
Sudah dua hari dirumah sakit banyak hal yang ku renungkan dan banyak pula hikmah yang ku dapatkan. Ya walaupun ada plus minusnya.
Jika dipikir-pikir selama sakit aku bisa istirahat dengan tenang,santai dan damai karena urusan pekerjaan dirumah dihandle sama Kang Yahya bener-bener bisa diandalkan itu orang. Enggak banyak tanya tapi sat set sat set. Serasa punya kakak pertama,orangnya bertanggung jawab pula. Hanya saja minusnya aku jadi gak tahu perkembangan usahaku dan jadi orang miskin. Gak tahu deh ini kenapa gak ada yang inisiatif bawain uang atau ATM gitu? Tadi pagi sempet minta tolong ambilin ATM dirumah ke kang Yahya katanya
"Mau buat apa ATM?"
"Ya buat pegangan atau bisa buat bayar biaya rumah sakit." jawabku.
"Gak perlu...sudah dibayar." katanya, akhirnya aku pasrah yang penting bisa pegang hp biar gak merasa makin bosan. Tadi siang setelah Bu Indah dan kak Hafiz pulang situasinya kembali sunyi,sepi. Kang Yahya sendiri cuma sejam nungguin terus pamitan.
"Ini ada yang mau ambil telur jadi aku tinggal ya! Nanti kalau butuh apa-apa tekan tombol merah dibelakang kamu suster bakalan datang. Aku juga akan mewanti-wanti suster diluar kalau kamu sendirian...ok." Lah aku ditinggal sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara salam aku hafal suaranya,langsung menoleh ke pintu tuh kan bener Kang Yahya,ini kalau orangnya denger aku panggil 'Kang' gimana reaksinya ya? Marah gak ya? Eh jadi pengen ketawa.
"Lagi mikirin apa seneng amat kayanya?" tanyanya sambil menghampiriku dan aku geleng kepala sambil menunduk menyembunyikan tawa.
"Nih makanan dari mama katanya harus dihabisin biar cepet sembuh. Mama belum bisa ke sini jengukin kamu soalnya masih ada tamu." jelasnya sambil meletakkan barang bawaannya diatas nakas sebelah tempat tidur.
"Makasih...Insya Allah nanti dihabiskan!" di iyain sajalah ya biar orangnya seneng. Masalah habis enggak pikirin nanti,banyak jalan menuju Roma. Kalau gak habis bisa dikasihkan ke OB sayang dibuang makanan Bu Tita kan kelas atas. Bukan apa-apa sih masalahnya aku kan kekenyangan kalau harus ngabisin makanan dari mamanya kang Yahya dan jatah dari rumah sakit. Yang dari rumah sakit rupanya dipantau,ditanyain sama dokternya kenapa gak dihabisin? Lha aku jadi bingung jawabnya langsung diceramahi sama dokternya.
"Jangan sembarangan makan makanan dari luar karena belum tentu sehat kalau dari rumah sakit sudah pasti sehat!"
"Makanannya harus dihabiskan jika tidak jangan harap bisa pulang!" aku melongo. Ini dokter kejam amat pake ngancam pasien segala mentang-mentang temennya kang Yahya jadi seenaknya sama aku. Baru kali ini aku ngadepin dokter galak sama pasien bisa kali diaduin sama kepala rumah sakit dalam konteks 'pelayanan kurang memuaskan karena dokter galak sama pasien'.
"Eh...malah ngelamun!" dia menatapku lekat dengan dahi berkerut.
"Bilangin ke mamanya kak Yahya besok gak usah dibawain makanan?" ucapku lirih,dahinya semakin berkerut.
"Kenapa?" dia sambil duduk dikursi.
"Aku disuruh ngabisin jatah dari rumah sakit!" ucapku sambil menunduk lesu.
"Jadi ditambahin sama makanan dari mamanya kak Yahya kekenyangan." suaraku jelas terdengar gak rela apalagi jika membayangkan makanan dari Bu Tita yang kelas atas ngiler aku jadinya. Dia malah terkekeh.
"Nelangsa gitu sih dek!"
"Makanan rumah sakit hambar tapi kalau gak dihabisin katanya dokter Shiela gak dikasih izin pulang." keluhku dengan kepala menunduk.
"Yang sabar ya nanti kalau sudah pulang dari rumah sakit bisa deh balas dendam makan apa saja yang kamu mau." hiburnya yang terdengar seperti sedang meledek. Aku malas menanggapi langsung membelakanginya.
"Dicicil gih makannya biar gak kekenyangan!" pasti sambil menahan ketawa dia. Seneng banget godain aku.
"Hutang kali dicicil..." jawabku malas. Ini termasuk minus ya kerjaan gak ada tapi disuruh makan terus. Apapun yang berlebihan nyatanya gak enak. Aku bosan pengen pulang.
__ADS_1
Kemudian terdengar ketukan dipintu. Ini satu lagi datang ah makin menyebalkan.
"Dihabiskan ya!" mulutku langsung manyun. Biasalah petugas pengantar makanan datang memberikan jatah satu untukku. Balik badan sambil memandang kang Yahya dengan tatapan memelas.
"Tolong!" aku mengulurkan makanan tadi padanya sebagai kode memintanya menghabiskan jatahku dan dia balik menatapku gak berdaya terus aku lawan dengan wajah makin nelangsa dan akhirnya ia menghela napas pasrah. Mengambil,membuka lalu menghabiskan dengan cepat. Ku tatap lekat ekspresi mukanya datar,sedatar triplek.
Selesai makan ia menyingkirkan wadahnya ke luar pintu seperti sengaja gak ingin melihatnya lagi. Aku tertawa melihat reaksinya. Serasa berbagi rasa.
"Gimana enak?" dia langsung menyambar botol air bekas ku minum dan belum sempat ku cegah dia sudah meminumnya banyak.
"Kenapa minum bekas ku sih?" tanyaku panik dengan dahi berkerut heran.
"Emang gak jijik itukan kena bibirku pasti ada air liurku?" sambung ku yang lagi-lagi ditanggapi dengan ekspresi datar.
"Gak pa-pa asal bukan virus jahat." santai kali jawabannya. Tapi ya sudahlah terserah toh nasi sudah jadi bubur. Hpku berbunyi,panggilan vc masuk dari kakakku langsung geser layar ke atas. Tampaklah kak Dani dengan senyumannya yang ku tanggapi muka asem.
"Gimana kabarnya?" eh ada yang nongol dibelakang,siapakah dia? sambil senyum manis pula. Lumayan ganteng orangnya. Kak Dani melihatku heran lalu menoleh ke belakangnya.
"Kampret...!" spontan mendorong kepala dibelakangnya yang langsung marah dengan muka terlihat malu. Aku hanya menarik napas lalu melirik ke sebelah yang rupanya sibuk dengan hpnya.
"Asem gitu sih dek mukanya?" keluhnya. Aku malas menanggapi malah tertarik sama yang dibelakang dengan orang lalu lalang sesekali terdengar suara cewe memanggil 'Mas Dani' atau 'aku pulang dulu ya!' rupanya baru sebulan bekerja sudah famous dia dikalangan cewe-cewe.
"Assalamu alaikum..." ucapku malas.
"Orang telpon salam dulu lah!" keluhku.
"Maaf..." jawabnya sambil garuk kepala.
"Masih ingat sama aku?" tanyaku sewot sambil melirik sinis.
"Kok gitu sih dek ngomongnya,pedesnya ngalahin cabe rawit." protesnya.
"Gimana enggak punya adik nginep dirumah sakit malah ditinggalin..." aku sengaja mengarahkan hp pada kang Yahya.
"Sebenernya siapa yang kakak aku?"
"Atau aku hanya adik tiri buat kakak?" mendadak hatiku tersakiti begini. Ini air mata sudah menggenang saja.
"Maaf...tapi jangan terusan diarahkan ke mas Yahya kakak kan pengen lihat kamu dek!" suaranya terdengar sedih dan penuh penyesalan. Akhirnya ku arahkan ke muka ku lagi dan rupanya ada penampakan lagi. Dahiku berkerut,bingung sama yang dibelakang kenapa jadi rebutan nongol dihp,bagusnya kan rebutan nongol ditv. Aneh-aneh saja mereka.
"Maaf...rencananya tadi mau izin tapi ditolak karena kakak masih karyawan kontrak." suaranya terdengar samar kalah sama suara ribut dibelakang.
"Ini apa sih dorong-dorong jatuh hp ku awas!" bentak kak Dani marah sambil menoleh ke belakang dan aku cuma bisa menghela napas melihat aksi saling dorong mereka.
__ADS_1
"Dimana?" tanyaku.
"Diparkiran pabrik...rese ini anak-anak." dengusnya sebal sambil jalan.
"Awas kalau ngikutin aku!" ucapnya marah sambil menoleh ke belakang lalu terdengar suaranya yang kaget.
"Aduduh...!" rintihnya. Gak terlihat mukanya di layar hp hanya menampakkan dadanya.
"Kenapa?" tanyaku cemas.
"Kesandung batu...ssstss..." desisnya kesakitan.
"Hati-hati." gak ada jawaban sepertinya dia sibuk dengan kakinya yang tersandung. Aku masih setia menunggu mukanya hadir dilayar hp.
Setelah beberapa saat dia baru menampakkan diri.
"Apa ada yang luka?" tanyaku,dia menggeleng.
"Pulang kerja kakak ke sana,mau dibeliin apa?" ku balas gelengan.
"Aku kenyang nih dapet kiriman segini banyak dari mamanya kak Yahya." sambil ku perlihatkan rantang berisi makanan.
"Mau lihat isinya? Bentar...kak Yahya tolong pegangin hp!" ucapku sambil tersenyum jahil dan menyerahkan hp ku pada kang Yahya lalu sengaja membuka rantang tanpa balasan iya darinya dan memperlihatkan isinya biar kepengen dia.
"Ada ayam goreng,udang goreng tepung,capcay...mantap pokoknya tadi pagi dibawain bubur ayam,siangnya dibeliin rawon sama kak Yahya,enak pokoknya!" sengaja pamer dan dia melotot lalu mendengus sebal.
"Besok mau dibikinin pasta sama jus alpukat kata kak Yahya..." aku sudah menahan tawa melihat reaksinya yang sebal setelah ku pameri banyak makanan enak. Sedangkan kang Yahya ku lihat menggelengkan kepala mendengar kejahilanku.
"Enak banget kamu,kakak tadi makan sama telor dan sayur lodeh disitu kamu makan enak." keluhnya dengan muka kesal.
"Jelas dong!" ucapku bangga sambil melirik kang Yahya yang melotot padaku yang ku balas senyuman tipis.
"Makasih ya sudah dititipin sama orang baik!" godaku dan dia melengos kesal,rasanya menyenangkan dan puas bisa mengganggu kakak,teralihkan rasa bosanku.
"Buruan ke sini nanti aku bagi!" aku terus menggodanya dan dia mengakhiri panggilan secara sepihak. Aku bisa membayangkan dia yang terburu-buru ke sini,gak sabar pengen makan enak.
"Jahil banget sih dek sama kakak sendiri." aku angkat bahu sambil terkekeh. Kang Yahya tarik napas.
"O iya kak tolong dong bilangin ke dokter Shiela besok aku diizinin pulang ya...!" mohonku dengan tampang memelas.
"Ya nanti dicoba..." ucapnya datar.
"Yes...!"
__ADS_1
"Alhamdulillah..." ucapnya mengingatkan,aku tersenyum malu.