
Doa ibu insya Allah diijabah Allah.....
Mendengar kalimat itu,Mita seakan dibawa ke masa sebelum ibunya meninggal dunia,ketika bapaknya masih ada....dia ingat waktu itu ia masih SMP diundang ke acara ulang tahun salah satu teman sekelasnya. Ia sangat menikmati acaranya hingga sepanjang perjalanan pulang ia terus bercerita tentang keseruan acaranya,tidak peduli apakah suaranya terdengar oleh bapak karena saat naik kendaraan otomatis suara akan terbawa angin,yang ada dipikirannya saat itu ia hanya ingin berbagi kebahagiaan menurut versinya.
"Assalamualaikum...." salam tak lupa ia ucapkan begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam wr wb adek....bapak mana?" seperti biasa ibu menyambut kedatangannya dengan hangat dan penuh cinta,setiap kalimat yang keluar dari bibir ibu juga lembut mencerminkan sosok seorang ibu idaman semua anak. Mita langsung salim sambil mencium tangan ibunya.
"Kayanya masih didepan Bu." jawabnya asal.
"Assalamualaikum wr wb...." baru juga disebut orangnya muncul yang disambut uluran tangan ibu yang ingin salim.
"Waalaikumsalam wr wb...." jawab ibu dan Mita serentak.
"Alhamdulillah ya Allah suami dan putri hamba selamat sampai rumah." sambung ibu dengan mengucap syukur.
"Hehehe....maaf tadi adek salamnya kurang lengkap." Mita nyengir. Kebiasaan orangtua mengucap salam yang lengkap bermaksud memberikan contoh padanya namun entah mengapa dirinya seperti ogah-ogahan mengamalkan.
"Hal baik mesti dibiasakan adek." tak bosan ibu mengingatkan dan kembali Mita hanya mengangguk sebagai balasan.
"Katakan insya Allah adek."
"Iya insya Allah." walaupun dengan setengah terpaksa.
"Bapak...." panggilnya dengan bergelayut manja dilengan bapak.
"Hmm...."
"Adek pengen nanti pas ulang tahun ngadain pesta kaya temen-temen." matanya berkedip-kedip,kode merayu bapak.
"Halah dek pesta kaya gitu aja dipengenin." komentar Dani yang baru muncul dan langsung salim sama bapak.
"Adek gak ngomong sama kakak." Mita berkata ketus.
"Kakak...." suara peringatan dari ibu kode untuknya supaya diam agar tidak menimbulkan keributan.
"Adek juga gak boleh ngomong ketus sama kakak."
"Bagaimanapun juga kakak lebih tua dari adek jadi adek musti hormat sama kakak berusaha bicara yang baik sama yang lebih tua." nasehat ibu.
"Habisnya kakak kaya ngeremehin keinginan adek."
"Ulangtahun biasa kok dirayain orang-orang malah yang sudah tua juga ngerayain."
"Terus ngerayain ulangtahun pernikahan juga ada yang mewah dan meriah." yang ada dipikirannya,merayakan ulangtahun itu menyenangkan.
Ibu hanya tersenyum,tidak ingin menyela karena situasinya belum tepat. Biarkan menjadi urusan bapak sebagai kepala keluarga.
"Oh iya adek sudah cuci tangan,cuci kaki belum?" ibu dengan lembut mengingatkan kebiasaan baik pada putrinya.
"Ah iya adek lupa belum cuci tangan,cuci kaki kan baru dari luar rumah setannya masih nempel sama adek yah." celotehnya dan bergegas ke kamar mandi.
Selagi Mita dikamar mandi ibu kembali mengingatkan Dani....
"Hati-hati kak....semakin dilarang adek akan semakin berontak."
"Musti dikasih pengertian biar adek ngerti."
"Seusianya memang begitu....apa yang terlihat menyenangkan pasti ingin dilakukan." jelas ibu lembut.
"Dulu kakak seusia adek juga begitu,malah lebih sulit dinasehati suka keras kepala." Dani berlagak berpikir keras.
__ADS_1
"Emang iya Bu?" pura-pura tidak ingat.
"Ngeles aja kakak." cibir ibu.
Akhirnya Dani memilih sibuk sama televisi,memencet tombol remot untuk mengganti channel tv,mencari acara yang menarik hatinya namun sayang seribu sayang terpaksa dia berhenti pada siaran olahraga badminton daripada tidak ada kegiatan.
"Bapak...." Mita sudah kembali dengan suara manjanya.
"Boleh yah?" Mita kembali membujuk,bapak hanya menoleh lalu tersenyum. Mita paham senyumnya bapak adalah penolakan dan dia agak kecewa.
"Adek sekalian wudhu tadi....menyucikan diri." menunjukkan hal baik yang dilakukannya agar bapak luluh dan mau menyetujui keinginannya. Bapak menarik napas.
"Sini duduk deket bapak!" Mita menurut.
"Adek sudah baligh kan?" Mita mengangguk.
"Adek wudhu untuk kebaikan adek sendiri?" Mita terdiam,sudah tahu arah pembicaraan bapak.
"Adek kalau berbuat baik diusahakan yang ikhlas karena Allah bukan karena pengen kemauannya dituruti....adek paham?" Mita kembali mengangguk dengan kepala tertunduk.
"Maaf bapak." bapak menggeleng.
"Minta maafnya sama Allah."
"Iya pak." jawabnya lemah.
Seketika muncul perasaan tidak tega dihati bapak melihat wajah sendu putrinya namun apa boleh buat,menunjukkan rasa sayang pada keluarga bukan dengan memenuhi setiap keinginan tetapi dengan memenuhi sesuai kebutuhan.
"Adek tahu artinya ulang tahun?" Mita mengarahkan pandangan ke bapak.
"Memperingati hari lahir." jawabnya singkat.
Bapak berpikir harus bicara mulai darimana? Bicara yang mudah dipahami tetapi tidak menyinggung hati putrinya.
"Bapak ingat ulangtahun adek tapi itu kaya mengingatkan usia bapak yang semakin tua bisa jadi semakin berkurang pula waktu bapak didunia ini." tatapan bapak menerawang jauh ke depan.
"Bapak jangan ngomong kaya gitu adek jadi sedih....gak mau kehilangan bapak." ucap Mita dengan sendu,bapak menggelengkan kepala.
"Adek gak boleh ngomong kaya gitu....umur itu titipan mau diminta kapanpun urusan Allah kita tidak boleh menolak."
"Bapak kenapa jadi ngomong kaya gini?" airmatanya mulai mengalir perlahan,tidak bisa membayangkan akan kehilangan orangtua tercinta.
"Adek harus tahu ini supaya adek memahami...."
"Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban sama Allah."
"Dikasih umur sekian buat apa saja?"
"Dibuat ibadah atau dibuat untuk memuaskan nafsu atau keinginan."
"Kalian tahu bahkan untuk sekedar merayakan hari ulang tahun bisa jadi itu adalah nafsu."
"Nafsu menghabiskan uang???"
"Berpesta....makan-makan."
"Berfoya-foya bukan sih?" Mita terdiam.
"Sedangkan diluar sana banyak orang yang kesusahan."
"Ada yang gak bisa sekolah karena gak punya biaya."
__ADS_1
"Ada yang terbaring sakit tapi gak bisa berobat." bapak kembali menarik napas.
"Mestinya bukan perayaannya yang dipikirkan tapi coba pikirkan sampai saat ini apa yang sudah kita lakukan...." bapak memperhatikan Mita,Dani dan ibu.
"Apakah selama ini kita sudah melakukan yang terbaik setidaknya untuk diri sendiri?"
"Dengan banyak beramal saleh?"
"Sudahkah kita bersyukur dengan umur yang diberikan Allah ke kita?"
"Dengan cara banyak mengingat Allah,membaca Al-Qur'an,memahami artinya agar mendapat petunjuk?"
"Yakinkah kita selama ini sudah baik dihadapan Allah....gak punya dosa?"
"Mestinya itu yang kita renungkan semakin bertambahnya usia."
"Banyak memohon ampun sama Allah."
"Belajar untuk memperbaiki akhlak bukan sibuk merayakan ulangtahun yang sebetulnya gak afdol kalau bapak bilang."
"Merayakan ulang tahun,tiup lilin itu gak ada dalam Al Qur'an nak."
"Insya Allah itu hanya kesenangan dunia saja nak."
"Bapak gak pengen anak-anak bapak hanya memikirkan kesenangan dunia....akhirat itu masa depan kita sedangkan hidup ini sebagai perantaranya." jelas bapak.
"Mumpung kami masih hidup kami ingin membekali kalian dengan ilmu agama."
"Iya nak benar kata bapak....orang tua memiliki tugas yang besar untuk anak-anaknya." ibu menimpali.
"Merawat anak bahkan saat masih didalam kandungan."
"Mendidik anak sesuai dengan ajaran agama."
"Mengarahkan anak ke jalan kebaikan."
"Dan masih banyak lagi...."
"Kami orangtua ngomong seperti ini bukan karena kami merasa paling benar tapi karena kami gak mau anak-anak kami terjerumus ke dalam sesuatu yang salah sehingga masuk neraka."
"Neraka itu panas nak."
"Insya Allah gak ada manusia yang sanggup menahan panasnya api neraka."
"Lha wong ngerasain panasnya matahari saja sudah mengeluh gak karuan langsung pengennya ngadem didepan kipas angin minumnya es yang segernya luar biasa."
"Iya kan?" tidak ada yang berani bersuara,hanya bisa menundukkan kepala.
"Ibu berdoa semoga kalian jadi anak yang Sholeh Sholehah."
"Yang laki-laki bakalan jadi pemimpin rumah tangga tanggungjawabnya lebih besar pada keluarga."
"Seorang suami memiliki tugas menjaga keluarganya dari api neraka."
"Yang perempuan bakalan menjadi istri,makmum bagi imamnya."
"Berkewajiban mengurus keluarga."
"Dan untuk bisa menjalani hidup dengan baik kalian butuh ilmu agama."
"Belajar bersabar dan ikhlas."
__ADS_1
"Ingat pesan ibu ini!"
"Suatu hari kalian akan merasakannya sendiri dan mungkin kami sudah tidak ada disisi kalian lagi."