Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 128 Sah bukan siri


__ADS_3

Dani POV


Sudah beberapa minggu adikku tinggal ditempat tinggal barunya,kali ini seperti ada dorongan kuat untuk mengunjunginya entah karena apa? Aku merasa ada yang terjadi padanya tapi dia tidak ingin menceritakan padaku. Setiap hari ia hanya menanyakan kabar ku atau apa aku sudah makan?


Sepeninggalnya,aku merasa kesepian dirumah sendirian,tidak ada lagi yang menyiapkan makanan atau minuman untukku sambil berbicara lelucon kepada ku seperti adikkku. Fiuuuh....aku kangen dia.


Istriku Nuri,sengaja aku minta tinggal dirumah orangtuanya dengan alasan hamil tua takut terjadi apa-apa dirumah pas aku bekerja sedangkan dirumah tidak ada orang. Alasan yang masuk akal dan tepat menurutku daripada harus bertele-tele menjelaskan aturan orang yang menikah karena hamil duluan. Jujur memang harus tapi saat menyangkut tentang keluarga istriku aku ragu mereka akan menerima atau malah meremehkan syariat agama,terbayang oleh ku akan sangat memusingkan berdebat dengan mereka.


Konsekuensi dari keputusanku adalah mereka lebih punya banyak kesempatan untuk merong-rong meminta uang bulanan lebih banyak dari biasanya. Pernah aku menyampaikan pada Nuri untuk sedikit mengerti keadaanku yang masih punya cicilan hutang tapi apa katanya "Sudah tugas kamu memberikan uang pada orangtuaku karena mereka juga orangtuamu kan sekarang" akuu sanggah "Iya tapi tolong sedikit memahami aku boleh memberi tapi semampu aku." dan ternyata percuma istriku tidak mendengarkan aku malah sekarang makin sering meminta uang dengan berbagai alasan.


Baru juga dipikirkan orangnya mengirim pesan


"Kapan ke sini?"


"Sudah berapa hari?"


"Aku kangen."


Alasannya saja dipikir aku tidak tahu. Dia bukannya kangen sama aku tapi sama uang ku. Cari alasan yang masuk akal saja walaupun harus berbohong,aku tahu bohong itu dosa tapi aku tertekan terus menerus dirong-rong seperti ini. Aku lelah,capek jiwa raga. Mungkin inilah salah satu penyebab orang suka berbohong.


"Aku masih sibuk!" sepertinya juga aku sudah mulai terbiasa berbohong sekarang untuk menyelamatkan diri sendiri. Diposisiku sekarang yang terpenting mencari keamanan bagi diri sendiri urusan dosa menjadi prioritas ke sekian. Ada perasaan bersalah dan berdosa tapi adakah jalan lain selain berbohong? Menurutku tidak. Ampuni hamba-Mu yang berdosa ini ya Allah.....


Aku ingat Almarhum bapak ibu tidak pernah mengajari ku berbohong dan meskipun aku melakukan kesalahan mereka berusaha bersikap sabar mungkin ini alasannya agar aku tidak membohongi mereka karena takut dimarahi. Memang betul orang yang ditekan terus-menerus pada akhirnya memilih berbohong demi melindungi diri sendiri,aku merasakan sendiri.


Yah aku berharap akan ada hari dimana aku tidak terus terjepit dengan masalah yang sama,aku tidak ingin begini terus. Aku akan menjadi seorang ayah dari dua anak sangat tidak pantas jika aku mempunyai sikap pembohong yang harusnya bisa menjadi panutan untuk keluarga kecil ku nanti. Aku ketakutan dalam hatiku jika kelak anak-anakku sama pembohongnya kaya aku sekarang. Aku sadar aku seperti seorang pe******* yang lari dari masalah.


"Assalamualaikum...." aku celingukan dipintu depan langsung tercium aroma masakan yang gurih. Bisa dipastikan dia sekarang sedang memasak jadi tidak mendengar salam ku.


"Assalamualaikum...." sekali lagi dengan suara lantang dan terdengar jawaban salam dari belakang.


"Waalaikumsalam.....kakaaaak....." teriaknya yang kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba kemudian tersenyum lebar sambil mendekat.


"Ya Allah....apa kabar?" sambutan hangat dan bersemangat darinya setelah hampir satu bulan kepindahannya. Ternyata begini rasanya saat hidup terpisah,akan menjadi hal spesial saat bertemu karena saling merindukan satu sama lain. Berbeda kalau satu rumah,melihat sesuatu yang tidak mengenakkan langsung kesal terus ngambek.


"Baik....aku baik." dia cemberut seraya meneliti penampilan ku dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Baik apanya....badan kurus,muka kuyu,gak bersemangat....apa ini yang namanya baik?" dahinya berkerut.


"Mana muka gantengnya jadi burik gini?" omelnya yang menghina penampilanku dan aku hanya nyengir,tidak menganggapnya serius karena aku tahu dia main-main. Adikku masih tidak bisa dibohongi.


"Duduk deh!" pintanya,aku patuh.


"Mau minum apa?" aku jadi ingat sambutan mertua saat aku mengunjungi anak istriku,boro-boro disambut hangat atau ditawari minuman langsung istriku nemplok dilengan lalu minta jatah belanja. Mikir aku capek kerja pun tidak. Nasib....nasib....


Tarik napas panjang,ini salahku juga,nafsu mengalahkan akal sehat ku. Ibaratnya kucing yang disuguhi ikan asin main terkam saja sekarang aku sedang menanggung hasil perbuatanku,menikahi perempuan matre. Benar kata adikku memilih pasangan haruslah yang memiliki iman agar hidup lebih tertata jangan asal nemu dijalan terus bawa pulang.


"Masih sama kan minuman kesukaan kakak." mungkin karena dia melihatku melamun jadi dia menjawab sendiri pertanyaannya,aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia langsung kembali ke belakang.


Rumah ini terasa berbeda dari rumah yang aku tempati seakan lebih hidup mungkin pembawaan dari penghuninya.


"Aku masuk yah." teriakku makin ke dalam. Dulu pas ke sini waktu pindahan aku belum terlalu paham seluk beluk rumah ini dan tidak ada waktu juga untuk melihat sampai ke belakang rumah karena Nuri terus menghubungi meminta aku menemuinya,ujung-ujungnya minta uang.


"Ya masuk aja!" balasnya berteriak mungkin mengira aku masih didepan. Jarak dari ruang tamu ke dapur memang lumayan jauh sekitar sembilan meter melewati tiga kamar jadi dia asal berteriak supaya aku mendengar.


Sampai didapur rupanya dia sedang masak juga. Aku heran ke mana emak???


"Emak ke mana kok sepi?" tanyaku.


Dia kayanya menyadari aku yang mentertawakannya langsung menatap ku tajam dengan tidak suka. Aku mengangkat kedua tangan......


"Maaf....." dan dia kembali sibuk dengan aktifitasnya.


"Ini kopi hitamnya!" dia menyimpan dimeja makan langsung tercium aroma kopi yang pekat. Aku yang masih berdiri dipintu dapur sambil melihat ke samping rumah buru-buru mendekati secangkir kopi buatannya. Dia memang pandai membuat kopi rasanya beda pokoknya dari tangan orang lain kaya ada khas nya. Sebetulnya tidak hanya pandai membuat kopi,masak pun iya. Kerja juga ah paket komplit dia mah.


"Emak biasanya gak pulang semalam ini." gumamnya dengan cemas lalu menggeleng. Dia kembali berkutat dengan aktifitas memasaknya.


Menyesap kopi buatannya secara perlahan masuk ke kerongkongan,sungguh....nikmat mana lagi yang kau dustakan? Mungkin ini efek lama tidak merasakan hasil dari tangannya,luar biasa nikmatnya.


"Kita makan bersama yah." sambil dia menyimpan masakannya didepanku. Bagaimana aku bisa seberuntung ini? Dia memasak daging bumbu lapis kesukaan ku.


"Kok bisa kebetulan begini....ini favorit aku." mataku langsung berbinar dengan semangat penuh,dia hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ikatan batin mungkin." jawabnya. Tanpa ba bi bu aku beranjak ke wastafel untuk cuci tangan,mencari sendiri keberadaan rak piring dan mengambil dua piring satu untukku dan satu untuknya. Aku pengen makan pakai tangan jadi tidak mengambil sendok.


"Aku makan duluan yah!" menunggunya membersihkan kompor dan peralatan masak akan lama jadi aku minta izin makan duluan,kebetulan juga aku sedang lapar.


"Iya." hanya itu jawabannya,terdengar suara gemericik air pertanda dia sedang mencuci perkakas yang kotor.


Dalam sekejap aku sudah menyelesaikan makan malam ku tepat dengan ucapan salam dari dua orang secara bersamaan.


"Waalaikum salam...." jawab kami serentak.


"Itu pasti emak dan mas Yahya." ucapnya senang langsung ke depan. Terdengar ia mengajak calon suaminya untuk makan bersama dan memberitahukan kedatangan ku yang sekarang berada didapur.


"Apa kabar mas Dani?" sapanya seraya menjabat tanganku.


"Aku baik." kebetulan ketemu disini sekalian aku mau mencicil hutang ku,mumpung ada uang sebelum digeledah lagi sama Nuri terus ketahuan menyimpan uang untuk diri sendiri. Sebetulnya bukan menyimpan untuk diri sendiri niat aku menabung untuk biaya lahiran. Bela-belain kerja lembur supaya dapat tambahan sayang aku kecolongan,aku sisihkan buat dititip ke dia tapi ternyata dia tidak memikirkan calon anak-anaknya yang akan lahir demi memenuhi kebutuhannya sendiri.


"Alhamdulillah." balas Yahya singkat.


Emak menatap ku prihatin. Rupanya kondisiku terbaca oleh mereka berdua.


Mita membuatkan kopi susu untuk Yahya dan teh panas untuk emak yang langsung disuguhkan setelah jadi.


Ketika mereka bertiga makan aku melanjutkan menyesap sisa kopi hitam milikku lalu aku sadar sesuatu....


"Kemana mereka katanya ada yang menginap disini?" adikku terhenyak kaget dan hampir tersedak lalu minum air dan menarik napas. Aku curiga akan sesuatu.


"Ekheeeem....mereka ada acara." hanya itu jawabannya dengan gugup. Aku menghela napas dan malas membahas mending langsung nembak yang bersangkutan....


"Kapan kalian menikah?" yang ku pandang adalah Yahya,aku lupa menunggunya selesai makan tapi apa boleh buat....terlanjur.


"Insya Allah segera....tinggal nunggu persiapan." lega tapi aku perlu menegaskan lagi.


"Aku gak mau lama-lama kasihan adikku dirumah tanpa laki-laki takut terjadi sesuatu." keselamatan adikku sangat penting bagiku.


"Maaf kak....biasanya ada kok yang nginep disini,memang hari ini gak bisa soalnya adiknya Irham mau kakak dan bapaknya dirumah sedangkan pak Bowo ada tamu dari keluarga istrinya." jelas Mita dengan rasa bersalah. Dia seperti memahami kekhawatiran ku.

__ADS_1


"Tapi mas....kami menikahnya sederhana." aku membalas dengan anggukan.


"Gak pa pa asal sah bukan siri."


__ADS_2