Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 110 Cantik-cantik oneng


__ADS_3

Mendengar kata pindah Dani menunjukkan diri. Memandang kedua perempuan muda dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan lalu menghela napas panjang. Harusnya dia pulang untuk istirahat karena badannya meriang tapi melihat kemarahan Mita pada istrinya dia lupa dengan rasa sakitnya. Dia sadar yang bersalah adalah istrinya.


"Dek kamu mau pindah ke mana?" setahunya Mita tidak punya tempat tujuan selain rumah yang mereka tempati sekarang kecuali mengontrak dan bisa dipastikan sewanya mahal dengan lahan luas untuk bisa menampung ternak ayam kampungnya.


"Ke mana aja asal gak disini." jawabnya dengan sedih,hatinya terasa seperti tersayat,sakit tapi tak berdarah. Meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama keluarga jelas menyakitkan tapi apa boleh buat jika tetap tinggal hanya akan membuatnya tertekan sedangkan banyak yang harus diurus. Dia butuh kebebasan agar hidupnya berjalan dengan baik.


"Ini peninggalan almarhum orang tua kita. Apa kamu tega meninggalkan kenangan orangtua kita." Mita menunduk dengan muka sendu.


"Kenangan orangtua kita yang sudah kakak gadaikan tanpa memikirkan perasaan aku?" jawabnya lirih,menyentak dasar hati Dani yang ikut terluka dengan sikap terburu-burunya.


"Maaf..." Dani terduduk lemas dengan kepala menunduk.


"Sudahlah...kita lupakan yang telah terjadi,mengungkit juga percuma,sekarang hanya bisa memperbaiki." Mita menghela napas lalu mengusap pipi dan hidungnya.


"Aku minta maaf atas sikap dan kata-kataku yang kasar sama mbak Nuri dan kak Dani. Gak seharusnya aku terpancing emosi." terdengar suaranya yang tulus.


"Pikirkan lagi!" ucap Dani. Mita mendongak dengan tatapan lurus ke depan.


"Insya Allah aku sudah yakin untuk pindah. Aku telah memikirkannya sejak jauh-jauh hari hanya mencari waktu yang pas untuk mengatakannya sama kakak." mengambil jeda sejenak dengan menarik napas panjang.


"Insya Allah dalam beberapa hari ini...aku minta sedikit waktu untuk tetap tinggal disini selama aku nyiapin tembat baru ku."


"Apa yang kamu katakan? Kamu bisa tinggal dirumah ini untuk selamanya kenapa harus minta izin?" mata Dani mulai berkaca-kaca dengan perasaan pilu mendengar permintaan izin adiknya untuk tetap tinggal dirumah mereka seakan Mita tidak berhak tinggal dirumah itu.


"Ini rumah kita gak seharusnya ada yang pergi dari sini diantara kita." Mita menggelengkan kepala lemah.


"Mau sekarang ataupun nanti setelah menikah akan sama saja pada akhirnya aku akan pergi dari sini." dalam situasi ini Nuri merasa sangat diuntungkan,artinya dia akan menjadi nyonya rumah satu-satunya,tidak perlu bersusah payah dia bisa bebas menempati rumah suaminya.


"Tapi kamu mau pindah kemana?"


"Sewanya pasti mahal?" sambung Dani,jelas dia khawatir dengan keadaan adiknya nanti dan ada perasaan tidak rela melepaskan adiknya. Bagaimanapun juga Mita masih belum dewasa takut terjadi apa-apa ditempat barunya.

__ADS_1


"Jangan khawatir kak!"


"Aku sudah punya rumah baru,gak jauh dari sini hanya sekitar tiga puluh menit perjalanan." Dani dan Nuri tersentak kaget,Dani tidak menyangka jika Mita berpikir sejauh itu sedangkan Nuri merasa iri dengan keberhasilan Mita yang ternyata sudah punya rumah sendiri beda jauh dengan suaminya yang memberinya jatah bulanan pas-pasan.


"Jadi kamu memang punya niatan pindah dari sini?" tanyanya dingin.


"Awalnya aku mikirnya buat investasi tapi melihat kak Dani yang mulai gak peduli sama aku gak ada salahnya jika aku membangun rumah kecil-kecilan siapa tahu berguna untuk ke depannya." mengambil jeda sejenak lalu menarik napas,ada perasaaan takut menyakiti hati kakaknya. Tapi dia merasa harus jujur walaupun menyakitkan.


"Tepatnya saat kak Dani menggadaikan rumah ini aku merasa putus asa hingga akhirnya aku memutuskan membangun rumah itu sesuai kebutuhan ku. Sekarang sebelum ditempati aku hanya butuh membersihkannya saja." Dani memang bersalah tapi egonya tidak mau memaklumi kesalahannya adiknya,dia merasa tidak dianggap.


"Kenapa gak bilang sama kakakmu,bukankah dia masih saudara kandungmu?" Nuri menimpali,sengaja memanas-manasi. Mita tidak bereaksi,mengetahui niat Nuri yang berusaha mengadu domba.


"Memangnya kapan kak Dani punya waktu duduk berdua sama aku?" Dani kaget. Kemarahan yang sempat menguasainya tiba-tiba menguap saat menyadari jika selama ini dia sibuk dengan urusannya sendiri.


"Sudahlah gak perlu diperpanjang. Aku memutuskan ini demi kebaikan bersama." Setelah beberapa saat hening,Dani kembali bersuara.


"Apa kamu gak takut tinggal sendiri?" Dani merasa cemas memikirkan adiknya,seorang perempuan muda tinggal sendiri ditempat baru.


"Aku gak sendiri tapi tinggal sama emak."


"Kecuali kamu menikah." Mita seketika menatap Dani. Apa ini jawaban dari sholat istiqoroh ku,semakin didekatkan dengan menerima lamaran kak Yahya,pikirnya.


"Kalau ada pencuri masuk gimana?"


"Kamu yakin bisa menangani anak muda disana yang pasti akan mengganggumu?" Dani seperti sengaja menakut-nakutinya agar tidak pergi.


"Biarin aja kalau dia mau pergi lagian sayang rumahnya gak ditempati." Nuri menimpali dengan muka songongnya,tampak tidak sabar mendengar kepindahan Mita. Tatapan Dani ke arah Nuri yang seperti sinar laser,sebagai kode untuk diam dan Nuri melengos kesal.


"Insya Allah aku akan menerima lamaran kak Yahya." tiba-tiba Mita mengambil keputusan besar dalam hidupnya membuat Dani kembali terhenyak kaget mendengarnya. Ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadi adiknya,benar jika dia disebut tidak peduli dengan adiknya.


"Lamaran?" ucap Dani gelagapan.

__ADS_1


"Kapan?" pekiknya dengan mata terbelalak lalu menyenderkan punggungnya disofa. Hari ini penuh kejutan membuatnya memijit pelipis,merasakan pusing yang makin hebat karena mendengar kabar besar. Mita menunduk tidak berani melihat kakaknya


"Belum resmi...ngomongnya baru ke aku." Dani menegakkan tubuh dengan muka serius.


"Maksudnya?"


"Yah dia ngomong meminta aku jadi istrinya."


"Terus."


"Aku belum bisa memberikan jawaban...aku bingung." jawabnya memelas.


"Kapan dia melamar?" Mita berpikir,mencoba mengingat-ingat kapan Yahya melamarnya.


"Jangan katakan kamu lupa!" tebak Dani dan Mita tersenyum kecut.


"Mungkin tiga Minggu yang lalu..." sambil terus berpikir.


"Kalau gak salah." sambungnya,Dani tepuk jidat melihat kepolosan adiknya.


"Terus..." Mita mengangkat alis.


"Terus apa?" balik tanya dengan wajah polos membuat Dani kesal.


"Cantik-cantik oneng." maki Dani.


"Maksudnya kapan lamaran resminya?"


"Yah belum tahu kan aku belum ngasih tahu kalau aku nerima lamarannya."


"Hah..." Dani berteriak frustasi

__ADS_1


"Kamu boleh pindah setelah nikah sama Yahya,titik!" lalu beranjak pergi ke kamar dengan muka putus asa menghadapi kelakuan adiknya.


"Kok gitu?" protes Mita yang tidak ditanggapi Dani. Badannya semakin meriang dan butuh istirahat.


__ADS_2