
Ditempatnya Yahya mondar mandir dipintu depan restoran sedang menunggu kedatangan Mita dengan gelisah. Sebentar-sebentar melongok ke depan sambil memperhatikan jalan berharap bisa melihat motor matic yang biasa Mita kendarai. Beberapa kali melihat jam diponselnya dengan dahi berkerut.
"Ke mana anak ini satu jam lebih nungguin tapi belum nongol juga? Apa terjadi sesuatu?" pikir Yahya. Kemudian menggelengkan kepala dengan kuat,membuang jauh bayangan kejadian buruk yang bisa menimpa Mita diperjalanan karena ia tidak sanggup memikirkan hal buruk terjadi padanya.
"Astaghfirullah...aku gak boleh berpikir buruk."
Rupanya sudah masuk jam makan siang,terlihat dari beberapa orang yang berdatangan untuk makan siang ke restorannya dan mereka yang datang memperhatikannya dengan tersenyum dan mengangguk sambil melewatinya,diapun balas tersenyum dan mengangguk.
Semakin lama semakin banyak yang datang,tidak seperti biasanya. Melewatinya dengan senyuman dan anggukan hingga giliran para barisan gadis-gadis,tampak mereka anak kuliahan sempat-sempatnya mengedipkan mata lalu masuk dengan tawa dan bisik-bisik. Yahya hanya bisa menggelengkan kepala,sudah biasa baginya. Seperti peribahasa ada gula ada semut.
"Mas...hari ini rame yah." ucap Dika,salah satu karyawannya. Yahya tampak bingung,dalam keadaannya ia tidak bisa fokus sama yang lain karena fokusnya hanya Mita.
"Hmmm..." jadi jawabannya cuma deheman.
"Besok-besok mas bos disini aja biar jadi penglaris resto ini,terbukti dengan kegantengan mas bos mampu menarik pelanggan terutama cewe-cewe." arah pandang Dika tertuju pada meja kumpulan gadis-gadis yang dari tadi melirik ke arah mereka dengan tatapan memuja. Langsung disambut jitakan dan dengusan kasar.
"Ah AW AW..." meringis sambil mengelus kepala yang dijitak.
"Kenapa dijitak? Sakit mas bos,kan aku ngomong kenyataan." protes Dika dengan kesal.
"Sekali lagi nyebut aku penglaris aku lempar kamu keluar dari sini." Yahya mengacungkan telunjuk dengan tatapan tajam lalu melengos dan masuk ke restoran yang langsung mendapat perhatian dari gadis-gadis tadi.
"Eh...siapa ya dia?" terdengar bisik-bisik lagi dari meja gadis-gadis itu.
"Aku penasaran banget nih mungkinkah manager atau pemilik resto ini?" sambil membayangkan,betapa beruntungnya bisa mendapatkan cowo ganteng dengan dompet tebal,semua keinginannya pasti bisa terwujud.
"Halu lu ketinggian." salah satunya mencemooh.
"Buruan deh panggil pelayannya laper nih." sahut yang lain.
"Iya nih sama...lupakan cowo tadi meskipun ganteng gak bisa bikin kenyang kalau ngelihatin doang kecuali digesek ATM nya..."
__ADS_1
"Ah...udeh gak penting juga,zaman sekarang penampilan bisa menipu mending cari yang tua tapi berduit dirayu dikit dijamin keluar..." sambil senyum penuh arti.
"Elu kali doyan berondong tua gw mah ogah,kurang ******** hahaha......" dengan tawa terbahak membuat pengunjung lain terganggu dan memperhatikan mereka dengan sorot mata tajam seakan sedang menghujat mereka.
"Ih jorok banget sih ngomongnya!" komentar yang lain,yang ternyata interaksi mereka dalam pengawasan Yahya. Didekatinya meja mereka dengan muka tanpa ekspresi merasa kumpulan gadis-gadis itu sudah keterlaluan,perlu ditegur.
"Permisi...disini tempat makan ya jadi tolong bersikap yang sopan!" tegur Yahya sopan,beramah tamah boleh tapi juga lihat bentukan orangnya,kalau semacam mereka harus tegas supaya tidak diremehkan.
"Oh maaf mas...saya mewakili temen-temen minta maaf atas ketidaknyamanan yang kami perbuat." dengan bertingkah sok manis didepan Yahya.
"Terima kasih atas kerjasamanya." lalu pergi dengan muka datar. Setelah kepergiannya,mereka hanya saling melirik sambil sengol-sengolan tangan. Rasanya memalukan jika langsung pergi setelah membuat keributan jadi mereka memesan makanan.
Ditempat lain,Mita memandang ponselnya yang terus berbunyi tanda pesan masuk. Dengan malas ia membuka ponselnya,beberapa pesan dari Yahya langsung muncul memenuhi layar ponselnya. Matanya bergerak,membaca pesan itu.
"Ya Allah aku lupa." sambil menengok ke arah jam dinding.
"Sudah lewat jam duabelas,artinya sudah azan." Mita langsung meloncat dari kasurnya,berjalan cepat ke kamar mandi.
"Ya Allah begini nih kalau orang terlalu sibuk mikirin dunia kebangetan sampe azan dhuhur gak denger,apa ini bisa disebut orang muslim taat agama..." gumamnya,kesal pada diri sendiri. Setelah melepas semua baju,Mita mulai mengguyur tubuhnya,menyabun seluruh tubuh serta sikat gigi hingga beberapa menit kemudian dia selesai dan bergegas keluar dari kamar mandi dilanjutkan mengambil wudhu.
"Ya Allah aku lupa bales." sambil tepuk jidat lalu menyempatkan membalas pesan Yahya yang ternyata terus mengirim pesan dengan tidak sabar.
"Maaf ya aku lupa bales,gara-gara panik langsung ke kamar mandi. Aku sholat dulu insya Allah habis ini langsung ke sana ngajak Irham." kirim pada Yahya dan Mita bisa bernapas lega. Lanjut sholat dhuhur.
Selesai bersiap,Mita mencari keberadaan Irham dihalaman tidak ada.
"Ke mana anak ini,biasanya nyempil diantara pepohonan sekarang gak ada...coba deh cari ke belakang." gumamnya berjalan cepat ke belakang,mendapati Irham duduk dengan menopang dagu,tampak menyedihkan.
"Ya Allah disini kamu rupanya,kakak cariin." hanya menoleh sekilas dengan cemberut dan wajah lesu. Menyadari kondisi Irham yang begitu menyedihkan karena dirinya,Mita langsung berjongkok.
"Maaf ya aku lupa...sekarang betulan kita berangkat ke restorannya kak Yahya,dia sudah nungguin lama,ayok!"
__ADS_1
"Aku sudah kenyang,gak nafsu makan lagi " ucapnya tidak bersemangat bercampur merajuk. Mita jadi merasa bersalah,mencari ide untuk membujuk Irham supaya mau ikut.
"Ayolah jangan ngambek begitu aku kan sudah minta maaf...aku lupa,nanti aku beliin kaos,mau?" Mita berusaha membujuk Irham yang langsung menggeleng.
"Aku gak nerima sogokan." Mita tertawa mendengar jawaban Irham.
"Memang siapa yang mau menyogok kamu?"
"Ada-ada aja kamu." sambil terkekeh.
"Aku hanya mau menebus kesalahan ku ke kamu." namun Irham tidak bereaksi,hanya diam dengan kepala tertunduk.
"Yakin nih gak mau?" tanya Mita lagi,memastikan Irham tidak mau ikut dengannya.
"Kamu sudah pernah makan kepiting asam manis belum?" Merayu dengan makanan lezat,siapa tahu berhasil.
"Atau bebek goreng?" menawarkan menu lain.
"Ayam goreng?" masih terus berusaha,pantang menyerah.
"Udang goreng?" bujukan terakhirnya tidak membuahkan hasil,Irham tetap tidak bereaksi. Mita menyerah dan menarik napas,terpaksa pergi
sendiri,merasa kasihan pada Yahya yang sudah menunggunya sejak pagi.
"Ya udah aku pergi...jangan nyesel lho ya!" sudah mau balik badan,Irham menghentikannya.
"Aku boleh minta apa aja?" Mita mengerutkan dahi sambil berpikir.
"Tapi kamu harus tahu batasan." Mita memperingatkan dan dibalas anggukan.
"Ok ayok berangkat!"
__ADS_1
"Tunggu aku ganti baju dulu!" dan langsung menghilang.
"Ya Allah nunggu lagi." Mita memutuskan untuk kembali mengirim pesan pada Yahya,memintanya untuk lebih bersabar menunggu kedatangannya.