
"Neng....beras habis,gula habis,garam juga habis." lapor emak padanya.
Sudah pukul lima sore niatnya bisa selonjoran sebentar mengistirahatkan badan sebelum maghrib karena habis maghrib mau ke kondangan tetangga sebelah yang anaknya mantenan terus ada pula teman sekolahnya yang nikahan,jaraknya lumayan jauh pula. Sekarang dapat laporan kebutuhan rumah tangga habis,gagal rencananya untuk istirahat.
"Tolong cek semua Mak apa aja yang habis dan harus dibeli biar sekalian belanjanya!" akhirnya mau tidak mau dia harus keluar belanja mengingat itu semua kebutuhan pokok harian.
Mita beranjak ke kamar belakang yang letaknya diluar rumah dengan tembok menyatu dengan dapur,disiapkan pula kamar mandi kecil sebagai sarana lengkap memudahkan bagi yang ingin menggunakannya. Repot juga kalau kamar mandi satu sedangkan orangnya banyak,bisa dibayangkan saat yang satu ada orang masuk dengan kondisi darurat terus digedor karena sama daruratnya,adeeeh....kebayang ributnya saling teriak tertahan.
"Dek Irham...." panggilnya pada Irham yang malam ini kebagian jatah menginap.
"Ya." jawab Irham cepat langsung muncul dihadapannya.
"Temenin belanja yah aku males nyetir." ucapnya memelas.
"Ok....aku ganti baju dulu!" Mita mengangkat alis.
"Kenapa harus ganti? Pake itu aja sudah bagus kok lagian cuma ke warung dekat sini." Irham tersenyum kecut tapi tetap mau ganti baju juga. Masalah anak muda yang mulai tertarik sama lawan jenis jadi ingin tampil baik supaya bisa menarik lawan jenis.
"Terserah deh!" Mita menarik napas lalu kembali ke dapur. Yang terpenting sekarang harus menyelesaikan tugas dengan cepat supaya bisa istirahat walaupun sejenak.
Mita membeli barang sesuai catatan,membeli cukup banyak untuk stok agar tidak bolak-balik membeli ke warung,dia mesti menghemat energi demi bisa melakukan aktifitas yang lain.
"Mbak....orang baru itu yah?" tanya si ibu penjual,namanya ibu Rohimah,Mita sudah beberapa kali belanja diwarung beliau.
"Yang rumahnya deket pak Anwar,orang terpandang disini yang rumahnya besar dan paling bagus punya mobil." Mita mengingat-ingat nama pak Anwar yang bisa dikategorikan terpandang. Bu Rohimah yang mengetahui ekspresi Mita yang tampak belum ingat kembali menambahkan.
"Yang masih muda itu lho mbak kerja jadi PNS anaknya dua cewe cowo,yang cewe sudah SD yang cowo baru TK kalau gak salah,istrinya namanya mbak Rita." jelas ibu Rohimah sampai mendetail. Mita menggelengkan kepala,menyerah untuk terus mengingat.
"Maaf saya gak begitu mengingatnya Bu."
"Soalnya saya baru sebulan pindahannya." jawabnya sambil memandang si ibu penjual sekilas lalu mengecek kembali barang belanjaannya,mencentang catatan dan barang yang sudah sesuai.
"Lho kok sampek gak ingat padahal deket banget kan."
"Maaf Bu,saya jarang keluar rumah soalnya saya sibuk banget."
"Oh iya saya maklum mbaknya kerja ya." Bu Rohimah mengangguk mengerti lalu kembali bertanya.
"Dimana?" tanya ibu rohimah.
"Saya punya usaha kecil-kecilan dirumah Bu."
"Oh....wah hebat dong masih muda sudah punya usaha sendiri." puji Bu Rohimah dengan mata berbinar dan penuh semangat. Mita hanya tersenyum.
"Usahanya apa?" tanya Bu Rohimah antusias.
"Itu Bu hanya budidaya sayuran organik." jawab Mita pendek.
"Sayuran organik....yang gimana mbak?" tanya Bu Rohimah dengan mengernyit.
"Sayuran yang pupuknya dari bahan alami Bu." jelas Mita pendek.
"Oh begitu yah,bisa dong saya beli dari mbak, langsung dari petaninya harganya jelas lebih murah." Mita langsung tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Maaf Bu....untuk sayuran organik harga pasarannya lebih mahal daripada sayuran pada umumnya bedanya lebih sehat untuk dikonsumsi karena pupuknya juga alami." Bu Rohimah kembali mengangguk mengerti.
"Mbak cantik banget yah saya seneng lihatnya,ramah pula." Mita hanya tersenyum menanggapinya. Bu Rohimah jadi meragukan ucapan orang-orang yang katanya Mita bukan perempuan baik dan suka menggoda lelaki di sekitar sini.
"Orangnya gak dandan,cantik dari sononya,baik,adem pula melihatnya pantesan laki-laki disini tertarik dibandingkan istri-istrinya yang mungkin suka marah-marah dan ngomel,wajar sih." pikir Bu Rohimah sambil terus memandangi Mita yang menyadari jika sedang diperhatikan.
"Itu yang nganter adiknya yah?"
"Iya Bu." jawabnya cepat.
"Kok beda kaya bukan saudara kandung." si ibu bisa menebak dengan benar.
"Saya bukan adeknya kak Mita Bu tapi pegawainya yang sudah dianggap adek kandung." rupanya Irham mendengar obrolan Mita dan ibu Rohimah langsung terdengar kesal suaranya disebut beda yah memang beda karena dari rahim berbeda,keturunan juga beda.
"Ehehehee.....maaf mas saya orangnya jujur daripada ngomongin dibelakang malah nyakitin." kilah ibu Rohimah dengan tanpa rasa bersalah malah yang bangga sama sikapnya yang merasa jujur. Mita tidak bereaksi hanya menyimak.
"Iya memang jujur lebih baik Bu tapi sama aja rasanya NYAKITIN...." Irham bersikap seperti orang teraniaya.
"Bedanya didepan dan dibelakang...." sambungnya dengan sedih.
"Saya memang terlahir dari keluarga yang berkulit coklat tapi hidung saya mancung kok Bu....kalau kata bapak sama ibu saya LE KAMU ITU GAK JELEK TAPI MANIS KAYA KERETA WALAUPUN HITAM BANYAK YANG NGANTRI MAU NAIK." ibu Rohimah terkekeh mendengar lelucon Irham kaya yang memuji diri sendiri.
"Iya maaf mas." balas ibu Rohimah masih terus tertawa. Mita ikut tersenyum mendengar interaksi keduanya.
"Kalau saya bisa milih nih Bu,saya pengennya juga jadi lelaki yang tampan,mapan kayanya seneng aja dikerubuti cewe-cewe cantik." masih disambung lagi ngomongnya sama ini anak.
"Tapi sayangnya gak bisa kan Bu milih sesuai keinginan sendiri." Irham tersenyum kecut.
"Ganteng tapi kalau akhlaknya gak baik cewe juga gak mau justru yang mukanya dan dompetnya pas-pasan kaya saya bisa ngedapetin cewe yang baik,milih saya bukan karena tampang dan isi dompet tapi karena mau nerima apa adanya saya." sambungnya bijak. Ibu Rohimah tampak menyimak dalam diam sambil berpikir.
"Sudah Bu." ucap Mita pendek. Ibu Rohimah langsung menuliskan harganya.
"Dek....kamu mau minum?" tanya Mita,menyiasati untuk mengalihkan fokus Irham yang jika tidak dialihkan pasti nyerocos terus.
"Nih minum....haus kan?" sambil menyodorkan minuman dingin yang langsung diminum sampai setengah. Habis ngomong panjang jelas haus.
"Mau roti?" Mita terus menyogok supaya Irham lupa sama pembicaraannya tadi. Irham kembali mengangguk.
"Satu atau dua?" tanyanya lagi.
"Satu." jawabnya cepat dan akhirnya dia lupa untuk terus bicara,sibuk mengunyah roti. Mita ikut mengambil roti dan memakannya ditempat untuk menghindari kelanjutan banyak omong.
Ibu Rohimah sudah selesai menghitung tapi membiarkan saja Mita dan Irham menghabiskan rotinya.
"Dek nanti tolong yah temenin aku ke nikahannya temen!"
"Yah kak aku mana bawa baju bagus,kenapa gak bilang dari kemarin aku kan bisa siap-siap?"
"Gak kepikiran akunya." balas Mita sedih.
"Aku anterin aja gimana nanti ditunggu didepan."
"Boleh deh." jawab Mita dengan muka datar.
__ADS_1
Bu Rohimah tersenyum melihat interaksi keduanya yang tampak akrab dan seperti saudara sendiri,saling membantu. Mita juga bukan orang yang sombong seperti yang digemborkan tetangga sekitar kayanya mereka hanya iri dengan kecantikan Mita yang menjadi pusat perhatian bagi kaum adam dilingkungannya.
"Sudah Bu....tambah dua minuman sama dua roti."
"Ya sudah mbak."
Mita langsung membayar belanjaannya dan
pulang. Sampai dirumah terdengar azan berkumandang.
"Mak ini belanjaannya tolong ditata yah Mak,Mita mau langsung sholat terus pergi kondangan."
"Iya neng."
Tidak ada waktu bersantai harus bergerak cepat biar cepat selesai urusan dan bisa istirahat dengan cepat pula.
Sekitar pukul setengah tujuh ia pergi ke kondangan tetangga dekat. Agak ragu dan malu untuk masuk alasannya karena masih orang baru dan sendirian. Tapi berusaha memberanikan diri.
Mita menarik napas panjang menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya,berjalan pelan namun tegas dan penuh percaya diri.
Didepan sudah ada yang menyambut kedatangan para tamu undangan,terlihat orang-orang didepannya sedang bersalaman dan ia langsung menyusup dibarisan diikuti tamu yang lain.
Awalnya tidak ada yang menyadari tapi beberapa saat kemudian saat ia celingukan mencari tempat duduk yang aman dengan membawa makanan tampak orang-orang memperhatikannya kemudian terdengar bisik-bisik dari beberapa perempuan.
"Itu orangnya."
"Mana?"
"Itu...."
"Gila....pantesan laki-laki disini tertarik sama dia."
"Kamu yang bedakan tebel aja gak ada apa-apanya sama dia."
"Apaan sih pake nyamain aku sama dia....kamu juga....gak ada apa-apanya meskipun kamu pake pemutih kulit cantikmu itu palsu."
"Eh sembarangan ngehina orang."
"yah malah berantem."
"Iya....kelihatan dia biasa aja....natural."
"Ini sih gak usah ngegoda tetep tergoda....lihat,bajunya biasa aja,gamis tapi kok kelihatan anggun ya? Pake jilbab juga cuma dikaitkan,disampirin ke belakang dan dihias bros gak ribet kaya kamu....pake jilbab diputer-puter ke atas ke bawah ke samping adeeh....bukannya cantik malah bikin pusing,mau godain siapa kamu? Sudah punya suami juga?"
Mita yang mendengar jadi urung untuk meneruskan makan,mau langsung pergi setelah memasukkan amplop.
"Mbak mau ke mana? Sini duduk!" seorang pria muda memanggilnya dengan senyum penuh arti,meminta duduk disebelahnya. Gawat....Mita kebingungan menjadi pusat perhatian banyak orang beruntung ada seorang wanita paruh baya mendekatinya dengan senyum ramah.
"Sini nak duduk disana itu kosong!" tunjuknya pada kursi sederet yang masih kosong.
"Mari!" wanita itu menggiringnya untuk duduk dan mengikuti saja.
Mita tetap tidak bisa tenang menikmati makanannya karena mata-mata terus mengawasinya,ada yang iri,ada yang kagum,ada yang jahil. Mita menarik napas,susahnya menjadi perempuan lajang kalau saja sudah menikah mungkin akan lebih tenang kalau ke kondangan sama suami.
__ADS_1