Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 173 Tidak sepenuhnya benar


__ADS_3

Yahya POV


Kemana dia? Aku khawatir karena dia belum sarapan takut kenapa-napa soalnya baru sembuh juga kan.


Ting...notifikasi pesan masuk ke hp aku,dari papa. Jarang-jarang papa kirim pesan kecuali urgent.


"Bisa tolong bantuin papa resto lagi rame banget." begitu dibuka nyusul pesan berikutnya.


"Musti ngarahin para pegawai ini itu pusing papa kalau gak ada yang bantuin."


"Tolong yah" ngasih emoticon memelas artinya memang mendesak.


Aaah pusing masalahnya istriku belum mau makan mau ditinggal sekarang gak tega khawatir dia kelupaan makan terus sakit lagi kan kasihan. Semenjak dia hamil jadi susah begini,musti ngecek terus kok kaya ngurusin anak kecil apa aku yang berlebihan hufffttt....kayanya memang aku yang berlebihan. Lagipula mana mungkin dia mengabaikan diri sendiri juga kehamilannya dia bukan anak kecil yang hanya karena galau hingga mengabaikan kepentingannya.


Beranjak ke depan ternyata dia sedang bersama seseorang sepertinya penjual makanan.


"Dek" panggilku.


"Iya bang." dia menoleh menatapku sambil sibuk mengunyah. Ada perasaan lega melihatnya sudah mau makan dan mukanya tampak ceria.


"Makan apa?" tanyaku sambil menghampiri dan sebetulnya aku tidak setuju melihatnya makan sembarangan khawatir gak higienis tapi daripada moodnya kembali memburuk dan mogok makan lagi.


Jika dipikir dari sisi lain kehidupan kalau makanan yang gak higienis bisa membahayakan janin lalu bagaimana tentang odgj perempuan yang hamil dia tidak diperiksa dokter tidak minum vitamin anaknya lahir sehat selamat. Orang yang kehidupannya untuk makan saja seadanya tapi bayinya juga sehat. Terus orang zaman penjajahan walaupun hidup serba sulit juga bisa punya anak yang sehat bahkan zaman dulu belum ada dokter atau bidan yang cuma dukun bayi. Jadi intinya semua yang terjadi atas seizin Allah dan salah satu penyebab lain adalah dari segi akhlak seperti yang dituliskan dalam Al Qur'an bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba Nya kalaupun seseorang mengalami musibah itu hasil perbuatannya sendiri.


"Nih nasi bungkus sambel teri....enak sedap dibungkus daun pisang....Abang mau?" langsung ku balas dengan gelengan kepala. Dilingkungan tempat tinggal Mita memang tergolong lingkungan pedesaan masih banyak sawah dan lahan kosong jadi tidak heran kalau nasi masih dibungkus daun pisang.


"Habis sarapan masih kenyang." dia hanya mengangguk kemudian melanjutkan makan seperti tidak peduli dengan kehadiranku disampingnya.


"Bu....nambah satu bungkus nambah bakwan sayurnya." kelihatannya memang enak dan cocok dilidahnya sampai minta nambah,syukur Alhamdulillah.


"Enak banget ini tapi mereka juga gak mau dibeliin....gratis gak bayar padahal." gumamnya sambil terus menyuap.


"Bu....besok bisa mampir ke sini lagi?"


"Siap mbk." jawabnya cepat.


"Aduh aku capek duduk jongkok....mau pindah aja." dia sedikit kesulitan bangun langsung aku bantu untuk berdiri.


"Abang ada uang tolong bayarin soalnya aku gak bawa uang!" aku hanya bisa menggelengkan kepala,ujung-ujungnya cuma disuruh bayar. Langsung aku berikan uang pada penjual itu.


"Ambil saja kembaliannya." ucapku saat penjualnya mengambil uang kembalian.


"Tapi mas kembaliannya masih banyak ini."


"Iya gak papa buat ibu aja." tolakku halus. Ibu itu terdiam dengan menatapku lekat tampak seperti berpikir.


"Makasih mas."


"Sama-sama....besok tolong mampir ke sini lagi siapa tahu istri saya beli lagi." pesanku pada penjualnya.


"Iya mas....saya permisi." aku tersenyum melihat ibu penjual menggendong dagangannya. Di jaman seperti ini masih ada yang seperti itu,sangat langka. Tampak menahan beban berat tapi seperti tanpa beban dengan senyum lepas.


"Dek habis makan jangan lupa minum vitaminnya" sebelum pergi diingatkan dulu.


"Ah iya....tapi aku gak suka baunya bikin mual." jawabnya cepat dengan muka berkerut


"Kan demi pertumbuhan bayinya sayang...ditahan yah." dia menarik napas kemudian mengangguk ragu.


"Ok....biar Abang ambilin vitaminnya." dia hanya menatapku dengan gamang.


Semenjak hamil dia banyak berubah,terkadang suka manja berlebihan semua keinginan maunya dituruti,kalau sudah begitu musti diingatkan kalau perbuatannya salah bersyukur dia langsung mengerti dan jadi patuh. Kata dokter memang begitu karena perubahan hormon dan tubuh yang beradaptasi dengan kehadiran janin didalam rahim membuat calon ibu sering merasakan ketidaknyamanan diseluruh tubuh,akibatnya calon ibu mudah emosi jadi kudu extra sabar menghadapinya.


Kesabaran ku terasa berbuah manis saat melihatnya berhasil menelan vitamin dari dokter walaupun dia masih terdiam dengan muka berkerut seperti menahan mual.


"Tarik napas sayang biar gak mual." dan dia langsung menarik napas panjang.


"Kalau mual coba alihkan makan buah yah biar gak eneg perutnya makan yang seger-seger." dia hanya mengangguk eh iya kami baru pindah ke sini untuk persediaan buah mungkin belum ada.

__ADS_1


"Abang musti ke resto kasihan papa sendirian lagi rame soalnya" pamitku dan dia mengangguk lagi.


"Kalau mau buah kamu bisa suruh Irham atau yang lain buat beliin."


"Atau nanti sepulang dari resto Abang beliin bisa buat stok dikulkas."


"Hmm iya." jawabnya lemah,aku tersenyum,tampaknya dia kekenyangan makan nasi sampai dua bungkus.


"Masih pagi jangan tidur dulu dibuat jalan-jalan biar gak ngantuk." kebiasaan barunya adalah tidur tanpa mengenal waktu dan tempat begitu nyaman langsung tertidur.


"Iya."


"Abang berangkat yah." lagi-lagi dia mengangguk sambil mengambil tanganku untuk salim sambil mencium tanganku takzim.


"Nanti kalau mau dibawakan sesuatu langsung telpon atau kirim pesan."


"Iya." dadi tadi jawabnya iya iya terus.


"Inget yah jangan tidur habis makan gak baik untuk kesehatan...endut entar." aku tersenyum tertahan melihatnya yang seperti panik setelah mendengar kata "Endut" lalu melakukan peregangan. Aku heran kenapa yah perempuan selalu takut sama yang namanya kegemukan apa karena takut terlihat jelek dan tidak menarik lagi didepan suami.


Tapi sebelum pergi aku harus mewanti-wanti seseorang untuk mengawasi istriku. Beranjak ke dapur "Mak tolong nanti Mita diingatkan makan" dan menemui Irham "Irham jangan sampai kak Mita kecapean dan lindungi dia dari...." aku kasih kode melihat ke arah teman-temannya,tidak lupa aku kasih bonus eh dia senyum lebar senanglah dia.


"Siap bos"


"Sayang....Abang berangkat jaga diri assalamualaikum...." pamitku dan mencium keningnya.


"Insya Allah waalaikum salam...."


"Hati-hati bang jangan lupa bismillah...." pesannya setiap kali aku berangkat kerja tapi melihat penampilanku rupanya terlalu santai. Mau ganti baju juga kelamaan jadi aku putuskan langsung menuju resto kasihan papa kalau terlalu lama menunggu.


Hari ini jalanan sepi jadi tidak butuh waktu sudah sampai diresto.


"Kamu baru datang aku tungguin dari tadi." dia lagi baru juga turun dari kendaraan. Mau apa dia terus menemuiku?


"Ngeyel banget sih kamu." ucapku sambil lewat.


Aku sudah gak peduli kalaupun dia mau marah. Selama ini aku berusaha bersikap baik karena tidak ingin menyakiti perasaannya tapi sepertinya dia salah mengartikan kebaikanku padanya.


"Tapi bukannya kita sudah berteman." sanggahnya sambil mengejarku sontak aku berhenti terpaksa menariknya ke tempat yang lebih privasi dan masih terlihat oleh para pegawai.


"Iya kita berteman tapi bukan begini juga...kamu setiap hari ke sini buat apa hah?" lama-lama aku gak bisa menahan kekesalanku.


"Aku lelaki beristri lalu apa tanggapan orang melihat kamu terus menemui aku?" sekali lagi aku tekankan padanya tentang statusku yang sudah menikah.


"Tolong daripada timbul fitnah....istriku sedang hamil sekarang jadi jangan buat masalah yang bisa mengganggu ketenangan kami." pintaku dengan suara merendah,berharap dia mengerti.


"Aku gak mau." teriaknya yang langsung menarik perhatian beberapa pegawai.


"Aku masih mencintai kamu." teriaknya lagi dengan lantang. Mataku membulat,beraninya dia bicara selantang itu...memalukan.


"Aku pengen kita bisa kaya dulu" jangan mimpi hanya saja aku tidak bisa bersikap lebih keras melihat keras kepalanya saat ini.


"Dengerin aku...kamu gak bisa memaksa ok kita udah punya jalan masing-masing!" ucapku tegas berusaha bersikap lunak padanya.


"Ingat kamu punya anak yang dalam pengasuhan mu....jadi fokus saja pada masa depannya." aku harap dia mau mendengarkan nasehatku.


"Kamu bukan gadis remaja yang mesti tergila-gila dengan cinta....KAMU WANITA DEWASA!"


"Aku gak peduli...." teriaknya keras dengan tatapan tajam menolak nasehatku. Tapi kemudian tatapannya berubah sayu.


"Tolong terima aku....sekalipun aku cuma jadi simpanan....gak papa kalau kamu gak mau menikahimu asal kita bisa bersama." dia salah sasaran,harusnya kalau mau melamar menjadi wanita simpanan bukan sama aku karena aku orangnya setia.


"Kamu gila!" tiba-tiba terdengar suara menggelegar,Fadil rupanya.


"Apa-apaan kamu ini....putraku sudah menikah beraninya kamu menggoda dia." disusul papa yang langsung mengambil tempat di depanku seperti tameng yang ingin melindungiku dari serangan musuh. Entah darimana datangnya mereka? Terserah aku menyerah menghadapi perempuan ini.


"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kamu ke sini lagi!" teriak papa.

__ADS_1


"Tapi om..." dia tampak menghiba,sebenarnya aku kasihan padanya tapi bersikap lunak padanya hanya akan menimbulkan masalah dalam rumah tanggaku.


"Kalian ingat wajahnya....kalau sampai dia ke sini lagi langsung usir dan jangan biarkan masuk!" perintah papa tegas pada seluruh pegawai.


"Baik pak." papa melirikku dengan sinis.


"Kamu...ikut ke ruangan papa!" aku tersentak,suara papa terdengar dingin artinya papa sedang marah,mungkinkah marah sama aku? Aah apapun itu aku sudah berusaha untuk menghindari tapi apa boleh buat Dania orangnya ngeyel.


"Duduk kamu!" perintah papa saat berada diruangan,suaranya masih terdengar dingin.


"Selama ini papa membiarkan Dania ke sini karena papa pikir ada hubungannya dengan Fadil"


"Kalau papa tahu kamu targetnya udah dari dulu papa usir dia"


"Terus kenapa kamu gak bilang?" tanya papa dengan tatapan menuduh.


"Apa kamu berniat menduakan istrimu?" tanya papa lagi,jelas aku gak terima seenaknya saja. Aku bukan orang seperti itu.


"Papa bicara apa...aku mencintai istriku"


"Terus kenapa kamu diam?" papa menatapku tajam.


"Aku cuma kasihan sama dia"


"Kayanya dia kecewa sama hidupnya yang gak sesuai dengan harapannya"


"Selama ini aku ngasih pengertian ke dia siapa tahu dia bisa berpikir bijak,bisa lebih fokus membesarkan anaknya"


"Aku mikirnya kalau ngasih tau tentang sikapnya ke orang lain sama saja mempermalukan dia khawatir makin menggila"


"Gak semua bisa diselesaikan dengan kekerasan jadi aku berpikir menjadi teman yang bisa mengerti dia bisa membuat hatinya melunak"


"Sekalian aku pengen dia ngerasain sendiri kalau dia gak berarti buat aku,dia hanya seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup aku tapi bukan masa depan aku pa jadi aku bersikap sewajarnya layaknya orang yang saling kenal. Bagaimanapun juga kami pernah memiliki hubungan keluarga saat dia masih istrinya Fadil jadi gak ada salahnya memperlakukan dia dengan baik kan." ini menurutku.


"Dan lama-lama aku kesel sendiri sama sikap ngeyelnya dia"


"Diperlakukan baik malah kaya manfaatin,ngajakin ketemuan,makan bersama udah ditolak masih ngeyel sampai aku blokir nomer dia eh nyamperin ke sini"


"Terus kamu temui dia?" papa tersenyum mengejek.


"Ya enggaklah pa"


"Banyak menghindar akunya tapi kok mikir lagi pengen ngasih pengertian ke dia siapa tahu luluh hatinya"


"Terus hasilnya?" papa meledek usahaku dan aku hanya diam tidak bisa menjawab karena usahaku jelas-jelas gagal.


"Gimana kalau sampai istri kamu tahu?"


"Gimana perasaannya? Apa gak merasa kamu bohongi?" aku tersentak,selama ini aku gak berpikir dari sisinya.


"Walaupun niat kamu baik tapi yang namanya istri pasti akan ngerasa terluka ngeliat suaminya dekat dengan mantan pacarnya...kamu gak pernah mikir dari sisi perasaannya?" pertanyaan papa seperti cambuk.


"Coba kalau dibalik kamu diposisi dia?" yah aku bisa membayangkan...aku pasti cemburu...dulu pas belum menikah dia didekati sama cowo aku cemburu apalagi sekarang???


"Gak tahu apa-apa terus denger cerita kaya gini dari orang lain?" aku tersentak pasti akan sangat menyakitkan.


"Gimana perasaan kamu? Cemburu gak ke mantan pacar istri kamu?" ya Allah aku gak pernah mikir sampai ke sana.


"Syukur-syukur gak ditambah-tambahin ceritanya kalau iya gimana?" mataku membulat,bisa-bisa gonjang ganjing.


"Apa gak kisruh rumah tangga yang baru seumur jagung?" aku hanya bisa menundukkan kepala,membenarkan perkiraan papa.


"Apalagi sekarang istrimu sedang hamil,kodisi emosinya gak stabil" bisa ku dengar tarikan napas panjang papa.


"Iya pa...maaf" ucapku dengan kepala tertunduk,merasa bersalah. Selama ini aku tidak terpikir kalau ada resiko besar yang akan aku tanggung atas keputusan sepihak ku,yang aku pikir benar nyatanya tidak sepenuhnya benar.


"Lebih baik mengadakan pesta pernikahan kalian secepat mungkin papa akan merundingkan ini sama eyang." clossing statement dari papa.

__ADS_1


__ADS_2