Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 63 Perasaan lega


__ADS_3

Mita POV


"Kak..." sapaku sambil tersenyum saat kami berpapasan di dapur dan kak Dani menjawab "Heem..." lalu pergi menghindar. Aku hanya bisa menunduk sedih diperlakukan seperti itu tapi berusaha menguatkan hati untuk bersabar. Menganggap sikapnya padaku adalah kemarahan sesaat nanti pasti akan membaik dengan sendirinya.


Buka pintu kamar begitu aku lewat kak Dani langsung menutup rapat seakan gak sudi melihatku. Sungguh ini pukulan berat untukku. Membuatku kepikiran setiap saat hingga gak fokus sama pekerjaan dan mendapat banyak komplein dari pelanggan-pelangganku.


"Mbak saya pesan kangkung sama tomat kok dikirim bayam sama tomat?" langsung minta maaf dan mengirim ulang.


"Mbak kan saya beli bunga mawar kok dikirim bunga Bougenville?" aku langsung meraup muka lelah. Hampir setiap hari dikomplein.


"Astaghfirullah...!" sambil menghela napas panjang lalu pergi ke dapur. Aku butuh asupan untuk mengembalikan konsentrasi.


"Nah begitu dong neng makan!" Mak Jinem mengambilkan makan untukku yang langsung ku tolak "Mita ambil sendiri." jawabku dan beliau keukeuh mengambilkan makanan dengan alasan "Kalau diambilkan bisa lebih enak dan sedep,makin tua makin sedep." aku tertawa mendengar alasan beliau yang cukup masuk akal. Katanya tangan orang beda meskipun resep sama tapi rasanya bisa beda.


"Kak...ayo sarapan!" ku ketuk pintu kamarnya untuk mengajaknya sarapan,dia menolak dengan alasan "Aku sarapan dikantin pabrik." dan langsung pamit berangkat kerja dengan menyangklong tas punggungnya padahal niatku baik. Aku ingin meminta maaf dan mengajak berbaikan. Diam-diam aku menangis.


Makan gak enak,tidur gak nyenyak dan kerja gak semangat. Rasanya aku sangat lelah,tubuhku pegal,sakit semua menyerang seluruh sendi tubuhku.

__ADS_1


"Neng telurnya sudah siap!"


"Ya pak." jawabku lemah.


"Haching..." hidungku terasa gatal dan berair. Mataku panas dan pedih.


Hingga mobil pick up datang untuk mengambil pesanan aku meminta pak Bowo dan pak Darman menaikkan telur sambil menghitung kembali jumlahnya,memastikan barang sesuai pesanan.


Setelah selesai mengecek,pandanganku tiba-tiba kabur lalu gelap seperti ada bintang berputar didepanku. Aku menggelengkan kepala kuat,memaksa mataku untuk melihat dengan jelas.


"Neng makan dulu!" Mak Jinem mengingatkan ku untuk makan tapi aku sering menolak dengan mengatakan "Nanti saja" atau " belum lapar".


"Mita mau minum dulu!" Mak Jinem memandangku khawatir tapi aku berusaha terlihat baik-baik saja.


"Assalamu Alaikum...!" dia pulang.


"Waalaikum salam kak..." belum sempat aku bicara banyak,kak Dani langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya. Aku merasa hidupku gak berharga dan sangat rapuh. Aku mulai berputus asa dengan keadaanku.

__ADS_1


"Astaghfirullah harusnya gak begini...semua pasti ada jalan penyelesaiannya." berusaha menyemangati diri sendiri.


Setengah hari bekerja badanku terasa malas dan aku berpikir mandi bisa menyegarkan badan dan otakku. Menyambar handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Usai mandi badanku justru semakin gak nyaman,ada rasa panas dan dingin bercampur jadi satu. Berupaya untuk bergegas menjalankan sholat dhuhur dan bisa segera istirahat sejenak.


Usai sholat,merangkak ke kasur sambil menyelimuti tubuhku sendiri berharap bisa berkeringat mungkin bisa meringankan rasa gak nyaman dibadan. Tapi malah panas,anehnya saat buka selimut justru menggigil kedinginan hingga airmataku mengalir pelan sambil menahan rasa sakit dibadan dan perasaan.


Disaat seperti ini aku sangat merindukan kehadiran bapak dan ibu yang akan memelukku hangat. Menyentuh kepalaku dengan sayang. Menghapus airmataku. Menghiburku dikala sedih.


Mataku semakin berat dan ingin terpejam. Makin lama makin berat lalu tertutup rapat.


"Bapak aku kangen..." rintihku pilu saat aku melihat bapak dihadapanku menggandeng tangan ibu. Mereka tampak sedih melihatku.


"Ibu aku rindu..." ratapku mencoba mendekati mereka,sangat ingin memeluk keduanya. Tapi mereka bergerak mundur,ibu menggelengkan kepala lemah seakan menolak ku dekati. Aku merasa sangat sedih. Hingga terasa sebuah tangan memegang dahiku.


"Mak tolong kompres dahinya!" samar-samar aku mendengar suara kak Dani disampingku tapi gak ada. Apa ini mimpi? Aku juga merasakan hangat dikening ku.

__ADS_1


"Dek maafin kakak!" aku mendengar suaranya lagi. Merasakan tangan ku digenggam aku membuka mata dan terlihat wajah yang ku rindukan memandang ku dengan tatapan sedih.


"Kak....." lega,kini aku bisa tidur dengan tenang.


__ADS_2