Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 33 Saingan disetiap belokan


__ADS_3

Mita makan dengan tenang. Didepannya ada Pak Yahya yang menemaninya masih hening karena menunggunya selesai makan.


Mita selesai lalu meminggirkan alat makannya ke samping dan minum air mineral yang ia ambil dari lemari pendingin di area kantin tempatnya makan.


"Maaf ya pak...kak Dani suka asal ngomongnya masak adik sendiri di suruh bawa orang kaya barang aja..." gerutunya agak kesal dengan sikap kakaknya yang sebenarnya dia tahu hanya ingin melindunginya. Tapi dia kan malu sama gurunya itu.


"Gak pa-pa...kakak mu cuma ingin melindungi mu..." jawabnya sambil tersenyum tipis lalu mendorong amplop putih ke depan Mita.


"Apa ini pak?" tanyanya sambil membuka amplop itu,dia berharap bukan uang lagi. Dia kaget setelah melihatnya,tawaran beasiswa melanjutkan kuliah mendadak langsung lemas. Mita menari napas panjang.


"Bukan saya gak mau pak tapi bapak bisa lihat sendiri keadaan saya...biaya kuliah memang gratis tapi untuk yang lain seperti buku dan lain-lain...saya gak mau terlalu membebani kakak saya." ucapnya sedih.


"Sebelum ini saja kak Dani gak punya waktu buat saya hingga akhirnya sakit begini karena kuliah sambil kerja apalagi nanti kalau misalnya saya menerima tawaran ini bisa-bisa dia terus kerja tanpa henti."


"Tapi sayang sama nilai kamu..."


"Sayang seribu sayang pak tapi kalau harus mengorbankan kakak saya..."

__ADS_1


"Saya gak bisa ngebayangin lagi ada yang lebih parah dari ini. Kak Dani satu-satunya keluarga saya..."


"Saya bisa biayai kuliah kamu..." apa-apaan ini bagi orang lain mungkin kebahagiaan tapi baginya malapetaka pikirnya. Hidup diatas belas kasihan orang ini namanya.


Mita menatapnya sekilas lalu menunduk sambil menggelengkan kepala.


"Ya nanti bisa kamu hitung sebagai hutang mu pada saya..." Mita kembali menggelengkan kepala.


"Atau kuliah sambil kerja juga..." menawarkan opsi terakhir. Mita menarik napas.


"Untuk saat ini saya belum bisa mikir apa-apa...fokus saya sekarang adalah kesembuhan kak Dani."


"Ya...saya dukung keputusan mu tentunya kamu lebih tahu apa yang terbaik untuk mu sendiri..." Mita tersenyum sambil menatapnya dan itu membuat jantungnya berdebar seperti ada panah yang menembus hatinya.


"Tolong pak jangan beritahu kak Dani soal ini!" Yahya mengangguk.


"Aneh saya bisa senyaman ini bicara sama bapak..." dia kembali meneguk air mineral.

__ADS_1


"Mungkin karena pembawaan tenang dan santai bapak jadi bisa enak ngomongnya...memberi saran tapi gak memaksa..." Mita mengernyit lalu tersenyum lagi. Yahya seperti terhipnotis padahal tidak ada yang spesial dari kalimatnya hanya sekedar curahan hati bukannya ungkapan cinta.


"Alhamdulillah bisa lepas begini setelah bicara sama bapak...makasih sudah dengerin celotahan gak penting saya." Yahya bahagia melihat Mita bahagia ternyata bahagia itu sederhana.


"Mita...kamu dirumah sakit mana?" Ita mengirim pesan jangan-jangan mau menjenguk juga pikirnya.


"Rumah sakit umum ruang Seroja no.3..." dan kirim. Yahya melihatnya tapi tidak ingin bertanya siapa bukan urusannya juga kan tidak baik terlalu ikut campur.


"Apa bapak mau pulang sekarang?" Yahya menggeleng.


"Kan belum jengukin kakak kamu tapi saya lupa gak bawa apa-apa..."


"Gak penting itu pak...doain cepat sembuh aja."


"Ayo pak ada yang mau datang lagi saya mau urus yang di dalam,keramean takut mengganggu ketenangan dan dimarahin susternya..." ucapnya sambil berjalan mendahului diikuti Yahya dari belakang. Ternyata di tengah perjalanan bertemu juga sama Hafiz yang menenteng kantong ditangan kanan dan kiri.


"Mita...kamu sama dia?" sudah mulai terlihat bau-bau tidak senang beruntung Yahya orangnya tenang. Mita menarik napas,biar diatur sama Allah urusannya masih banyak.

__ADS_1


"Duluan ya..." melihat Mita yang tergesa-gesa Hafiz mengejarnya. Yahya menarik napas dan menggelengkan kepala.


"Saingan disetiap belokan...sungguh perjuangan berat." Entah untuk Hafiz atau untuk dirinya sendiri,yang pasti ada perasaan tidak rela saat Mita didekati pemuda-pemuda itu.


__ADS_2