
Edukasi untuk si kecil Maira sudah selesai kini waktunya menjamu para tamu untuk makan siang bersama. Sementara para tamu melihat-lihat kebun sayur didepan rumah, Mita memasak didapur.
"Mau apa?" tanya Bu Indah sambil mendekatinya.
"Mau masak...." jawabnya pendek.
"Kenapa jadi kamu yang repot?" Mita membalas dengan senyuman. Dalam hati Bu Indah mengakui Mita semakin dewasa beda jauh dengan putranya yang masih labil. Bu Indah ingin sekali Mita bisa menjadi menantunya tapi mengingat sikap putranya Hafiz pupus sudah harapannya.
Satu jam kemudian dia selesai memasak ala kadarnya. Bersyukur tadi pagi dia membeli kelapa agak muda dan toge juga,tidak tahu kenapa tapi seperti ada dorongan untuk membeli....ya mikirnya buat persediaan dan Alhamdulillah ternyata ini maksudnya,kedatangan tamu dadakan.
Mita berjalan ke depan menghampiri semua orang yang nampak asik melihat kebunnya.
"Ayo...Bu Indah,Bu Tita semuanya mari masuk dan kita makan bersama!" Mita mempersilahkan dan langsung disambut pelukan hangat Bu Tita.
"Repot-repot kamu...tapi gak pa-pa makan dirumah calon mantu sendiri..." celoteh Bu Tita seperti sengaja mendoakan putranya berjodoh dengan Mita,ucapan kan doa. Sedangkan Mita sibuk mencerna kata 'calon mantu'
"Jangan dipikirin ayok tuan rumah masuk duluan tunjukin mau makan dimana!" cerdas,Bu Tita selalu tahu cara mengalihkan pikiran orang.
Eh iya dia baru kepikiran setelah mendengar ucapan Bu Tita mau makan dimana?
Tamunya banyak mana mungkin muat meja makannya.
"Gimana kalau makannya lesehan saja soalnya meja makannya pasti gak cukup Bu..." bergegas mengambil tikar didalam kamar almarhum orangtuanya dan langsung keluar menuju ruang tamu yang ternyata sudah pada mengangkat kursi dan meja agak ke pinggir.
Urusan memasang tikar dilantai diatasi oleh kalangan lelaki muda perkasa kini gilirannya mengusung nasi dan lauknya,piring dan sendoknya terakhir teko dan gelasnya wow rupanya semua berpasangan kecuali dirinya yang masih jomblo...
"Biar kami yang bawain ke depan kamu bisa siapin yang lain..." Yahya selalu siaga,lebih dulu mengangkat hidangan diikuti Hafiz yang berada dibelakang sambil cemberut dan mendelik kesal.
"Kalau gak ikhlas mending gak usah!" ucapnya sambil mencibir tapi Hafiz diam saja hanya mengikuti Yahya dari belakang. Selalu seperti itu bosan Mita melihatnya.
Semua sudah siap di tempat tinggal menunggu Mita yang rupanya menyediakan es teh dan teh hangat.
"Maaf menunggu lama..." teh hangat diantar Mita dan langsung disambut Bu Tita.
"Sebentar masih ada lagi..." pamitnya sambil beranjak kembali ke belakang segera diikuti Yahya tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Sini biar aku aja!" Yahya seperti penyelamat baginya dimana ada dia selalu bisa diandalkan tanpa harus memerintah. Mita teringat belum ada air untuk kobokan siapa tahu ada yang mau makan pake tangan,dia segera menyiapkan dan membawa ke depan.
"Lho...itu apalagi?" tanya Bu Tita merasa heran bisa ya gadis seumur Mita berpikir layaknya orang dewasa,kebanyakan anak sekarang mah cuek.
"Air kobokan buat cuci tangan kalau ada yang mau makan pake tangan." jelas Mita sambil meletakkan wadah berisi air ke atas tikar. Langsung ada banyak pertanyaan tapi masih disimpan.
"Adek Maira bisa pimpin doa?" Mita memancing anak itu yang nampak berpikir keras seperti ragu-ragu untuk mengatakan iya.
"Nanti kakak kasih hadiah anak ayam tapi kalau sudah bisa merawat ya!" umpan dimakan,anak itu langsung semangat sambil mengangguk patuh. Si kecil Maira mengangkat tangan lalu membaca doa makan dengan kalimat yang terputus-putus sambil terus mengingat-ingat tampak lucu dan menggemaskan
"Alhamdulillah...Ade Maira sudah hafal doa makan sekarang ayo kita makan!"
"Mbak Tita duluan melayani suaminya..." Bu Indah mempersilahkanbesannya,tentunya pria tertua diutamakan.
"Maaf seadanya...!" Mita tampak sungkan.
"Iya gak pa-pa ini sudah cukup yang penting dari hati..." ucap Bu Tita ambigu sambil mengambilkan makan untuk suaminya. Sementara yang lain menunggu giliran.
"Dek Mita...sebenernya kamu cocok jadi guru anak TK gampang banget interaksi sama anak kecil...aku saja jarang bisa membujuk anakku." ucapnya mengomentari lalu menghembuskan napas.
Mita menarik napas panjang merasakan suasana berubah menjadi tegang dan kaku antara Bu Tita dan Latifa.
"Mama telurnya enak Maira mau lagi soalnya tadi kecil..." bersyukur Maira mencairkan suasana,anak itu menggerakkan jarinya memberi gambaran kecil sambil menyipitkan mata hingga semua orang jadi tertawa dibuatnya.
"Iya dek telurnya memang kecil tapi rasanya beda ya enak gurih." tanya Latifa heran.
"Itu telur ayam kampung kak..." balasnya singkat
"Nanti kalau kamu jual kakak beli sekalian buat Zidan...anak kecil butuh yang alami." Latifa berpikir bijak.
"Mama juga mau...sudah tua juga butuh yang alami biar gak gampang encok ini pinggang." sahut Bu Tika disambut tawa semua orang.
"Terus ini apa Mita?" tunjuk Bu Mita ke arah wadah berisi sayuran nampak aneh.
"Orang Jawa bilangnya 'urap' jadi itu sayurannya direbus terus dikasih bumbu kelapa cobain rasanya Bu..."
__ADS_1
"Memang kamu keturunan orang Jawa? siapa bapak atau ibu?" Bu Mita mengambil sesendok urap dan menyuapkan ke dalam mulut bersama nasi dan telur goreng lalu mengunyahnya.
"Bapak orang Jawa asli."
"Heem...enak pedes manis asinnya pas...ini juga bagus buat orang tua sayuran organik bisa mengurangi penyakit yang banyak diderita diusia tua"
"Iya kan Pa?"
"Gak...mama kali yang sudah tua Papa masih muda,ganteng dan gagah begini jika disandingkan sama Yahya kaya kakak adik..." ucapnya bangga yang membuat semua orang menunduk menahan tawa kecuali Bu Tita yang nampak kesal.
"Latifa kamu jangan ikut makan nanti kalau Zidan gak kuat sama pedesnya bisa sakit perutnya..." sambung beliau tanpa sungkan mengangkat wadah berisi urap untuk dirinya sendiri. Latifa langsung lemas mendengar peringatan mamanya padahal dia juga ingin mencoba.
"Ma bagi dong!" Bu Tita menodorong mangkuk itu ke arah suaminya dengan muka yang masih kesal.
"Sudah tua gak pantes merajuk Ma malu dilihat cucu-cucu kita!" guyonan papanya Yahya membuat suasana semakin meriah.
Setelah semua orang selesai mengambil makanan kini gilirannya mengambil makanan,mencuci tangannya diair kobokan lalu makan tanpa sendok.
Dia tidak sadar semua orang memperhatikan setiap gerakannya dengan dahi berkerut.
"Kamu kok bisa makan kaya gitu?" tanya Hafiz.
"Kata bapak orang Jawa kebanyakan makannya begini kalau tanpa makanan berkuah...lebih nikmat dan sedap."
"Wah...ini namanya makanan sehat sayurnya organik,proteinnya juga dari produksi ayam kampung yang pakannya alami...bisa jadi ide usaha kembangin Mita nanti Om bisa investasi kalau kamu butuh dana."
"Insya Allah kalau ada rezekinya..."
"Kata kak Dani juga begitu karena telur ayam kampung bisa untuk penambah stamina jadi kemungkinan pemasarannya lebih cepat...di desa orang-orang malah mengonsumsinya mentah biasanya dicampur jamu." ucapnya polos sedangkan yang lain sudah saling pandang dengan tatapan penuh arti.
"Ini mah cocok buat penganten baru yang butuh stamina greng untuk malam pertama..." Hafiz memperagakan lengan kuat. Mita langsung tersedak karena kaget sehingga makanan salah masuk ke kerongkongan menciptakan rasa pedas dikerongkongannya. Ia merasa malu sudah mengatakan kata 'stamina' dalam tanda kutip.
Bu Indah menepuk pelan punggung Mita sambil menggelengkan kepala melihat sikap blak-blakan putranya.
Mita akhirnya tahu apa arti stamina yang dimaksud kakaknya.
__ADS_1