
Setelah pemakaman,Dani dan Mita disibukkan dengan acara tahlilan selama 7 hari.
Mengherankan,awalnya Dani tidak mau menerima uang dan tabungan beserta ATM pemberian bapak tapi bapak memaksa dengan alasan takut hilang. Ternyata inilah maksudnya.
Uang pemberian bapak,Dani gunakan untuk mengurus keperluan pemakaman dan acara tahlilan. Dia sampai bolak-balik ke ATM untuk mengambil uang tanpa tertarik ingin mengetahui berapa isi tabungan bapak. Dia hanya mengambil seperlunya.
Keesokan harinya Dani baru sadar dipojokan kamarnya terdapat kotak kayu pemberian pak ustad Nurdin. Beliau bilang santunan dari warga. Setelah dibuka isinya adalah uang yang sangat banyak.
Membuka laci juga sama,amplop pemberian dari teman-teman kerja serta kenalan-kenalan bapak. Belum lagi dari teman kuliah dan dosen. Membuka amplop lalu mengeluarkan isinya hanya ditumpuk belum dihitung. Tidak ada semangat untuk menghitung uang itu.
Dani ingin menangis,rasanya sedih. Dia berpikir seolah nyawa orangtuanya digantikan dengan uang.
"Astaghfirullah....." Dani tersadar dari pikiran buruknya,merasa berdosa karena sama saja ia menyalahkan Tuhannya.
Tok...tok...tok...
"Kak boleh aku masuk?" Dani langsung bangkit berdiri lalu membukakan pintu.
"Ada apa dek?" Tanya Dani,membuka lebar pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ini kak uang santunan dari temen dan guruku." Mita menyodorkan amplop coklat yang terlihat cukup tebal.
"Kamu pegang aja dek!" Ucap Dani lirih. Sudah bosan melihat uang. Mita menggeleng lemah.
"Ini terlalu banyak kak lagipula aku gak biasa pegang uang jadi kakak aja yang pegang." Tolak Mita memanyunkan bibir. Tidak mau dipaksa sebelum ada yang memaksa.
"Kamu lihat itu." Dani menggerakkan dagunya ke arah tumpukan uang dilantai. Mita mengangkat alisnya tinggi merasa heran sekaligus bertanya-tanya dalam hati uang dari mana sebanyak itu.
"Santunan dari warga,temen serta kenalan bapak." Terang Dani mengetahui isi otak adiknya. Seketika Mita teringat kalau beberapa hari yang lalu anggota majelis taklim dan kenalan ibu datang untuk takziah juga memberikan amplop.
"Aku juga dapat dari temen-temen ibu tapi lupa naruhnya." Mita memberengut kesal. Waktu itu Mita tak ingat apapun karena sibuk dengan acara tahlilan. Menerima dan asal menaruh saja.
"Sini kita hitung sama-sama nanti bisa buat acara tahlilan 40 hari dan 100 hari bapak sama ibu." Mita mengangguk setuju. Semenjak orangtuanya meninggal Mita menjadi lebih pendiam terlalu sering geleng angguk saat ditanya.
"Dek kalau ditanya orang jangan geleng angguk ya gak sopan." Mita mengangguk lagi padahal baru juga diingatkan. Dani menghela napas berusaha mengerti keadaan adiknya.
"Eh kak aku ingat dimana amplop itu sepertinya dibawah bantal. Sebentar aku ambil dulu." Tiba-tiba saja Mita teringat,berlari cepat menuju kamarnya dan langsung kembali setelah mengambil amplop yang ia maksud.
"Sebanyak ini dek?" Tanya Dani takjub. Melihat ekspresi lucu Dani,Mita tertawa. Dani tersenyum melihat itu.
__ADS_1
"Ayo kak dihitung siapa tahu bisa buat mengundang anak yatim nanti pas 40 hari bapak sama ibu." Ucap Mita semangat. Dani mengusap kepala adiknya,salut sama pemikiran adiknya.
"Insya Allah aamiin."
Dani dan Mita mulai menghitung. Sudah hampir satu jam tapi belum selesai juga.
"Aduh...kenapa gak habis-habis sih kak?" Keluh Mita sambil menggaruk kepalanya. Dani terkekeh.
"Pusing dadakan akunya."
"Kak Dani aja yang hitung aku mau rebahan...capek."
Mita membaringkan tubuhnya dikasur Dani. Tidak menunggu lama napas Mita terdengar teratur. Dani merasa lega setidaknya Mita sudah bisa tersenyum dan sekarang tertidur nyenyak dikamarnya.
"Ya elah kamu yang semangat menghitung kenapa berubah jadi semangat tidur sih dek." Gerutu Dani.
"Sebenarnya aku juga ngantuk banget." Dani ikut membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu depan dan pintu kamarnya. Melupakan yang namanya uang.
"Alhamdulillah ya Allah atas kemudahan yang Engkau berikan. Kuatkan hati kami." Batin Dani mengaminkan doanya. Lalu memejamkan mata menjelajahi alam bawah sadar.
__ADS_1
Ketika orang lain begitu haus akan uang dan harta tapi tidak bagi orang yang memiliki iman didadanya karena mereka tahu apa arti hidup.