
"Haaah......Alhamdulillah sebetulnya gak boleh kan ngeluh capek tapi aku bener-bener capek ya Allah ampuni aku!" ucapnya sambil membanting diri dikasur. Tadi menunggu waktu sholat isya ia mengerjakan pembukuan untuk mengalihkan rasa lelah karena jika dituruti dengan rebahan pasti ujung-ujungnya tertidur. Kalau sudah begitu tidur gak bisa full nyenyak,suka kebangun malam-malam karena masih punya tanggungan sholat isya' belum ditunaikan. Akhirnya bangun lebih petang jadi kurang tidur pasti lemes dan agak siangan dikit teler plus ngantuk berat.
Mata sudah merem dan hampir tenggelam dalam mimpi tiba-tiba terdengar ketukan dipintu.
"Dek...!" antara sadar dan tidak,akibat lelah dan ngantuk badan seperti tidak mampu untuk bangkit. Kembali terdengar ketukan lebih keras dan lantang membuatnya kaget.
"Dek masih sore ini bangun dong ada yang nyariin itu!" setengah berteriak suara Dani. Dengan malas Mita bangkit lalu membuka pintu seperempatnya,memperlihatkan sebagian mukanya.
"Heeem...apa?" tanyanya malas sambil menahan kantuk.
"Ada yang nyariin?" bisik Dani. Mita heran dengan sikap kakaknya,bicara sambil bisik-bisik. Seingatnya juga ia tidak ada janji dengan siapapun.
"Siapa?"
"Atasan kakak." makin heran dia.
"Ngapain atasan kakak nyariin aku kan gak kenal?" tanyanya heran disambut Dani yang menggelengkan kepala. Mita menghela napas panjang,tubuhnya lemas tidak siap menemui tamu manapun yang ia inginkan segera istirahat.
"Bilang ajalah aku sudah tidur beneran nih capek banget,pedes mataku takut gak fokus ngobrolnya. Besok hari minggu kan bisa ke sini."
"Eh mana berani bohong dia kan atasan kakak ayolah temuin barang sebentar!" bujuk Dani. Mita kesal sekali merasa terganggu.
"Mungkin tertarik sama telur kamu." karena tidak fokus Mita gagal paham. Matanya terbelalak mendengar kata telur.
"Telur yang mana? Ngomong yang jelas!" ucapnya sambil cemberut. Dani menarik napas,tidak habis pikir kemana arah pikiran adiknya. Diajak ngomong kok ngelantur.
"Memang selain telur ayam kampung kamu punya telur lain? Yang punya telur kan laki-laki." jawab Dani sinis. Mita mendengus sebal mendengar omongan kakaknya yang masuk ke arah lain.
"Besok yah?" masih menawar dan langsung ditolak.
"Sekarang! Apa susahnya sih? Siapa tahu bisa jadi langganan yang untung kamu juga kan." Dani memasang umpan dan terlihat Mita berpikir dengan dahi berkerut dalam. Setelah beberapa saat....
"Iya deh tapi bentar mau cuci muka biar seger." Dani mengangguk seraya tersenyum puas.
"Ganti baju sekalian." Mita langsung fokus pada baju yang sedang dikenakannya. Menurutnya masih sopan tidak menampakkan auratnya hanya gambarnya kucing,imut lagi.
"Kenapa? Masih baru kok ini warnanya bagus." jawabnya polos.
"Masak nemuin tamu pake baju tidur,gak sopan dek!" Dani menatap jengah.
"Lah emang mau tidur akunya,banyak protes ih atau gak jadi nih! Atasan kakak bukan atasan aku yang dipecat kakak bukan aku." ancam Mita dengan muka kesal. Dani langsung panik.
"Iya deh terserah kamu. Adikku yang paling cantik dan baik hati buruan yah takut kelamaan gak enak sama orangnya ok besok dibelikan sesuatu,mau apa?" Mita mencebik tahu jika kakaknya sedang memberi sogokan.
"Aku gak nerima sogokan,minggir!" Dani menyingkir sambil garuk-garuk kepala. Mita masuk ke kamar mandi melewati mak Jinem yang masih sibuk didapur.
"Tungguin didepan yah dek!" ucap Dani yang tidak ditanggapi Mita.
"Ngapain Mak?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.
"Bikin minuman buat temen-temennya mas Dani neng." Pantesan rame banget sepertinya satu pabrik dibawa ke rumahnya. Mita terpikir membuat perhitungan sama kakaknya,tiap weekend bawa temen ujung-ujungnya dia yang keluar duit. Suguhin minuman sama cemilan buat mereka.
"Sini Mak biar Mita yang bawa ke depan." Mita mengambil alih membawa ke depan.
"Assalamu alaikum......!" sapanya ramah yang dijawab serempak.
__ADS_1
"Waalaikum salam...!"
"Manisnya pake baju tidur,gambar kucing lagi,gemes!" celetuk satunya sambil cengengesan.
"Maaf ini tadi mau tidur,capek soalnya banyak kerjaan,dua orang mengundurkan diri jadi keteteran saya."
"Cari ganti ceritanya." Mita mengangguk sopan.
"Kalau Abang gimana? Masuk gak kira-kira?" yang ini Mita belum pernah lihat,baru pertama kali ke sini sepertinya. Terpesona banget melihat Mita.
"Disini gajinya kecil harus siap jadi kuli,temenan sama ayam,taneman yakin mau?" yang ditanya cengar cengir.
"Wah banyak temennya kak Dani,ada apa ini kok rame-rame ke sininya? Janjian mau ikut pengajian kah?" ucapnya sambil menyimpan minuman dimeja,melihat teman kakaknya satu persatu seperti sedang menilai. Tatapannya terhenti pada satu perempuan yang pernah dibawa kakaknya. Yah dia masih ingat wajahnya.
Yang ditanya saling menatap satu sama lain dengan muka bersalah.
"Kamu aneh-aneh aja sih dek,janjian kok pengajian kita kan masih muda jelas nongkrong." jawaban tidak beradab.
"Lah kan mbaknya pake kerudung kirain mau pengajian,apa gak dimarahin sama orangtuanya nongkrong sama temen laki-laki." Sikat aja daripada dibiarkan malah dosa. Yang disinggung diam saja sambil menundukkan kepala.
"Dek......" Dani mulai mengeluarkan nada peringatan. Seketika suasana berubah tegang. Mita menghela napas panjang.
"Eh mas Adnan katanya pengen ketemu adik saya,ini orangnya. Mita kenalkan mas Adnan atasan kakak dipabrik." Dani mengalihkan fokus pembicaraan untuk mencairkan suasana tegang.
"Beneran adik lu yang punya usaha ini semua?" tanya cowo tadi dengan muka syok.
"Iya...biasa aja kali." jawabnya malas.
"Hebat kalah jauh lu......!" cibirnya membuat Dani langsung melotot.
"Mbak Mita jual apa aja?" tanya Adnan to the point,tidak suka bertele-tele.
"Telur ayam kampung sama sayur organik,tanaman hias disebelah sana mas." jawabnya pendek.
"Sayur apa?"
"Tomat,cabe,sawi,kangkung,bayam,timun tapi tidak setiap hari panennya."
"Kok kaya yang gak serius gitu jualannya?" beuh ini orang lidahnya tajam,ngomong kaya pedang. Ekspresi mukanya dingin dan datar. Tipe menyebalkan. Mita menghela napas.
"Maaf yah mas,saya hanya mengandalkan kebun sendiri dan karena sayur organik pertumbuhannya beda,lebih lama karena mengandalkan pupuk organik daripada yang dipupuk kimia. Secara manfaat insya Allah lebih baik dan harganya pun lebih mahal." Mita malas menghadapi orang-orang macam ini. Tipe orang sombong makan hati menghadapinya. Langsung tembak.
"Kaya gak yakin gitu sama kualitas dagangannya sendiri harusnya yang yakin dong biar orang yakin mau beli." Mita berusaha bersikap ramah.
"Maaf mas,saya ini bukan Tuhan yang bisa menjamin kesehatan orang setelah mengkonsumsi sayuran saya. Meskipun makanannya sehat tapi jika orangnya tidak bisa mengendalikan sikapnya yah tetep bisa sakit. Sakitnya seseorang bisa disebabkan dari kesalahan diri sendiri." jelasnya. Dahi Adnan tampak berkerut dalam bercampur marah tapi Mita sama sekali tidak merasa takut.
"Saya bukan sales yang menghalalkan segala cara agar dagangan saya laku. Tidak berkah dan haram jadinya." jelas Mita.
"Kata siapa?"
"Dalam Al Qur'an." Semua orang menatap tidak percaya,rasanya seperti dimedan perang. Dani menggeleng frustasi melihat kelakuan adiknya.
"Jadi mas Adnan kira-kira mau berlangganan sama adik saya?" Adnan mengangkat tangannya sebagai kode untuk diam. Semua orang menelan ludah yang terasa kesat melihat situasi yang menegang.
"Gimana bisa begitu?" Mita menarik napas panjang sebelum memulainya. Menggumamkan basmalah sedangkan Adnan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Saya orang muslim jadi saya belajar beriman pada kitab Allah yaitu Al Qur'an yang berisi firman Allah sebagai petunjuk bagi orang beriman. Salah satu isinya bahwa Allah tidak pernah menzolimi hamba-Nya jadi kalaupun seseorang mengalami sesuatu yang tidak mengenakan misalnya sakit,kecelakaan dan musibah lainnya insya Allah disebabkan karena kesalahan orang itu sendiri." terlihat Adnan belum puas dan masih menatap nyalang Mita yang merasa terganggu dengan tatapannya.
"Mas Adnan tolong turunkan pandangan anda!" Adnan menatap sinis.
"Kenapa? Kamu gak bisa jawab lagi?" Mita berusaha bersabar sambil mengucap istighfar.
"Dosa menatap lawan jenis,mendekati zina." ucapan Mita seperti sedang menyindir semua orang disekitarnya. Tangan Adnan terkepal kuat,merasa tersinggung diperlakukan seperti itu oleh Mita. Situasi makin memanas.
"Apa maksud kamu? Jangan merasa sok alim!"
"Astaghfirullah...diingatkan kok malah marah. Dari tadi mas Adnan yang meremehkan saya." balasnya datar sambil tersenyum.
"Kenapa harus marah-marah kalau bisa bicara baik-baik. Saya kan hanya menjawab pertanyaan mas Adnan." Mita menggelengkan kepala. Adnan mendengus kasar.
"Teruskan!" perintahnya tegas.
"Apanya?" tanyanya polos dengan dahi berkerut dalam. Yang lain menahan tawa melihat kepolosannya termasuk Adnan.
"Ekheeem yang tadi!" suaranya terdengar lebih santai.
"Yang mana sih? Yang Allah tidak menzolimi hamba Nya?" tidak ada jawaban tapi sesaat kemudian Mita paham. Tarik napas dulu.
"Seperti kata dokter sama pasiennya 'jangan stress' itu biasanya bagi penderita stroke kan? Bisa diartikan stroke disebabkan perbuatan sendiri kan,suka mikir yang tidak perlu jadinya stress."
"Masuk akal...lanjutkan!"
"Aduuh mas saya bukan penceramah kalau pengen dapat ilmu langsung sama ahlinya cari pak ustad beneran,baca Al Qur'an beserta artinya biar tidak suuzon terus sama saya. Beneran saya capek mau istirahat."
"Belum selesai soal harga." jawab Adnan cepat.
"Saya kalau lagi capek,ngantuk tidak tersalurkan suka kaya macan betina mau makan orang jadi besok aja hari minggu kan bisa ke sini lagi." hancur sudah sikap sopan santunnya. Matanya terlihat kuyu lengkap dengan kantungnya yang besar.
"Kak Dani juga kalau gak mau aku makan harus sadar punya adik perempuan dikiranya aku perempuan gak bener,malam-malam masukin laki-laki ke dalam rumah."
"Kedua tiap libur bawa temen ke sini nongkrong sampe malam,ketawa keras,nyanyi,ganggu orang istirahat."
"Kita kan gak minum-minum." elak Dani dan Mita melotot.
"Ini nih ciri-ciri orang yang merasa gak punya dosa."
"Hello kita itu hidup bersama,bertetangga punya kewajiban habluminannas,menjaga hubungan antar sesama manusia. Jangan ganggu kalau gak pengen diganggu! Jangan egois jadi orang harus saling mengerti satu sama lain,belajar menjaga perasaan orang lain. Neraka masih panas kalau mau ngerasain yah silahkan. Dosa ditanggung sendiri aku cuma ngingetin."
"Ketiga...jangan bawa perempuan ke sini timbul fitnah dikira iya-iya disini nanti digerebek sama pak RT suruh nikahin anak orang baru tahu rasa. Emang sudah pada siap?" ucapnya berapi-api yang disambut gelengan.
"Boleh bawa perempuan ke sini kalau udah halal jangan pacar,aku gak mau ikut nanggung dosa menerima pasangan abal-abal. Dosaku sendiri masih banyak."
"Keempat.....kak Dani selama ini bawa temen ke sini aku yang keluar duit buat minum sama cemilan,aku gak mau tahu harus ganti...emak digaji tiap bulan juga."
"Ya Allah astaghfirullahaladzim aku jadi emosi gini haus juga ngomong dari tadi." keluhnya merasa bersalah.
"Mbak tolong yah kasihani orang tuanya dirumah mikirin anak perempuannya keluar malem-malem jadi sebaiknya pulang sekarang!" ucapnya tegas
"Sudah aku mau masuk PUKUL SEMBILAN MALAM SEMUANYA SUDAH HARUS PULANG!"
Mita benar-benar berubah jadi macan betina!!!!
__ADS_1