Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 102 Bersikap tegas


__ADS_3

Dani POV


"Mas...aku kepengen!"


Adeeh perempuan ini mepet-mepet terus,bikin risih seperti sengaja menggodaku dengan sering menempelkan bagian tubuhnya ke tubuhku dengan alasan meminta sesuatu karena ngidam. Mentang-mentang aku baik-baikin. Ini semua juga ide Mita aku yang apes jadinya. Katanya biar Nuri tidak marah-marah terus kasihan sama semua orang yang terkena imbasnya diomelin melulu.


"Mas..." rengeknya dengan suara manja,kali ini sambil menggesekkan dadanya yang terasa membesar,mungkin efek hamil jadi saja semua membesar tidak hanya bagian perut yang lain juga ikut membesar. Astaghfirullah ini otak keterusan membayangkan hingga yang dibawah langsung on. Bahaya harus segera diamankan.


"Kepengen apa?" langsung to the point biar tidak lama-lama sama dia. Kami memang sudah akad nikah tapi belum boleh ngapa-ngapain sekedar menutupi aib biar nanti anaknya lahir namaku tertera di akte kelahirannya sebagai ayah biologis.


"Sushi."


"Susi..." tanyaku bingung. Setahuku Susi itu nama orang.


"Kita kan belum tahu jenis kelamin anak kita jadi simpan saja buat nanti pas sudah lahir." jawabku datar sambil menggelengkan kepala. Gitu saja dikepengenin,mau kasih nama anaknya Susi yah kasih saja kalau memang keluarnya perempuan.


"Ih...mas Dani gak ngerti maunya aku." Mukanya tampak cemberut dengan dahi berkerut,ngambek. Aku sudah terbiasa,tidak ngaruh mau dia marah juga.


"Bukan Susi tapi SU SHI......" tegasnya dengan menekan setiap suku kata. Ampun deh ini anak orang,Sushi pakai dingidam.


"Makanan Jepang itu lho." otakku sedang loading berpikir cepat mencari-cari makanan bernama SUSHI yang asalnya dari Jepang.


"Makanan dari ikan mentah itu?" Dia mengangguk semangat.


"Heeh...makanan begituan kepengen?" cibirku dengan tatapan sinis.


"Ngidam apa kesempatan sih kamu,ngidam kok aneh-aneh yang realistis dong!" ucapku sewot.


"Yah kan ngidam mana aku tahu ini kan kepengenan jabang bayi." kilahnya dengan bibir manyun. Tahu ah makin diturutin dia makin menggila. Terus mau cari dimana makanan itu daerah sini mana ada jualan kaya gitu.


"Ngidam kok tiap hari,nafsu itu namanya." mukanya langsung marah sambil melotot tapi tidak ku pedulikan.

__ADS_1


"Ini beneran,mau entar anaknya ileran?" ucapnya sengit.


"Tenang nanti kalau ileran tinggal di elap pake tisu,aku beliin sekardus besar kalau perlu." dia pikir aku sebodoh itu,namanya bayi yah ileran begitu gede ilang sendiri. Wong yang sudah gede tetep saja ileran pas tidur jadi tidak ada salahnya bayi ileran.


"Jadi bapak gak peka amat sih,dimintain begitu saja gak mau nurutin." dia mencak-mencak tidak terima.


"Heeh jangan mencak-mencak itu perut ada bayinya,gimana sih?" omelku padanya,takut yang didalam perut mengira ada gempa ibunya mencak-mencak tidak karuan.


"Istighfar kamu,kira-kira dong kamu kaya gitu entar kepala mereka pusing didalem." Nuri melotot padaku sambil mendengus sebal.


"Dasar pelit,gak perhatian." meski aku yang tidak terpengaruh.


"Kamu itu lagi hamil belajar bersikap yang baik biar menurunnya ke anak juga baik."


"Malah ceramah,kamu kan gak ngerasain hamil." main potong saja,dasar tidak sopan sama suami. Harusnya dia menghormati aku sebagai suaminya,kepala rumah tangga,pemimpin dalam rumah tangga. Bisa dibilang aku ini presidennya keluarga sedangkan dia wakilnya,harusnya nurut sama aku.


"Yah itu kan sudah kodratnya perempuan untuk hamil,gimana sih?"


"Kalau mau ngidam yang gampang nyarinya,boleh aku turutin,kalau mau susah cari sendiri." mendorongnya pelan keluar dari kamarku lalu menutup pintu dengan keras yang kedengeran dia menangis didepan pintu. Bodo amat,salah sendiri aneh-aneh. Ngidam kan sebetulnya mitos. Adeeh sekarang aku pusing atas bawah.


"Tidur yah kamu belum bisa terbang bebas,nanti yah kalau sudah sah dan punya sarang beneran baru deh boleh nyembur sesuka kamu,ok." bujukku padanya sambil mengelus pelan. Mengenaskan hidupku,status sudah istri boleh dilihat tapi tidak boleh diraba.


author


Mita yang melihat kakak iparnya menangis didepan kamar Dani merasa kasihan tapi dia seperti trauma karena rasa kasihannya terbiasa berbalas dengan tekor didompet,sering jadi dimanfaatkan akhirnya dia kabur dan terus berusaha menghindar.


"Dek..." Mita menoleh sambil tersenyum.


"Maaf kak Nuri aku sibuk banget habis ini ada yang datang,ini juga lagi ditungguin bunganya mau dianter ke tempat tujuan." kilah Mita langsung terlihat sangat sibuk. Dan berhasil,dia masuk ke dalam rumah dengan wajah sendu dan Mita bernapas lega. Irham yang melihat pun tertawa lebih tepatnya menertawakannya.


"Apa?" tanyanya sambil melotot.

__ADS_1


"Kerja yang bener!" Mita memperingatkan Irham yang tersenyum menahan tawa.


Sampai detik ini ia merasa terkena mental menghadapi sikap kakak iparnya yang cerewet,suka ikut campur urusan kerjaannya. Paling parah sekarang dia mulai berulah,berlagak seperti majikan kaya raya asal memerintah emak. Disini Mita yang kepikiran,maunya cepet-cepet pindah ke rumah barunya kasihan sama emak dan yang lain selalu terkena imbas kecerewetan Nuri tapi pembangunan belum kelar. Ini saja masih terbebani biaya yang makin menipis ditahap terakhir. Belum lagi kalau mau pindah otomatis semua ikut dipindahin termasuk ayam sama kandangnya butuh biaya yang tidak sedikit,pusiiing sekaliii.


"Emak ini kok mejanya masih kotor sih!" teriak Nuri dari dalam rumah.


"Mulai lagi dia." Mita menggelengkan kepala. Tidak tega orang tua dimarah-marahin terus. Seperti kode keinginannya harus terpenuhi,minta sogokan biar tidak marah-marah lagi. Tapi kali ini berbeda,Mita merasa harus bertindak tegas,sudah berkali-kali. Mita bangkit dan Irham langsung mengikuti. Begitu masuk rumah mereka menangkap kehadiran emak dengan kepala menunduk.


"Mbak ada apa?" Mita masih berusaha menyabarkan diri,bertanya dengan tenang.


"Itu pembantu tua harusnya pensiun,ngelap meja saja gak bisa masih kotor ini." jawabnya ketus. Mita tidak suka ini.


"Mbak tolong dijaga omongannya,emak bukan pembantu dan emak itu orang tua. Sebagai orang yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua."


"Meja kotor kenapa mbak gak ngelap sendiri daripada nganggur?" Nuri melotot dengan ekspresi tidak terima kalah.


"Dia digaji jadi kalau bukan untuk disuruh-suruh buat apa disini?" jawabnya emosi.


"Mbak kenapa sih tiap marah selalu dilampiaskan ke orang lain?" Nuri melengos.


"Kenapa jadi mbak yang repot? Aku yang gaji emak bukan mbak jadi mbak gak perlu repot-repot mikirin emak mau disuruh apa?" jelasnya yang membuat Nuri semakin emosi.


"Aku memang gak gaji emak,aku cuma bantuin kamu biar mereka disiplin kerja tapi kamu kaya yang gak menghargai usaha aku."


"Dengan berteriak dan mengatai orang tua? Sadar gak mbak itu sudah menyakiti hati orang tua." Mita menggeleng tegas.


"Malu didengar orang." Mita mengambil jeda sambil menarik napas panjang,mengendalikan diri yang ikut terbawa emosi.


"Mulai sekarang jangan ikut campur,mau makan atau kerjaan mereka. Biarkan mereka tenang bekerja! Mbak sudah berkeluarga belajar mengurus keperluan rumah tangga dan mengatur keuangan keluarga mbak sendiri."


"Bukannya mas Dani memberikan jatah bulanan?" Mita menatapnya menyelidik. Selama ini Mita hanya diam melihat kecurangan kakak iparnya yang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali dan terus merengek minta ini dan itu padanya. Awalnya berpikir mereka masih keluarga jadi memaklumi tapi hari ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,Nuri sudah keterlaluan dengan menghina orang yang lebih tua.

__ADS_1


"Mulai hari ini mbak bisa belanja dan masak buat diri sendiri. Cuci baju sendiri." ucapnya tegas,ini hukuman yang pantas untuk Nuri agar bisa menghargai orang lain dan langsung pergi karena merasa sudah kalah. Dani yang mendengar tidak ingin ikut campur urusan perempuan,dia menyadari istrinya yang bersalah,malas memikirkan juga.


__ADS_2