Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 105 Belum waktunya


__ADS_3

Berita tersebut telah terdengar sampai ke telinga Bu Indah yang langsung menemuinya sebelum sempat ia menelpon Yahya mengabarkan tentang kebocoran lamarannya.


"Bener Yahya sudah melamar kamu?" tanya Bu Indah mengintimidasi dan Mita masih ragu untuk menjawab tapi beliau mendesak akhirnya Mita menjawab dengan anggukan lemah. Diluar dugaan beliau terlihat bahagia,wajahnya ceria. Berbanding terbalik dengan kondisi putranya Hafiz yang tengah patah hati.


"Kalau gitu ibu akan mengabari mamanya Yahya." mendengarnya Mita langsung panik lalu mencegah.


"Jangan!"


"Kenapa?" tanya beliau heran.


"Mita belum bisa memberikan jawaban." Bu Indah mengangkat alis.


"Apalagi yang kamu tunggu?"


"Aku masih bingung Bu." jawabnya jujur.


"Biasalah karena kalian belum berhubungan dengan serius jadinya ragu-ragu mau mulai."


"Yahya itu anaknya baik kok dan tenang,insya Allah kalian bisa bekerjasama." Mita membenarkan ucapan Bu Indah. Yahya memang tenang orangnya malah banyak membantu saat dia punya masalah seakan Allah sedang berusaha mendekatkan keduanya.


"Kamu tahu gak? Ibu seneng kalau kamu beneran nikah,jadi ada yang jagain kamu dan ibu gak kepikiran pas nanti kamu pindah dari sini." Mita langsung panik takut didengar orang lain soalnya dia belum memberitahu Dani yang pasti akan marah padanya.


"Sttt...Bu jangan keras-keras!" Bu indah mengangguk.


"Kamu tahu kan disana gak banyak tetangganya,sepi. Apa kamu gak takut?" bisik beliau.


"Kan ada emak."


"Tetep aja,kalian disana tanpa laki-laki." Mita membenarkan hal itu tapi untuk bertahan satu rumah dengan Nuri,dia sudah tak sanggup. Makan hati terus apalagi pas denger jadi omongan orang. Tidak hanya dia sendiri,Dani pun difitnah katanya tidak pernah memberi uang bulanan. Ya Allah istri macam apa dia memfitnah suaminya sendiri untuk menutupi kesalahan?


"Kamu sudah sholat istiqoroh?" tanya Bu indah membuyarkan lamunannya.


"Sudah."


"Sudah ada jawaban?"


"Belum." sambil menggeleng lemah.


"Ada yang bilang jawaban dari sholat istiqoroh tidak melulu dengan jawaban tapi Allah akan menggerakkan untuk semakin dekat dan bisa berakhir dengan menikah."


"Tolong yah Bu jangan katakan apapun sama yang lain sebelum aku memberikan jawaban!"


"Iya deh."


"Kalau gitu ibu pulang yah!"


"Iya."


Setelah kepergian Bu Indah,Mita kembali ke kamarnya. Sambil menunggu adzan isya' ia membaca Al Qur'an. Saat ini yang ia butuhkan adalah mendekatkan diri kepada Allah supaya tenang hati dan pikirannya. Masalah bukan hanya dipikirkan tapi dipasrahkan pada yang maha kuasa dengan tetap berusaha menjalani dengan baik dan benar sesuai firman Allah SWT.


**********


Chat dari Yahya


"Dek apa kamu bilang ke Hafiz kalau aku melamar kamu?" tanpa sadar Mita mengangguk kemudian menepuk jidat,lupa jika itu obrolan lewat wa,bukan face to face.


Mita


"Iya"


Yahya


"Mama paling heboh."


"Langsung mau ngajak ke rumah kamu,melamar sungguhan."


"Hafiz ke sini marah-marah sama aku karena melamar kamu duluan."

__ADS_1


Mita


"Maaf aku gak tahu kalau bakalan kaya gini jadinya (emot berkaca-kaca).


"Dia denger pas aku bilang ke mas Adnan. Itupun gak sengaja."


Yahya


"(emot terkejut)"


"Kamu panggil dia mas,manggil aku kakak? (emot kecewa)"


Mita tertawa mengetahui Yahya sedang cemburu.


"Lagian kenapa bilang ke dia aku sudah melamar kamu?"


Mita


"Karena waktu itu dia juga lamar aku."


"Dia sudah marah aja pas aku secara gak langsung menolaknya."


"Aku bilang kita gak dekat,gak akrab."


"Dia bertanya apa karena dia duda beranak satu dan terpaut jauh diusia."


"Dia merasa aku menghina statusnya."


"Jadi aja aku jawab sudah dilamar kamu biar dia gak merasa aku hina."


Yahya


"(emot jempol dan emot cium)" Muka Mita langsung memerah karena merasa malu. Dikirim pesan emot cium tapi kerasa dicium beneran. Untung tidak ketemu orangnya langsung.


"(emot bahagia)"


Mita


Yahya


"Kamu sadar gak?" spontan Mita menggeleng.


"Secara gak langsung kamu memilih aku dengan menolak dia (emot bahagia)" Mita malu sekali,baru sadar sekarang.


Mita


"Yah itu aku kepepet dan gak suka sama dia." muka Mita sambil cemberut dengan tersenyum malu.


Yahya


"(emot tertawa)"


"Itu artinya kamu suka aku."


Mita merasakan wajahnya memanas,menyimpan hp ke atas kasur kemudian menepuk pipinya pelan supaya tidak terlihat memerah.


"Kenapa?"


"Kamu malu yah sama aku?" Mita menutupi wajahnya dengan bantal. Beginikah rasanya jatuh cinta? pikirnya dan sudah tidak mau membalas pesan.


Ditempat lain,Yahya yang duduk dipojokan balkon kamarnya tidak tahu jika sejak tadi kakaknya Latifa menyaksikan ekspesinya dan ikut membaca chat mereka berdua dari belakang punggungnya.


Begitu selesai hap hp tersebut sudah berpindah ke tangan Latifa dengan cepat tanpa sempat dicegah.


"Mama...." teriak Latifa seperti anak kecil berlari menuruni anak tangga dengan cepat takut direbut adiknya.


"Apa-apaan sih kamu lari-lari kaya anak kecil? Malu dilihat sama anak-anakmu." tegur mamanya namun tidak dipedulikannya.

__ADS_1


"Coba mama baca chat mereka berdua!" Latifa menunjukkan layar ponsel Yahya yang tampak santai menuruni anak tangga seakan tidak terpengaruh.


"Hah...ini so sweet banget." mamanya sampai menutup mulut dengan ekspresi girang.


"Kalian pacaran?" tanyanya antusias pada Yahya yang membalas dengan gelengan.


"Bisa dibilang ta'aruf." mamanya melotot kesal.


"Apanya yang ta'aruf kamu sudah melamar dia kan?"


"Tapi dia masih bingung,banyak masalah dia Ma." jelasnya seraya duduk disofa yang diikuti mama dan yang lainnya,ingin tahu ceritanya.


"Ah iya Mama lupa dia anak yatim piatu jadi wajar punya masalah."


"Tentang apa?" tanya Latifa penasaran sedangkan Hanif hanya menjadi pendengar tanpa mau menimpali.


"Masalah sesama perempuan sebetulnya." Yahya menceritakan semuanya berharap keluarganya tidak terburu-buru untuk melamar saat kondisinya sedang buruk.


"Ya Allah kasihan sekali dia." komentar mamanya. Yahya menyenderkan punggung sambil mernerawang jauh.


"Terus kapan rencana pindahan?" tanya Latifa.


"Belum tahu."


"Dia belum berani bilang ke kakaknya takut marah."


"Aku masih nunggu keputusannya."


"Kemarin pas aku tanya,katanya bingung jadi pindah apa enggak soalnya secara agama,pernikahan kakaknya belum sah."


"Dimana masalahnya?" tanya Latifa polos.


"Katanya,menurut pendapat beberapa ulama ada yang mengatakan jika dirahim seorang perempuan ada janin harusnya gak boleh melakukan pernikahan. Boleh menikah hanya untuk menutupi aib dan setelah bayinya lahir akad nikah lagi baru boleh berhubungan layaknya suami istri."


"Kalau jadi Mita pindah dari rumah itu sama saja memberi kesempatan mereka berzina."


"Terus selama ini mereka satu rumah?" sahut Latifa.


"Tidur dikamar berbeda."


"Ribet banget yah." komentar Latifa.


"Untuk seumuran dia dihadapkan sama masalah seperti itu jelas mengganggu pikirannya apalagi tidak ada yang mengarahkan. Papa salut sama dia bisa berpikir rasional,berpikir jauh ke depan sebelum bertindak."


"Makanya aku minta tolong terutama sama Mama biarkan dia tenang dulu!" semua orang terdiam untuk beberapa saat.


"Kalau dia merasa berat melanjutkan usahanya papa bisa membeli semuanya." ucap papanya memberi solusi. Yahya menoleh ke arah papanya.


"Masalah pindahan biar papa yang urus."


"Papa hanya akan menjadi pemilik dan Mita tetap yang mengelola dengan gaji perbulan sekalian papa akan membayar uang sewa tempat."


"Lagipula saat kalian menikah nanti tentunya Mita akan kewalahan membagi waktu antara usaha dan keluarga."


"Gak taulah Pa,coba nanti ngomong dulu sama dia."


"Jangan cuma ngomong tapi bujuk dia!"


"Kayanya papa ngebet banget meneruskan usaha Mita?" Yahya menangkap niat tersembunyi papanya.


"Papa cuma menyelamatkan masa depan kamu."


"Maksudnya?"


"Papa cuma mau kamu bisa merasakan dilayani istri dua puluh empat jam." Yahya garuk kepala,gagal memahami ucapan papanya.


"Iya gak Ma?" ucap papanya sambil mengedipkan mata ke arah mamanya yang langsung tersenyum malu.

__ADS_1


"Papa ih malu dilihat anak-anak." Yahya menghela napas,baru paham maksud papanya.


__ADS_2