
Acara dadakan tapi sukses besar. Tepat sebelum semua orang yang hadir diacara lamaran pulang ke rumah masing-masing,pesanan nasi kotak datang sehingga orang yang berpamitan diberi bingkisan nasi kotak.
"Terima kasih....semoga dilancarkan sampai ke pernikahan."
"Terima kasih....semoga dilancarkan rezekinya."
"Terima kasih semoga disegerakan niat baiknya."
Doa yang baik terus mengalir seiring dengan pembagian nasi kotak dan langsung diaaminkan.
Ada perasaan membuncah saat mendengar doa yang baik dan tulus juga melihat mereka pulang dengan tawa bahagia seperti membangkitkan energi positif didalam tubuh Mita,ia merasa sangat bersyukur.
Menghadap ke Yahya sambil tersenyum dan mengucapkan "terima kasih" dijawab olehnya dengan "sama-sama" saling menatap dan melempar senyum bahagia.
"Ekheeeem....belum halal,zina mata." bisik Irham setengah mengejek. Mita memalingkan muka dan langsung melangkah pergi tanpa ekspresi padahal sebetulnya didalam hati menyimpan rasa malu. Yahya tersenyum sambil geleng kepala.
"Awas kamu nanti!" ancam Yahya dengan melirik sinis lalu tertawa,ikut pergi meninggalkan Irham yang bengong campur bingung,apa maksudnya,pikirnya.
Didalam ruang tamu,rupanya semua orang sedang menikmati makan siangnya. Mita kembali tersenyum bahagia melihat semuanya berkumpul bersama tanpa memandang kasta.
"Sini nak duduk kita makan bareng!" Bu Tita membagikan nasi kotak pada mereka bertiga yang langsung patuh lalu duduk dan menikmati makan siang dengan tenang.
Pak Ramdani tampak memperhatikan orang-orang disekeliling seperti sedang memastikan semua orang menghabiskan makanannya,baru bersuara.
"Yahya sudah memberitahu kamu kan Mita tentang tawaran papa...." Mita terkejut dengan pak Ramdani yang membahasakan diri dengan panggilan papa langsung meraih gelas air mineral dihadapannya,meneguk pelan membasahi kerongkongan yang terasa kering. Baginya terdengar aneh dan lidahnya seakan belibet jika harus memanggil papa mungkin karena belum terbiasa.
"Gimana menurut kamu?" Mita mengerjap,tidak siap dengan panggilan baru sudah diberondong dengan pertanyaan yang lain. Memandang ke Yahya dengan alis terangkat,isyarat bertanya tentang apa karena dia lupa.
"Tentang tawaran papa ingin meneruskan usaha kamu jika kamu gak bisa meneruskan...." ah iya dia baru ingat.
Mita tersenyum kecut,bingung harus bicara apa.
__ADS_1
"Kenapa?" ia kembali terkejut,ekspresinya langsung terbaca oleh pak Ramdani.
"Bukan apa-apa pak eh pa pa....itu saya belum kepikiran ke sana." jawabnya terbata agak ragu berterus terang.
"Why?" yah sekarang pakai bahasa Inggris. Bu Tita menyenggol pak Ramdani yang menoleh dengan muka datar.
"Papa ih...." Bu Tita cemberut tidak suka,suaminya malah lempeng saja.
"Ya kan daripada sama pertanyaannya...." ngeles teruuus.
"Lihat dia grogi....." pak Ramdani menggerakkan dagu ke arah Mita yang tersenyum kaku. Bu Tita mendengus.
"Biar dia gak merasa tertekan...." sambung pak Ramdani.
"Itu cuma beda penulisannya artinya sama papa." protes Bu Tita merasa suaminya usil hari ini. Pak Ramdani hanya terkekeh hingga membuat semua orang tersenyum sambil geleng kepala melihat interaksi keduanya yang seperti anak muda.
"Gak perlu sungkan begitu,terus terang gak pa pa kok...." ucap pak Ramdani,Mita tampak menarik napas sambil mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan,menghadapi orang yang lebih tua bikin deg-degan takut salah ngomong.
"Kita harus sadar dengan kemampuan diri sendiri,seseorang gak bisa fokus sama banyak pekerjaan paling gak seimbang,benar kan?" Mita merenung. Dia sadar sebagai perempuan mempunyai tanggung jawab lebih besar ke keluarga bukan ke pekerjaan.
"Dan khususnya seorang istri saat sedang berbadan dua,terus melahirkan pasti mengurus bayinya....sudah sangat repot. Seorang ibu pasti akan memprioritaskan anak dan keluarga." Mita sependapat tapi untuk sekarang dia belum bisa memutuskan. Selama masih bisa mengupayakan tidak ada salahnya bertahan sampai ia merasa tidak sanggup lagi.
"Kasih saya waktu....saya masih merasa sayang aja sama pekerjaan saya sekarang apalagi ini saya rintis dari nol jadi terasa mendarah daging lagipula saya mendapatkan sampingan dari usaha ini....."
"Sampingan?" pak Ramdani terlihat heran.
"Iya."
"Apa?" tanya pak Ramdani penasaran.
"Saya butuh membuat video untuk channel yutub saya yah dari usaha peternakan dan bercocok tanam dalam polibag."
__ADS_1
"Maksudnya kamu jadi yutuber dan temanya tentang ternak ayam kampung dan bercocok tanam iya begitu?" Mita mengangguk.
"Cerdas....gak heran kamu bisa beli tanah dan membangun rumah dalam waktu singkat jadi ini sebabnya?" pak Ramdani tampak antusias,sorot matanya terlihat salut dan bangga pada kecerdasan Mita disaat gadis seusianya tidak sampai berpikir ke situ mungkin malah asik main-main dan pacaran beda dengannya yang terjun langsung berwirausaha diusia muda.
"Alhamdulillah semuanya atas seizin Allah." jawabnya bijak,merasa tidak pantas mendapat pujian yang semestinya ditujukan pada yang maha kuasa. Manusia bukan apa-apa tanpa kehendak sang pencipta.
"Kenapa gak pernah bilang?" dari tadi bengong dan sekalinya bicara Dani tampak emosi tanpa sebab.
"Kak Dani gak pernah nanya." heran deh Mita dengan sikap kakaknya,tidak ada angin atau hujan tiba-tiba emosi,bisa dikatakan ngiri karena dia punya channel yutub tanpa bicara pada Dani yang langsung nyengir seperti malu sendiri.
"Rencana saya mau bercocok tanam lagi mungkin lebih banyak jenisnya tidak hanya sayuran dan buah-buahan tapi bawang merah juga."
"Kemarin saya jual semua biar gampang aja pas pindah gak banyak yang diusung ke sini."
"Makanya waktu saya denger ada yang jual tanah ini saya gercep maksudnya ini....saya butuh lahan yang luas untuk mengembangkan usaha saya,pengennya hidroponik juga." Dani makin melongo,heran sama isi kepala adiknya bisa se tokcer itu. Perasaan dulu sewaktu orangtua masih hidup dikasih makan yang sama tapi kenapa beda hasilnya?
"Mungkin sayuran organik tidak banyak peminat khususnya kalangan biasa tapi bagi yang berpikir menjaga kesehatan diusia yang tidak muda lagi yang mulai ada keluhan penyakit larinya konsumsi ke makanan yang lebih sehat bisa memperbaiki sistem kerja dalam tubuh dan katanya insya Allah bisa memperpanjang usia. Bagi orang yang sakit dokter pasti menganjurkan untuk makan makanan yang sehat yah salah satunya bisa mulai konsumsi sayuran organik kan...."
"Gak takut rugi?" pak Ramdani sengaja mengetes ingin tahu seberapa besar kemampuan Mita dalam berwirausaha yang beliau tahu Mita seperti paham seluk beluk dari usahanya bukan hanya mengandalkan tenaga pekerjanya malahan dia sebagai bos lebih paham dan memberikan arahan untuk hasil yang lebih maksimal.
"Dari segi perawatan memang lebih lama tapi insya Allah sesuai dengan harga jualnya. Bismillah juga pak eh papa....orang hidup kan harus berusaha dan berjuang masalah hasil serahkan pada Allah SWT dan berdoa itu juga kuncinya. Insya Allah kalau niatnya baik akan dimudahkan." ini poin plus nya,tetap segi agama yang diutamakan.
"Hebat....hebat...." pak Ramdani mengangguk-angguk dengan senyum lebar.
"Sekalian itu restoran kamu handle,bisa kan...." Mita terkejut lalu tersenyum kaku,tidak bisa menjawab,bagaimanapun pak Ramdani memiliki anak sendiri mana mungkin dia berani menerima tawaran beliau lagipula akan sangat merepotkan jika semuanya dia tangani.
"Untuk masalah itu maaf saya tidak bisa mungkin kalau memberi ide insya Allah bisa." menurutnya jawabannya sudah baik,tidak menolak tapi lebih ke yang memberi solusi.
"Oke sekarang kita lanjut membahas restoran keluarga kita,kamu punya ide apa?" pak Ramdani terlihat antusias membicarakan tentang bisnis tapi lupa keadaan.
"Hehehe......" Bu Tita melotot,merasa marah karena calon mantunya seperti teraniaya akibat ulah suaminya yang terus mendesak.
__ADS_1
"Papaaaa.....bisa kalem gak? Ngomongin bisnis terus apa gak bisa lain hari saja. Ini hari spesial,acara lamaran malah bahas bisnis." protes Bu Tita kesal.