dipisah mana bisa tumbuh dengan baik kalau bergerombol,mereka butuh ruang untuk tumbuh dan berkembang dengan baik." Ia langsung mencabut bibit cabai pelan-pelan agar akarnya tidak rusak dan mati saat ditanam kembali dengan jarak yang sesuai.
Setelah itu jadi kepikiran menanam sayuran yang lain juga misalnya tomat,kangkung,bayam,daun ubi rambat lumayan bisa mengurangi pengeluaran dan manfaat lainnya bisa lebih sehat karena sayuran yang ditanam sendiri adalah sayuran organik tanpa pupuk kimia.
Sat set Mita melancarkan aksinya membeli bibit sayuran melalui online shop dan segera dieksekusi dengan baik. Bukan main-main ia belajar berkebun melalui yutub.
Selain berkebun ia juga mulai beternak ayam tidak banyak hanya menambah empat indukan selain Wiwik dan satu ayam pejantan dibantu Dani disela-sela kesibukan kuliah yang suka berkreasi membuat kandang semi liar agar ayamnya merasa nyaman. Karena jika ayam stres akan menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Ada hal lain juga yang lebih mengagumkan,ketelatenan Mita membuatnya seperti chef dalam mengolah makanan.
"Aromanya luar biyasya..." goda Dani sambil mengacungkan kedua jempol nya dan Mita jadi malu.
"Ahaahaaa...kamu kaya anak perawan saja!" Dani terbahak kembali menggoda.
"Ih...gimana sih aku kan memang masih perawan." balasnya cemberut sambil melengos dan tersenyum malu.
Dani masih tertawa sambil meninggalkan adiknya menuju belakang rumah ingin mengurus kebutuhan ayam-ayamnya. Mulai dari membersihkan kandang lalu memberi makan dan minum ayam.
"Lho...ini telurnya banyak banget induk berapa ini yang bertelur?" Dani menggaruk kepala bingung,baru sebulan dirawat tapi sudah menghasilkan telur sebanyak itu. Melihat si Wiwik,dia masih sibuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil dan kandangnya tidak jadi satu kan.
Dani salah perhitungan harusnya setiap kandang kecil untuk perkembangbiakan diisi satu indukan dan satu pejantan supaya jelas telur indukan mana kalau begini takutnya indukannya berebutan telur dan stress karena telurnya diambil indukan lain.
"Indukan empat pejantan satu yang tiga lah indukan lain jomblo dong!" Dani bengong.
__ADS_1
Selesai urusan sama kandang ayam ia menyiram tanaman. Ia tersenyum mendapati beberapa pohon cabai dan pohon tomatnya mulai berbuah kecil-kecil. Kangkung dan bayam juga tumbuh subur mungkin beberapa hari lagi bisa di panen tapi Dani juga jadi bingung kemarin menanamnya tidak kira-kira langsung sepuluh kantong polybag,dimakan sendiri mana bisa menghabiskan,kembung sama sayuran iya.
"Dek kita salah perhitungan." Mita mengerutkan dahi,bingung sama maksud kakaknya.
"Itu ayamnya bertelur jadi satu banyak banget..." ucapnya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Hah...kok bisa?" tanya Mita kaget.
"Itu kan indukan ada empat harusnya kandang untuk perkembangbiakannya juga empat sekaligus pejantannya juga harusnya beli empat...kalau begini yang tiga jomblo dong." Mita tersenyum yah bisa ae ayam di bilang jomblo.
"Gampang itu tinggal digilir aja...setahu aku ayam indukan bertelurnya hanya sepuluh sampai dua belas butir jadi pejantannya bisa digilir setelah indukan mengerami telurnya..."
"Suaminya Wiwik juga bisa digilir sekarang lama-lama satu kandang takutnya maksa Wiwik melayani hasratnya,kasihan anak-masih kecil butuh bimbingan dari Wiwik caranya mencari makanan dari tanah." jawab Mita lugas sok memperhatikan psikis ayamnya.
"Emangnya pejantannya langsung mau ngawinin?" tanyanya dengan tampang polos.
"Bisa iya bisa tidak...tergantung karakter ayamnya dia tipe setia atau playboy kalau playboy mah langsung sikat kalau setia palingan pendekatan dulu lah..."
"Sama aja kali...mungkin dipaksa mau...eh ngapain jadi nanyanya ke aku memang aku ayam...mending dicoba dulu aja." Dani menertawakan ekspresi adiknya yang berubah jutek.
"Anak-anaknya si Wiwik yang sudah agak besar juga butuh kandang lagi yang cowok main tawuran aja kalau gak dipisahin bisa babak belur."
"Memangnya calon pejantannya banyak ya?" Dani mengangguk disela-sela mengunyah.
"Ada empat lainnya cewe..."
"Biaya lagi dong kak..." Dani mengangguk lagi.
"Kak Dani punya ide lain?"
"Dijual aja semua lagian kita sudah punya empat indukan...coba bayangin kalo satu indukan menghasilkan sepuluh anakan ditambah si Wiwik satu periode bisa menghasilkan lima puluh anakan."
__ADS_1
"Terus jualnya ke mana?" Dani menarik napas.
"Ya...bisa ke pasar,ke warung,ke penjual ayam bakar,restoran..."
"Betul juga...tapi aku kok gak tega ya jualnya!" suaranya terdengar sedih dan tidak berdaya,Dani menatapnya jengah.
"Tujuannya beternak kan untuk menghasilkan uang nanti hasil penjualan bisa buat beli makanannya ayam lagi."
"Semakin banyak ayam semakin banyak pula biayanya dari kandang dan makanannya..." jelas Dani sambil terus menikmati sarapannya.
"Telurnya juga nanti bisa dijual buat penambah stamina..." Mita mengangguk paham. Mungkin penghasilannya tidak seberapa tapi Insya Allah banyak manfaatnya.
"Itu tanaman cabai sama tomatnya sudah berbuah kecil...terus bayam sama kangkung mungkin beberapa hari lagi bisa dipanen"
"Wah...Alhamdulillah semoga selalu tumbuh subur ya...aamiin." saking bahagiannya dia lupa meraup mukanya saat tangan masih belepotan belum selesai makan.
"Aduduh...kak ini gimana mataku perih." Mita dan Dani sama-sama panik. Mau membantu tangannya juga sama kotornya belum dicuci. Dani jadi bingung apalagi mendengar teriakan Mita.
"Jangan digosok matanya sebentar aku cuci tangan dulu!"
"Cepetan kak mataku perih banget!" teriak Mita sambil menahan perih dimatanya.
"Kamu sih dek bahagia sampai lupa semuanya..." Dani membawa baskom berisi air bersih dan membasuh mata Mita yang ternyata panas dan perih dari cabai melebar ke mana-mana.
"Aduduh...ini jadi panas kaya terbakar mukaku." keluh Mita yang membuat Dani makin panik.
"Dikipas angin ya...sini ikut aku ke kamar mu!"
"Aduh...ini kenapa gak ilang-ilang panasnya?"
"Sabar...dek...sabar...!"
__ADS_1