
Warning 18+
Mita termenung,tidak menampik bahwa nafkah batin adalah salah satu keharusan bagi yang sudah menikah dan sebagai istri sudah kewajibannya melayani suaminya. Apalagi setelah melihat reaksi suaminya yang tersiksa jelas dia tidak tega untuk menunda lebih lama lagi. Mengecewakan suami termasuk dosa besar disaat dia bisa menjalankannya.
Setelah melalui pertimbangan yang matang tentang baik dan buruknya untuk sebuah pernikahan dia akhirnya memutuskan....
"Mas....aku siap." ucapnya lirih sambil menyentuh punggung suaminya yang tengah membelakanginya.
Yahya langsung berbalik badan.
"Siap apa?" ditanya seperti itu membuatnya malu tidak berani menatap Yahya.
"Siap menjalankan kewajiban ku." jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Benarkah?" tanya Yahya dengan semangat,Mita mengangguk pasrah.
"Kita sholat Sunnah dua rakaat dulu." melompat turun dari tempat tidur mendahului mengambil wudhu dengan semangat tinggi. Mita yang melihat merasa heran kemudian menyusul dibelakang.
Sekembalinya ke kamar,Yahya sudah siap memakai baju muslim,sarung dan kopyah,sajadah terpasang rapi,mukena juga telah disiapkan diatas meja. Mita terlihat heran melihat semangat suaminya. Sepenting itukah kebutuhan biologis bagi seorang pria pikirnya.
"Ini niatnya apa?" tanyanya selesai mengenakan mukena,Yahya tersenyum. Merupakan tugasnya menuntun istrinya dalam hal kebaikan jadi sebelum sah menjadi suami istri dia belajar adab malam pertama selain belajar kewajibannya sebagai suami.
"Anjuran melakukan sholat Sunnah sebelum hubungan intim ini tujuannya untuk mendapatkan rido dan keberkahan dari Allah." jelas Yahya sambil menghadap Mita lalu mengambil tempat didepan Mita sebagai seorang imam.
"Bismillahirrohmanirrohim....usholli sunnatan lailataz zifafi rok'ataini lillahi ta'ala....artinya saya sholat Sunnah malam pengantin dua rakaat karena Allah ta'ala." Yahya kembali menjelaskan beserta artinya. Bahkan Mita tidak terpikir untuk menghafal niat sholat Sunnah ini dan bersyukur suaminya bisa membimbingnya.
"Aku masih belum bisa menghafalnya." jawabnya jujur.
"Ok....aku akan membaca perlahan dan kamu ikuti." Mita mengangguk mengerti.
"Satu lagi....sholat ini dimulai dengan membaca surat Al Fatihah di setiap rakaatnya....bisa selesai disitu atau ditambah surat lain yang ada didalam Al Qur'an." sambung Yahya lalu memulai sholat dengan membaca niat dilanjutkan takbiratul ikhram.
Pertama kali berjamaah dengan suaminya hatinya terasa syahdu dan tenang seakan muncul kekuatan baru untuk menyongsong masa depan yang baru sebagai pasutri yang pastinya tidak mudah dijalani.
Usai sholat Yahya menadahkan kedua tangan,membaca doa selesai sholat Sunnah yang diikuti Mita.
"Allahumma inni as'aluka khairaha wa khairama jabaltaha alaihi wa a'udzubika min syarriha jabaltaha alaiha....ya Allah,sesungguhnya aku memohon kepada Mu kebaikannya yaitu istriku dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Aku berlindung kepada Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau ciptakan padanya....aamiin." mengaminkan sambil meraup muka.
Yahya berbalik badan menghadap Mita dengan tersenyum. Menyodorkan tangan yang langsung disambut oleh Mita seraya mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Maafkan kesalahan aku istrimu mas lillahi ta'ala." terlepas Mita merasa punya salah ataupun tidak setelah akad nikah yang mereka langsungkan beberapa jam yang lalu tapi tidak ada salahnya jika dia meminta maaf. Yahya langsung menyentuh ubun-ubun istrinya.
"Iya sama-sama sayang....mas maafkan dan mas juga minta maaf kalau ada kesalahan lillahi ta'ala." seketika hati keduanya terasa damai dan mungkin inilah yang dinamakan nikmat iman dan nikmat Islam. Semua keraguan langsung sirna.
"Terima kasih untuk doanya mas."
"Iya....insya Allah kalau kita segera dititipi keturunan semoga diberikan yang Sholeh Sholehah....aamiin." Mita ikut mengaminkan doa walaupun sebetulnya dia malu kalau menyinggung soal keturunan diawal pernikahan. Jangankan keturunan untuk memulai hubungan suami istri saja dia malu.
Selanjutnya adalah sesi utama yang dinanti-nanti bagi pasangan pengantin baru yaitu malam pertama. Tapi Yahya tidak seceroboh itu untuk memulainya. Perlu kesabaran penuh dan musti dialihkan dulu supaya istrinya nyaman baru beraksi.
"Aku terpesona....ternyata gak hanya wajahmu yang cantik,rambutmu juga cantik." dipuji seperti itu pipinya langsung merona,Yahya terkekeh.
"Rasanya beda yah dipuji sama aku?" seloroh Yahya,Mita melongos sambil menggigit bibir.
__ADS_1
Yahya menyisir rambut Mita yang agak setengah basah.
"Rambut kamu hitam....panjang." topiknya masih sekitar rambut lalu menghirup aroma shampo dirambut Mita.
"Pake shampo apa?"
"Shampo khusus wanita berhijab." jawabnya asal.
"Oh pantesan wangi." Yahya mulai mengeluarkan gombalan yang terdengar hambar,Mita berdecak sebal.
"Semua shampo wangi kalau gak wangi mana laku mas....gak jelas ih." Mita cemberut sambil tersenyum. Ingin tertawa mendengar gombalan receh suaminya yang menurutnya tidak masuk tapi cukup menghibur bukannya terdengar romantis malah lucu.
"Gimana sih....ini aku sedang berusaha menciptakan suasana romantis tapi kamu malah menghancurkan." Yahya berpura-pura kesal membuat Mita tertawa.
Misi pertama selesai,Mita sudah terlihat santai.
"Ayo kita sambil rebahan....aku capek berdiri terus." kilah Yahya,Mita patuh.
"Sini dong deketan....katanya sentuhan kaya gini aja kita udah dapat pahala." Yahya menarik Mita untuk lebih dekat.
"Katanya tadi mau ngerubah panggilan." Yahya masih terus mengalihkan dengan obrolan-obrolan ringan. Dahi Mita berkerut.
"Bukannya mas Yahya yang minta ngerubah panggilan?" protes Mita.
"Iya ya."
"Sekarang kita cari panggilan yang beda dan bikin aku seneng....atau kamu punya usulan?" biar terbawa suasana harus meyakinkan dulu seperti aktingnya para artis dan aktor.
"Kamu bikin aku gemes."
"Mas Yahya main nyosor aja." Mita kembali protes sambil menyentuh pipinya yang dicium Yahya.
"Kan dapat pahala sayang." Yahya modus. Dia sudah terpikir untuk sentuhan dasar selanjutnya.
"Hubby gimana?" usulnya sambil mulai mengusap bagian lengan Mita yang sedang berpikir.
"Gak mau....lebay." diendus-endusnya leher Mita yang mulai kegelian.
"Mas....geli." keluhnya tanpa sadar mengeluarkan suara manja.
"Terus mau manggil apa?" desak Yahya sambil meneruskan aktifitasnya.
"Mas....diem ih....geli." ucapnya sambil menahan tangan Yahya yang tidak mau berhenti tapi mana bisa dibandingkan dengan tenaganya. Melihat istrinya yang mulai terpengaruh dia berbisik......
"Kita berdoa dulu yuk sebelum jima'....." napasnya terdengar memburu karena dikuasai *****.
"Ikuti aku...." mengambil jeda sebentar dengan menarik napas panjang.
"Bismillah.....Allahumma jannibnasysyaithaana....wa jannibisysyaithoni maa razaqtanaa...."
"Dengan nama Allah....ya Allah jauhkanlah kami....dari gangguan setan....dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan....kepada kami....aamiin." Mita hanya mengikuti ucapan suaminya sampai akhir.
"Lampunya mau dimatikan atau gak?"
__ADS_1
"Mati."
"Mau buka **** sendiri atau...."
"Sendiri." membayangkan dibuka suaminya membuatnya meremang duluan. Selesai dengan urusan membuka dia menutup semuanya dengan selimut.
"Sudah?" Mita hanya mengangguk.
Dalam perjalanan Yahya merasakan Mita yang gugup dan tegang.
"Tenanglah sayang atau kamu akan kesakitan nanti." dia mulai beraksi dengan perlahan namun pasti hingga berhasil membuat istrinya terbuai mengikuti permainannya.
"Nikmatilah sayang!" bisiknya disela-sela aktifitas saat merasakan istrinya yang ********
Saat akan masuk ke inti Yahya langsung memberitahu....
"Bersiaplah!" Mita tidak bisa menjawab lagi.
"Tenanglah aku akan pelan-pelan....katakan kalau kamu gak kuat...kita bisa berhenti." Yahya tidak mau memaksakan kehendaknya,prinsipnya adalah sama-sama merasakan bukan menguntungkan diri sendiri.
Sesi berlanjut secara perlahan,tidak ingin istrinya kesakitan.
"Ya Allah berilah kami kemudahan!" entah kenapa doa Yahya membuat Mita tenang dan semakin pasrah.
"Ah aw....." Yahya langsung berhenti,melihat istrinya yang meringis.
"Maafin aku sayang." ucapnya sambil menciumi muka Mita.
"Sakit?"
"Hmm."
"Mau berhenti?" Mita menggeleng lemah. Dipikirannya mau sekarang ataupun nanti rasanya akan sama saja. Nanggung kalau berhenti ditengah jalan lagipula dia ingin menyenangkan suaminya.
"Kamu yakin?" Mita merasa dihargai dengan sikap suaminya.
"Insya Allah....iya." lalu menarik napas panjang.
Pertempuran kembali berlanjut,Yahya melanjutkan aktifitasnya dengan berhati-hati. Mita menahan rasa sakit yang seperti terbelah dengan meremas seprai dan menggigit bibir.
Setelah berhasil masuk sepenuhnya,Yahya berhenti sejenak memberikan ruang untuk istrinya menarik napas lalu memberikan ******** hingga istrinya terlena dan ikut ********* permainannya.
Beberapa saat kemudian semuanya berakhir dengan baik. Keduanya kini sedang mengatur napas setelah bekerja keras.
"Alhamdulillah....." ucap keduanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Mita hanya membalas dengan anggukan.
"Aku ambilkan minum." Yahya bangkit,mengenakan pakaiannya lalu mengambil air minum.
Yahya membantu Mita untuk duduk sambil menutupi ***** istrinya dengan selimut. Mendekatkan gelas ke bibir istrinya memudahkan istrinya minum.
"Terima kasih sayang." diciumnya kening Mita lama dan penuh kasih sayang.
__ADS_1