Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 89 Menang banyak Alhamdulillah


__ADS_3

"Oalah disini kamu dek,aku cariin dari tadi juga. Banyak orang tolong bantuin layani mereka. Eh bentar-bentar itu anak-anaknya si Wiwik sudah besar besok pindah ke belakang biar proses perkembangbiakan. Itu si Paijo kayanya sudah ngebet gak betah lama-lama jablay. Lihat gayanya kaya mau terbang menembus kawat pembatas. Untung dipisahin kalau enggak kasihan anak-anaknya ngelihat adegan porno orangtuanya." Adnan langsung pergi tidak kuat lagi menahan tawa setelah mendengar bahasa Mita mengomentari ayam-ayamnya.


Setelah itu mereka berdua beranjak pergi menuju ke depan lalu melayani beberapa orang yang bertanya.


"Saya ambil semua tapi dikurangi yah harganya?"


"Yah sudah 60 ribu Bu."


"Dikit banget mbak turunnya?"


"Kan dirawat,butuh biaya perawatan biar cantik kaya ibunya. Hitung-hitung sedekah buat yang ngerawat tanamannya. Insya Allah berkah aamiin..." Adnan melongo mendengar cara Mita meladeni pembeli,perlu diacungi jempol. Terdengar ramah dan tidak menyinggung. Memang kalimat baik akan menghasilkan kebaikan juga.


"Mbak bonsainya berapa itu?" tanya yang lain.


"Yang mana pak?"


"Itu." tunjuknya pada tanaman bonsai Yahya.


"Itu bukan punya saya pak sebetulnya punya temen saya yang dulu sempet kerja disini."


"Bagus itu mbak saya tertarik membelinya dengan harga tinggi."


"Memang mau beli dengan harga berapa pak?"


"300 ribu." ucap bapak itu bangga. Mita langsung kaget tapi berusaha santai biar bisa naikin harga.


"Tambahin yah pak jadi 400 ribu!"


"Kemahalan mbak saya gak berani kalau segitu." tolak bapak itu.


"Bapak ngapain duit segitu banyak cuma buat beli bonsai mending buat beli skincare biar ibu makin cantik dan kinclong." istrinya ikut nimbrung dengan sewot.


"Tuh kan pak,ibunya aja biar makin cantik beli skincare sama dong sama tanaman ini butuh perawatan juga."


"Ibunya beli skincare berapa?"


"Seratus ribu." jawab ibu itu jutek.


"Buat berapa hari?"


"Yah tergantung pemakaian lah mbak." sewot lagi tapi disemyumi saja sama Mita.


"Normalnya buat berapa hari?"

__ADS_1


"Gak sampe sebulan kalau tiga kali sehari."


"Nah kan pak sama. Bonsai ini sudah dirawat hampir empat bulan. Butuh kawat untuk membentuk,dipupuk,disiram perlu waktu,keahlian,kesabaran dan tenaga. Enakan mana sama yang beli? Bapak langsung bisa menikmati hasilnya yang cantik,enak dilihat dan bonusnya menghasilkan oksigen juga."


"Bisa aja sih mbak,taneman segala dipikirin dibiarin juga gak akan protes." ucap ibu itu meremehkan.


"Iya betul ibu tanaman memang gak bisa protes karena gak bisa bicara tapi sebagai manusia yang berakal apakah tega tanaman dibiarkan merana lalu mati kurang nutrisi? Coba bayangkan kita sebagai tanaman,gak dikasih makan sama minum? Bagaimana rasanya?"


"Allah menciptakan tumbuhan bukan untuk merugikan justru bermanfaat untuk kita. Perlu dirawat untuk menghasilkan oksigen yang bagus. Coba gak ada tanaman kita bernapas pake apa?" Adnan tercengang melihat bakat debat halus Mita sampai tidak sadar anaknya sudah tertidur dengan kepala menunduk.


"Beli yah Bu cuma 400 ribu mahalan skincare sama peralatan make up ibu daripada bonsai ini yang bisa bapak nikmat oksigennya."


"Terserah bapak,ibu mau jajan." jawab ibu itu jutek. Matanya tertuju pada kerumunan orang diteras.


"Itu jualan apa mbak?" Mita menengok sekilas.


"Kue basah,nasi pecel,kerupuk pecel,gorengan,es kelapa muda,snack ringan dan minuman dingin." langsung melesat ikut antri.


"Teh anget,teh panas,kopi juga ada." teriak Mita supaya didengar sama yang lain.


"Dek kemahalan harganya!" bisik Yahya tepat disebelahnya membuat Mita kaget langsung mengurut dada.


"Ngagetin,sejak kapan disitu?"


"Kak Yahya minta berapa?"


"Harga normalnya"


"Iya berapa?"


"200 ribu."


"Nih 200 ribu." Mita memberikan dua lembar uang seratus ribuan padanya yang terlihat bingung.


"Yang 200 ribu aku bagi sama pak Darman,pak Bowo,Irham sama emak pas jadinya." Mita beranjak pergi meninggalkan Yahya yang masih bengong.


Sekarang Mita membantu emak,Dani dan Hafiz yang kewalahan meladeni pembeli. Mereka bagian konsumsi.


"Bapak ibu adakah yang memesan kopi,teh panas,teh anget atau es teh." Mita menawarkan. Dani dan Hafiz melotot mendengarnya.


"Saya kopi."


"Saya teh anget satu,teh panas satu kalau ada teh tawar satu."

__ADS_1


"Saya kopi sama es teh."


"Saya es kelapa muda." Mita bingung sendiri mendengar orang-orang berebut memesan minuman.


"Kak Yahya..." Mita melambaikan tangannya.


"Tolong catat semua pesanan aku buatin dibelakang!" bisiknya pelan. Benar-benar otak bisnis tidak ada yang terlewatkan.


Di dapur Mita mulai memasak air lalu mencari keberadaan gelas dan tatakannya lengkap sama tutupnya. Dia ingat punya gelas besar. Stok kopi saset sama teh juga banyak jadi ide gila langsung muncul. Aji mumpung.


Gelas cukup digosok ringan terus diguyur air,habis itu dilap. Siap digunakan. Gerakannya yang cepat mudah terselesaikan langsung dibawa ke depan.


"Teh panas silahkan ambil sendiri tapi hati-hati yah kena kulit melepuh." kloter pertama.


"Teh anget silahkan ambil sendiri!" kloter kedua.


"Kopi sama teh tawar silahkan ambil sendiri!" kloter ketiga. Beberapa menit kemudian ludes.


"Es kelapa mudanya mbak belum." celetuk yang lain. Mita bergerak cepat.


"Minggir kalian biar aku yang racik!" Tidak pakai lama dalam sekejap sepuluh gelas berhasil ia buat.


"Kak Dani nih bawa ke sana biar pada ambil sendiri." Orang-orang berebut mengambil es kelapa muda.


"Gini dong rasanya pas,seger pula. Yang tadi ngalor ngidul." komentar salah satunya. Hafiz dan Dani mendengus sebal.


"Nasi pecel Mak,dua." ini tetangga sendiri ikutan beli.


"Nasi pecel habis tinggal kerupuk pecel." jawab emak.


"Iya Mak itu aja sama es kelapa mudanya empat."


"Maaf Bu es kelapa mudanya habis."


"Yah...yang lain?" ucapnya kecewa.


"Es teh mau?"


"Iya...tapi besok pesen es kelapa muda yah."


"Insya Allah."


Rezeki tak terduga. Iseng-iseng tapi luar biasa hasilnya. Menang banyak Alhamdulillah.

__ADS_1


tampak beberapa motor masuk untuk parkir.


__ADS_2