Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 81 Bocil bukan sembarang bocil


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya sampe juga kak aku turun duluan ya!" pamitnya seraya bergegas turun dari mobil.


"Iya..."


"Masya Allah segarnya." menghirup udara dengan senyum terkembang. Beberapa hari dirumah sakit hanya menghirup udara dengan aroma obat jadi terasa perbedaannya ketika sampai dirumah. Apalagi rumah dikelilingi tanaman hijau menambah kesan keindahan alami,tidak hanya menyegarkan paru-paru tapi juga menyegarkan mata dan pikiran. Mita beranjak ke sebelah kiri dimana terletak tanaman hias berjejer rapi disana sesuai jenisnya. Ia tertarik dengan bunga bugenvile yang sedang berbunga tampak bergerombol dengan tiga macam warna dalam satu pohon. Ada putih,ungu tua dan oranye.


"Masya Allah cantiknya apa kabar kalian?" sapanya pada bunga bugenvile itu sambil tersenyum seakan bunga itu bisa balas berbicara. Yahya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikapnya.


"Ini mau ditaruh mana?" tanya Yahya saat sedang melewatinya sambil menjinjing tas.


"Taruh diruang tamu aja makasih yah sudah bantuin bawain tas aku." jawabnya sambil mengalihkan pandangan ke arah Yahya yang hanya melambaikan tangan.


"Lho bang kapan nyampek?" sapa Irham yang datang dari arah samping rumah dengan membawa ember kosong lalu diletakkan ke tanah.


"Baru aja." jawabnya sambil menenteng tas yang kedua siap untuk dipertemukan dengan tas pertama.


"Apa itu mas?" tanyanya lagi dengan dahi berkerut.


"Tas..." jawabnya santai. Irham tersenyum kecut.


"Aku juga tahu itu tas tapi apa isinya tumben bawa tas segala biasanya cuma bawa badan." cibirnya. Mita yang menyimak obrolan keduanya sontak kaget sejak kapan Irham mulai suka mencibir orang biasanya juga sopan banget itu anak. Yahya hanya mengangkat alis mendengar cibiran Irham lebih ke yang tidak peduli dan malas menanggapi.


"Abang mau pindahan ke sini emang?" tanyanya masih penasaran.


"Enggak."


"Lha terus itu isinya apaan?"


"Kepo." Irham langsung melengos kesal.


"Gitu banget sih sama aku mentang-mentang aku belum dewasa selalu dianggap sebelah mata." keluhnya dengan kepala menunduk sedih.


"Kaya ngerti aja artinya sebelah mata."


"Ya tahulah artinya diremehkan kan? Gini-gini dulu aku sekolah lumayan pinter bang." ucapnya bangga yang langsung diacungi jempol.


"Seratus deh buat kamu." matanya langsung berbinar.


"Seratus ribu maksudnya?"


"Gini nih punya anak buah mata duitan apa-apa masuknya ke duit." Irham garuk kepala sambil nyengir.


"Maklum bang orang miskin memang otak isinya cuma duit banyak kebutuhan adik aku banyak bang semuanya butuh makan butuh jajan." mulai lagi memasang tampang memelas.

__ADS_1


"Sudah gak mempan belang kamu sudah ketahuan sama aku. Lakukan kewajiban baru nuntut hak jalankan tugasmu baru dapat gajian." Irham mendengus sebal.


"Mau dibantuin gak bang?" ucapnya menawarkan diri. Begitulah Irham bukan orang pendendam.


"Gak usah tinggal ini kamu sendiri ngapain bawa ember kosong?"


"Yah mau panen cabe sama tomat sudah ada yang pesen soalnya mau apalagi emang?"


"Sudah makan belom loyo gitu?" tanyanya heran melihat Irham yang tidak bersemangat.


"Bukan masalah makan ini bang gak ada neng Mita aku kesepian bang kaya tanaman yang gak tersentuh sinar matahari kurang asupan gizi bawaannya layu teruuus." sambungnya langsung dapat toyoran dari Yahya yang tersenyum sinis.


"Bahasamu Ham Ham persis lelaki buaya." Yahya balas mencibir.


"Awas kamu macem-macem!" sambungnya mengancam dengan mata melotot dan mengacungkan kepalan tangan.


"Namaku Irham bukan Ham Ham!" tegasnya,Yahya tidak peduli.


"Alaah bilang aja cemburu gak suka kan neng Mita dideketin sama cowo lain Abang sih cemen kelamaan jadi cowo kurang gesit sat set sat set entar disikat sama yang lain nangis Bombay ditinggal kawin." sambungnya mencibir sikap Yahya yang terkesan kurang berani sambil menatap sinis yang dibalas Yahya dengan gerakan mata mengarah ke samping. Matanya terbelalak dari tadi tidak menyadari jika ada orang lain didekatnya.


"Eh ada orang rupanya Abang kenapa gak bilang dari tadi!" protesnya dengan muka kesal. Yahya tepuk jidat si Irham tidak paham sama kodenya.


"Permisi ada yang bisa dibantu mbak atau ibu ini yah?" posisinya membelakangi jadi Irham tidak melihat mukanya. Mita menyeringai seperti mendapat peluang untuk mengerjai bocil tanggung dibelakangnya. Merasa tertipu dengan sikap sopan Irham selama ini ternyata dibelakangnya biang kerok juga ini anak.


"Ekheem terserah mau panggil apa? Mbak boleh ibu juga boleh..." Mita mencoba menyamarkan suara agar terdengar berbeda dan tidak mudah di kenali. Irham garuk kepala bingung lalu memandang ke arah Yahya meminta pendapat yang disambut mengangkat bahu. Irham mendengus sebal.


"Gak pa-pa mas ganteng saya nurut aja!" Yahya melongo dan berpikir keduanya sama-sama belajar gila malas ikutan mending ke belakang buat kopi sendiri dan dinikmati sendiri pula syukur-syukur ada cemilan sekalian nanti dibawa.


"Heeh...dari mana tahu saya ganteng orang mbaknya ngebelakangi saya?" suaranya terdengar terkejut.


"Tahulah dari suaranya aja saya bisa merasakan mas itu orangnya sopan,ramah dan bersahaja." yang dipuji sudah klemas klemes seperti yang tersanjung banget. Mita sendiri sudah hampir gagal menahan tawa tapi mencoba terus menahan.


"Ahiiw...masak sih...tersanjung hati ini mbak." suaranya sudah terdengar terbuai bener.


"Iya...beneran...suer."


Yahya yang sudah selesai buat kopi sambil bawa cemilan pun bengong mendengar obrolan gaje yang tidak ada matinya terus berlanjut. Dikiranya sudah selesai rupanya lanjut ke babak berikutnya.


"Coba aja saya masih seumuran sama mas mau deh nungguin sampe sah...berpuluh-puluh tahun pun saya mau." sengaja dimalu-maluin suaranya menjiwai peran.


"Hah...ya ampun jadi panas dingin gini saya mbak saya masih bau kencur belum pantes mikirin soal nikahin anak gadis orang."


"Ihihihihi...bisa ae sih mas!" Mita terkikik geli, menggoyang-goyangkan badannya pelan masih sambil terus membelakangi.

__ADS_1


"Aduh ketawanya manis banget sih mbak bikin deg-degan gini." sambungnya sambil memegang dada seperti yang beneran saja gayanya. Yahya yang minum kopi jadi menyembur melihat gaya Irham.


"Astaghfirullah udahan main-mainnya kuping ku gatel ngedengernya. Mita udah jangan digodain itu anak bisa-bisa dewasa sebelum waktunya dia." teriak Yahya yang disambut Irham yang melongo bingung. Masih belum paham jika didepannya perempuan berhijab yang sedang mengerjainya adalah Mita. Begitu balik badan Mita langsung tertawa.


"Hahaha...kena prank."


"Hah...neng Mita..." ucapnya kaget.


"Tega banget sih kirain beneran nyatanya bohongan...PHP in aku." keluhnya dengan muka kesal.


"Salah sendiri masih kecil juga sudah berani ngegombal." Mita mendelik sambil masih senyum tertahan.


"Kira-kira tadi kamu gak ngomong gitu aku juga gak akan godain kamu." Irham melengos malu.


"Sejak kapan seakrab itu sama kak Yahya bisa full lelucon gitu ngomongnya beda kalau lagi sama aku." tanyanya menyelidik.


"Beda dong sama neng Mita full senyum biar ada yang makin panas." ucapnya sambil melirik ke arah Yahya yang balas mendelik sebagai peringatan untuk jangan ngomong sembarangan.


"Maksudnya?" otaknya mendadak loading.


"Ngomong jangan pake bahasa kiasan yang jelas." sambungnya kesal sama itu anak sudah pintar mempermainkan orang.


"Ham buruan panen itu tomat sama cabe katanya sudah pesenan orang terlambat kirim kena marah loh!" Yahya memperingatkan sambil menggerakkan dagu supaya pergi. Irham menarik napas panjang paham sama kode Yahya yang menyuruhnya jangan banyak bicara.


"Isy...Ham lagi panggilnya nyebelin...!"


"Maaf neng aku masih ada kerjaan lain kali ngobrolnya disambung lagi." sambung Irham ngeloyor pergi meninggalkan Mita yang masih menyimpan banyak pertanyaan.


"Eh...mana bisa begitu aku kan jadi penasaran." protesnya lalu mengejar Irham ingin tahu lebih mendetail namun bukan Yahya namanya kalau tidak bisa mengalihkan perhatian orang. Seingatnya Mita belum sholat dhuhur.


"Ini kayanya sudah jam dua deh sudah sholat dhuhur belum kamu?"


"Hah...kenapa gak bilang dari tadi sih?" Mita langsung panik bergegas masuk ke dalam rumah. Yahya melihat ke dalam rumah mengecek keberadaan Mita.


"Heh...Irham itu mulut gak bisa diem jangan harap bisa dapet bonus." Irham menatap jengah selalu saja mengancam dengan bonus.


"Iya iya..." jawabnya malas.


"Jangan suka ikut campur urusan orang dewasa masih bocil juga!" Yahya kembali memperingatkan.


"Iya bang..."


"Aku bocil bukan sembarang bocil biarpun bocil masih lebih berani daripada Abang yang suka sama cewe tapi gak berani menyatakan perasaan huh..." gumamnya lirih.

__ADS_1


"Abang denger Ham!" ucap Yahya dengan mata melotot.


"Ampun bang gak lagi-lagi!" jawabnya cengengesan. Beginilah nasib orang tidak punya suka dapat bonus dari bos tapi kalau tidak nurut pasti kena peringatan 'jangan harap dapat bonus!' begitu saja langsung melempem.


__ADS_2