
"Katanya lagi rawat inap...dirumah sakit mana?" matanya melotot mendapat pesan dari Pak Farhan,manager dikafe tempatnya bekerja. Gila ini anak modus menggunakan Pak Farhan buat nanya ke aku pikirnya.
Terpaksa ia membalas pesan dari Pak Farhan dengan cemberut sangat kesal. Dia bisa membayangkan muka puas si tengil Alex bertambah kesal dia. Dia sampai tidak sadar memukul tempat tidurnya sebagai pelampiasan setelah membalas pesan hingga menimbulkan suara berisik.
Mita yang kaget langsung terbangun dari tidurnya dengan geragapan sambil memaksakan diri untuk sadar sepenuhnya.
"Ada apa kak?" tanyanya panik sambil mencari keberadaan kakaknya yang ternyata tetap diatas tempat tidur. Dia bernapas lega melihat kakaknya baik-baik saja.
"Maaf...aku gak sengaja tidur lagi gih..." ucapnya dengan penuh penyesalan telah mengganggu istirahat adiknya.
"Aku mau mandi biar seger habis itu beli sarapan..."
"Kak Dani butuh sesuatu sebelum aku beli sarapan?" Dani menggeleng lemah. Bagus juga adiknya keluar supaya tidak sampai bertemu dengan Alex tapi bagaimana kalau ketemu di luar ah...makin mikir ke mana-mana pikirnya. Tidak sadar jika sedang diperhatikan Mita yang langsung menghela napas.
"Mikir apa lagi sih kak?" gerutu Mita kesal juga dengan Dani,dibilangin susah banget.
"Temenku Alex sama yang lain mau ke sini..." jujur saja daripada adiknya ngamuk lagi karena sikapnya. Mita mengangkat alis,heran dijenguk temen kok kesel.
"Dia kan niatnya bukan jengukin aku tapi pengen pedekate sama kamu..." Dani melengos kesal.
__ADS_1
"Haahaa...ngapain pedekate sama aku lihat muka aku aja enggak pernah? ada-ada aja..." Mita menggelengkan kepala.
"Dia pernah lihat kamu pas kita telponan..."
"Ya sudahlah biarin aja...jangan semua dipikirin nanti malah gak sembuh-sembuh..." Dani mengangguk patuh memang rasanya tidak nyaman kalau apa-apa dipikirkan. Mita masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri meninggalkan Dani seorang diri dengan pikiran berkecamuk.
Krieeet suara pintu terbuka ternyata pintu kamar mandi.
Dani melongo melihat adiknya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah,gayanya sudah seperti iklan sampo,mengeringkan pakai handuk lalu sedikit dikibaskan hingga sebagian sisa air dirambutnya mengenai tubuh Dani.
"Apaan sih dek?" terasa dingin terkena cipratan air.
"Ini juga gak pake sampo cuma diguyur terus biar ngilangin spaneng..." Dani mengernyit.
"Apa itu spaneng?"
"Hehe...kaya mikir banget tapi gak nemu solusi,jadinya kesel,pengen marah pokoknya gitulah..." Dani mengangguk paham setelah mendapat pencerahan dari Mita. Dani berpikir,dia mengalaminya juga ternyata mereka sama-sama spaneng tapi Mita nampak seger seperti tanpa beban Dani jadi pengen ikut keramas.
"Aku bo..." belum selesai ngomong Mita sudah meliriknya setajam silet. Dani menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal lalu menghembuskan napas. Mita kembali pada aktifitasnya yaitu mengeringkan rambut dengan handuk.
__ADS_1
"Aduh...ini gak kering-kering sudah laper banget ini..." Mita terpaksa menyudahi aktifitasnya dan mengikat rambutnya sambil digulung tinggi.
"Berat rasanya tapi kalau gak gini kelihatan rambutku..." Dani hanya menyimak saja.
"Dandan biasa aja...!" Mita mengerutkan dahi,pertama kalinya Dani berkomentar tentang dandanannya.
"Mana pernah dandan biasanya kan cuma pake pelembab sama bedakan doang,pake lipteen jarang kalau ada acara...sekarang mana aku bisa dandan gak bawa apa-apa juga...cuma bawa badan." jawabnya santai.
Dani tersenyum lega tapi dia jadi sadar kalau adiknya cantik bawaan orok tidak pakai apapun tetap cantik.
Mita langsung mengenakan kerudung instan dan merapikan diri takut ada bagian darinya yang terlihat.
"Sudah kak?" tanyanya sambil memutar badannya didepan kakaknya.
"Kamu cantik alami dek...mau pake apa aja tetep cantik..."
"Bukan itu maksud ku...bajuku ada yang nyelempit gak atau ada rambut yang kelihatan?"
"Eh tapi makasih atas pujiannya kakak ku tersayang..." Mita tersenyum ceria sambil memeluk kakaknya dari samping. Dani lagi...lagi dan lagi menarik napas panjang...
__ADS_1
"Mau dong di peluk juga!" suara yang Dani kenal.