
"Bang besok boleh ya aku kerja lagi?" sudah lebih dari seminggu ia tidak bekerja semenjak sakit ringan yang dialaminya yang ternyata salah satu penyebabnya karena tubuh yang sedang beradaptasi dengan adanya janin didalam rahimnya.
"Nggak nunggu kontrol dulu nunggu kakunya betul-betul sehat." jawab Yahya yang memandang lekat muka istrinya mendeteksi apakah masih tampak pucat atau sudah segar yang artinya betul-betul sehat.
"Insya Allah aku udah sehat kok." ucapnya yakin.
"Udah seminggu lebih bang kasihan Irham mulai kewalahan dia soalnya udah mulai panen belum nanti ngirim ke pembeli." rengek Mita yang mencoba membujuk suaminya agar diizinkan bekerja kembali.
Padahal Irham tidak mengatakan apa-apa hanya bilang jujur soal perkembangan usahanya supaya Mita tenang eh ini malah yang panik sendiri,ingin kembali bekerja.
"Sekarang lagi rame-ramenya." ucapnya lagi,tambahan darimana pula yang seperti itu.
Yahya mengangkat alis justru semakin berat memberikan izin bekerja khawatir membuat istrinya kelelahan. Tahulah bagaimana istrinya kalau sudah berhadapan dengan pekerjaan belum mau berhenti kalau belum sampai finish.
"Justru aku makin gak mau ngizinin kamu kerja." Mita terperangah,sepertinya dia salah bicara.
"Makin banyak kerjaan disana jadi kemungkinan kamu beraktifitas lebih banyak."
"Kamu lagi hamil muda gak boleh beraktifitas berlebihan aku aja belum berani minta jatah masih nahan nafsu banget ini khawatir terjadi apa-apa sama janinnya apalagi ngizinin kerja....no no no." Yahya menggelengkan kepala sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan sebagai larangan tegas dan tidak terbantahkan.
"Abang ih pasti aja larinya ke situ....jatah teruuus." gerutunya kesal,sekalinya bicara pasti berbelok ke jatah. Sepertinya bagi seorang laki-laki jatah dalam tanda kutip menjadi prioritas dalam kehidupan yang jikalau tidak tersalurkan bikin panas dingin sekujur tubuh.
"Lha emang penting buat laki-laki jadi jangan disepelekan."
"Kalau gak tersalurkan bikin pusing kepala atas bawah." Mita langsung melotot.
"Gak usah dijelasin juga gak enak didengernya....hal tabu itu dan gak layak diperdengarkan." sanggahnya sambil melengos,selalu saja semangat kalau membahas hal begituan.
"Ahahaha....bilang aja malu....gengsi kan ngaku nggak?" goda Yahya dengan tersenyum jahil,yang tidak ditanggapi Mita.
"Banyak kan ceritanya suami jajan diluar sampai punya WIL atau istri siri karena dikasih jatahnya kurang sama istri."
"Itu mah suaminya aja kurang bersyukur mata keranjang....dititipi istri bukannya dijaga hati istrinya malah main serong." balas Mita mendengus.
"Kan pasti ada alasannya istri ngasih jatahnya gak maksimal....bisa aja cape atau lagi banyak pikiran jadinya males."
"Kudu ngertiin istri dong saling berbagi beban jangan maunya enak sendiri." ucapnya ketus.
"Siapa bilang enak sendiri kan sama-sama ngerasain enaknya ihihihi....apa masih mau dibuktikan?" Yahya terkikik geli kamudian memainkan alisnya mengganggu istrinya yang makin manyun bibirnya.
"Aaaah kenapa jadi bahas itu aku kan lagi bicara baik-baik minta izin sama Abang soal kerja malah ke situ ngomongnya,nyebelin." ucapnya kesal kemudian menarik napas panjang menenangkan diri.
"Iya maaf....kita balik lagi ke topik utama." akhirnya mengalah daripada istrinya makin ngamuk,tidak baik dalam kondisi hamil terus marah-marah.
__ADS_1
"Kamu gak lihat papa masih ngasih cuti sama abang biar bisa memantau kamu dirumah....kebiasaan kamu mana bisa diem."
"Papa mikirin keadaan kamu sayang...."
"Contohnya kemarin bilangnya mau bikin susu tapi apa....kamu nyuci bekas makan orang serumah kan....untung ketahuan kalau enggak pasti lakuin hal lain kan." keluh Yahya. Mukanya mulai ditekuk sambil manyun.
"Kan bosen bang dirumah gak ngapa-ngapain,tiap hari kerjaannya makan tidur makan tidur mana sehat untuk badan....gendut iya." protesnya masih dengan cemberut.
"Kata dokter boleh beraktifitas ringan bisa melancarkan peredaran darah,baik untuk kesehatan."
"Hamil kan bukannya sakit jadi kudu beraktifitas sekalian mengajarkan sama calon Ade bayinya biar gak males-malesan jadi anak rajin nantinya pas dia lahir." ucapnya membela diri.
"Kalau cape langsung istirahat kan gak masyalah." Yahya menarik napas panjang,semenjak hamil istrinya jadi banyak bicara apalagi membantahnya.
"Masalahnya disini kamu yang gak bisa dipercaya." ucapnya lemah,merasa belum bisa melepaskan istrinya dalam kondisi yang belum stabil.
"Lagian mana ada bayi baru lahir bisa rajin malah nanti pas lahir kerjaannya minum susu sama tidur nge gedein badan." balasnya sambil tersenyum.
"Abang ih....nyebelin." ucapnya sambil duduk membelakangi,merasa kalah berdebat. Upayanya mengeluarkan bujuk rayu pada suaminya belum mendapatkan pengesahan,masih berbelit dan tanpa ujung yang pasti.
"Ingat kata dokter....gak boleh marah-marah sama stress dijaga emosinya makanya kemarin asam lambungnya naik terus mual muntah dan pusing juga,disuruh bedrest."
"Banyak kerjaan bikin stres tau itu yang Abang pikirin." jelas Yahya yang tidak ingin istrinya sibuk bekerja sehingga kelelahan.
"Aku ingat kok ada Ade bayi disini jadi akan memperhitungkan kemampuan....sekarang jadi gampang cape,tiba-tiba gak bertenaga yah pasti istirahat gak mau memaksakan diri." jelasnya sambil mengusap pelan perutnya yang masih rata seakan sedang membelai seorang bayi.
"Dipaksain juga gak akan mampu....gak kaya dulu sebelum hamil cape nya kerasa setelah selesai aktifitas." sambungnya berusaha meyakinkan suaminya.
"Tapi Abang masih was-was...." ucapnya ragu-ragu.
"Yang kaya gini justru bikin aku stress kaya dipenjara diambil kebebasannya....apa-apa gak boleh." gerutunya kesal kemudian berbaring miring sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuh membuat Yahya menggaruk kepala,pusing menghadapi kelakuan istrinya yang mudah sekali berubah mood. Kalau sudah begini pasti sedih terus mewek didalam selimut supaya tidak terlihat olehnya.
Lama terdiam dan berpikir,akhirnya tidak tega melihat bungkam dan sedihnya istri.
"Iya boleh deh...." akhirnya diizinkan,Mita mulai memperlihatkan mukanya yang basah dengan airmata.
"Tuh kan bener nangis."
"Kenapa sih jadi gampang banget nangis?"
"Setiap gak dituruti kemauannya nangis."
"Padahal gak diapa-apain juga cuma dilarang ngelakuin sesuatu tapi kan demi kebaikan." omelnya pelan.
__ADS_1
"Huwaaaa...." mendengarnya Mita langsung menangis kejer.
"Katanya boleh tapi kenapa akunya diomelin...." ucapnya terbata disela tangisannya lalu menutup kembali selimut sampai ke kepala. Yahya kembali menarik napas panjang kemudian mendekat dan memeluk erat istrinya yang memberontak minta dilepaskan.
"Iya maaf...."
"Habisnya kamu keras kepala banget semenjak hamil....aku kan peduli sama kamu....sayang sama kamu....cinta sama kamu." diciumnya kepala istrinya yang tertutupi kain selimut.
"Aku gak keras kepala....aku cuma berpikir yang bener." sanggahnya keras merasa tidak terima disebut keras kepala.
"Aku kasihan sama Irham....rencananya kalau memang kewalahan mau dicariin tambahan orang."
"Aku sadar habis ini gak bisa maksimal mengurus usaha karena mesti ngurus bayi....niatnya mempersiapkan biar nanti Irham ada yang bantuin....akunya gak kepikiran bisa tenang ngurus bayinya." jelasnya masih meneteskan airmata. Yahya diam menyimak keluh kesah istrinya.
"Abang...." jeda,sedikit memberi ruang untuk bernapas.
"Belum apa-apa udah nolak permintaan aku...aku kan bicaranya baik-baik." ucapnya lirih dan tersendat.
"Mencari solusi biar gak kepikiran terus sama usaha yang aku rintis dari bawah."
"Sayang kan kalau berhenti ditengah jalan mikirnya musti ada yang ngelanjutin."
"Biar jadi perantara orang lain menperoleh rezeki."
"Tapi Abang pasti ngomel....huhuhu...." dia nangis lagi.
Disinilah Yahya baru menyadari kesalahannya. Berpikir dari sudut pandangnya namun tidak mendengarkan dulu pemikiran istrinya yang ada benarnya. Yahya menarik napas.
"Maafin Abang ya....yang berpikir hanya dari sudut pandang Abang." suaranya terdengar tulus.
"Iya....disini Abang yang salah."
"Bukannya dengerin aku dulu langsung memutuskan." ucapnya meluapkan kekesalan.
"Iya tahu Abang salah tapi dibuka dong selimutnya gak bisa napas entar kasihan Ade bayinya jadi ikutan susah napasnya." bujuk Yahya sambil membuka sedikit selimut yang menutupi area kepalanya.
Mita mengubah posisi dengan terlentang,menatap tajam suaminya yang hanya bisa tersenyum karena disini rupanya dia yang bersalah akhirnya pasrah.
"Aku bukan calon ibu yang akan mengorbankan calon anaknya sendiri. Aku hanya mengupayakan demi kemaslahatan orang-orang yang telah membantu aku selama ini."
"Iya iya Abang tahu." salah satu cara menenangkan seorang wanita adalah dengan mengiyakan saja dan jangan membantah supaya tidak makin panjang urusannya.
"Udah jam berapa ini? Waktunya makan belum yah?" dan dialihkan ke makanan.
__ADS_1
"Ade....lapar?" ucapnya didepan perut istrinya yang langsung beranjak bangun dan turun dari tempat tidur lalu meninggalkannya. Yahya terperangah awalnya tapi kemudian tersenyum sendiri melihat sikap istrinya yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Marah-marah sampai tidak merasa lapar.