
Yahya POV
Sepanjang perjalanan pulang dia termenung sambil menatap keluar mobil dengan kepala disandarkan pada kaca pintu mobil. Sesekali terdengar helaan napas panjangnya.
"Dek...mau makan siang dulu!" aku sengaja mengajaknya mampir ke warung makan karena sudah lewat waktu makan siang dia pasti lapar. Ku lihat tempatnya cukup bersih dan higienis. Dia sempat kaget tapi langsung bersikap normal.
"Boleh." jawabnya pendek dengan ekspresi datar.
"Ayo...!" ajakku dan dia menurut,ikut turun lalu berjalan beriringan dengan ku,apakah kami sudah terlihat seperti pasangan ideal? ngarep banget aku ya.
Setelah memesan makanan dia masih setia dalam mode silent hingga dia sibuk dengan ponselnya. Sesekali mengerutkan dahi tapi terus menghela napas lega.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ini ada yang mau ambil ayam katanya otw langsung aku larang. Aku jelasin alasannya dan Alhamdulillah orangnya ngerti." dia kembali diam hingga sampai pesanan datang dia baru bicara itupun hanya berdoa lalu menikmati makanan dalam diam juga. Ah...kenapa jadi menyebalkan begini situasinya.
"Gimana enak?" tanyaku berusaha mencairkan suasana tapi dia hanya mengangguk.
"Habiskan kamu pasti lapar." dia mengangguk lagi. Aku gak suka dia yang seperti ini.
Setelah menghabiskan makanannya,dia beranjak berdiri.
"Aku mau bungkusin buat kak Dani sama sepupunya kak Yahya!" ucapnya langsung ku cegah.
"Tadi sudah aku pesanin sekalian...itu sudah dibawa ke sini." tunjukku pada seorang wanita muda yang berjalan menghampiri kami dengan membawa sekantong makanan pesanan ku.
Awalnya dia ingin membayar setengah pesanan untuk dirinya dan kakaknya tapi ku tolak.
"Aku ikhlas bayarin anggap saja rezeki dari Allah..." nyess rasanya hatiku dibalas senyuman manisnya. Aku jadi salah tingkah dan untung dia gak menyadarinya karena sedang mengangkat panggilan telepon.
"Siapa?" tanyaku saat melihat muka murungnya setelah berbicara ditelepon.
"Sayuran ku gak jadi laku,mau gimana lagi aku kan belum sempat menyiapkan...serasa nolak rezeki banget aku ya?" hehehe..." ucapnya sambil tersenyum berusaha terlihat tegar namun justru tampak menyedihkan.
"Seperti kata kamu...yang sabar ya!" aku meniru gaya dan suaranya sambil mendekatkan wajahku sekilas didepan wajahnya. Ia tampak kaget tapi langsung cemberut sambil tersenyum malu-malu,merasa ku permainkan.
"Kakak ih..."
"Hahaha..." aku langsung bergegas keluar menuju tempat parkir untuk menghindari amukannya sambil tertawa bahagia puas mengerjainya. Aku merasa seperti anak kecil habis ngerjain anak orang langsung kabur.
"Kenapa aku ditinggalin!" protesnya dengan kesal saat melihat ku kabur lalu menyusul ku.
"Itu kenapa mukamu memerah?" tanyaku menggodanya saat dia mendekati ku dan dia langsung meraba pipinya sambil melirikku sinis lalu membuang muka.
"Hahaha...benar-benar anak gadis kamu." hal sepele tapi membuatku sangat bahagia sekaligus merasa aneh. Tertawa untuk hal yang tidak lucu sebenarnya. Mungkin ini efek bisa berdua dengannya jadi rasanya pengen terus ketawa.
Ku lihat dia masuk ke mobil dengan muka cemberut masih menyimpan kesal padaku. Begitu aku masuk ke mobil dia langsung membelakangi ku,merajuk.
"Gimana? sudah bisa move on dari kesedihan kan?" tanyaku mencibir dan dia langsung berbalik menatapku dengan muka bingung.
"Eh...iya ya!" jawabnya sambil berpikir seakan sedang menyelami hatinya lalu kembali tersenyum.
"Makasih!" aku hanya geleng kepala. Dia itu bisa jadi dewasa banget tapi lebih sering seperti anak kecil jika sudah gak bisa mengendalikan diri.
Sepertinya efek kenyang,dia mulai banyak bicara padaku dan tampak lebih ceria selama perjalanan pulang.
"Assalamu alaikum kami pulang!" teriaknya dengan suara keras. Energinya sudah kembali setelah diisi penuh.
"Walaikum salam..." gak ada balasan dan ku jawab salamnya rupanya kedua pria ini sedang tidur di kasur depan tv,mangap lagi mulutnya. Ini kalau kemasukan hewan gimana?
"Kak tolong urus mereka aku mau mandi dulu habis ini tolong anterin jalan-jalan ya!" ucapnya manja sambil mengerling ke arahnya lalu kabur sambil tertawa. Gadis nakal dia sengaja menggoda ku.
"Bangun!" gak ada respon.
"Bangun...aku bawain makanan!" barulah mereka mau bangun pasti karena kelaparan.
__ADS_1
"Lama banget sih!" protes Alvian sedangkan Dani langsung menyantap makanan itu dengan cepat efek lapar.
"Ke mana adikku?"
"Mandi katanya minta dianterin jalan-jalan!" jawabku singkat.
"Hah...jalan-jalan? tungguin aku juga mau mandi." dia bergegas menuju ke kamarnya setelah menghabiskan makanannya.
"Aku juga ikut ya!"
"Aku tahu niatmu awas saja macem-macem!" ancam ku dia malah ketawa.
"Baru kali ini aku melihatmu sangat peduli pada seorang gadis!" ucapnya,tersenyum sinis ke arah ku lalu berkata...
"Mari bersaing secara sehat!" apa maksudnya? apa dia pikir bisa semudah itu menarik perhatian Mita.
Aku menyesal telah mengenalkan Mita padanya jika akhirnya dapat saingan baru. Kalau bukan karena mama aku malas mengajaknya pergi ke sini.
"Mari kita taruhan...!" belum selesai ia bicara Mita sudah muncul disusul Dani.
"Ayo berangkat!" dia keluar dari kamar dengan penampilan berbeda terlihat cantik elegan. Seperti sebuah magnet dia menarik hatiku hingga membuat jantung ku tiba-tiba berdebar kencang. Apa ini yang dinamakan cinta?
"Dek tungguin aku ikut!" teriakan Dani langsung membuyarkan angan-angan ku tentang perasaan akan cinta.
Sampai di mall Alvian terus mengikuti Mita berusaha bersikap hangat tapi bukan Mita namanya kalau dia bisa dengan mudah didekati apalagi oleh seorang pria.
"Gak boleh ikut masuk?" dia menghadang saat Alvian memaksa ikut masuk.
"Kenapa?" tanya Alvian heran.
"Ini khusus perempuan." ucapnya tegas.
"Daleman wanita kan? aku sudah biasa. Temen-temen cewe ku gak pernah melarang." dia seperti membuka kedoknya sendiri.
"Menyebalkan!" Mita pergi begitu saja dengan muka kesal.
"Tapi aku jadi makin penasaran." dia tersenyum miring entah apa yang ada di otaknya. Aku akan mengawasi saja tapi saat ku tahu dia bersikap kurang ajar baru aku akan bertindak.
Begitu keluar dari toko itu Alvian kembali mendekatinya dengan cara yang lebih lembut tapi Mita langsung menghindar menjadikan posisiku selalu ditengah.
"Mau ke mana lagi?" tanyaku.
"Ini sudah cukup kak." jawabnya sambil tersenyum manis padaku.
"Apa kakak butuh sesuatu untuk dibeli?" tanyanya ramah sambil menatapku lembut.
"Mau beli kue buat mama!"
"Ya sudah ayo aku temani."
"Terus kakak mu gimana?"
"Dia masih belanja katanya banyak yang harus dibeli. Ayo...!" dia berjalan duluan diikuti Alvian yang masih terus mencoba lebih dekat dengannya tapi seperti sebelumnya ia kembali menjadikanku sebagai penengah.
Sampai ditoko kue Mita paling antusias. Melihat-lihat kue yang dipajang di etalase.
"Mamanya kakak biasanya suka kue apa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan lebih tertarik pada kue yang dihias dengan cantik didepannya.
"Mama paling suka kue dengan topping keju..."
"Kalau kamu?" sekalian mencari tahu kue kesukaannya.
"Apa saja yang penting enak dan mengenyangkan." jawaban sederhana seperti orangnya.
"Ini aku bayar sendiri ya kak!" ucapnya tegas setelah memilih beberapa potong kue yang menurutnya enak.
__ADS_1
"Aku sudah punya penghasilan sendiri jadi jangan meremehkan ku!"
"Empat puluh tiga ribu mbak!" ucap kasir itu meminta pembayaran. Mita menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
Tampak diawal ia terkejut mungkin mahal baginya,wajar di mall apa yang murah mengingat tempat sewanya yang mahal. Untuk selanjutnya kami menikmati kue masing-masing. Melirik ke arah Alvian dia mendadak jadi pendiam gak sepercaya diri seperti sebelumnya. Apa mungkin dia mulai menyerah?
"Dek tolong bantuin bawa!" teriak Dani saat baru menjejakkan kaki masuk ke toko sambil terengah. Tangannya penuh dengan tas belanjaan. Tapi Mita seperti gak peduli,dia asik menikmati kue didepannya sambil terlihat berpikir lalu mengangguk sambil tersenyum. Seperti sedang mengomentari rasa dari kue tersebut dalam diam.
"Ya Allah dipanggilin dari tadi asik makan kue!" keluh Dani.
"Ayo pulang aku sudah kenyang!"
Dia seperti sedang menabuh genderang peperangan kalau aku lihat. Menganggap Dani gak terlihat.
Dani terus mengomel karena merasa di acuhkan oleh adiknya katanya gak berperasaanlah,belum sempat minumlah,laperlah adeeh aku gak mau ikut campur dalam pertengkaran mereka.
Aku bisa sedikit bersantai karena yang menjadi sopir adalah Alvian. Awalnya sempat menolak tapi aku ancam akan meninggalnya dan akhirnya ia patuh meskipun mukanya ditekuk.
Mita tadi sempat menolak mampir ke rumah tapi aku lebih cerdik langsung ku telpon mama secara diam-diam dan bilang ke Mita mama pengen ngomong.
Dan sampailah kami dirumah. Mama sudah siap menjemput di teras. Begitu mobil masuk mama langsung mendekat dengan wajah sumringah.
Hal pertama yang dilakukan mama adalah fokus pada sosok Mita,aku yang anak kandungnya merasa seperti orang asing. Mending langsung masuk ke dalam pengen menyegarkan badan.
"Itu dia nongol orangnya..." ucap mama saat melihat ku turun dari lantai dua. Terlihat dia mencuri pandang ke arah ku lalu menunduk.
"Mita minta dianterin pulang padahal mama pengen dia nginep disini." mana mungkin Mita mau kecuali sudah jadi menantu baru mau nginep disini.
"Ya sudah aku ganti celana dulu...kirain masih lama jadi pakai baju santai."
"Ngapain ganti pake itu saja lah jadi kesannya terlihat muda..." protes mama sambil menghampiri ku.
"Ngapain kamu ngajak Alvian ke rumah Mita? Dia tadi maksa nganterin Mita pulang tapi tadi mama bilang sama Alvian disuruh cepet pulang sama mamanya hihihi..." bisik mama pelan gak ingin didengar oleh orang lain. Mama terbaik tahu apa yang ku mahu. Mama selalu bisa diandalkan untuk menjadi penghalang bagi para saingan ku.
Selama menempuh perjalanan,aku merasa menjadi sopir pribadi duduk sendirian dikursi depan sebagai pengemudi. Dani yang sudah tertidur pulas sejak awal masuk ke mobil dan Mita sendiri sedang berusaha menjaga pertahanan digerbang mata seperti menolak memejamkan mata namun berbanding terbalik pada keinginan si mata yang ingin segera istirahat. Hingga ia benar-benar terlelap membuat suasana mobil sunyi sepi.
Akhirnya sampai didepan rumah mereka tapi belum ada pergerakan.
"Mas bangun!"
"Mita bangun sudah sampai!"
"Heem...sudah sampai." ucapnya sambil masih berusaha memaksa matanya terbuka namun terlihat seperti ingin kembali terpejam.
"Kak bangun kita sudah sampai!"
"Heem..."
Perjuangan panjang menunggu sampai mereka sadar sepenuhnya,aku memainkan ponsel hingga terdengar azan magrib.
"Azan apa ini?" Mita langsung panik saat mendengar azan.
"Magrib." jawab ku pendek.
"Ya Allah maaf kak aku malah tidur lagi."
"Kak Dani bangun sudah Maghrib ini!"
Mita mempersilahkan ku masuk katanya boleh pulang setelah magrib. Aku menurut saja,ikut masuk sambil membawa tas belanjaan Dani.
Kami menjalankan sholat berjamaah di masjid terdekat.
"Aku langsung pulang ya!" pamitku sambil menyerahkan sarung dan kopyah pada Mita dan Dani sendiri langsung masuk ke dalam rumah pasti mau melanjutkan tidur karena ku lihat tadi seperti setengah sadar saat sholat.
"Iya..."
__ADS_1
"Lain kali jangan ajak sepupunya ke sini!" ucapnya tegas.
Yess...Alvian bukan saingan ku.