Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 113 Cerita masa lalu


__ADS_3

Mita tersenyum kecut. Jika dipikir memang yang paling dewasa untuk saat ini adalah Irham. Dia yang tiba-tiba menjadi seorang ustad tulen yang berdakwah dengan gaya dan bahasanya sendiri walaupun kenyataannya dia hanya penjiplak sejati yang menirukan ucapan bapaknya. Namun tidak bisa dipungkiri,ucapannya tadi sangat benar dan perlu direnungkan.


Disaat tertentu seseorang yang sudah dewasa pun bisa seperti anak kecil. Marah dengan sesuatu hal yang dianggap tidak benar menurut pendapatnya tapi dianggap kecil oleh orang lain yang dirasa tidak perlu dibesar-besarkan.


Dititik ini seseorang akan lebih mudah bertengkar entah dengan saling mendiamkan atau adu mulut saling menyalahkan akhirnya emosi hingga sering memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Kalau sudah begitu biasanya akan menyesali keputusan tapi egonya menolak untuk mengakui kesalahan gengsi meminta maaf dan berakhir salah paham. Komunikasi yang baik adalah solusinya.


"Maaf ya..." Mita mengangkat kepala hingga keduanya bertemu pandang dan dia mengangguk lalu menghela napas panjang. Irham hanya menyimak sambil menikmati makanan yang dipesannya.


"Iya aku juga minta maaf." ucapnya lirih dengan perasaan bersalah.


"Tadi aku sempet kesel sama kakak yang tiba-tiba diemin aku tanpa aku tahu kesalahan aku apa,mikirnya apa karena tadi aku pamitan ke kak Fadil,kakak jadi marah. Aku kan hanya berusaha bersikap baik pada sesama." jelas Mita tapi ikut kebawa lagi kesalnya.


"Begitu yah mikirnya kamu?" Yahya terkekeh.


"Sebetulnya tadi aku bukan diemin kamu. Aku sedang merenungkan sikapku yang tiba-tiba gak suka ngelihat kamu berdiri dekat sama Fadil hingga aku bersikap gak baik ke dia. Ngomong dingin ke dia seakan dia berbuat salah padahal kalian kan ngobrol biasa aja."


"Aku ngerasa bersikap kaya anak kecil,memalukan." Yahya menggelengkan kepala,menyesalkan perbuatannya.


"Dan sekarang untuk minta maaf ke dia kok gengsi,ngerasa kalau minta maaf ke dia aku merendahkan diriku sendiri. Sempat mikir aku gak salah kenapa harus minta maaf. Aku hanya berusaha menjaga apa yang ingin ku dapatkan yaitu kamu yang bisa aja dia rebut dariku."


"Aku gak mau terulang lagi kejadian yang dulu." Mita mengangkat alis,mengetahui inilah penyebab reaksi berlebihan Yahya pada Fadil. Disini ia ikut bersalah karena sudah berprasangka buruk dan salah paham atas sikap diam Yahya sehingga merasa kesal dan tanpa sadar dia ungkapkan kekesalannya lewat gerakan tubuh.


"Memangnya dulu ada kejadian apa?" Yahya tampak ragu untuk bercerita.


"Gak pa pa kalau gak mau cerita,mungkin terlalu menyakitkan untuk diingat." Mita berusaha memaklumi walaupun sebetulnya dia ingin mengetahuinya sebelum menjalani pernikahan agar tidak terjadi kesalahpahaman ke depannya. Terdengar tarikan napas Yahya yang panjang dan dalam.


"Jangan dipaksa kalau menyakitkan!" ucapnya saat melihat beban berat muncul diwajah Yahya.


"Tapi kalau gak cerita sekarang takutnya nanti didepan ada masalah." Mita mengkat alisnya tidak mengerti maksudnya.


"Dulu waktu masih kuliah aku punya pacar. Aku suka dia karena anaknya gak neko-neko dan sederhana." jeda sebentar,kembali terdengar helaan napas panjang Yahya.


"Tapi diakhir aku gak tahu gimana ceritanya dia memutuskan untuk menikah dengan Fadil sedangkan sebelumnya kami masih baik-baik saja."


"Yah waktu itu aku mengira karena keluarga Fadil lebih kaya dari keluargaku,mereka punya banyak bisnis."


"Dan beberapa bulan yang lalu dia tiba-tiba menghubungi aku,mengatakan dia telah berpisah dengan Fadil."


"Aku heran darimana dia tahu nomer ku?"


"Ngajak ketemuan untuk meminta maaf tapi ujung-ujungnya cerita tentang keputusannya yang dulu menikah dengan Fadil dan katanya menyesal ninggalin aku..."


"Ngajak balikan?" Irham menyela dengan asal. Yahya menggelengkan kepala.


"Aku pergi...aku merasa gak butuh penjelasan untuk sesuatu yang sudah terjadi,bukan urusan ku." Irham mengangguk-angguk.


"Apa dia masih menghubungi?" tanya Mita.


"Iya hanya kirim pesan tapi gak aku bales kalau bukan hal penting."


"Kenapa?"


"Aku gak mau berhubungan lagi sama dia."


"Aku ngerasa kami bukan anak remaja lagi yang suka berkirim pesan. Seperti kata kamu gak ada istilah pertemanan antara laki-laki dan perempuan ujung-ujungnya timbul rasa suka sedangkan aku sukanya sama kamu." Mita melengos,bisa-bisanya ngegombal disaat sedang serius. Irham tertawa sendiri melihat interaksi pasangan didepannya bahkan merasa terhibur seperti sedang menonton drama tentang cinta.


"Masih marah sama dia?"


"Dulu iya marah banget tapi sekarang gak."

__ADS_1


"Kemarahan yang dulu kayanya karena aku kecewa pada sikapnya yang memilih orang lain."


"Dan sekarang?" tanya Mita.


"Aku mikirnya dia bukan jodoh aku."


"Artinya sudah ikhlas dong kok berat banget mau cerita."


"Takut kamu salah paham lagi."


"Masalahnya sekarang dia jadi sering ke sini dengan alasan makan pagi,makan siang,makan malam." Mita melotot kaget.


"Busyet gila kali ya itu cewe tiga kali sehari...itu sih niatan ngajak balikan." celetuk Irham. Mita berusaha tidak mempedulikan ucapan Irham.


"Atau jangan-jangan dia janjian sama mantan suami?" tebak Mita,mencoba berprasangka baik. Yahya menggelengkan kepala.


"Fadil baru kemarin kerja disini." Mita mengerutkan dahi,bingung.


"Dia sudah hampir sebulanan ini ke sini."


"Bukannya bisnisnya banyak ya kak Fadil kok kerja disini." Yahya mengangkat bahu.


"Ini permintaan papa untuk ngasih kerjaan ke dia."


"Berarti bangkrut..." Irham kembali menimpali.


Mita melotot ke arah Irham yang dari tadi ikut komentar lalu hening dengan pandangan menerawang jauh. Melupakan cerita masa lalu Yahya,Mita kembali ke kenyataan hidup.


"Jadi disini aku yang bersalah." ucap Mita dengan menunduk.


"Aku yang suuzon dan salah paham."


"Ini kaya kalian berdua dikasih gambar terus disuruh mendeskripsikan tentunya akan muncul perbedaan sesuai pendapat masing-masing dan jika ingin sama hasilnya harus berdiskusi untuk mendapatkan jawaban yang sama,betul tidak?" Mita dan Yahya tersenyum dengan saling memandang.


"Anak siapa sih kamu pinter ngomong gini?" tanya Mita gemes sambil mengacak rambut Irham yang langsung menghindar saat diserang secara diam-diam.


"Kakak ih...aku udah gede,jangan diusek-usek gini rambut akunya berantakan." protesnya kesal,tidak bisa langsung merapikan rambutnya karena tangan masih penuh dengan bumbu kepiting asam manis yang belum selesai ia makan.


"Iya maaf sini aku rapiin rambutnya,mau model apa?" goda Mita yang disambut pelototan.


"Gak mau...nanti makin diberantakin." ucapnya cemberut.


"Udah ah aku mau makan jangan diganggu!"


"Dan diralat ya bukan pinter tapi bijak." Mita mencebik sambil tersenyum.


"Iya iya kamu anak bijak,puas." Irham tersenyum bahagia disela mengunyah.


"Kamu juga makan gih nanti sakit,sudah mau asar." ucap Yahya,terdengar penuh perhatian hingga menyita perhatian Irham. Mita mengangguk patuh dan mulai makan dengan tangan tanpa sendok.


"Ajigile...so sweet deh aku jadi malu." goda Irham mencemooh sikap Yahya dan Mita melengos sambil tersenyum malu. Kalau dirumah sudah digetok kali kepalanya sama Mita.


"Buruan deh nikah gak kuat aku ngelihat kebucinan bang Yahya,malunya sampai ke ubun-ubun." keluh Irham sambil menggelengkan kepala. Irham tidak ambil pusing,membiarkan saja Irham mengoceh sesuka hati.


"Oh iya kak Mita gak boleh pindah kan sebelum nikah sama bang Yahya..." Mita yang kaget langsung tersedak uhuuk...terasa panas tenggorokannya karena makan dengan sambel.


"Minum air!" Yahya menyodorkan air ditangannya pada Mita yang langsung meminum hingga habis.


"Apa?" saat menyadari Mita yang menatapnya seperti sinar laser.

__ADS_1


"Aku ngomong kenyataan kan?" Mita kembali menarik napas,enggan melanjutkan makan setelah mendengar ucapan Irham. Teringat niat kedatangannya ke tempat Yahya juga karena itu.


"Jadi bener yah?" tanya Yahya antusias.


"Ya udah kita nikah secepatnya!" ucap Yahya semangat,berbeda dengan Mita yang tampak tidak setuju.


"Kamu gak setuju?" Mita menunduk sedih.


"Bukan itu..."


"Terus...."


"Aku masih bingung." dahi Yahya berkerut.


"Bingung,kenapa?"


"Takut belum bisa mengemban tugas menjadi istri,aku masih muda...20 tahun." Yahya memahami kegelisahan Mita,memang tidak mudah diposisinya yang masih muda pasti ada banyak keraguan beda dengan Yahya yang usianya sudah matang,menikah menjadi tujuan diusianya.


"Terus kamu maunya apa?" Mita menggeleng lemah.


"Aku gak tahu."


"Aku bukan kaya teman-temanku yang bisa bebas keluar bersama yang lain untuk sekedar nongkrong."


"Aku punya usaha sendiri. Punya anak buah yang harus aku gaji tiap bulannya. Kalau gak segera pindah dan mulai merintisnya lagi takut gak bisa menggaji mereka." Yahya berpikir panjang.


"Iya dirumah tanaman hias,sayuran sudah habis terjual. Kalau begini terus artinya aku akan diliburkan karena gak ada kerjaan." Irham menimpali,Mita sedih membayangkan itu semua.


"Aku juga gak bisa fokus sama ternak ayamnya karena merasa terbebani dengan keadaan yang belum pasti."


"Aku butuh kepastian." sambung Mita lesu.


"Hidup itu pilihan dek. Setiap pilihan pasti ada resiko dan hanya kamu yang bisa memutuskan karena kamu yang akan menjalani." ucap Yahya.


"Memang alasan mas Dani gak mengizinkan kamu pindah apa?"


"Takut terjadi apa-apa sama aku,maling masuk terutama." Mita menghela napas Lalu menyenderkan punggung ke sofa.


"Kak Dani takut aku gak bisa menangani pemuda disana yang godain aku." spontan Yahya teringat kejadian dimana pemilik toko bangunan yang meminta nomer hp Mita.


"Iya juga...ini masalah besar dek." ucapnya serius.


"Kalau ada yang nekat gimana?" Mita cemberut dengan dahi berkerut.


"Kok aku ngerasa kak Yahya sengaja menakuti aku." keluh Mita dengan muka bingung.


"Bukan nakut-nakutin kamu...inget gak sama pemilik toko bangunan minta nomer hp kamu." matanya terbelalak.


"Ah iya juga."


"Hati-hati lho kak."


"Inget sama bang Hafiz sampe sekarang marah kan karena cintanya ke kakak bertepuk sebelah tangan."


"Masih mending cuma marah kalo nekat masuk terus...."


"Stooop....jangan diterusin,aku gak mau denger!"


"Kasih aku waktu untuk mikirin ini."

__ADS_1


"Tapi kamu siap dilamar resmi kan?" Mita mengangguk samar.


__ADS_2