
Hari kedua sakit Dani semakin nampak lemah karena dari kemarin muntah terus,Mita sampai bingung sendiri harusnya hari ini dia masuk sekolah untuk melihat pengumuman kelulusan tapi sakit kakaknya makin parah.
Fiuh...Mita harus tenang agar bisa berpikir jernih. Pertama,dia menghubungi sahabatnya Ita memberitahukan dirinya tidak bisa masuk sekolah menunggu kakaknya yang sakit jadi minta tolong untuk mengecek namanya apakah lulus?
Kedua,dia pergi ke rumah Bu Indah untuk membawa beliau melihat kakaknya apakah perlu dibawa ke rumah sakit atau tidak?
"Dibawa ke rumah sakit saja Mita kasihan kakakmu setidaknya dia cepat mendapatkan penanganan dan Insya Allah cepat sembuhnya juga..." saran Bu Indah langsung disetujui oleh Mita. Saat ini Mita tidak perduli dengan biaya yang terpenting adalah kesembuhan kakaknya.
Dani dibawa ke rumah sakit dengan mobil salah satu tetangga setelah sebelumnya konfirmasi pada tetangga yang lain meminta tolong untuk dicarikan kendaraan...Alhamdulillah dimudahkan sama Allah.
Sepanjang perjalanan Mita terus beristighfar dan memohonkan ampun atas salah dan dosa kakaknya? memohon untuk segera diberikan kesembuhan.
"Sabar ya...!" ucap Bu Indah yang ikut mendampingi mereka,Mita mengangguk.
"Makasih Bu..." jawabnya sambil tersenyum samar karena terus terang dia merasa khawatir dengan keadaan kakaknya.
Sampai dirumah sakit para perawat langsung menghampiri dengan brankar dan langsung mengangkat tubuh Dani ke atasnya. Mendorong masuk ke ruang IGD.
Datang seorang dokter laki-laki dan perawat untuk memeriksa Dani yang sedang terbaring lemah.
"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" tanyanya setelah dokter selesai memeriksa.
"Sakitnya mulai kapan?"
"Kemarin dokter..."
"Keluhannya?"
__ADS_1
"Demam,pusing,mual muntah,batuk pilek,menggigil..."
"Muntah banyak atau sedikit?"
"Kadang banyak kadang sedikit dokter." Dari name tage tertulis namanya Dokter Muhammad Idris.
"Jadi kakak saya sakit apa dokter?"
"Ibu salah satu orangtuanya?"
"Bukan dokter saya tetangganya."
"Terus dimana orangtuanya apakah tidak ikut menemani?" tanya dokter Idris sambil mengerutkan dahi heran sekaligus bingung.
"Orangtua kami sudah meninggal dokter." jawab Mita sambil terus menunduk. Disaat seperti ini ia hanya ingin menangis tapi malu dilihat orang. Dokter Idris nampak menghela napas prihatin akan keadaan pasiennya.
Sampai diruangan dokter Idris pun,Mita tetap menunduk,perasaannya campur aduk antara sedih,bingung juga takut.
"Nama kamu siapa?"
"Mita..."
"Tadi kakak kamu namanya Dani?" Mita mengangguk.
"Lihat saya sekarang!" perintah dokter itu langsung Mita menurut.
"Kakak kamu menderita sakit tipes dan harus dirawat dirumah sakit..."
__ADS_1
"Iya dokter yang penting kakak saya bisa segera sembuh." jawabnya lemah.
"Dan untuk biaya rumah sakit saya yang akan tanggung sampai kakak kamu sembuh..." Terharu,airmatanya sudah tak terbendung lagi,dia menangis dihadapan dokter dan perawat itu.
"Alhamdulillah terima kasih dokter...terima kasih suster..." ucapnya masih terus menangis. Serasa bebannya sedikit demi sedikit mulai terangkat atas kemudahan yang Allah berikan.
"Iya sama-sama."
"Suster tolong urus semuanya nanti saya yang akan tanda tangan..."
"Berapa usia kamu?"
"18 tahun dokter."
"Usia kakak mu?"
"21 tahun dokter."
"Dia kelelahan dan mungkin kurang istirahat dan tidak menjaga pola makannya dengan baik..."
"Jangan khawatir Insya Allah dia akan segera sembuh jika diobati dengan cepat dan benar."
Mita mengangkat wajahnya dan tersenyum lega. Dihapusnya air mata yang terus menetes tanpa bisa dicegah.
"Mau cuci muka?" Mita mengangguk ragu. Dokter Idris tersenyum melihat tingkah Mita.
"Silahkan!" Dokter Idris menunjuk wastafel dibagian belakang ruangannya.
__ADS_1