Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 139 Masih manusia biasa


__ADS_3

"Mbak....ini nanti beneran yah gak pake cukur alis,gak pake bulu mata palsu,gak pake konde,gak mau pake lensa mata juga." tanyanya dengan muka mengerut. Sedari tadi dia sudah ketar-ketir sama hasil riasannya takut tidak sesuai sama keinginan dan musti ditambah bulu mata diakhir dengan alasan supaya riasannya tidak jomplang kan merana jadinya.


"Ya Allah mbak....sudah berapa kali nanyanya saya sampai capek lho jawabnya." suaranya terdengar mulai kesal.


"Maaf...." ucapnya lirih sambil menautkan jemarinya.


"Ini juga mukanya jangan berkerut terus....kapan selesainya coba." protes mbak MUA.


"Maaf mbak Mayang kayanya saya gugup yah jadinya mikir ke mana-mana....ehehehe." jawabnya sambil nyengir. Beralasan supaya orangnya tidak marah. Mayang menarik napas. Memang wajar bagi mempelai kalau gugup tapi masak jadi cerewet pikirnya.


"Minum dulu gih biar tenang....kalau bukan calon istri dari teman saya mana mau saya berusaha keras kaya gini kalau ternyata usaha saya diragukan....kaya yang gak percaya sama kemampuan saya." Mita terhenyak kaget mungkinkan bahasa tubuhnya terbaca dengan jelas yah kalau begini kan jadi menyinggung orang.


"Udah susah-susah mencoba make up ke orang lain beberapa kali....udah yakin pula tapi kok malah diremehkan padahal siapa coba yang kemarin mohon-mohon untuk dibantu." sindir Mayang,Mita garuk-garuk kepala yang tidak gatal seketika merasa amat bersalah.


"Maafin saya yah mbak...." Mita kembali mengucapkan permohonan maaf dengan kepala menunduk.


Hatinya sudah sedih sejak beberapa hari belakangan teringat ketiadaan kehadiran orangtua disaat acara pernikahannya,acara yang penting baginya ditambah dengan sikapnya saat ini yang menyinggung hati orang yang telah bersedia membantunya ia semakin merasa sedih. Bukannya berterima kasih ia justru meragukan Mayang.


Mayang kembali menarik napas panjang melihat Mita yang sedih dan merasa bersalah. Ia jadi tidak tega apalagi setelah mendengar kisah Mita dari Yahya yang sudah yatim piatu timbul rasa prihatin.


"Sekarang bisa percaya sama saya kan?" tanyanya lembut,Mita membalas dengan anggukan lemah.


"Kok kaya gak yakin gitu?" suaranya terdengar merajuk. Mita langsung mengangkat kepala memandang Mayang lalu menjawab....


"Insya Allah saya yakin." ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Mayang terpikir untuk mengalihkan pikiran Mita supaya teralihkan sama yang lain dan bisa tenang jadi saat merias ia sambil menjelaskan cara merias.


"Hidungnya udah mancung jadi aman deh cukup digaris tipis aja....aman deh."


"Bentuk alisnya juga udah bagus jadi biar rapi ditutup sama make up." ucap Mayang sambil terus merias Mita.

__ADS_1


"Bagi yang jeli dan paham ilmu per make up an mungkin bisa tahu alisnya didempul sama bedak tapi kalau untuk difoto dari jauh gak akan kelihatan." jelasnya sambil mulai menggambar alis Mita yang perlahan mulai santai tidak setegang tadi.


"Mbak Mita kan gak mau pake bulu mata palsu jadinya pake eyelinernya juga tipis jadi kesannya mbak Mita nanti gadis kalem....lebih menonjolkan kecantikan alami." sambil memakaikan eyeliner disekitar mata Mita.


"Pokoknya semua serba tipis ini." sambungnya,memakaikan eyesedow ke kelopak mata Mita.


"Sesuai keinginan mbak Mita."


"Tapi jujur yah mbak Mita ini udah cantik dari lahir coba melek....nah kan cantik belum pake lipstik ini." ucapnya senang.


"Kerasa ringan kan make up nya?" Mayang kbali bertanya sambil memandang takjub wajah Mita.


"Ya Allah kok cantik buanget yah....saya jadi iri sama kecantikan mbak Mita yang natural eh beruntung banget Yahya ngedapetin istri mbak Mita....masih muda cantik pula punya usaha sendiri juga kan?" tanyanya berapi-api. Mita hanya tersenyum menanggapinya.


"Mimpi apa sih dia bisa dapat istri mbak Mita yang kayanya sempurna banget?" Mita tidak merespon karena saat ini dia sedang dipakaikan lipstik. Mayang menambahkan blush on dan lainnya.


"Udah....selesai...." ucapnya tanpa berkedip dengan terus memperhatikan dengan seksama sambil tersenyum penuh arti seperti yang puas sama hasilnya.


"Nanti bisa deh dikurangi tarifnya soalnya mau dijadikan contoh dokumentasi buat calon pengantin yang mau tampil natural juga diacara pernikahan." Mita hanya tersenyum malu.


"Kan gak semua perempuan mau tampil menor." Mita hanya mengangguk.


"Mbak Mayang memujinya jangan berlebihan gak baik buat hati dan otak saya takut besar kepala sayanya." protes Mita masih dengan tersenyum malu.


Mayang belum tahu saja sama yang lain juga dijamin syok berat.


"Awalnya saya ragu loh ngerias kaya gini ternyata setelah liat hasilnya....wow banget." komentarnya dengan mata membulat.


"Kayanya dandanan tebel cocoknya buat perempuan yang gak percaya diri sama kecantikan diri sendiri yah."


"Tapi untuk dandanan natural kaya gini malah jarang yang berminat padahal kelihatan anggun dan bersahaja yah jadinya."

__ADS_1


"Lebih ke menunjukkan kepribadian seseorang...." Mita hanya tersenyum samar.


"Ayolah....waktunya ganti baju....mau ganti dimana ini?" tanyanya lagi. Dari tadi dia terus nyerocos dan berkomentar sedangkan Mita banyak diamnya.


Mita menunjuk kamarnya sendiri sebagai ruang ganti. Mayang sengaja dipanggil ke rumah untuk merias agar lebih mudah soal biaya tambahan tidak jadi masalah.


Mita mulai melepas penutup kepalanya saat didalam kamar.


"Rambutnya panjang yah?" tanyanya melihat rambut Mita yang digelung.


"Iya....mau dilepas?"


"Boleh....sayang banget mbak Mita rambutnya bagus tapi digelung kasihan rambutnya gak bisa napas." komentarnya dan begitu rambut terurai Mayang langsung melongo,kaya iklan shampo....


"Mau bagaimana lagi mbak....rambut kan aurat dari perempuan musti disembunyikan." tapi Mayang tidak merespon karena masih terpukau.


"Saya belum sempat potong rambut jadinya panjang banget rambutnya....seberapa mbak panjangnya sekarang?" Mita yang tidak mendengar jawaban langsung menoleh ke arah Mayang yang diam saja dengan mulut terbuka.


"Mbak...."


"Mbak Mayang...." panggilnya sambil mengguncang lengan Mayang yang masih bengong.


"Eh iya..." jawabnya tergeragap.


"Mbak Mita benar-benar penuh pesona....saya yang sesama perempuan terpesona apalagi Yahya....pasti langsung kelepek-kelepek dia."


"Bisa seberuntung ini dia." Mita menggelengkan kepala tidak setuju.


"Semua manusia itu sama derajatnya yang membedakan itu amal ibadahnya mbak."


"Saya masih manusia biasa yang pasti punya kekurangan dibalik kelebihan saya mbak....jadi jangan berlebihan!"

__ADS_1


"Saya yang katanya mbak Mayang penuh pesona tapi belum tentu sebaik mbak pengetahuannya ataupun akhlaknya." ucap Mita panjang lebar.


__ADS_2