
"Sudah sudah....mengingat kematian memang baik agar kita berupaya berbuat yang tidak melanggar syariat agama. Lebih bisa menahan diri untuk tidak menuruti nafsu tapi kalau terus bersedih ini yang gak baik." ucap Mita sambil menggelengkan kepala.
"Eyang tahu....anak bayi pun bisa saja meninggal bahkan yang masih didalam kandungan jadi jangan membebani diri dengan sesuatu yang belum terjadi. Lebih baik berbuat amal shaleh yang banyak biar bisa dibawa ke akhirat kelak." hibur Mita membuat eyang mengerutkan dahi merasa tertarik dengan kalimat "amal shaleh yang bisa dibawa ke akhirat."
"Apa itu?" mendengarnya memunculkan harapan baru dalam hidupnya. Semangat hidup yang kian meredup kembali berkobar dalam jiwanya seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidup meniti masa depan yang lebih baik walaupun mungkin tidak akan lama lagi yah setidaknya masih ada kesempatan daripada tidak ada sama sekali.
"Maksudnya amal shaleh yang bisa dibawa ke akhirat." ucap eyang lagi terlihat yang antusias. Mita tersenyum melihatnya merasa ini hal baik yang akan membawa kebaikan pula.
"Mulai dengan melakukan yang wajib." satu kalimat yang mengandung banyak makna. Eyang tampak menyimak dengan serius.
"Awali dengan mengucap dua kalimat syahadat yang artinya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah."
"Mengingatkan pada kita orang muslim bahwa hanya Allah yang patut disembah bukan yang lain dan nabi Muhammad sebagai panutan dengan akhlak baik beliau bisa kita amalkan setiap harinya bisa menyempurnakan identitas kita sebagai orang muslim yang taat dan patuh pada hukum-hukum Islam."
"Dengan banyak mengucap syahadat kita seperti diingatkan untuk senantiasa mengingat Allah." jelas Mita,tidak ingin menggurui lebih ke membagi ilmu yang didapatkannya selama ini. Bagaimanapun juga ia dikelilingi oleh orang yang lebih tua darinya yang musti dijaga kehormatannya. Berpikir dan berhati-hati dalam bicara daripada nantinya menyinggung perasaan orang lain. Jangan pula dengan ilmu yang mumpuni merasa bisa memberikan nasehat pada orang lain apalagi yang lebih tua kecuali memang orangnya bertanya.
"Insya Allah eyang sudah tahu kewajiban orang muslim kan?"
"Hmm...sholat kan?" Mita tergelak sambil mengacungkan jempol.
"Seratus buat eyang ahahahaaa." Mita membuat lelucon,eyang tersenyum kecut diperlakukan layaknya anak TK.
"Kalau sholat eyang sudah mengerjakan." ucap eyang bangga.
"Alhamdulillah...." ucap Mita senang.
"Hanya saja makin ke sini makin bolong-bolong apalagi saat terserang sakit pinggang atau nyeri dilutut huhh dijamin rasanya bikin nangis dan males ngapa-ngapain." ucap eyang sambil menggelengkan kepala teringat sakitnya sampai tidak ingin mengalaminya lagi.
Mita mengangkat dahi kemudian mengangguk-angguk paham. Memang orang seusia eyang suka mengalami nyeri persendian katanya faktor usia. Semakin lama digunakan pelumas dipersendian berkurang sedangkan tubuh sudah tidak bisa memproduksi sesuai kebutuhan disebabkan sistem kerja dalam tubuh yang mulai menurun.
"Eyang....Allah tidak memberatkan umatnya dalam beribadah. Kalau eyang tidak mampu sholat dengan berdiri....boleh dengan duduk....boleh dengan terlentang asalkan menghadap ke kiblat....pokoknya semampunya." eyang mengangkat dahi,baru mendengar hari ini karena memang tidak pernah mencari tahu hanya sekedar tahu bahwa seorang muslim diwajibkan mengerjakan sholat lima waktu setiap harinya.
"Begitu ya."
"Eyang baru paham." ucap eyang pelan kemudian termenung.
Disini letak kesalahannya. Bagi sebagian orang agama hanya sebagai pelengkap identitas bukannya diyakini secara keseluruhan. Ibarat sebuah baju yang hanya dikenakan tanpa tahu maksudnya. Menganut agama tapi tidak ada keinginan memperdalam ilmu agama yang pada akhirnya hanya tahu dasarnya saja.
"Alhamdulillah sekarang eyang diizinkan Allah untuk memperdalam ilmu agama."
"Terus yang bolong-bolong gimana?"
"Bisa diganti dengan sholat Dhuha atau tahajud sesuai jumlah rakaat yang ditinggalkan."
__ADS_1
"Haah....bisa-bisa eyang nyungsep dong kalau nge gantiin semuanya." Mita tersenyum tertahan.
"Eyang bisa aja."
"Mulai saat ini belajar gak bolong-bolong terus belajar tepat waktu paling bagus setelah terdengar azan langsung sholat untuk sunnahnya bisa menyusul yang penting belajar ikhlas karena Allah dulu lah." eyang melongo dan kemudian menggaruk kepala yang tidak gagal. Mita menahan tawa melihat eyang.
"Pelan-pelan saja eyang jangan terburu-buru belajarnya." Mita langsung mengerti kegundahan eyang yang cemberut dengan muka ditekuk.
"Banyak aturan banget."
"Bikin pusing."
"Susah mengerjakannya."
"Sulit mengingatnya."
"Bacaannya eyang banyak yang lupa."
"Gerakannya juga suka lupa."
"Terus sudah dapat rakaat berapa juga sama....sering lupa." giliran Mita yang garuk kepala. Bingung harus apa?
"Hmm....eyang sudah bisa berwudhu?" eyang membalas dengan anggukan.
"Tahu berwudhu yang baik dan benar?"
Mita bingung harus mulai darimana.
"Eyang mau belajar sungguh-sungguh?" tanyanya sambil menatap lekat eyang karena segala sesuatunya harus dimulai dengan niat yang baik.
Eyang tampak ragu-ragu.
"Mita bilangnya tadi belajar pelan-pelan tidak harus langsung bisa dan bagus." Mita mencoba meyakinkan.
"Ibaratnya anak TK yang belajar menulis kalau tekadnya kuat dan tekun insya Allah sedikit demi sedikit bisa menulis dengan bagus hanya saja musti sabar eyang." baru eyang mengangguk yakin.
Sebelum praktek Mita memberikan penjelasan tentang berwudhu yang baik dan benar baru praktek langsung. Kebetulan pas azan dhuhur berkumandang jadinya punya kesempatannya juga tepat sasaran. Namun eyang tampak kesulitan mengikutinya. Baru juga sepertiga perjalanan eyang mengeluhkan sakit bagian pinggangnya karena kelamaan membungkuk akhirnya diambilkan kursi plastik agar memudahkan. Sayangnya masih ada kendalanya pas mau duduk eyang kudu pelan-pelan dan dipegangi kursinya agar tidak tergelincir demi keamanan eyang juga. Pada bagian akhir pas membasuh kaki malah lututnya yang jadi prioritas. Mita sampai bingung sendiri,menarik napas mencoba memahami eyang dengan segala kekurangannya sebagai orang awam.
"Maaf eyang....membasuh kakinya hanya sampai mata kaki dan kalau eyang mampu digosok sela-sela jari kakinya." eyang menatap memelas merasa tidak sanggup menjalaninya membuat Mita menghela napas kemudian tersenyum,menyadari tidak bisa memaksakan hanya bisa memahami kalau kemampuan orang berbeda-beda.
"Gak papa eyang sudah bagus kok wudhunya sekarang berdoa setelah wudhu ikuti Mita yah...." eyang patuh mengikuti gerakan menadah tangan dan mengikuti bacaan Mita yang melantunkan secara pelan lalu diakhiri dengan meraup muka.
"Alhamdulillahirobbil alamin."
__ADS_1
"Sekarang kita sudah bisa sholat dhuhur." ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi eyang cape." senyumnya langsung menghilang berganti dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ternyata tidak semudah itu membimbing orang tua yang ingin belajar menjadi lebih baik. Sangat banyak kendalanya terutama dari sisi kekuatan fisik. Musti sangat pelan dan sabar.
"Yah gak papa....eyang bisa istirahat dulu sebentar kalau sudah kuat baru kita ke tempat sholat." namun lain pula yang terjadi nyatanya ada banyak antrian mengular menunggu giliran berwudhu tiba.
"Mita....eyang....udah belum?" teriak seseorang,Mita menepuk jidat melupakan yang diluar juga menunggu.
"Sebentar eyangnya belum bisa jalan masih cape."
"Haah....."
"Terus kapan dong giliran kami kelamaan.... tahu gitu eyang wudhunya belakangan aja." gerutu Latifa yang orangnya tidak sabaran.
Mita langsung merasa tidak enak hati mendengar ucapan Latifa yang pasti akan menimbulkan masalah baru. Seakan mencibir,menguatkan kebenaran bahwa eyang tidak akan mampu mengerjakan dengan baik dan benar. Mita melirik eyang tuh kan bener mukanya sedih kembali ia menarik napas.
"Maafin Mita yah eyang." ini kesalahannya juga yang tidak berpikir panjang. Belajar agama memang bagus tapi musti tahu kondisi dan situasi. Apa yang menurut diri sendiri baik belum tentu baik untuk orang lain. Sekali lagi tiap orang memiliki porsi masing-masing.
"Eyang....yang penting niat eyang sudah baik insya Allah niat baik bisa jadi amal sholeh kok." Mita mencoba menghibur eyang.
"Masih banyak cara untuk mendapatkan pahala eyang."
"Dengan bicara yang lembut....baik dan tidak menyinggung itu bisa jadi amal saleh."
"Terus banyak mengucap syukur....beristighfar pokoknya memuji Allah."
"Apa yang kita kerjakan selama itu baik juga amal ibadah."
"Terus cara berpikir kita."
"Kita yang belajar bersabar....tidak suka marah-marah."
"Sedekah harta bahkan yang tidak punya uang sekalipun bisa kok sedekah dengan tenaga."
"Senyum juga termasuk ibadah eyang."
"Jadi jangan cemas." mata eyang langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Iya eyang."
"Dan masih banyak lagi kalau diomongin semuanya eyang gak akan ingat."
__ADS_1
"Udah bisa jalan sekarang?" tanyanya.
"Iya."