Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 91 Penyesalan


__ADS_3

Adnan keluar dari kamarnya sambil menggendong si bayi yang tampak masih malas efek baru bangun tidur jadinya kepala ditempelkan ke dada bapaknya.


"Aku pulang yah!" pamit Adnan,tidak tahu pamit sama siapa? Tanpa menyebutkan nama. Pada bingung kan jadinya tidak ada yang jawab seperti diacuhkan sama orang.


"Kak Dani ajak mas Adnan nya makan dan adek sini ikut kakak biar ayahnya makan siang dulu!" Mita mendekat dan langsung mengambil alih tanpa Adnan sempat mencegah. Dan si bayi diam saja saat beralih tempat,kepalanya nemplok ke bahu Mita yang terlihat nyaman.


"Gak usah aku makan dirumah saja." tolaknya halus. Alisnya terangkat,merasa heran dengan perubahan sikap Adnan yang berubah lembut padanya.


"Gak pa pa makan di sini mereka semua tadi juga makan disini. Ini termasuk menjamu tamu dan akan menjadi keberkahan buat hidup aku. Jadi berikan aku kesempatan untuk mendapatkan keberkahan hidup." ucapnya sambil tersenyum dan Adnan seperti terhipnotis,melihat ketulusan Mita mampu meluluhkan hatinya.


"Iya mas...kapan lagi bisa makan di rumah kami sekalian mencicipi rasa telur ayam kampung yang aku jamin beda,pasti ketagihan." sahut Dani dan Adnan mengangguk kemudian berjalan mengikuti dibelakang Dani setelah sebelumnya melihat sekilas putranya yang ternyata nampak nyaman dipelukan Mita.


"Kita duduk yah dek!" memposisikan badan si bayi miring dengan kepala bertumpu dilengannya.


"Masih ngantuk yah?" ucapnya sambil tersenyum karena si bayi terus menatapnya.


"Bobo lagi gih!" Mita mengusap dahi si bayi dengan jarinya berharap si bayi kembali tertidur.


"Eh iya...mbak-mbknya duduk deket aku sini jangan duduk campur sama mas-masnya biar enak ngobrolnya." alasan Mita padahal niatnya pengen memisahkan yang bukan muhrim. Eh mereka malah saling pandang. Maklum belum saling kenal canggung jadinya.


"Udah sono!" si cowo terkesan mengusir yang ditanggapi dengusan sebal.


"Ini temen satu kerja sama kak Dani?" tanya Mita sekedar basa basi yah untuk mencairkan suasana.


"Mereka berdua iya satu kerjaan,aku adiknya." tunjuk si cewe berambut lurus dikuncir satu kepada pria tadi yang mengusirnya. Pantesan kasar rupanya adiknya toh. Mita tersenyum.

__ADS_1


"Kalau bukan dipaksa sama ibu buat ikut kak Rahmad sekalian beli buku mana mau aku...eh malah diajak ke sini aku kan pengen pulang ada tugas sekolah yang belum dikerjain." sambungnya dengan muka cemberut. Jelas jika hubungan mereka tidak akur.


Mita memilih mengalihkan pembicaraan sambil kemudian mengarah ke Ita.


"Ita...tumben ke sini ada apa?" bukan pertanyaan sebetulnya lebih ke memancing Ita bicara supaya jelas niat Ita apa menemuinya dari tadi diam saja. Setelah melihat kesedihannya tadi,datang-datang langsung menangis jelas ada apa-apa. Ita terlihat bingung dan ragu-ragu tapi Mita menatapnya,meyakinkannya untuk bicara jujur.


"Bisa gak aku ikut kerja sama kamu?" Mita tersenyum.


"Kamu yakin mau kerja sama aku,kamu tahu kan kerjaan disini lumayan berat,untuk gaji juga aku gak bisa kasih banyak. Lagian bukannya kamu masih kuliah,kenapa gak fokus kuliah dulu baru cari kerja yang enak. Bukannya nolak tapi aku gak tega sama kamu." jelas Mita dan Ita menunduk sedih.


"Ada apa? Kamu punya masalah?" Ita memandang sekitar lalu ke arah Mita sambil mengelus perutnya sebagai kode memberitahu keadaannya. Mita langsung syok tapi cepat mengendalikan diri.


Mita menyesal,merasa apa yang dipikirkannya dulu seakan menjadi doa untuk sahabatnya sendiri. Padahal bukan niatnya. Dia hanya terpikir setelah melihat sikap pacar Ita yang suka pegang-pagang badan lawan jenis jelas bukan pria baik-baik.


"Adeknya bobo nanti bangun lagi." balas Mita berbisik. Adnan mengurungkan niatnya lalu duduk bersama yang lain.


"Sekarang aku gak punya pilihan,semua terasa berat bagiku. Ibaratnya mau ke depan,ke belakang,ke samping kiri ataupun kanan terlihat samar jadi aku memilih untuk terus maju ke depan." Mita kaget dengan kejujuran Ita didepan semua orang bukannya itu akan membuat semua orang bertanya-tanya.


"Aku ingin mengejar sesuatu yang lebih baik dan aku gak mau jadi pengecut. Aku lelah meratapi apa yang telah terjadi. Tolong bantu aku Mit..." sambungnya memohon dengan linangan air mata.


"Tolong jangan begini! Aku bukan Tuhan!" Mita menggeleng kuat.


"Kalau untuk kerjaan insya Allah aku bisa bantu tapi tolong jangan menghiba kaya gitu aku hanya manusia biasa."


"Memangnya dia ke mana? Dalam kondisi seperti ini harusnya kamu gak bisa kerja berat Ta..." jawabnya ikut merasa sedih.

__ADS_1


"Kalian ngomong apa sih? Bikin pusing kepala aja! Gak jelas. Memangnya ada apa sama Ita?" Dani menimpali.


"Aku hamil kak!" jawab Ita jujur. Semua orang sontak kaget.


"Ita..." suara peringatan dari Mita,meminta Ita berhenti bicara didepan banyak orang.


"Hah...sama siapa? Kok aku gak tahu kapan nikahnya?" situasi sedang sedih Dani malah bicara lelucon. Mita rasanya pengen getok kepala kakaknya.


"Gak pa pa Mit...ini biar jadi pelajaran buat yang lain,cukup aku saja yang merasakan jangan ada lagi..."


"Aku yang berdosa melakukan zina hingga hamil. Terbuai oleh nafsu yang ternyata benar-benar menghancurkan hidupku. Yang awalnya ku rasakan bahagia kini berakhir duka."


"Kami memang sudah menikah tapi dia gak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yang harusnya menafkahi aku,istrinya. Dia pulang ke rumah aku hanya untuk melampiaskan hasratnya gak peduli sama keadaanku yang sedang hamil muda setelah itu pergi lagi...hiks hiks..."


"Aku seperti pelampiasan nafsunya...hiks hiks..."


"Dulu dia terlihat sangat menyayangiku,terus membujukku melakukan itu hingga aku luluh dan menyerahkan semuanya dan itu berkali-kali. Pada saat itu aku seperti dimabuk cinta,terlalu menikmati hubungan yang gak semestinya hingga aku hamil. Aku pikir dia akan senang mendengarnya mengingat kami melakukannya suka sama suka namun dia hanya lelaki baj********. Setelah puas dia menganggap ku seperti sampah yang gak berguna...hiks hiks..."


"Sudah Ta sudah...jangan diterusin!" Mita tidak kuat mendengar ceritanya. Dia sampai menangis,ikut merasakan penderitaan Ita.


"Aku malu terus bergantung sama orang tuaku. Aku ingat papa sama Mama sudah ngelarang hubungan kami tapi aku ngeyel,aku ngerasa dia yang terbaik untukku dan yakin bisa membahagiakan aku yang ternyata perasaan aku dulu berakhir seperti mimpi yang indah. Aku menyesal...aku menyesal gak ngedengerin nasehat orang tuaku...hiks hiks..." Ita menangis terisak sambil menutup mukanya dengan tangan.


"Aku sadar yang ku terima adalah balasan dari perbuatan burukku jadi aku berdoa semoga aku bisa belajar menerima dengan lapang dada. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ku. Sekarang aku ingin menjadi orang yang kuat. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dihadapan Allah."


"Aamiin...." Mita adalah orang pertama yang mengaminkan doa Ita.

__ADS_1


__ADS_2