
Pada akhirnya semua permasalahan terselesaikan seiring dengan berjalannya waktu. Kita saja yang sebagai manusia terburu-buru dalam berpikir,tidak sabaran akhirnya muncul prasangka buruk pada Allah. Padahal Allah sudah menyiapkan jalan keluar tinggal menunggu usaha kita...apakah terus berusaha dengan memilih jalan yang baik atau malah sebaliknya?
"Mita main yuk ke rumah ku?" Mita berpikir untuk menerima atau menolak ajakan Ita untuk main ke rumahnya mengingat sampai rumah pun dia pasti kesepian mau main ke rumah Bu Indah malas harus berurusan dengan Hafiz,cowok resek yang suka memainkan emosinya. Sebentar menunjukkan perasaan seolah menyukainya tapi seperti main-main setelahnya.
Mita tidak mengharapkan itu,dia lebih senang dianggap keluarga karena selama meninggalnya orangtuanya ia menahan perasaannya yang kadang sangat rapuh dan ingin menangis tapi tidak ada bahu yang bisa dibuat sandaran.
"Ok deh..." Ita senang mendengarnya segera setelah Mita membonceng dijok belakang dia melajukan motornya dengan kecepatan rendah. Mita mengernyitkan dahi bingung dengan kelakuan Ita yang mengendarai motor mengalahkan kura-kura. Kalau begini kapan sampainya pikir Mita.
"Ini kenapa jalannya pelan amat?" tanya Mita sambil mendekatkan diri ke Ita supaya suaranya terdengar.
"Biar kamu puas ngelihat jalanan sini sudah banyak berubah kan?" Mita melongo mendengar alasan Ita yang terdengar konyol tapi masuk akal juga.
"Heem..." Mita menutup mulut sambil terus menikmati pemandangan yang seperti berjalan dan menghentikan Ita saat melewati sebuah masjid tua. Dia ingin masuk ke sana.
__ADS_1
"Apaan?" Mita mengerem motornya mendadak.
"Kita ke masjid itu." perintah Mita menunjuk masjid yang telah terlewati. Ita terpaksa memutar jalan menuruti keinginan Mita yang menurutnya cukup aneh untuk seorang remaja harusnya ke taman atau mall ini ke masjid tua.
"Ngapain sih ke sini?" tanya Ita heran langsung mendapat toyoran dari Mita komplit dengan pelototan.
"Kamu pikir sendiri ngapain ke masjid kalau bukan sholat? Masya Allah disini adem,tenang,nyaman coba rentangkan tangan mu seperti ada energi positif masuk ke seluruh tubuh." ucap Mita yang tersenyum puas sambil merentangkan tangannya seolah sedang berada di kapal Titanic,memalukan pikir Ita yang mendengus sebal.
"Hati-hati...perhatikan tangan mu ntar kena kepala orang baru tahu rasa." ucap Ita setengah menyindir dan ia pun menarik napas,mengalah saja dari pada merusak kesenangannya,ibarat pepatah'biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu"bukannya ini seperti Ita diibaratkan anjingnya? Kalau orangnya tahu pasti ngamuk.
"Ogah kamu aja." jawabnya malas sibuk dengan hp ditangannya. Mita tidak ambil pusing dia melangkah lebih dalam ke masjid dan Masya Allah terasa sangat sejuk,jiwa langsung tentram. Setiap bacaan sholat yang ia baca terasa khusuk dan mengena dihatinya. Pikirannya pun bisa tertuju pada sang pencipta. Inikah masjid yang dibangun setulus hati auranya menenangkan jiwa dan raga pikir Mita.
"Lama amat?"
__ADS_1
"Tidur ya?"
"Aku tinggal nih ya!"
itu semua pesan yang dkirimkan padanya yang langsung bisa membayangkan muka merajuknya Ita setelah satu jam ditinggal menikmati suasana masjid jelas Ita sampai mengancamnya. Mita buru-buru keluar dari Masjid sambil tersenyum jenaka.
"Akhirnya...." nampak Ita menarik napas lega terus menatap tajam ke arahnya melampiaskan kekesalan lalu mendengus sebal.
"Kok marah sih? gak ikhlas nih gak jadi dapat pahala lho tadi sudah ku mintain sama Allah buat kasih kamu pahala karena sudah nganterin dan nungguin aku ke sini." Ita memalingkan muka menolak bujukan Mita.
"Lagian kenapa gak ikut masuk,belum sholat kan?" Dia tetap diam sepertinya marah beneran.
"PMS...pantesan nunggu dipinggir takut dosa ya?" mendengar kata dosa Ita tiba-tiba jadi merasa bersalah selama ini dia memang jarang sholat karena orangtuanya juga begitu.
__ADS_1
Ita menarik napas panjang lalu menundukkan kepala seperti sedih tapi Mita tidak berani bertanya lebih jauh.
"Sekalian nunggu adzan kita sholat asar sama-sama!" ucapnya pelan dan Mita melongo bingung dengan ucapan Ita yang menurutnya ambigu,tidak sholat dhuhur tapi mengajak sholat asar. Ita...mungkinkah dia mendapat hidayah pikir Mita