Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 42 Teguran lewat musibah


__ADS_3

Setelah melalui pemeriksaan rupanya area di sekitar sendi bahunya bengkak dan dokter menganjurkan tangan kanannya harus istirahat total supaya mempercepat pemulihan terpaksa tangannya digendong dengan kain.


"Makan dulu dek terus minum obat....aaaa" Dani menyuapinya,setelahnya tatapan Dani kosong,ia bingung harus bagaimana.


"Kak..." dia terhenyak,kembali ke alam nyata tadinya sempat singgah ke dunia antah berantah langsung terputus setelah merasakan sentuhan ditangannya.


"Maaf...." Dani kembali menyuapinya mengira adiknya minta disuapi. Mita menggeleng.


"Aku akan mengurus diriku sendiri tangan kiriku masih berguna...kakak kerja gih." Mita tersenyum,mencoba menggerakkan tangan kirinya dengan susah payah karena belum terbiasa jadinya sedikit-sedikit makanan yang masuk ke mulutnya. Melihat itu Dani menatapnya dengan tatapan prihatin.


"Aku sadar ini teguran buat ku karena kemaruk dengan uang Allah gak suka sama orang berlebihan...lucu ya kemarin aku menasehati kakak sekarang aku yang lupa diri memang iman seseorang setiap saat naik turun dan kali ini aku merasa terjun bebas saking lupa dirinya...hehehe..." Dia menertawakan dirinya sendiri dan Dani menggelengkan kepala.


"Itulah kenapa agama melarang kita menghakimi orang lain...gak ada yang tahu perubahan orang bisa saja dari buruk jadi baik dan sebaliknya semuanya tergantung Allah kapan memberi hidayah pada seseorang." Dani tersenyum lemah antara mengagumi pemikiran bijak adiknya sekaligus merasa sedih dengan keadaan adiknya.

__ADS_1


"Ini pilihan berat untuk kakak...minta tolong sama Bu Indah saja ya biar ada yang tengokin kamu sewaktu-waktu...jadi kakak bisa tenang kerjanya." Mita mengangguk.


Pada akhirnya keluarga bukan hanya dari garis keturunan tetapi tetangga terdekat dengan rumah kita juga bisa jadi keluarga yang biasanya lebih tahu keadaan kita dibanding yang lain.


Mita menarik napas,merasa menjadi orang paling sombong saat mengingat omongan terakhir kalinya dengan Hafiz akan menjaga jarak dari keluarganya. Dia seperti menjilat ludahnya sendiri kurang berhati-hati dalam bicara cenderung suka ceplas-ceplos saat marah,benar-benar godaan syaitonirrojim.


Pucuk dicinta ulam pun tiba seperti dicalling saja Bu Indah tiba-tiba masuk...


"Ya Allah pintu dibiarin ke buka penghuninya di sini to sampe capek ibu salamnya pantesan gak denger?" cerocos Bu Indah dan matanya langsung membulat saat menyadari kondisi tangannya.


"Jangan Bu...bengkak,sakit!" Bu Indah menatapnya prihatin.


"Ya Allah pantesan perasaan ibu gak enak dari kemarin rupanya kamu cilaka...ini kenapa? jatuh dari mana?" suara beliau terdengar cemas membuat Mita terharu mungkin jika ibunya masih ada akan seperti Bu Indah responnya.

__ADS_1


"Kesleo Bu pas kerja..." jawabnya singkat.


"Kasihan sekali kamu nak...yang sabar ya ibu pasti jagain kamu atau kamu ikut ke rumah ibu biar enak ibu jagain kamu gak perlu bolak-balik ke sini...mau ya?" Dia ragu,malas rasanya membayangkan bertemu Hafiz lagi.


"Mau ya?" Mita belum bisa menjawab,pikirannya masih bergelut antara mau dan tidak.


"Ada apa? kamu punya masalah sama Hafiz?" Mita diam lalu menunduk. Bu Indah menarik napas dalam menyadari satu hal 'ada udang dibalik rempeyek'.


"Ibu sudah menduga,Hafiz jadi pendiam dan kamu juga jadi gak pernah nengokin ibu...sama sekali...ada apa sebenarnya...kamu diapain sama dia?" Mita masih menunduk enggan menjawab.


"Kamu tahu Dani?" Bu Indah menatap Dani yang hanya mengangkat bahu.


"Anak muda memang susah diajak bicara...terserah deh!"

__ADS_1


"Ayok ke rumah ibu!" Mita menurut saja daripada berkepanjangan kan.


__ADS_2