
Dahiku berkerut dalam,rahasia apa maksudnya?
"Kamu cantik tanpa dandan juga,natural." oh itu maksudnya.
"Awet muda,kulit kamu itu putih."
"Sayang banget yah punya anak cakep kaya kamu tapi terlahir di keluarga kismin ahahaha...." mereka mentertawakan keadaanku yang miskin. Aku terkejut mendengarnya setelah dilambungkan lalu dihempaskan,sakit rasanya.
"Iya coba jadi anak saya pasti sudah saya dandanin diajak perawatan pasti makin cantik paripurna bisa tuh diusahakan jadi artis juga biar punya banyak uang bisa shoping,jalan-jalan ke luar negeri." ucap yang lain sambil tertawa-tawa senang dan aku hanya bisa menarik napas.
"Atau kamu mau saya angkat jadi putri terus bisa nikah sama anak pengusaha atau anak pejabat mungkin bisalah merubah keadaan kamu menjadi lebih baik." ucap yang lain dengan sinis sambil tersenyum mengejek ke arahku.
Jika berada dalam posisi aku akan menjawab apa? Sebagai manusia biasa tentu aku merasakan sakit yang luar biasa tapi aku sadar bahwa marah adalah perbuatan buruk dan merugikan diri sendiri jadi aku berusaha menahan diri dengan mengalihkan fokus pada makanan yang sudah terhidang diatas meja.
"Hmm boleh saya makan makanannya?" pintaku dengan tenang.
"Tentu." dan mereka kembali mengomentari aku kali ini baju yang aku kenakan yang katanya murahan dan tidak tahu seterusnya karena aku berusaha fokus pada rezeki didepanku hingga salah seorangnya menepuk lenganku sambil berkata....
"Kamu ini malah asik makan gak dengerin komentar kami tentang kamu?" ucapnya memandangku dengan kesal. Sampai aku bisa menelan makanan yang ada dimulut sambil menelungkupkan sendok lalu minum air putih beberapa teguk.
Memandang mereka satu persatu tetap dengan tersenyum manis.
"Lalu saya musti bagaimana?" aku balik bertanya pada mereka yang tidak membalas.
"Marah-marah terus balas memaki?" tanyaku dengan tenang,aku berharap ekspresi mukaku sesuai dengan intonasi suaraku,tidak terlihat bahwa aku sekarang mulai agak kesal karena sedang berusaha menahan perasaan supaya tidak terpancing amarah. Mereka saling melempar pandangan.
"Ya kami gak mau lah dimaki sama kamu,sebagai orang yang lebih muda harusnya kamu lebih menghormati kami yang lebih tua kan." memang tidak mau disalahkan.
"Maaf....apa ini artinya yang lebih tua boleh memaki,menghina dan berkomentar buruk pada yang lebih muda?" ku pandangi mereka yang terdiam,ada pula yang melengos kesal seakan tidak bersalah.
"Bukannya yang lebih tua musti memberi contoh yang baik bagi yang muda?" skakmat.
__ADS_1
"Kalau yang lebih tua bisa sesuka hati menghina dan memaki lalu bagaimana yang muda tidak boleh membalas memaki dan menghina orang yang lebih tua?" smash langsung sampai ke dasar,terlihat mereka seperti yang tidak bisa menjawab.
"Maaf bukannya saya menggurui tapi karena anda yang meminta saya bicara...." ucapku sambil menunjuk pada ibu tadi.
"Kami gak menghina kamu....kami hanya berterus terang yah kan daripada kami menghibah kamu dibelakang." masih ngeles juga dan membela diri,aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas.
"Lalu kalau anda semua diposisi saya marah tidak dikomentari kaya begitu?" semuanya diam,kulirik mama Tita sama diamnya malahan hampir tidak bicara sama sekali sejak tadi,tampak merenung.
"Tidak bisa jawab kan?"
"Saya yakin anda semua pasti sakit hati juga kalau diposisi saya." ku senderkan punggung dikursi sambil kembali menarik napas panjang.
"Kalau boleh milih semua orang pasti pengennya jadi orang kaya tapi sekarang coba pikir kalau semua orang punya banyak uang mana ada yang mau bekerja keras,mana ada yang mau jadi art,mana ada penjual sayur dipasar?" sebetulnya aku ngerasa bersalah ngomong kaya gini tapi mereka musti diluruskan lagipula tadi ada yang memintaku bicara kan.
"Allah menciptakan segala sesuatunya bukan tanpa tujuan...."
"Inilah tujuannya supaya hidup seimbang." ucapku sambil menekan setiap kata dengan yakin.
"Wanita karir yang sibuk bekerja diluar kalau sudah sibuk mana sempat bersih-bersih rumah bahkan masak pun katanya tidak sempat pada akhirnya punya art kan?"
"Betul tidak?" mereka masih bungkam,aku kembali menarik napas panjang.
"Maka dari itu jangan merendahkan keadaan orang lain....itu termasuk kesombongan,Allah tidak suka maaf takutnya Allah mencabut nikmat harta yang dititipkan,apakah anda semua sanggup hidup seperti saya?" mereka langsung kaget dan spontan menggelengkan kepala....
"Amit-amit deh...." ekspresi mereka tampak ketakutan dan gelisah,aku jadi ingin tertawa tapi ditahan.
"Bukan amit-amit tapi mustinya istighfar...."
"Hati-hati biasanya orang yang menghina keadaan orang lain bisa berbalik pada diri sendiri." nanggung basah sekalian didorong biar kecebur sekalian.
"Aah jangan nakut-nakutin dong!" protesnya.
__ADS_1
"Iya nih." aku tersenyum,dalam hati sudah jingkrak-jingkrak kesenangan melihat kekalahan mereka.
"Ibu...." panggilanku langsung diprotes.
"Panggil mami!" ucapnya tegas.
"Iya Mami...." mengalah sajalah daripada berkepanjangan.
"Orang miskin selalu dianggap tidak bernilai tapi didunia ini orang miskin paling berjasa."
"Tanpa petani kita tidak bisa makan nasi ataupun sayur."
"Tanpa peternak ayam,bebek dan sapi kita tidak bisa makan daging ayam,daging bebek dan telurnya,tidak bisa makan daging sapi."
"Tanpa ada nelayan kita tidak bisa makan ikan dan hewan laut lainnya."
"Dan mami tahu....antara kerja keras dan hasil yang didapatkan seringkali tidak sebanding,banyak lelahnya kalau saya bilang." mereka tampak terdiam sambil berpikir panjang.
"Saya ngomong begini karena saya mengalami sendiri susahnya,saya peternak ayam juga...." tanpa sadar aku kelepasan bicara,terbawa suasana dan langsung menutup mulut.
"Jadi kamu peternak ayam?"
"Ah iya...." jawabku sambil garuk kepala yang tidak gatal.
Usai sudah percakapan kami dilanjutkan makan dalam diam. Tidak tahu kenapa tapi mereka jadi tidak banyak bicara dan lebih banyak diam hingga selesai makan mama Tita memecah keheningan....
"Maaf jeng....sebetulnya Mita ini calon menantu saya...." ucap mama Tita agak ragu dan disambut reaksi terkejut dari mereka. Dan apa yang aku rasakan adalah kelegaan,mama sudah mau mengakui aku sebagai calon menantu.
"Tadinya saya malu sama keadaan Mita tapi sekarang saya sadar saya salah....tidak mudah mendapatkan menantu yang bisa menghormati orang yang lebih tua meskipun sudah dihina dan saat bicara pun dia tetap sopan tidak dengan suara yang keras,hal itu membuat saya bangga pada calon menantu saya ini....." airmata mama perlahan mengalir.
"Ma....jangan....tidak boleh bangga dengan yang Mita perbuat!" ucapku sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Karena ini sudah tugas Mita sebagai manusia yang harusnya melakukan sesuai syariat agama dan atas seizin Allah." mana boleh membanggakan diri.
"Maafin mama sayang...." dipeluknya tubuhku dengan erat sambil mengelus punggungku penuh sayang layaknya anak sendiri dan ini bagian dari kesenangan yang aku dapatkan hari ini....Alhamdulillah.