Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 64 Poligami


__ADS_3

Dani POV


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku terus memeluknya erat. Ada perasaan takut dia meninggalkanku saat ini juga.


"Dek sadar!" akhirnya pertahanan ku kembali runtuh melihatnya gak sadarkan diri,wajahnya semakin pucat dan lemah. Aku panik dan khawatir,bagaimana jika ia meninggalkanku seperti bapak dan ibu? Aku menepis semua pikiran burukku dengan menggelengkan kepala kuat.


"Dek...tolong...sadarlah...srook." ucapku terbata sambil terisak. Airmata sudah gak terbendung lagi,mengalir dengan deras. Bahkan hidungku tersumbat sampai sulit bernapas.


"Pak tolong lebih cepat!" teriakku gak sabar. Aku ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada satu-satunya keluarga yang aku miliki didunia ini. Aku takut hidup sendirian.


Aku langsung turun begitu sampai di rumah sakit lalu masuk ke dalam mencari perawat.


"Sus...tolong adik saya pingsan!" teriakku kepada seorang suster yang langsung memanggil teman-temannya dengan mendorong brankar dengan cepat.


Lalu semua orang yang ada disitu membantu memindahkan Mita ke atas brankas.


"Mas ongkosnya?" sopir itu mengingatkan ku belum membayar ongkosnya. Hela napas panjang.


"Berapa pak?"


"Lima puluh ribu." merogoh saku celana yang ku dapat struk pembelian dari mini market.


"Ya Allah..." kenapa disaat genting begini aku sampai lupa membawa uang,dimana dompet ku? mengecek semua saku dan aku ingat ada di tas punggungku.


"Apa bapak bisa menunggu dulu?" tanyaku ragu takut beliau marah. Bagaimanapun juga beliau kerja sama orang sudah pasti harus setor.


"Saya lupa gak bawa uang..." bapak itu terlihat bingung.


"Sebentar saya akan telpon teman saya dulu!" melihat kontak hanya satu dipikiranku...mas Yahya. langsung ku tekan nomer kontaknya.


"Keluarga pasien perempuan!" seorang suster berteriak dipintu UGD sambil celingukan. Ya Allah aku hampir gila saking bingungnya mana yang harus aku dulukan. Aku terpaksa mematikan telepon.


"Ya suster..." balasnya berteriak yang disambut senyuman.


"Pak mohon tunggu dulu ya! Maaf sudah merepotkan!" aku menunduk lalu berjalan cepat menuju ruang UGD.


"Keluarga pasien?" ku tahu namanya suster Sari melalui nametag nya.


"Iya saya sus..." suster Sari menatap ku lekat seperti sedang menyimpan rupa ku didalam memori otakku. Aku mengerut heran.


"Nama pasien siapa?" tanyanya sambil memasang alat pengecek tekanan darah dilengan kiri adikku.

__ADS_1


"Sasmita Mahasma Rani."


"Usia?"


"20 tahun."


Aku kaget,saat tiba-tiba hp ku berbunyi menandakan panggilan masuk tertera nama mas Yahya.


"Sebentar sus!" langsung angkat telepon.


"Waalaikum salam...mas tolong Mita masuk rumah sakit dan aku lupa gak bawa uang dan dompet."


"Didepan juga ditunggu sama sopir grab...belum ku bayar." jawabku panik dan bingung.


"Ya makasih...aku tunggu!"


"Maaf merepotkan."


"Waalaikum salam..." aku bisa sedikit lega. Akan ada bantuan hanya saja masih harus menunggu. Aku lalu menoleh ke arah suster Sari ingin meminta waktu sebentar.


"Iya saya sudah mendengar." ucap suster Sari tanpa mengalihkan pandangan,masih fokus memeriksa keadaan Mita. Aku bersyukur semuanya dimudahkan sama Allah.


"Tekanan darahnya rendah hanya 90,apakah pasien mengeluh pusing?"


"Kok gak tahu?" tanyanya heran.


"Saya kerja."


"Oh..." suster Sari mengangguk paham.


"Memang dirumah ada siapa saja?" tanyanya lagi.


"ART..."


"Orang tua?"


"Sudah meninggal."


"Maaf..." dia menoleh padaku dengan tatapan iba.


"Mungkin nanti akan dilakukan tes laboratorium tapi nunggu perintah dari dokter." aku langsung tegang saat suster Sari mengatakan tes laboratorium.

__ADS_1


"Maksudnya cek darah? diambil darahnya?" tanyaku ragu.


"Iya."


"Karena demamnya terlalu tinggi 39,4 derajat untuk mengetahui penyebabnya."


"Pasien siapanya masnya?" pertanyaannya terdengar aneh 'siapanya masnya?' mungkin jika keadaannya gak begini pasti terdengar lucu.


"Adik saya." jawabku sopan,bagaimanapun juga suster Sari telah membantuku.


"Masnya masih single?" apa-apaan ini kenapa yang lain ikutan berjejer dan bertanya begitu sambil senyum-senyum. Aku diam merasa gak perlu menjawab karena itu urusan pribadiku bukan untuk dipublikasikan.


"Sombong amat sih!" ucap salah satunya sewot.


"Iya..." lainnya menjawab jutek.


"Untung ganteng...jelek ogah aku." melihat mereka aku menggelengkan kepala.


"Jadi single apa gak?" ngeyel orangnya. Tipe cewe agresif. Cantik-cantik menjatuhkan harga diri.


"Jawab dong!" tuh kan makin mepet-mepet. Aku sempat melirik muka suster Sari yang berubah kesal.


"Tolong jangan ribut kasihan pasiennya!" sela suster Sari dengan ekspresi datar.


"Jadi single apa gak?" bisiknya masih penasaran rupanya. Tiba-tiba aku punya ide jahil.


"Doble..." jawabku asal.


"Hah..." teriak mereka kaget dan langsung dapat pelototan kesal dari suster Sari.


"Maaf..." ucap salah satunya mewakili sambil nyengir.


"Maksudnya apa?" masih juga penasaran.


"Punya istri dua?"


"Poligami?" mereka langsung cemberut padahal aku gak jawab apa-apa. Mereka berasumsi sendiri.


"Males ah dipoligami..." langsung ngeloyor pergi.


"Apalagi aku..." terus disusul yang lain ikut pergi. Aku bisa bernapas lega.

__ADS_1


"Memang beneran punya dua istri?" suster Sari rupanya penasaran juga. Aku hanya tersenyum.


"Ucapan itu doa jadi saya diam saja." suster Sari tersenyum sambil geleng kepala.


__ADS_2