Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 168 Abang tukang bakso


__ADS_3

"Terus sekarang gimana keadaan istri kamu?" tanya mama prihatin.


"Habis muntah lemes." jawabnya keceplosan dan langsung menutup mulut saat menyadarinya.


"Apppaaaa...muntah?" teriak mama kaget membuatnya ikut terlonjak kaget.


"Mama....ngagetin." ucapnya sambil mengelus dada.


"Bicara pelan-pelan....gak baik ngomong keras mama." Yahya mengingatkan karena marah tidak baik untuk kesehatan bisa menyebabkan darah tinggi.


"Salah kamu." mama langsung mendengus kesal.


"Tadi kan kamu bilangnya cuma gak enak badan."


"Kamu itu gimana sih istri sakit bukannya bilang ke mama kan mama bisa bantuin apa gitu." muka mama tampak kesal.


"Maaf ma." hanya itu yang bisa ia katakan,tidak ingin memperpanjang juga membantah cukup mendengarkan saja. Yang ada dipikirannya,Mita adalah istrinya dan saat sakit sudah menjadi tugasnya untuk merawat istri tidak ingin merepotkan orang lain terutama mama. Ternyata salah malah kena omel mama.


"Maaf....maaf selalu seperti itu." gerutu mama dan beranjak menengok Mita dikamar yang diikuti Latifa dibelakang.


Sementara ini Mita ada yang menemani Yahya memutuskan untuk melakukan hal lain.


"Cekleeek...." terdengar suara pintu yang dibuka dari luar,Mita sontak menoleh dan mendapati mama dan kakak iparnya masuk sambil tersenyum.


"Assalamu 'alaikum...." ucap mereka kompak.


"Waalaikum salam....mama....kakak...." sapanya sambil tersenyum,ingin terlihat baik-baik saja namun yang terlihat justru dia sangat menyedihkan dengan muka pucatnya.


"Ya ampun sampek pucat gini muka kamu nak padahal sebelumnya kan gak apa-apa." ucap mama dengan sedih.


"Apa demam?" tangannya langsung menempel ke kening Mita mengecek suhu badannya.


"Padahal gak panas loh."


"Kayanya adik ipar aku beneran hamil deh ma." timpal Latifa dengan mengangguk yakin menatap mama. Mita mengernyit bingung,maksudnya adik ipar yang hamil itu siapa pikirnya.


"Siapa yang hamil kak?" tanyanya penasaran. Latifa menarik napas mendengar kepolosannya atau hanya mengetes.


"Ya kamulah....memang siapa lagi adik ipar aku kecuali adik aku punya istri selain kamu diluaran sana ahahaha...." guraunya yang langsung mendapat pelototan mama sedangkan Mita melotot kaget dan kebingungan masih mencerna ucapan Latifa.


"Kakak....jangan bicara sembarangan,kamu itu sudah jadi ibu dipikir dulu sebelum bicara." tegur mama yang membuatnya berhenti tertawa.


"Becanda mama." jawabnya cepat supaya gak makin emosi si mama.

__ADS_1


"Soal begituan mana boleh dibuat bercanda....hal sensitif itu." mama menatap Latifa kesal.


"Ucapan adalah doa....kamu tahu."


"Kalau kamu digituin juga memang mau...kaya didoain gak rasanya." ucap mama ketus,melirik sinis Latifa yang menunduk.


"Iya maaf mama....gak bakalan aku ulangi....suer deh!" balasnya dengan muka bersalah dan mama menghela napas berusaha memaklumi sikap putri sulungnya yang cenderung sembrono dan tidak berpikir panjang dari kecil.


Mama menyadari sifat putrinya hasil dari didikannya yang dulu sering membiarkan saja saat anaknya berbuat salah berpikir wajar anak-anak melakukan kesalahan nanti saat sudah gede bakalan ngerti sendiri dan perlahan berubah. Namun pada kenyataannya pemikirannya salah,kebiasaan dari kecil akan terbawa sampai dewasa dan seperti yang mendarah daging pada akhirnya berulangkali diingatkan tetap saja sering kebablasan. Tidak ingin mengulangi hal yang sama saat hamil anak kedua mama bener-bener belajar parenting dalam mendidik anak agar anak kedua bisa lebih baik kepribadiannya dan terbukti dari sifat dan sikap Yahya sekarang.


"Iya asal sungguh-sungguh tidak mengulangi." akhirnya hanya itu yang bisa mama katakan karena percuma juga memaksa. Keinginan berubah kan harus diniatkan atas keinginan sendiri bukan atas paksaan pihak lain.


"Mama aku tadi siang gak makan nasi mungkin itu penyebabnya...." sanggah Mita,rupanya sejak tadi Mita memikirkan perihal dugaan Latifa tentang dirinya yang tengah berbadan dua.


Mama terdiam,seperti dirinya dulu diawal pernikahan memang masih suka bingung dan cemas saat memikirkan kehamilan. Belum siap hamil lah. Bingung bagaimana menjalani kehamilan. Takut melahirkan karena sakitnya luar biasa. Takut tidak bisa merawat anak....dan lain sebagainya. Hal tersebut yang seringkali membuat calon ibu gelisah saat menjalani kehamilan yang bisa menimbulkan gangguan pada saat hamil.


"Kamu sudah makan?" mama mengalihkan fokus pembicaraan dan Mita langsung menggeleng.


"Mau makan puding?" tawar mama saat melihat puding diatas meja.


"Iya." jawab Mita cepat,perutnya terasa melilit. Kalau harus menunggu lagi perutnya akan semakin melilit. Akhirnya dia makan apa yang ada sambil menunggu makanan lain dibawakan suaminya. Memperkiran kalau saat ini suaminya membelikan sesuatu untuknya makanya lama.


Dan benar saja setelah beberapa saat berlalu suaminya datang membawa kantong plastik yang didalamnya berisi kotak makanan. Matanya langsung berbinar.


"Bubur ayam." dia langsung lemas.


"Aku gak mau bubur ayam." ucapnya yang tampak ingin menangis. Sedari tadi dia sudah menahan lapar berharap akan ada makanan yang bisa memuaskan rasa laparnya namun hampa.


"Lah salah lagi." tanyanya bingung sambil garuk-garuk kepala. Mikirnya yang mudah dicerna dan baik untuk perutnya yah bubur ayam.


Mita cemberut dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa tadi gak nanya dulu ke aku mau makan apa?" semprot Mita dengan sedih.


"Udah ditungguin lama....dari tadi juga beliinnya bubur ayam." airmatanya perlahan mengalir.


Semua orang sampai bengong melihatnya,tidak biasanya Mita bersikap seperti itu. Aneh.


"Eh kok nangis." ucap Yahya panik lalu mendekat sambil memegang tangannya.


"Maaf....maafin....Abang yang salah gak nanya dulu sama kamu mau makan apa." sambil menciumi tangan Mita berharap tangisannya reda. Mita langsung menarik tangannya dan duduk membelakangi,ia terlanjur kecewa karena keinginan yang tidak tercapai.


"Huhuhu...." dia semakin tergugu karena merasa kesal pada suaminya yang tidak bisa mengerti keinginannya yang akhirnya menangis untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Aku.....laper.....banget.....huhuhu....."


"Sroook.....pengen maa khaaan....." ucapnya sambil mengelap air mata dengan lengan bajunya.


Semua orang saling berpandangan melihatnya yang bertingkah seperti anak kecil.


"Mood swing." ucap Latifa tanpa suara pada mama yang langsung memberi tanda untuk diam.


Yahya bergerak lebih dekat kemudian memeluk erat tubuh istrinya sambil mencium keningnya.


"Iya....maaf Abang gak tau."


"Ya udah sekarang mau makan apa biar Abang beliin?" tanyanya dengan membujuk.


"Sroook....." Mita menyusut hidungnya dengan kaos polo yang dikenakan Yahya yang tersentak kaget namun hanya bisa pasrah. Yang lain bisa diganti tapi hati istrinya tak tergantikan,pikirnya untuk menguatkan diri sendiri.


"Aku minta yang berkuah." satu klu keluar dari bibir Mita seperti sedang kuis tebak kata.


"Yang panas...."


"Yang gurih...."


"Yang pedes...." dahi Yahya langsung berkerut mendengar kata pedes tampak kurang setuju tapi akhirnya mengiyakan daripada makin merajuk.


"Iya boleh."


"Bakso....mie ayam....atau soto?" Yahya memberikan pilihan. Mita tampak berpikir keras.


"Bakso....boleh?" tanyanya sambil menatap Yahya.


"Iya boleh."


"Sambel saos dipisah yah bang." serasa jadi Abang tukang bakso deh.


Mama dan Latifa hanya menyimak interaksi mereka sambil menahan tawa,terlihat lucu dan menggemaskan.


"Tapi Abang boleh izin sholat asar dulu?" Mita mengangguk setuju.


"Alhamdulillah....."


"Sambil nunggu Abang beli bakso,bubur ayamnya dimakan yah!" pintanya tanpa memaksa,sedikit bermain tarik ulur dengan istrinya yang tampak berpikir. Sebetulnya tidak selera makan bubur ayamnya.


"Nanti perutnya mual lagi kalau gak diisi karena asam lambungnya naik." masih terus dibujuk rayu.

__ADS_1


Dan akhirnya Mita setuju membuat semua orang merasa lega.


__ADS_2