Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 142 Jangan sentuh aku


__ADS_3

Kini hanya tinggal mereka berdua dirumah itu. Mita bingung musti apa? Ada perasaan canggung juga. Baru ia sadari perbedaan antara sebelum dan sesudah menikah. Berdua dalam satu rumah seperti ini membuatnya deg-degan dan salah tingkah. Lain halnya dengan Yahya yang tampak santai,dari tadi terus tersenyum.


"Ayo duduk!" perintah Yahya sambil menepuk sisi lain tempat tidur Mita yang kini menjadi kamar pengantin mereka. Bukannya menurut Mita justru diam dipintu dan merasa takut melihat Yahya yang menurut pandangannya mengerikan.


Melihat ekspresinya Yahya justru tertawa. Menurutnya istrinya lucu dan menggemaskan.


"Kita sudah suami istri jadi apa yang kamu takutkan hmm?" Yahya menghampiri istrinya yang menunduk,melirik lalu mengalihkan pandangan,terlihat sekali kalau sedang gugup membuatnya ingin terbahak namun ditahan. Diraihnya bahu Mita supaya menghadapnya malah semakin menunduk.


"Pandang aku!" menarik dagu Mita pelan supaya melihat wajahnya. Mita hanya mampu memandang sekilas lalu kembali menunduk. Yahya terkekeh.


"Apapun yang kita lakukan insya Allah akan menjadi amal ibadah kecuali yang memang diharamkan." direngkuh dan dipeluk tubuh Mita dengan pelan. Awalnya terasa ada penolakan seperti terkejut tapi tidak ia lepaskan.


"Pelukan kaya gini juga bisa jadi pahala." akhirnya Mita diam dengan tubuh yang kaku. Yahya tersenyum tipis,sekarang dia bisa leluasa menyentuh istrinya hanya saja butuh proses supaya terbiasa.


Nyatanya memeluk tubuh yang kaku seperti memeluk patung tapi Yahya tidak kehabisan ide,dia mengelus punggung Mita berusaha memberikan kenyamanan dan terasa tangan Mita balas memeluknya walaupun ragu. Yahya tersenyum merasa ada kemajuan dalam kedekatan mereka daripada tidak sama sekali.


"Maaf...." hanya itu yang diucapkan Mita tapi mampu membuatnya tersenyum lebar dengan perasaan membuncah.


"Aku minta kamu harus mulai membiasakan diri." diciumnya kening Mita lama seakan meresapi setiap rasa yang hadir dan seakan membelenggunya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu kemudian ia sadar walaupun sudah dihalalkan bagi mereka berdua tetap ia merasa saat ini belum waktunya.


"Menikah adalah ibadah." Mita hanya menganggukkan kepala tanda setuju lalu mengeratkan pelukan membuatnya sangat senang.


"O iya....gimana kalau merubah panggilan?"


"Menurutku panggilan MAS terlalu umum dan biasa." Mita bereaksi,reflek memandang Yahya sambil mengerutkan dahi.


"Aku gak mau disamain dengan pria lain karena aku lebih spesial dari mereka....aku suamimu kan?" Mita mencebik.


"Memang mau dipanggil apa?" ternyata saat diajak ngobrol begini Mita lebih santai menanggapinya.


"Sayang....misalnya." bisik Yahya dengan menggoda.


"Jangan....malu didengar orang." suaranya terdengar malu-malu dan manja,tanpa sadar memainkan ujung jarinya membuat garis abstrak didada Yahya seperti sengaja menggoda.


Yahya menikmati sentuhan Mita dengan mata terpejam tapi langsung sadar saat area tubuh bagian bawahnya bereaksi diluar perintah otaknya. Disaat seperti ini Yahya tidak bisa mengendalikan karena dia punya otak sendiri dan kalau terus berlanjut Yahya yang akan tersiksa saat tidak tersalurkan. Yahya menahan tangan Mita yang mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanya Mita polos.


"Kamu....mau menggodaku?" napasnya mulai agak berat. Mita semakin bingung tidak mengerti arah pembicaraan Yahya.


"Sentuhan kamu membuat aku ber******...." Mita reflek melepaskan diri dan Yahya membiarkan saja karena kedekatan itu membuatnya tersiksa.


Yahya menarik napas panjang,berusaha memaklumi kondisi saat ini tidak ingin memaksa istrinya untuk melayaninya sekarang. Masih ada banyak waktu pikirnya mencoba menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


"Tolong buatkan kopi!" Yahya berpura-pura sibuk dengan hp bermaksud mengalihkan fokusnya tapi justru terlihat dingin dimata Mita.


"Apa dia marah?" gerutunya lirih sambil berjalan keluar kamar. Mita merasa tidak enak hati dan tidak fokus,yang seharusnya menambahkan gula keliru menambahkan garam. Selesai mengaduk,Mita membawa ke kamar untuk diberikan pada Yahya.


"Kopinya mau diminum disini?"


"Hmm taruh disitu saja." jawab Yahya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


Mita bingung sendiri,baru saja menikah tapi semua hal jadi seperti masalah bagi mereka berdua. Dia tidak nyaman dengan sikap dingin suaminya. Terdengar helaan napasnya.


"Mas...." akhirnya Mita membuka percakapan sambil duduk dimeja belajar dikamarnya. Yahya menoleh.


"Diminum kopinya keburu dingin gak enak nanti." Yahya bangkit berdiri tidak ingin mengecewakan istrinya dan menyesap kopi dengan reaksi mengernyit.


"Kok asin." setelah mencicipi sedikit.


"Asin?" tanyanya dengan bingung. Dia tidak ingat menambahkan gula atau garam karena pikirannya yang tidak fokus.


"Iya."


"Masa sih....coba aku rasain." Mita mencicipi rasanya dan ternyata memang asin.


"Maaf....kayanya aku salah menambahkan garam yang aku kira gula." Mita nyengir. Yahya menggelengkan kepala.


"Gak perlu....kita tidur saja....kamu pasti lelah kan." Yahya menarik Mita untuk berbaring lalu dia pun ikut berbaring sambil memeluk Mita yang tidak menolak lagi.


Yahya memejamkan mata....hening.


"Maaf....aku masih kaku." Mita memecah keheningan. Yahya tidak menjawab,mendengarkan dengan mata terpejam


"Jujur aku ngerasa bersalah sama kamu mas....aku bingung....ini masih baru bagiku."


"Makanya aku gak fokus salah memasukkan garam ke kopi." Yahya mengeratkan pelukan lalu mencium kepala Mita yang masih tertutup hijab.


"Gak pa pa....aku maklum kamu gak terbiasa bersentuhan dengan laki-laki jadi wajar tubuh mu menolak....gerak reflek." Mita memiringkan badan menghadap Yahya.


"Kamu gak marah mas?" tanyanya sambil memandang wajah Yahya,mencari kebenaran.


"Enggak."


"Tapi tadi kenapa cuek?" Yahya kembali membuka mata dan berpikir,mengingat kapan dia bersikap cuek.


"Aku gak ngerasa cuekin kamu."

__ADS_1


"Iya....cuek....sibuk sama hp." jelas Mita.


"Enggak....itu tadi aku mengalihkan fokus yang dibawah biar gak ber******" jawabnya santai,Mita yang malu.


"Kamu gak tahu aja gimana kesiksanya pria yang terlalu menginginkan dan gak tersalurkan."


"Aku kan gak tahu kamu menolak jadi daripada merana yah dialihkan." ucap Yahya sambil kembali terpejam. Mita melepaskan diri dari pelukan Yahya. Dia merasa gerah tidur memakai hijab,ini juga gara-gara terbawa suasana jadi lupa melepas hijab.


"Mau ke mana?"


"Gerah....mau lepas kerudung." memastikan pintu dan jendela tertutup sempurna,berpikir untuk tidur lebih awal tidak ada salahnya lagipula sudah lewat waktu isya' jadi aman.


Kembali masuk ke kamar sambil melepas hijab lalu mengambil baju ganti didalam lemari.


"Aku mau ganti baju dulu." Yahya membiarkan saja,bagus juga ganti baju dikamar mandi,tidak terbayang tersiksanya kalau istrinya ganti baju didepannya.


Sekembalinya Mita ke kamar,matanya sampai tidak berkedip memandang penampilan istrinya yang berbeda dari biasanya


"Tadi habis keramas sekarang masih basah terpaksa ditutup kerudung takut masih ada orang yang datang." Mita sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Yahya terperangah,takjub dengan kecantikan istrinya yang baru pertama kali ia lihat.


Dan kembali yang tidur jadi on lagi,dia mengerang frustasi.


Mita yang tidak paham dengan yang terjadi pada suaminya terkejut dan terlihat bingung.


"Ada apa mas?" Mita beringsut menghampiri suaminya dengan panik.


"Jangan sentuh aku!" ucap Yahya dengan suara tertahan. Mita semakin terkejut dan bingung,tidak tahu musti bersikap bagaimana? Heh....dunia terbalik,yang harusnya bilang JANGAN SENTUH AKU kan wanita ini malahan pria.


"Tolong menjauh dariku!" Yahya sadar telah bersikap kasar dengan ucapannya tapi dia juga bingung mau bersikap bagaimana jadi meminta Mita menjauhinya.


"Kenapa?" tanyanya sedih.


"Apa aku berbuat salah lagi?" matanya sudah berkaca-kaca. Yahya frustasi,serba salah. Bukan maksudnya menyakiti istrinya tapi jika diteruskan akan membahayakan diri sendiri kalau tidak kuat.


Yahya reflek memegang muka istrinya.


"Maaf....aku cuma....gak kuat lihat kamu kaya gini." ucapnya terbata dengan suara serak. Airmata Mita mulai mengalir perlahan karena merasa bersalah.


"Tolong jangan menangis....aku...."


"Aku sangat menginginkan kamu...." Mita diam karena belum paham.


"Aku gak tahan.....ingin meng*******" terpaksa berbicara jelas supaya istrinya mengerti maksudnya.

__ADS_1


__ADS_2